Hujan Teluh

Hujan Teluh
Rintik Hujan


__ADS_3

Duarrrrrrrrrrrr


Suara ledakan yang cukup keras menggema di kamar Melin.


Gadis manis itu mengeryitkan dahinya, dia menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya.


"Anjirrrr keras banget!" ujar Melin.


Telinganya berdengung, meski dia telah bersembunyi di dalam almari jati yang terletak paling jauh dari pintu kamarnya.


Trauma pasca--ledakan tidak dihiraukan oleh Melin. Gadis itu segera keluar dari lemari jati. Kamarnya penuh dengan asap, namun Melin sudah siaga dengan handuk basah yang ia tutupkan ke mulut dan hidungnya.


Sesuai dengan prediksinya, pintu kayu di kamarnya sudah hancur berantakan. Karena ledakan tiga bahan kimia rumahan yang ia racik. Meskipun Melin adalah gadis yang suka memberontak, namun ia pandai dalam ilmu pelajaran kimia dan juga fisika.


Melin harus segera pergi dari kamar itu, sebelum Jacson dan Mbok Painan memeriksa kamarnya. Suara ledakan yang begitu amat menggelegar tadi, pasti membuat kedua orang itu khawatir dengan keadaan tawanan mereka yaitu Melin.


Melin terpaksa melakukan hal ekstrim itu, karena dia tidak dapat menemukan cara lain untuk keluar dari rumah Jacson. Sedangkan ia harus kabur dari Desa Air Keruh ini.


Karena hanya itulah satu-satunya jalan agar Melin, tidak menjadi tumbal keserakahan warga Desa Air Keruh.


.


.


Karena kelincahan dan juga ketepatan Melin dalam menghitung situasi. Gadis manis itu berhasil kabur dari rumah Jacson.


Meskipun begitu, Melin belum sepenuhnya terbebas dari cengkraman menjadi seorang tawanan. Dia berusaha sebisa mungkin sembunyi dari penglihatan warga desa. Karena dia tahu semua warga Desa Air Keruh, menginginkan jiwa untuk menentramkan kehidupan mereka.


Alhasil Gadis itu tidak dapat menggunakan jalan besar di desa itu. Melin harus menggunakan jalan setapak yang berada di kebun belakang rumah-rumah warga. Ia berusaha menentukan arah jalan, menuju rumah Adrian.


Selain Melin harus mengambil senjata Ellen, gadis itu juga harus menyingkirkan sebuah kalung yang tinggalkan di kopernya. Kalung berliontin bulat yang isinya foto keluarga angkatnya.


Kalung itu adalah barang pertama, yang diberikan oleh kedua orang tua angkatnya padanya. Satu-satunya barang, yang bisa menuntun Adrian padanya mesti dia sudah kabur dari Desa ini.


Meski rasa dendam karena dikhianati oleh Adrian, masih bersarang apik di hatinya. Tapi Melin harus memikirkan cara yang lebih mudah untuk dirinya sendiri dahulu.


Ia pasti akan membalas semua perbuatan Adrian kepadanya, suatu saat nanti. Tepatnya semua warga Desa Air Keruh yang sudah melecehkan. Martabat banyak wanita, Kinan, Arinda, Lastri ibu kandungnya sendiri dan tentu saja dirinya.


Untuk saat ini Melin harus kabur secepatnya, ia tahu apa yang dia hadapi sekarang. Bukankah hal bisa diakhiri dengan kemenangan untuk dirinya.


Adrian dan seluruh warga Desa Air Keruh, bukanlah tandingan yang sepadan untuk gadis belia sepertinya.


.

__ADS_1


.


Langkah kaki jenjang Melin, masih melaju dengan kecepatan setinggi yang dia bisa. Sambil mencoba mengingat arahan jalan yang diberikan oleh Jendral kepadanya.


Meski Melin juga tidak sepenuhnya percaya dengan cowok SMP itu, tapi Melin terpaksa harus percaya. Siapa lagi yang dapat ia percaya sekarang, Melin bahkan mungkin tidak bisa percaya pada dirinya sendiri.


Ingatan-ingatan aneh dan juga kejadian-kejadian misterius selalu muncul di dalam mimpinya. Dia tidak bisa membedakan apakah mimpinya itu masa depan atau masa lalu. Semuanya tumpang-tindih tidak karuan dan membuatnya bingung dan bisa saja terkecoh.


Karena setiap Melin mendapatkan penglihatan sebuah kejadian, dia akan merubah keputusan yang akan diambil. Kejadian yang muncul di kepalanya itu berubah-ubah, dan tak ada satupun bisa menjadi patokan untuk Melin.


Satu-satunya keputusan yang masuk akal, hanyalah pergi dari Desa ini secepatnya.


