Hujan Teluh

Hujan Teluh
Love Story


__ADS_3

\=Love Story\=


      -Aku selalu tau


bahwa aku buruk pada kisah cinta


      -Para pahlawan yang melukai dirinya sendiri di atas cinta


      -Tak berujung bicara


      -Gosip lucu yang berulang


      -Aku selalu mencoba untuk menyelinap pergi dari itu


      -Sekarang aku sudah dewasa,tetapi ada hal yang kuinginkan di tanganku


      -Aku tau siapa kau sekarang


      -Aku tak bisa memiliki senyum abadimu di tanganku


      -Aku ingin tertidur seperti anak kecil di tanganmu


      -Tiba-tiba,aku berharap hari-hari tidak akan berakhir


      -Sekarang itu yang aku pikir,air mataku tidak akan mengalir keluar bahkan dalam kabut kelam


      -Hal-hal yang masih sama bahkan setelah beberapa saat


      -Kau tau bahwa aku tumbuh


      -Tapi ada hal yang kuingin di tanganku


      -Sebaliknya,aku tau siapa kau


      -Aku harus berpisah dengan kebaikan dan senyummu


      -Bahkan jika ada seseorang melihat


      -Menghabiskan waktu denganku


      -Kita tidak boleh lupa tentang hari-hari yang akan datang


      -Tapi aku akan terus mencintaimu dalam hati ini


      -Bahkan jika kita tidak bersama-sama lagi


      -Karena itulah kisah cinta kita


      -Kita bertemu meskipun kita tau, hal-hal dapat berubah


      -Aku bersyukur untuk keajaiban ini

__ADS_1


      -Hari-hari dulu yang baik tak tergantikan


      -Meski menyesal,meski sakit


      -Meski kesedihan bersinar


      -Kemarin...


      -Mungkin,pasti aku mencintaimu lebih dari orang lain


   


      -Karena aku memilih jalan ini bahwa aku berjalan


      -Tetapi bahkan jika aku terlahir kembali,bahkan jika kita tidak bersama-sama lagi


      -Aku akan terus mencintaimu


      -Karena itulah kisah cinta kita


~●~●~●~●~●~●~●~●~●~●~


.


.


.


.


Saat ini kebun sawit itu sudah menjadi hutan belantara, karena pemilik kebun itu adalah orang Pilip yang pergi dari sana 40 tahun yang lalu.


Dulunya ada salah satu warga yang mau merawat kebun kelapa sawit diarea terduga lokasi dimana gubuk reot itu berada. Namun banyak kejadian aneh yang menimpa orang yang merawat kebun dimana gubuk reot mistis itu berada.


Alhasil setelah itu tak ada orang yang berani merawat kebun sawit selebar dua hektar itu. Untuk sekedar lewat daerah itu saja, banyak para petani di Desa Air Keruh tak bernyali.


Karena banyak petani yang melintasi area itu, sering melihat penampakan sosok hantu wanita berkain merah. Sosoknya sangat menyeramkan dengan luka bakar disekujur tubuhnya.


Meski ladang itu terletak tengah-tengah perkebunan kelapa sawit. Namun ke mistisannya tak berkurang sedikit pun. Kabut putih sering menyelimuti daerah itu, dan kadang-kadang terdengar suara jeritan wanita minta tolong dari sana.


.


.


Jendral menghentikan laju kendaraannya, matanya langsung tertuju pada semak-semak tinggi didepannya.


Sorot cahaya rembulan yang sedang purnama membantu penglihatan Jendral. Terlihat jelas tak hanya angker, namun juga berbahaya.


Apa saja bisa berada di semak belukar setinggi itu, hewan melata, hewan merangkak, bahkan hewan yang bisa terbang bisa saja bersembunyi di dalam sana.


Namun kenyataan itu tidak menyurutkan tekad Jendral, untuk mencari keberadaan pondok reot mistis.

__ADS_1


Jendral turun dari motor sportnya dan mengeluarkan beberapa benda dari dalam tasnya. Sebuah senter dengan nyala yang cukup terang dan sebilah kayu ia tenteng saat ini. Apa pun bisa terjadikan, jadi Jendral mempersiapkan semuanya sebelum mendapatkan celaka.


Langkah kaki Jendral mulai menapaki setiap senti jalan setapak menuju ke dalam kebun sawit, yang sudah menjadi hutan belantara itu.


Meski rasa takut sudah mencekam hati dan pikiran Jendral. Namun cowok SMA itu tetap melangkah maju dengan langkah yang sedikit ragu.


Siapa yang tak ragu melangkah ke dalam semak belukar, yang tingginya hampir sama dengan tubuh kita. Jendral tidak tahu apa yang berada di dalam sana, bisa jadi binatang buas telah menantinya, untuk menjadikannya sebagai santapan malam.


