Hujan Teluh

Hujan Teluh
Kakak


__ADS_3

"Cepat bergerak! Kenapa malah bengong!" bentak Melin kepada Jendral.


Cowok SMA itu malah hanya berdiri tegak, di hadapan Melin. Bukannya langsung pergi, untuk menunaikan ide yang baru saja dia cetuskan.


"Kau yakin, akan baik-baik saja tanpa diriku?" tanya Jendral.


Pertanyaan yang benar-benar tidak penting. Selain membawa kabur Melin, apakah yang dilakukan oleh Jendral. Tak ada sesuatu yang berguna, untuk gadis manis itu.


"Cepat pergi dari sini! Sebelum tertampol, muka tampanmu itu dengan ini!" kata Melin.


Gadis manis itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk menakuti Jendral.


"Kau baik-baik saja. Tunggu aku, jangan pergi kemana-mana!" nasehat Jendral.


"Siap bos! Cepat sana, hari sudah mulai gelap ini!" kata Melin.


Gadis manis itu benar-benar sudah tidak sabar dengan kelakuan bucin Jendral. Sehingga Melin membalikkan tubuh cowok SMU itu, lalu mendorong tubuh Jendral. Agar Jendral segera bertindak.


Jendral memang melangkah pergi, namun berkali-kali dia menoleh ke arah Melin. untuk memastikan Gadis itu baik-baik saja.


Jenderal begitu sangat khawatir, karena dia tidak ingin melihat Melin terluka.


Sementara gadis yang dikawatirkan oleh cowok SMU itu, malah begitu santai. Dia duduk di atas rumput, disamping mobil polisi. Meskipun Melin harus sembunyi dari semua orang yang tinggal di Desa Air Keruh ini. Dia sama sekali tidak terlihat ketakutan.


Entah karena Melin memang tidak bisa merasakan rasa takut, atau apa yang telah dialami di desa ini, adalah hal yang biasa menurutnya.


"Akhirnya kau sendirian!" sebuah suara lirih yang melengking menyeruak di telinga Melin.


Namun Melin, pura-pura tidak mendengar suaraan wanita aneh itu.


Sosok kurus, dengan kulit pucat. Matanya yang putih seutuhnya, bagian-bagian pinggirnya yang membiru-menghitam. Begitu juga dengan mulut yang seperti baru saja memakan tanah yang hitam.


Rambutnya panjang berantakan sedikit basah, kuntilanak itu memakai baju berwarna putih yang amat sangat kusam. Mungkin sudah ratusan tahun tidak dicuci, apalagi disetrika.


Sosok menyeramkan itu duduk disamping Melin.


"Aku tahu kau bisa melihatku! Tidak perlu pura-pura!" ujar kuntilanak itu, dengan nada yang amat sangat santai.


Hantu yang gentayangan di siang bolong itu, seperti tengah bicara dengan sahabat karibnya.


Melin bisa mendengar semua perkataan kuntilanak di sebelahnya, namun dia sedang tidak ingin bercanda apalagi mendengarkan ocehan-ocehan mistis, dari orang yang telah mati sejak lama.


"Apa kamu tahu? Kenapa di desa ini hanya ada satu hantu, yaitu aku?" tanya kuntilanak itu.


Akhirnya Melin memikirkan tentang pertanyaan kuntilanak itu. Memang benar, selama dia berada di Desa Air Keruh. Dia tidak pernah melihat hantu lain, selain kuntilanak yang duduk disebelahnya ini.


Namun Melin enggan menanyakan alasannya, kepada kuntilanak di sebelahnya.


Kuntilanak di sebelah Melin terlihat masih cukup muda. Hantu ini pasti meninggal saat usianya masih belia.

__ADS_1


Tidak mungkin Melin mendengar khotbah menyeramkan, dari bocah hantu seusianya. Karena bagaimanapun, manusia yang meninggal saat usianya masih muda. Pikirannya akan selalu berada di usia itu, meskipun manusia yang meninggal muda itu menjadi hantu selama ribuan tahun.


"Karena aku adalah salah satu manusia, yang meninggal.


"Sebelum kutukan Hujan Teluh  itu terjadi!" kata kuntilanak itu.


Melin berpikir lagi tentang perkataan kuntilanak di sebelahnya. Berarti kuntilanak ini, meninggal sebelum Kinan.


Berarti satu-satunya saksi kekejian teror Hujan Teluh hanyalah kuntilanak ini.


Tetapi Melin belum bisa terpancing. Sudah ratusan kuntilanak, yang pernah ditemui oleh Melin semenjak dia hidup.


Makhluk sejenis kuntilanak memang sangat suka diperhatikan. Mereka lebih sering menampakan dirinya, kepada manusia daripada hantu lain.


Dan ketika kita sudah memperhatikannya, maka kuntilanak itu tidak akan pernah melepaskan kita. Dia akan selalu berada di dekat kita, sampai kita mati.


