Hujan Teluh

Hujan Teluh
Balas Budi


__ADS_3

Balas Budi


Jendral yang masih berwujut Melin mencoba untuk tidak banyak menggerakkan tubuhnya saat berada di bopongan Siluman Warok yang menggendongnya.


Jendral harus mengikuti arahanan dari Jacson, dia harus diam di tempatnya  sebelum Jackon mencarinya.


Jendral bahkan tidak berani membuka matanya, sampai Siluman Warok itu meletakkan tubuhnya di sebuah kasur yang cukup empuk.


"Kau boleh pergi, Warok!" ujar Insagi.


"Sendiko dawuh, Ndoro,"


Langkah kaki yang menyentak kuat itu perlahan-lahan hilang dari pendengaran Jendral.


Dia masih terpejam, namun Jendral tidak diam saja dalam keterpejamannya. Dia menelisik suasana sekitar, dengan setiap indra yang dia punya kecuali indra penglihatan.


Bau ruangan ini wangi, suhunya juga cukup hangat, bahkan oksigen yang dia hirup cukup segar. Dia merasa berada di dalam ruangan rumah tetapi Jendral merasakan sesuatu yang aneh. Tempat ini memiliki aliran angin yang berbeda dari dunia manusia.


Jacson sudah memberi tahu pada Jendral bahwa istana rahasia Insagi tidak berada di Alam Manusia, tetapi Jendral masih saja terkejut dengan apa yang tengah dia rasakan.


"Sebentar lagi! Aku akan menjadi penguasa tiga dunia,


"Terima kasih Yanuar, karena telah memberiku pencerahan. Aku jadi bisa berpikir tentang apa yang benar-benar aku inginkan!"


"Maaf jika aku, harus membunuh putri kesayanganmu!" kata Insagi sambil memandangi tubuh Melin yang tergeletak lemas di atas kasur salah satu kamar di istana rahasainya.


Nada bicara Insagi sangat terdengar bahagia dan penuh semangat. Tampaknya tidak akan ada yang bisa merubah pikiran Siluman Burung Garuda tersebut, untuk menumbalkan Melin.


Setelah Insagi mengatakan kata-kata itu, Jendral dapat mendengar ada langkah kaki yang menjauh artinya Siluman Burung Garuda itu sudah pergi dari sana.


Perlahan-lahan dengan sedikit rasa takut Jendral membuka matanya. Dilihatnya atap bangunan Istana Insagi yang berada tepat di depan mukanya.


Jendral bingung, dengan ornamen yang ia lihat. Sebab Jendral tidak pernah melihat ornamen semacam itu sepanjang hidupnya. Bocah SMA itu lahir di Sumatera Selatan dan besar disana, dia tidak pernah melihat ornamen-ornamen klasik bangunan Jawa di area tersebut.


Tetapi Jendral tahu bahwa ornamen-ornamen yang berada di istana rahasia Insagi ini, pasti sangat bernilai tinggi.


Jendral yang masih mempunyai visual Melin, duduk di atas kasur. Tak ada tali ataupun mantra yang mengungkungnya.


Insagi tampaknya bukan Manusia Setengah Siluman yang bodoh, tetapi kenapa dia meremehkan Jendral dan tidak memberikan pengamanan apa pun untuk berjaga-jaga. Bagaimana kalau ia berusaha kabur?


Tetapi Insagi hanya tahu kalau Melin tidak mempunyai kekuatan Siluman ataupun ilmu kanuragan yang mumpuni. Jadi mantan putra mahkota kerajaan Majapahit itu, pasti menganggap Melin hanyalah manusia yang remeh.

__ADS_1


Hal itu sama sekali tidak disayangkan oleh Jendral, karena dengan seperti ini Jacson pasti akan lebih mudah menjangkaunya. Lagi pula nanti ketika rencana untuk mengobrak-abrik istana rahasia Insagi ini dimulai, dia bisa dengan mudah keluar dari tempat ini. Tanpa harus bersusah payah membuka segel lagi.


Ruangan kamar yang ditempati oleh Jendral lebih mirip sarang burung, dari pada kamar manusia pada umumnya. Jeruji besi bak penjara mengelilingi tempat itu.


Ketika Jendral bangun lalu memeriksa setiap sisi dinding kamar tempatnya di sekap, dia tidak menemukan segel ataupun pagar gaib yang sengaja dipasang.


.


.


.


.


Paduraksa, Si Siluman Lintah tinggal disebuah kolam istana yang amat indah. Lelaki itu mempunyai paras yang tampan, dengan pembawaan yang sangat tenang.


Siluman yang mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan luka-luka luar makhluk apa pun itu, tampak sedang duduk di pinggir kolam dengan tatapan kosong yang mengarah ke langit yang berwarna biru bercampur jingga.


"Tuan Paduraksa hamba diperintahkan oleh Maharaja Insagi, untuk membawa wanita ini kemari.


