Hujan Teluh

Hujan Teluh
Hasrat Jacson


__ADS_3

"Wanita gila itu masih hidup setelah ritual!" ujar Melin.


"Benar, dia masih hidup!" jawab Jacson.


'Wanita gila itu masih hidup, tapi percuma jika hidup tapi harus gila selamanya,' suara hati Melin menggema memenuhi ruang dikepalanya.


Dretttttt


Dretttttt


Dretttttt


Ponsel disaku hodie Melin bergetar, dan Melin melihat ke arah layar yang menyala berkedip itu.


Panggilan dari Bundanya. Seletah melihatnya sekilas, Melin memgabaikannya. Dia sama sekali tak ingin mengangkat panggilan bundanya kali ini.


"Kenapa tak kau angkat?" tanya Jakson pada Melin.


Melin hanya terdiam tak mau menjawab, wajahnya seketika lesu dan tak bertenaga. Bagaimana tidak, dia merasa hanya punya dua pilihan. Mati atau menjalani sisa hidupnya sebagai wanita gila.


"Bilang ke bundamu, suruh Adrian mengembalikan Arinda padaku!" ujar Kades Desa Air keruh itu.


"Apa gue akan mati, atau menjadi gila seperti wanita itu?!" tanya Melin.


Tak bermaksut apa pun, Melin hanya merasa dia disingkirkan. Padahal yang hidupnya dalam bahaya saat ini adalah dirinya. Kenapa pria yang mengaku sebagai teman ayahnya itu malah memikirkan Arinda, Melin tak cemburu sosial. Hanya saja, bukankah sesama manusia harusnya Jacson menolong dia dulu.


Perkataan Melin sukses membuat Jacson sedikit simpati. Karena sifat dasar Jacson yang baik hati dan suka menolong.


"Semoga tak keduanya!" ujar Jacson.


Permohonan Jacson itu tampaknya sedikit melegakan hati Melin.


"Apa gue boleh kabur?" tanya Melin.


"Entah, aku tak tau," sebagai pria terpelajar baru kali ini, Jacson dibuat tak berdaya dengan sebuah pertanyaan dari seorang gadis muda.

__ADS_1


Karena semua pilihan yang disuguhkan tak ada yang mempunyai kekuatan, untuk dapat dia andalkan. Semua abu-abu, dicoba atau tidak. Semua itu terdengar hanya menghabiskan banyak waktunya tanpa hasil yang jelas. Sedangkan Jacson tipe pria yang tak suka melakukan hal semacam itu.


"Jika gue kabur, semua warga Desa akan mati. Jika gue tetap tinggal maka gue akan menyelamatkan semua nyawa warga Desa.


"Anjimmmm!!! Gue bukan Captain Marvel atau Balck Widow, kenapa gue harus melakukan pengorbanan konyol seperti itu?!" Melin mulai bertanya dengan nada yang emosional.


Gadis itu cukup pintar, dia bisa menyimpulkan semuanya hanya dengan mendengar pembicaraan para orang dewasa.


"Apa jiwamu terpanggil untuk berkorban?" tanya Jacson.


Melin yang masih frustasi, hingga air matanya jatuh mengalir ke pipinya itu segera menoleh ke arah Jacson.


"Kenapa harus gue? Kenapa?!!!" teriak Melin.


"Mari kita pergi ke tempat sesorang yang bisa menjelaskan ini!" ujar Jacson.


Sejenak, Jacson melupakan Arinda. Perhatiannya tersita pada gadis manis dengan nasib naas di sampingnya. Tak tega juga memanfaatkan kelemahan seseorang, untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.


Sejak kapan Jacson menjadi pengecut dan menghancurkan dirinya sendiri. Bukankah harusnya dia adalah manusia yang harus tetap rasional, meski semua orang menjadi menggila.


Rasa kasihan dan perhatian, membuat Jacson sedikit memperhatikan paras Melin yang terlihat sangat manis dan cantik. Jarak sedekat ini, membuat hati yang sudah lama mati milik Jacson berdegup kembali.


Kupu-kupu dan bunga yang bermekaran kembali memenuhi dadanya. Sesuatu yang dia kira hanya bisa dia rasakan pada Arinda muda, kini dia rasakan kembali pada gadis belia dibawah tubuhnya. Gadis 17 tahun, gadis yang 20 tahun lebih muda darinya.


"Aku pasti sudah gila!" ujar Jacson.


Dia menarik tubuhnya, setelah selesai menyetel kursi penumpangnya. Tapi saat Lelaki paruh baya itu, kembali fokus kekemudinya. Karena Jacson menghentikan mobilnya di pinggir jalan untuk membenarkan setelan kursi Melin, supaya gadis manis itu nyaman dalam tidurnya.


