Hujan Teluh

Hujan Teluh
Apa Kau Juga Siluman


__ADS_3

Apa Kau Juga Siluman


~◇~◇~◇~


Ada yang menjemput gelap


Ada yang menuju terang


Ada yang lahir


Ada yang mati


Ada yang bahagia


Ada yang sedih


Ada aku


Ada kamu


Kita adalah dua hal yang berbeda tetapi harus ada.


Seperti rasa cinta dan kebencian.


Aku adalah hitam dan kau adalah putih.


Takdir kita, sebatas itu. Kita ada saling melengkapi dan selalu bersama. Tapi kita berbeda, kebersamaan bagi kita hanyalah harapan yang semu...


Adrian


~◇~◇~◇~


Mereka berlima sudah menaiki mobil Adrian untuk menuju Padang Tugu Mulia yang berada di Desa Pilip. Desa itu juga telah menjadi wilayah kekuasaan Siluman Macan Kumbang Yanuar.


Adrian menyetir mobilnya sendiri, Melin duduk disebelahnya. Sementara Jendral, Jacson dan Aya duduk di kursi belakang.


Tak ada suara manusia yang terdengar, hanya deru mesin  mobil Jeep Adrian yang menggema memenuhi renung kalbu setiap insan yang kini sedang dengan sengaja mendekati bahaya.


Adrian terus memandang ke depan karena jalan yang dilewati bukanlah jalan beraspal yang mulus. Mereka melewati hutan belantara yang jalan pemghubungnya masih terbuat dari tanah.


60 tahun sudah wilayah ini tidak dijamah oleh manusia, bahkan jalan penghubung yang mereka lewati sudah ditumbuhi oleh rumput liar dan semak belukar yang cukup tinggi. Karena itu Adrian memilih menggunakan mobil Jeep kesayangannya untuk melewati medan yang amat brutal ini.


Tak ada keraguan sedikitpun di raut wajah Adrian, dia tampak tegas dan seperti tidak akan pernah mundur. Meski rintangan yang akan dihadapi sangat mengerikan dan membahayakan.


Lain halnya dengan Melin yang penuh rasa ragu, dia sangat takut. Dia takut dia akan menjadi seseorang yang pernah dia lihat di ingatan Nenek Yah.

__ADS_1


Karena keraguan itu Melin memandang kearah Adrian sejenak. Dia mengingat kata-kata Adrian setelah lelaki itu melilitkan perban ke seluruh luka di tubuhnya.


~¤~¤~¤~


'Jangan melakukan hal bodoh, seperti menyerah kepada Insagi! Aku tidak akan membiarkan kau mati, di tangan Manusia Setengah Siluman rendah itu!'


~¤~¤~¤~


Sebenarnya apa yang Adrian sembunyikan darinya, kenapa lelaki gagah itu tidak mau mengatakan alasan sebenarnya kepada Melin.


Karena hal itu Melin semakin bimbang dengan dirinya sendiri, dia bahkan tidak percaya pada dirinya sendiri yang telah mencurigai semua orang.


Tetapi hanya satu hal yang ingin Melin lakukan, meskipun dia tahu akhirnya dia akan kecewa. Percaya kepada Adrian dengan sepenuh jiwanya.


Melin benar-benar sudah tidak berdaya akan dirinya sendiri, dia hanya berpikir tentang Adrian, Adrian dan Adrian. Sampai dia lelah.


Bersandar kepada Adrian adalah hal yang dia inginkan, dia juga tidak bisa menolaknya.


Akhirnya Setelah beberapa lama berkendara mereka sampai di sebuah gapura yang cukup aneh. Gapura itu terlalu kecil untuk menjadi penanda masuk ke sebuah Desa.


Lebarnya mungkin hanya dua meter dan tingginya adalah tiga meter. Di atasnya ada atap seng yang sudah tidak berbentuk lagi, karena ditutupi oleh berbagai macam tanaman rambat yang amat lebat.


Satu persatu manusia keluar dari dalam mobil Adrian, begitu juga dengan Melin yang langsung merasakan hembusan angin saat dia membuka pintu mobil di sisi kirinya.


Angin yang cukup aneh, karena sangat lembut untuk angin yang berhembus di area terbuka seperti ini.


Di depan gapura dihadapan mereka, sudah terlihat jelas bahwa ada padang rumput yang sangat luas. Padang rumput yang amat indah. Jika padang rumput itu terletak di kota, pasti akan menjadi destinasi wisata yang ramai dikunjungi oleh para pelancong.


Warna kuning keemasan yang menyelimuti seluruh area padang rumput, serta beberapa pohon yang hijau di beberapa sisi membuat padang rumput itu itu seperti dunia Lain.