Namun Jendral harus menepis rasa takut di dalam hatinya. Dia seorang lelaki, tidak boleh menjadi penakut. Meski pun pria juga memproduksi hormon epinefrin, tuntutan lelaki bisa lebih kuat dari pada perempuan. Sudah menjadi tolak ukur untuk masyarakat di dunia ini.


Manik matanya tidak tenang, langkahnya bergetar dan nafasnya sudah tak beraturan. Sorot sinar senter yang dia genggam menyapu setiap detail semak-semak di depannya. Meski Jendral tidak pernah memperhatikan hal lain selain Melinda, kini dia menajamkan matanya untuk melihat sekitar.


Telinganya yang jarang mendengarkan setiap suara di sekitarnya pun, juga dia gunakan kali ini. Telinga yang dulunya tidak bereaksi dengan suara teriakan, kini langsung bisa mendengar sebuah goyangan rumput liar yang diterpa angin malam.


Saat ketakutan indra pendengaran dan juga penglihatan menjadi lebih tajam dari pada biasanya. Bahkan imajinasi kita menjadi lebih hidup, saat detak jantung kita meningkat. Itulah kenapa kita sering melihat hantu saat kita sedang ketakutan.


Kedua tangan Jendral menyibak semak belukar yang menghalangi jalannya. Dengan perasaan penuh was-was Jenderal masih melangkahkan kakinya dan mencoba menenangkan pikirannya.


Ia juga memfokuskan pendengarannya, Jenderal berharap mendengar suara apa saja. Namun harapan terbesarnya adalah mendengar suara Melinda.


"Cepat jalan, kamu nggak mau kuseret--kan!" teriak suara maskulin yang cukup familiar di telinga Jendral.


Secepat kilat Jendral segera duduk, dia menengkurapkan senter yang ia bawa. Agar sinar senter itu tidak dideteksi oleh pemilik suara teriakan itu.


Di dalam posisi jongkoknya, Jendral mencoba mendengar suara langkah kaki yang dihasilkan oleh pemilik suara teriakan tadi. Namun sepertinya langkah kaki yang terdengar oleh Jendral, tidak berasal dari satu pasang kaki saja.


Orang itu jelas tidak sendirian.


Jendral menaikkan kepalanya, dia penasaran dengan identitas orang yang berteriak tadi. Setelah posisi matanya, tidak terlalu terhalang oleh rimbunnya semak belukar. Jendral mencoba melihat ke arah asal suara tersebut.


Samar-samar, hanya dengan diterangi oleh sinar rembulan. Manik mata Jendral menemukan dua sosok manusia yang ia cari.


Tebakanku tak pernah salah kata Jendral dalam hati.


Teriakan suara maskulin tadi ternyata berasal dari mulut Adrian, yang sedang menggiring Melin menuju entah kemana.


Dari tempatnya Jendral memata-matai keduanya, cowok SMA itu tidak berani keluar secara terang-terangan di hadapan Adrian. Tujuannya datang ke sini adalah untuk menyelamatkan Melin dari jeratan ritual Hujan Teluh. Yang telah menjadi tradisi aneh di Desa Air Keruh ini.


Adrian pasti akan mengganyangnya dengan bogeman, tendangan, atau pun jurus mematikan lainnya. Jendral tidak ingin mati di tangan lelaki setengah siluman itu, tepatnya Jendral tidak ingin mati sebelum menyelamatkan Melin.


Jendral bisa melihat betapa kasarnya Adrian memperlakukan Melin. Lelaki itu hanya memberikan sehelai kain merah, untuk menutupi tubuh putih mulus Melin. Rambut gadis belia yang biasanya lembut dan tertata rapi itu, kini acak-acakan tanpa perawatan.


Bahkan sehelai alas kaki saja tidak Adrian berikan untuk Melin. Bisa dipastikan ujung kaki jenjang gadis SMA itu, pasti mempunyai banyak bekas luka. Dari mana pun mereka berasal, mereka pasti sudah berjalan cukup jauh untuk datang ke tempat ini.


Mengenaskan gadis kota yang tidak pernah merasakan penderitaan, harus berjalan tanpa alas kaki di tengah hutan belantara. Menahan sakit dan dingin di tubuhnya yang masih belia itu.


Kenapa Mas Adrian sangat brutal seperti itu, Bukankah Melin adalah keponakannya sendiri.


Jendral bisa mengerti tentang tuntutan ritual untuk menumbalkan Melin. Namun Apakah ia, gadis manis itu layak mendapatkan perlakuan yang sekejam itu. Selayaknya tahanan nara--pidana kasus pembunuhan.


___________BERSAMBUNG_____________

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2