"Mas Jacson! Apa kau akan kembali?" suara lembut dengan intonasi rendah yang menghanyutkan.


Suara yang langsung mengobrak-abrik renung hati Jacson. Mata memerah sembab Jakson segera mengarah ke arah Melin yang masih tertidur pulas. Karena suara manis itu, keluar dari mulut gadis yang sedang asik mengarungi alam mimpinya itu.


Jacson tak jadi menyetir, dia mematikan lagi mesin mobilnya. Dia ingin memastikan sesuatu, memastikan bahwa suara yang dia dengar bukan sekedar halusinasi.


"Aku pasti kembali padamu!" kata Jacson.

__ADS_1


Ingatan akan dialok ini kembali berputar di otak Jacson.


"Cepat kembali, karena aku tak bisa hidup tanpamu!" kata Melin.


Netra gadis itu masih terpejam, tapi dia seperti bisa menyahut apa yang Jacson katakan.


"Kau pikir aku bisa hidup tanpamu?" kata-kata yang dulu Jacson katakan dengan senyuman. Kini dia katakan dengan nada marah yang tertahan.


Bahkan Melin bisa tersenyum dalam tidurnya, senyum tipis yang kalem khas milik saat masih Arinda muda.


"Arinda, tunggu aku! Aku pasti akan cepat kembali untukmu!" ujar Jacson.


Pria paruh baya yang masih tampan dan terlihat muda itu, malah menundukkan kepalanya semakin dalam ke arah wajah Melin. Gadis manis itu tengah tidur  terlentang di jok penumpang samping kemudi. Setelan kursinya paling rendah, hingga tubuh Melin hampir terlentang dengan sempurna.


Entah karena terbawa suasana apa karena ada setan yang lewat. Pak Kades Desa Air Keruh itu dengan berani, mendekatkan wajahnya ke arah wajah Melin yang terlentang di sampingnya.


Sebuah kecupan hangat mendarat tepat di bibir Melin, kecupan lembut itu berkali-kali di layangkan oleh pria terpelajar itu. Sampai mata Jacson yang awalnya terpejam, kini terbelalak kaget. Karena kecupan hangatnya ternyata mendapat balasan yang indah.


Persis sama, itu kecupan yang biasa dilayangkan oleh Arinda padanya. Semakin dalam dan semakin nikmat, tanpa sadar karena buaian kenikmatan itu. Pak Kades yang masih lajang itu tak peduli lagi akan tempat mereka.


Sementara tangan kirinya menahan beban tubuhnya yang melengkung di atas tubuh Melin. Maka kelima jemari tangan kanannya sudah berkeliaran, insting untuk mengugah n.fasu lawan jenisnya.


Anehnya tubuh ramping Melin, mengikuti aliran gejolak membara itu. Tubuh gadis belia itu telah dirasuki pikiran Arinda mungkin. Melin menikmati setiap sentuhan dan getaran yang disuguhkan oleh Jacson. Jemari gadis belia itu bahkan meraih tengkuk pria yang 20 tahun lebih tua darinya itu.


Memberikan kecupan dan hisapan di bibir pria 47 tahun itu tanpa rasa malu, sabuk pengaman Melin juga sudah lepas dari slotnya. Sehingga jemari tangan kanan Jacson bebas bertreveling, berkelilingi ke area-area sensitif Melin yang masih ditutupi dengan kain pakaian di tubuhnya.


Kekuatan setan itu sudah menguasai keduanya, karena lenguhan kenikmatan sempat keluar dari mulut Melin. Mata gadis itu terbuka, manik yang awalnya hitam legam itu kini berwarna semburat coklat yang indah.


Seperti terhipnotis, Jacson hanya bisa melihat wajah dan ekspresi Arinda di depannya. Jadi kecupan hangatnya kembali dia layangkan ke arah leher jenjang Melin, tak dapat betontak hanya bisa menerima. Meski kenikmatan itu menghasilkan ******* kecil yang membuat candu.


Jemari Jacson juga mulai berani menyusuri bagian dalam Hodie Melin. Menyingkap sedikit kain lembut yang tebal itu, ciuman hangat dan hisapan itu kini diarahkan Jakson ke arah perut rata Melin. Tapi singkapan kain itu semakin naik, ditambah lenguhan dan ******* lembut Melin. Hal itu membuat Jacson makin menggila.


Udara pagi buta yang dingin mengigit itu berubah panas seketika.


___________BERSAMBUNG_____________

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2