"Jendral dan Aya akan berada di luar gerbang untuk menjaga Melin!


"Aku dan Jacson akan masuk duluan!" ujar Adrian.


Tetapi langkah Adrian terhenti karena Melin meraih salah satu telapak tangan lelaki gagah itu.


"Kita masuk bersama-sama!" ujar Melin.


"Turuti perintahku!" kata Adrian dengan nada ketus.


Melin dan Adrian terhenyak karena Jendral meraih tangan lain Melin yang tidak menggenggam jemari Adrian.


"Tenang! Aku akan menjagamu disini!" kata Jendral dengan sangat percaya diri.


Karena bentakan dari Adrian dan juga kata-kata Jendral yang membuat Melin tenang. Akhirnya Melin melepaskan tangannya dari tangan Adrian, Meski terasa sangat berat bagi Melin untuk jauh dari Adrian.

__ADS_1


Tersirat jelas Adrian cemburu kepada dua insan yang kini tengah bergandengan tangan di depannya. Namun dia membuang mukanya ke arah lain, agar emosi sesaat yang dia rasakan tidak tertangkap oleh netra manusia yang berada di sana.


Kelihatannya Jacson juga tidak keberatan dengan ide Adrian, karena Kades Desa Air Keruh itu mengikuti langkah Adrian tanpa berkomentar apa pun.


Kedua pria bertubuh kekar itu melangkahkan kakinya menyusuri tangga berundak, untuk melewati gapura pembatas antara Desa Air Keruh dan juga Desa Pilip.


Keduanya tampak sangat yakin, entah yakin akan menang atau yakin akan kalah. Tapi langkah keduanya begitu mantap saat menyusuri tangga berundak yang sudah dipenuhi oleh rumput liar menuju gapura Padang Tugu Mulia.


Ketiga orang yang tersisa di luar gapura, hanya bisa memandang punggung-punggung kedua pria itu. Dengan tatapan yang berbeda-beda sesuai dengan isi hati yang mereka rasakan.


Mungkin ini adalah hari terakhir hidup mereka di bumi ini. Namun ini, juga bisa menjadi hari pertama mereka menjalani hidup yang berbeda.


Jendral masih menggenggam tangan Melin. "Tenanglah semua akan baik-baik saja!" ujar Jendral.


Jendral bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Melin, gadis itu pasti tidak hanya khawatir tentang Adrian yang berkorban untuknya. Tetapi Melin pasti juga khawatir dengan semua hal yang berada di Desa Air Keruh ini.


Tebakan Jendral tidak sepenuhnya salah, Melin memang mengkhawatirkan semuanya. Tetapi rasa khawatir terbesarnya tentu saja terarah kepada Adrian. Melin tidak ingin laki-laki yang dia cintai itu terbunuh di sini.


"Aya, dimana Insagi berada sekarang?" tanya Melin.


Aya yang dari tadi hanya diam saja langsung terlihat gugup.


"Aku tidak tau!" ujar Aya masih dengan kegugupan yang tidak bisa disembunyikan oleh Siluman Kucing Hitam itu.


"Aku tahu, kau diam-diam berkomunikasi dengan Insagi melalui telepati!" kata Melin.


Gadis manis itu tanpa rasa takut mendekati Aya yang merupakan Manusia Setengah Siluman. Melin sama sekali tidak takut jika Siluman Kucing Hitam itu akan menyerangnya.


"Kau...??!" ujar Aya binggung.


"Aku bisa mendengar semuanya apa yang kalian bicarakan di dalam telepati!


"Kau pura-pura dikhianati oleh temanmu agar kau bisa mendekati kami--kan?!" tanya Melin.


Jendral yang tidak tahu apa-apa segera berdiri sedekat mungkin dengan Melin, agar jika Aya ingin menyerang Melin. Jendral bisa langsung menghabisi wanita Siluman itu sebelum Melin terluka.


"Kaaaauuuu...Bisa mendengar semuanya?" tanya Aya.


Siluman itu pasti sangat gugup dan takut karena Melin pasti sudah tahu. Tentang rencana apa yang disiapkan oleh Insagi untuk menghadapi Melin dan kawan-kawan.


Melin mengarahkan tangannya ke arah leher Aya, Melin mencekik leher Siluman Kucing Hitam itu dengan sekuat tenaganya. Sampai tangan imutnya berubah berbulu dan bercakar.


Jendral yang melihat perubahan itu ditangan Melin terkejut, dia seketika langsung memandang ke arah wajah Melin yang juga berubah seram.


"Apa kau juga Siluman?" tanya Jendral pada Melin.

__ADS_1


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2