Hujan Teluh

Hujan Teluh
Menunggu Bulan Merah


__ADS_3

"Aku akan menopang tubuhmu! Jangan menolak lagi!" kata Sahrul yang ternyata masih mempunyai sedikit akal sehat di otaknya. "Kita harus cepat pergi dari sini!".


Akhirnya Ellen tidak bisa menolak kebaikan Sarul. Meski jantungnya sedang disco sekarang.


Mereka terus berjalan dalam diam, sampai di sebuah area yang mirip padang rumput yang amat luas.


"Kelihatannya kita sudah keluar dari Lembah ilusi!" kata Sarul.


"Benarkah?" tanya Ellen yang masih nyaman dengan kekuatan tubuh Sarul yang menopangnya.


"Apa tubuhmu masih merasa dingin?" Sarul akhirnya bertanya kepada Ellen, laki-laki itu pasti merasa canggung jika posisi mereka terus begitu.


Ellen segera menarik tubuhnya dari posisi nyaman itu. Dia menegakkan tubuhnya dan merasa normal kembali, namun tiba-tiba dia mendengar suara gemuruh dari dalam perutnya.


Krukkkkkkkk


"Kau lapar?" tanya Sarul.


Ellen tidak bisa menjawab dengan elakan. Karena perutnya memang terasa perih dan melilit.


"Maaf tapi kau harus menahan, sampai kita bisa pulang ke dunia manusia!" ujar Sarul.


Ellen seketika melemas, perutnya benar-benar sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Kenapa dia harus menahan lapar, sampai dia bisa kembali ke dunia manusia. Padahal dia tidak yakin bisa kembali ke dunia itu dengan cepat.


"Karena jika kau memakan sesuatu dari dunia ini, kau tidak akan bisa kembali ke dunia manusia!" kata Sarul.


"Jadi kau tidak bisa ikut denganku, kembali ke dunia manusia?" tanya Ellen.


"Aku sudah memakan sesuatu dari dunia ini!


"Jadi aku tidak bisa ikut bersamamu, kembali ke dunia manusia. Namun aku akan mengantarmu sampai ke pintu gerbang.


"Kau harus menjaga dirimu sendiri mulai dari sana!" jelas Sarul.


Jalan memandang kearah Sarul, yang berjalan didepannya. Angin yang cukup intens itu, menerbangkan pakaian yang dikenakan oleh Sarul. Baju usang, yang kusam itu berkelebat sesuai arah angin.


Punggungnya yang lebar serta kuat itu, Ellen memandangnya dengan tatapan nanar. Bagaimana bisa dia harus berpisah dengan seseorang yang menurutnya istimewa. Padahal mereka belum lama bertemu.


Tiba-tiba Sarul membalik tubuhnya, pria itu masih berjalan dengan memundurkan kakinya secara bergantian.


"Bagaimana wajah putriku setelah besar? Apa dia mirip denganku?" tanya Sarul kepada Ellen.


Lelaki kekar itu bertanya dengan raut malu-malu yang sangat kentara.


"Dia mirip sekali dengan Kak Lastri! Tapi sifatnya mirip dengan kamu!" kata Ellen.


"Benarkah? Dia juga keras kepala seperti aku?"


"Melin mempunyai kemauan yang sangat keras.


"Dia tidak akan menyerah, jika dia tidak berhasil dan dia selalu mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Seperti itulah putrimu, tumbuh dan dibesarkan menjadi orang yang sangat kuat!" jelas Ellen.


Sarul tersenyum, lalu lelaki itu kembali membalik tubuhnya dan berjalan normal ke arah depan dengan lurus.


"Melin memang tumbuh menjadi gadis cantik dan sangat kuat. Namun dia butuh sosok Ayah yang benar-benar menyayanginya!" kata Ellen.

__ADS_1


Langkah kaki Sarul terhenti, dia tak berbalik ke arah Ellen. Karena polisi wanita itu, menempatkan tubuhnya sejajar dengan Sarul.


Dia memandang ke arah wajah Sarul yang tengah melihat langit yang amat biru. Namun udara di sekitar tampak tak begitu panas.


"Ini adalah perbatasan antara alam manusia dan alam buana!" kata Sarul. "Di atas gunung ada sebuah pintu ajaib yang dapat dilewati oleh manusia!".


"Jika dia membutuhkanku, atas sekedar ingin melihat ku!


"Kau bisa menunjukkan pintu itu kepada putriku.


"Namun jangan kau tunjukan pintu itu kepada manusia lain. Sebab manusia yang datang ke sini, akan berakhir menjadi santapan siluman!" ujar Sarul.


"Aku pasti akan membawa Melin untuk menjengukmu!" kata Ellen.


Polisi wanita itu sangat optimis, meski dia tahu apa yang akan terjadi di Desa Air Keruh.


"Aku akan menunggu kalian sampai kapanpun!" kata Sarul.