"Agar Tuan Paduraksa bisa menyembuhkan luka yang diderita oleh Siluman ini!" kata pengawal yang membawa Jacson ke kolam Paduraksa.


Dengan Kharisma yang sangat luar biasa, lelaki berambut panjang dengan ikat kepala yang melingkar di kepalanya itu menoleh kearah Aya.


"Nama saya Aya, Tuan Paduraksa! Saya adalah manusia setengah Siluman Kucing Hitam!" jelas Aya yang kembali bersimpuh di atas tanah, untuk memberi hormat kepada Paduraksa yang mempunyai status lebih tinggi darinya.


"Jadi Tuan Insagi, menyuruhku untuk menyembuhkan lukamu?" tanya Paduraksa yang langsung berdiri dan berjalan santai ke arah Aya yang masih bersimpuh. "Baiklah, tinggalkan dia di sini! Kau Pergilah!" perintah Paduraksa pada pengawal yang mengantar Aya kepadanya.


"Sendiko dawuh Ndoro!" Pengawal itu langsung pergi begitu saja dari kolam istana Paduraksa.


Dengan tatapan yang lembut, tetapi penuh curiga. Paduraksa terus memandang Aya yang masih bersimpuh di atas tanah, untuk menghormati keberadaannya.


"Ternyata kau punya nyali juga, untuk masuk ke sini!" kata Paduraksa.


Lelaki itu berjalan menjauh dari Aya menuju Gazebo kecil di dekat kolam miliknya. Sementara Jacson yang tahu bahwa penyamarannya telah diketahui oleh Paduraksa segara mengikuti arah perginya Paduraksa.


"Di mana Sarewa?" tanya Jacson yang masih mempunyai visual gadis cantik dengan tubuh yang indah.


"Dia sudah pergi ke kamarnya!" jawab Paduraksa yang sudah duduk nyaman di salah satu kursi.


Tanpa sungkan dan juga rasa hormat Jacson duduk kursi yang paling dekat dengan Paduraksa.

__ADS_1


"Apa Yanuar datang kesini setelah...,"


"Tidak!


"Sebenarnya apa yang sedang kalian lakukan? Apa kalian akan menghancurkan dunia ini?!" tanya Paduraksa dengan nada bingung yang menggurui.


"Aku sedang mencegah Insagi, yang berencana untuk menghancurkan dunia!" ujar Jacson yang masih bersuara wanita muda yang manja. "Aku bingung kenapa Yanuar malah tidak muncul dan membuat keadaan jadi runyam begini!".


Jacson sangat kesal, dia tidak lagi peduli dengan rok yang dia kenakan dia sudah bertindak seperti laki-laki pada umumnya. Duduk dengan kaki terbuka dan tidak peduli dengan aurot yang dia punya.


"Insagi mungkin mengurungnya!" ujar Paduraksa.


"Apa?!" Jacson tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Bagaimana bisa Insagi menahan Yanuar?!".


"Yanuar mundur dalam ritual--kan?" tanya Paduraksa.


Jacson yang tahu akan hal itu, langsung mengiyakan pertanyaan Paduraksa. "Kau benar!".


"Yang membuat aku bingung Bukankah Insagi tapi kau!!! Kenapa kau malah berada di pihak, Jiwa Suci itu?"


"Aku tak ingin dunia ini hancur!"


Paduraksa menghela nafasnya panjang, dia kembali melihat ke arah kolam yang sudah puluhan tahun menjadi tempat tinggalnya.


"Aku tahu, apa yang akan dilakukan oleh Insagi itu salah! Tapi aku juga tidak bisa menghianatinya,"


Paduraksa tidak mungkin melupakan bagaimana Siluman Burung Garuda itu menyelamatkannya saat di Alam Buana.


"Kau tidak boleh menghianatinya, tapi paling tidak bantu aku cari tahu dimana Yanuar berada!" pinta Kades Desa Air Keruh itu dengan nada perempuan manja yang mengiba.


"Baiklah aku akan mencobanya!"


Insagi memang pernah menyelamatkan banyak Siluman yang kini menjadi budak-budaknya. Mereka sangat setia, karena Siluman tidak pernah melupakan tentang balas budi. Tidak seperti manusia yang bisa pura-pura lupa dengan kebaikan orang lain.


Manusia bahkan bisa menghianati orang yang paling mereka sayangi sekalipun. Karena hati manusia dan juga otak mereka terkadang mempunyai keinginan yang tidak sejalan.


Manusia yang memiliki usia yang cenderung lebih pendek daripada Siluman, juga mudah melupakan.


Ketika mereka bahagia mereka akan lupa rasa sedih mereka, dan ketika mereka sedih mereka akan lupa saat-saat bahagia di hidup mereka, begitulah manusia.


___________BERSAMBUNG_____________

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2