Begitulah karakter makhluk yang meninggal karena keguguran atau pemerkosaan itu.


"Siluman Macan Hitam memang suka membunuh manusia di sini!


"Tapi tahun lalu, dia membunuh seluruh manusia yang berada di sini!" kata kuntilanak itu tanpa diminta oleh Melin.


"Aku hanya melihat warna merah, setiap aku pergi ke tempat yang aku sukai!" lanjut kuntilanak itu.


"Siapa pun yang kau lihat di desa ini, bukanlah manusia!" kata kuntilanak jorok itu.


Melin membeku, setelah mendengar seluruh pernyataan kuntilanak itu. Jendral, Adrian ataupun Pak Jacson, mereka semua bukanlah manusia.


"Kau jangan takut, ada aku disampingmu!" kata kuntilanak itu.


"Aku sudah berjanji akan kembali--kan! Aku kembali!!!


"Aku selalu disini, menunggumu!" kata kuntilanak itu


Melin mengangkat tangan kanannya, ia penasaran dengan kejujuran tentang pernyataan kuntilanak yang duduk sebelahnya.


Gadis belia itu mengambil resiko, akan diikuti kuntilanak ini selamanya.


Melin menatap tangan pucat, yang sudah menghitam milik kuntilanak di sebelahnya. Kuntilanak yang duduk selonjoran di sebelahnya, meletakkan tangannya di pahanya sendiri.


Perlahan-lahan tangan Melin meraih salah satu tangan kuntilanak itu. Melin ingin melihat masa lalu dari hantu di sebelahnya.


Kedua gadis belia, berbeda alam itu saling memandang satu sama lain.


Mata Melin memerah, cairan bening mulai meluber dari celah matanya. Ia dapat melihat semua masa lalu kuntilanak di sebelahnya.


"Kakak!" kata Melin.


"Jangan takut!" ujar kuntilanak itu.

__ADS_1


Nada bicara kuntilanak itu tak kalah sedih.


"Kenapa kau meninggalkanku?" tanya Melin, ia menangis kencang sekali. "Kenapa?".


Tampaknya Melin melihat sesuatu, yang mengguncang jiwa dan raganya. Kuntilanak itu pasti punya hubungan dengan Melin, dikehidupan masa lampaunya.


"Aku harus pergi, pria itu datang!


"Ingat jangan percaya pada siapa pun! Kau harus percaya pada matamu sendiri!" ujar kuntilanak itu.


Tak butuh waktu lama, hantu itu segera menghilang dari pandangan Melin.


Suara deru motor dengan kenalpot berisik, mulai membelah lamunanya. Melin sadar, setiap ia menginggat atau membaca ingatan seseorang. Ia akan terbawa suasana, seperti sedang menonton film di bioskop. Begitulah gambaran, setiap ingatan mahluk yang ia baca.


Deru suara kenalpot yang amat berisik itu semakin mendekat ke arah Melin. Melin segera mengusap air mata yang membasahi pipinya, ia tak mungkin menunjukkan wajah sembabnya pada Jendral.


Bisa-bisa cowok SMU itu akan sangat heboh, jika melihat dirinya bersedih.


"Mellll! Aku sudah dapat motornya!" ujar Jendral.


Cowok SMU itu berteriak senang, ia begitu bahagia. Karena berhasil mendapatkan barang yang di inginkan oleh Melin.


"Melll, kamu nggak papa!" pertanyaan itu kembali ditanyakan oleh Jendral pada Melin.


"Nggak, tadi aku hanya kelilipan!" kata Melin, ia berbohong.


"Coba sini aku lihat!" Jendral mendekatkan wajahnya ke arah wajah Melin.


Mata lelaki muda itu, menelisik ke dalam bola mata Melin. Menyisir setiap sudutnya, namun pandangannya teralih ke bibir Melin yang terlihat amat manis bagi lelaki belia itu.


Jendral sampai menelan saliva di tengorokannya, karena ingatannya. Mengingat tentang ciumannya dengan Melin beberapa hari yang lalu.


Lembut, basah, dan menegangkan. Jantungnya seketika berpacu makin cepat. Namun Jendral sadar, hati gadis di depannya bukanlah miliknya.


Ia tak mau memaksa Melin untuk menyukainya, dan membuat gadis itu bersedih lagi.


"Kayaknya sudah bersih!" ujar Jendral.


Cowok SMU itu menjauhkan wajahnya dari Melin. Namun sebuah dekapan erat ia dapat. Melin meraih pinggang Jendral ke pelukannya.


Dek


Dek


Dek


Dek Dek Dek Dek Dek Dek


Jantung Jendral seolah berlari dari tempatnya. Berputar-putar di dada dan perutnya, ngilu memang. Namun lelaki SMU itu tampak tersenyum bahagia.

__ADS_1


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2