Pria gagah yang tidak bisa menua itu, memandang nanar ke arah Ellen. Sarul benar-benar berharap, Melin bisa terlepas dari kutukan Hujan Teluh.


Ellen hanya tersenyum, menanggapi janji yang dikatakan oleh Sarul. Mereka berdua sama-sama mengucapkan janji yang sulit untuk ditepati.


"Satu-satunya hal, yang bisa mematahkan Kutukan Hujan Teluh, hanyalah membunuh pembuatnya!" kata Sarul.


"Siapa yang membuat kutukan itu?" tanya Ellen.


"Lastri dan Yanuar, mereka berdua harus mati secara bersamaan.


"Maka, kutukan pada jiwa Melin akan terhapus!" ujar Sarul.


"Apa?" tentu saja, Ellen sangat kaget dengan kebenaran terakhir ini.


"Jika kau sudah sampai di dunia manusia, kau harus membawa Lastri ke hadapan Yanuar!" ujar Sarul.


Nada bicaranya benar-benar sangat sedih, tetapi Sarul tetap menjelaskan penjelasan yang detail pada Ellen.


"Mereka berdua harus bertemu, sebelum bulan merah terjadi!" ujar Sarul.


Jalan mengangguk mengerti, dia sudah menyusun rencana di dalam kepalanya.


.


.


.


.


Mobil Adrian masih terus berjalan. Kedua penumpang di dalam mobil suv itu bergoyang-goyang kasar karena jalanan yang dilewati terlalu terjal.


"Kau akan membawaku kemana?" tanya Melin pada Adrian.


Gadis belia itu masih duduk tenang di kursi penumpang. Ia sama sekali tak mau memandang ke arah Adrian yang sedang menyetir.


Biasanya Melin akan selalu melihati wajah Adrian ketika menyetir, sampai gadis itu ketiduran. Namun tampaknya Melin sudah benar-benar muak dengan Adrian.


"Apa kau tak bisa diam?" tanya Adrian dengan nada kesal.

__ADS_1


"Dari tadi aku diam!" kata Melin, tak kalah kesal.


"Nanti kau juga akan tau!" ujar Adrian.


"Apa kau akan membunuhku malam ini?" tanya Melin.


"Tepatnya besok malam, saat bulan merah muncul dan membulat sempurna.


"Berada di lingkaran cakrawala, saat pintu dunia iblis terbuka!" kata Adrian.


"Kenapa kau tak membunuhku sekarang saja?" ujar Melin.


"Jiwamu tak ada gunanya, jika mati di waktu yang tidak tepat!" kata Adrian.


"Kenapa kau harus bercinta denganku? Bukankah kau membenciku juga?" tanya Melin.


Kali ini gadis belia itu memandang ke arah Adrian yang masih fokus menyetir. Entah kenapa Melin masih berharap, Adrian menjawab pertanyaannya dengan kalimat 'Karena aku mencintaimu!'.


Tetapi sepertinya semua harapan Melin itu sirna.


"Ketika kau mengambil darahku, karena aku mengambil darahmu!


"Saat itu karma terjadi, dan harapan kita masing-masing akan terkabul!" ujar Adrian.


"Maksutmu?" Melin masih tidak faham.


"Kau pemilik jiwa suci, dan aku adalah manusia setengah siluman.


"Kita berdua sama-sama mahluk yang dibuang dari alam ini!


"Kita berdua sama-sama mahluk yang terkutuk!" ujar Adrian.


"Kenapa harus bercinta, kau bisa menusukku dengan pisau atau melakukan hal yang lebih kejam lagi padaku?" tanya Melin dengan nada yang tinggi karena emosinya sudah memuncak.


"Syaratnya, kita harus sama-sama mau melakukan itu!" ujar Adrian.


"Karena itu kau menipuku?" bentak Melin.


"Betul sekali, kau tipe gadis yang akan luluh dengan belaian yang lembut.


"Jadi aku pura-pura saja jatuh cinta padamu!"


Wajah tampan Adrian sedikit mengeras, matanya juga terlihat memerah. Ia tak mau melihat ke arah Melin yang sudah kesal di sebelahnya.


"Lalu sekarang, untuk apa lagi. Kenapa kau ingin bercinta denganku lagi?" teriak Melin.


"Sebagai ucapan trimakasih!" ujar Adrian.


"Tidak perlu, sekarang bawa aku kembali ke Desa terkutuk itu!" ujar Melin, dia masih sangat kesal.


"Yanuar memintaku, membawamu pergi dulu. Kita bisa kembali ke sana, setelah semua siap.


"Karena semua siluman sudah mulai menggila, jika melihatmu!" jelas Adrian.


"Pokonya aku tak ingin bercinta denganmu!" kata Melin tegas.


"Terserah, aku tidak akan memaksamu kali ini!" ujar Adrian.

__ADS_1


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2