Memanfaatkan kebaikan Jendral, yang sepertinya belum terpengaruh dengan jampi-jampi mistis.


Melewati tiga bidang perkebunan karet ke arah kiri dari rumah Jacson. 'Lurus saja jangan belok-belok! Aku akan menunggumu di ujung jalan setapak itu'. Kata-kata itu yang membuat Melin memutuskan untuk mengakhiri semua ini dengan cepat.


Jendral benar-benar menunggunya. Tentu saja Melin hanya bisa berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dia masih menciptakan satu manusia baik, di dalam lautan Iblis.


"Ayo cepat!" ujar Jendral.


Lelaki itu sudah siap dengan motor sport--nya.


"Terima kasih Jendral! Lagi-lagi elu menyelamatin nyawa gue!" ujarnya Melin dengan senyuman yang sangat bahagia.


'Gue nggak pernah mengidolakan Hero manapun! Tapi mulai sekarang gue akan mengidolakan elu sebagai Hero favorit gue!'


Itu hanya sebuah kalimat rayuan, yang dilontarkan oleh Melin. Namun sepertinya Jendral menganggapnya sebagai lampu hijau dari gadis belia itu.


Namun saat ini Melin sadar, Jendral benar-benar seorang Hero bagi hidupnya.


Tak ada waktu lagi untuk saling melempar senyuman, agar keadaan menjadi lebih romantis.


"Antar gua kerumah Om Adrian dulu yaaa!" pinta Melin.


"Emang kamu mau apa ke sana?" kini Jendral sudah berani protes.


Mungkin sistem reaksi cemburunya mulai aktif.


"Gue harus ngambil, beberapa barang pribadi gua!" ujar Melin.


Jendral memgerti, karena Melin sudah menceritakan semua rahasianya pada Jendral. Tak ada satu fakta pun, tentang dirinya yang ia tutupi dari Jendral.


Melin harus menarik rasa simpati cowok SMU itu, Melin hanya berharap. Meski Jendral punya niat jahat terhadapnya, Jendral akan mengurungkan niatnya. Memakai hati nuraninya, sebagaimana manusia pada umumnya.

__ADS_1


"Gimana kalau Mas Adrian menemukan kita?" tanya Jendral khawatir.


"Nggak akan lama juga, kok! Jika sampai siluman itu, menemukan barang gue.


"Meskipun gue kabur  dia pasti bisa menemukan gue dengan barang itu!" jelas Melin.


Akhirnya Jenderal mengangguk mengerti, Melin memang harus kabur dari Desa ini secepatnya. Namun jika sampai Adrian bisa menemukannya kembali, usahanya hanya akan menjadi hal yang sia-sia.


.


.


Rumah Adrian yang terletak di pingiran Desa Air Keruh, membuat Jendral dan Melin memilih rute kembali memasuki Desa.


Desa yang dikelilingi oleh perkebunan kelapa sawit dan juga hutan belantara itu. Ditutupi oleh kabut tipis, udara yang biasanya hangat tiba-tiba berubah menjadi dingin.


Awan putih yang terlihat seperti gulungan permen kapas, yang mengelilingi birunya langit. Perlahan-lahan mengubah diri menjadi hamparan kelabu, warna duka itu seperti mengiringi sebuah ambisi yang sirna.


Warna biru yang mendominasi langit pagi ini, juga menghitam tanpa sebab. Angin berhembus cukup kencang, seperti ingin menerbangkan semua kesialan.


Rintik butiran transparan mulai jatuh. Molekul penyejuk alam itu perlahan-lahan membasahi setiap titik.


Rintik-rintik kecil, menyiratkan sebuah hasrat yang terpendam. Dari seorang pengelana, yang tersesat karena rasa cintanya.


Rintik-rintik kecil, mengiringi dendang musik kelam yang teralun tak kentara dihati seorang pejuang cinta.


Rintik-rintik kecil, menghanyutkan lamunan akan keabadian yang kekal.


Rintik-rintik kecil, hawanya menusuk hati 'sang paling salah'. Ratapan dan doanya tak pernah menjadi sebuah kenyataan.


Rintik-rintik kecil, mengalun ditengah keterkejutan. Menghalangi logika untuk bekerja.


Rintik-rintik kecil, menyemburkan semburat kepercayaan. Dia akhirnya sudah berada di tujuannya, kekuatan dan ketuguhan mengerayang di hati dan senyumnya.


Rintik-rintik kecil, membasahi wajahnya. Yakin dan tak yakin, sesuatu masih menganjal di hatinya.


Rintik-rintik kecil, menguatkan hatinya. Membelenggu dirinya kesebuah ikatan yang tak kongkret.


Meraba, merayap di haluan yang mereka pilih. Serdadu 707th Special Mission Battalion--pun tak akan dapat menghalangi keyakinan mereka.


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2