Hujan Teluh

Hujan Teluh
Grand Escape


__ADS_3

\= GRAND ESCAPE \=


   - Meski kita memiliki sayap untuk terbang


   - Kita memilih untuk bergandengan tangan


   - Akan tetapi, apakah salah


   - Jika kita tetap menumpuk mimpi dan terpesona terhadap langit ?


   - Musim panas selalu melihat punggung musim gugur


   - Bayangkanlah wajahnya seperti apa


   - Apakah itu rasa kagum, ataukah cinta ?


   - Sambil mengetahui bahwa hal itu takkan jadi nyata


   - Hujan dan rintiknya  


   - Sinar matahari dan cahaya kecil matahari


   - Sudah disebut demikian dari sejak lama


   - Dirimu masih jadi dirimu sendiri kan ?


   - Hari ini sekali dalam setahun


   - Gravitasi tertidur


   - Mari berdiri di titik buta matahari


   - Dan kita tinggalkan bumi ini


   - Ketika dia membuka mata


   - Mari pergi  ke tempat yang bahkan kita takkan bisa kembali


   - Hentaklah bumi dan katakan “ ayo ”


   - Menuju planet yang bukan bumi ini


   - Mari pergi


   - Hati yang tak sabar karena angin musim panas


   - Akan mengirim musim panas lebih cepat datang


   - Dalam pemandangan yang bergerak cepat


   - Hanya dirimu yang bisa memberhentikan lalu melihatnya


   - Sejak hari dimana aku bertemu denganmu


   - Malam dan mimpi-mimpiku berhenti seketika


   - Waktu terkabulnya mimpi

__ADS_1


   - Yang terus kutunggu dibawah tanah , ternyata itu sekarang


   - Hari ini sekali dalam setahun


   - Gravitasi tertidur


   - Mari menaiki suara kembang api


   - Dan kita tinggalkan bumi ini


   - Ketika ia membuka mata


   - Mari pergi  ke tempat yang bahkan kita takkan bisa kembali


   - Hentaklah bumi dan katakan “ ayo ”


   - Menuju planet yang bukan bumi ini


  - Mari pergi


   - Hanya tinggal sedikit lagi melampaui takdir ini


   - Hanya tinggal sedikit lagi  melampaui perabadan ini


   - Hanya tinggal sedikit lagi melampaui takdir ini


   - Hanya tinggal sedikit lagi


   - Mari berlayar didalam mimpi-mimpi kita


   - Dan menyebrangi malam untuk hari yang akan datang


   - Tanpa tau setelah ini akan terjadi apa, sambil saling berangkulan


   - Bukan berarti kita tak takut tapi, kita tak bisa berhenti


   - Kita tak memiliki pilihan lain


   - Selain menghadapi masalah itu


   - Cinta kita berkata , dan suara kita pun berkata


   - " ayo pergi " katanya


~●~●~●~●~●~●~●~●~●~●~


Aku sadar jantungku masih berdetak, aku berusaha membuka mataku perlahan. Rasa takut mulai menyergapku, tubuhku yang masih telanjang di atas tubuhnya bergetar bukan karena rasa nikmat lagi.


Tubuhku bergetar karena seluruh tubuhku, seperti melemah. Aku tak berani melihat, apa yang telah kuperbuat.


Aku membunuh satu-satunya orang yang kucintai.


MELINDA


____________________________


Tangan gadis belia itu bergetar hebat, namun genggaman eratnya masih ia sematkan di pegangan kayu pisau yang ia tancapkan ke arah dada Adrian.

__ADS_1


Perlahan tapi pasti, Melin membuka matanya. Dia harus memastikan arah tikamannya, meski dia yakin tikamannya tak mungkin meleset. Karena ia bisa merasakan bahwa tubuh Omnya, sama sekali tak bergerak.


Mata Melinda terbuka, ia memandang ke arah pisau di tangannya. Hanya darah yang ia lihat, mengucur keluar dari kedua telapak tangan Adrian.


Ternyata Adrian telah menangkis serangan Melin.


Melin tidak berhasil membunuh Omnya itu, tubuh gadis itu masih bergetar hebat. Ketakutannya mulai berubah sifat, yang tadinya ia takut akan perasaan bersalah karena telah membunuh lelaki yang ia cintai. Kini rasa takutnya, berubah menjadi rasa takut akan balasan dari Adrian.


Melin sangat tahu bahwa, Omnya tidak akan membiarkannya lolos kali ini. Lelaki gagah perkasa itu pasti akan langsung membawanya ke gubuk reot. Di mana tempat ritual laknat itu dilakukan.


Melin tidak ingin menyerah begitu saja, dia masih menggenggam gagang kayu dari pisau yang ia genggam. Meski kedua telapak tangan Adrian sudah mengeluarkan begitu banyak darah segar. Namun insting untuk mempertahankan nyawanya, masih melekat erat di otak gadis yang berusia 17 tahun itu.


Dengan tatapan yang penuh akan emosi, Adrian juga mencoba menarik benda yang sudah melukai kedua telapak tangannya. Meski rasa perih dan ngilu mulai menjalar di area lukanya. Namun lelaki itu, sepertinya tak akan memberi ampunan pada Melinda keponakannya.


Alhasil kedua insan yang masih bercinta itu memperebutkan sebilah pisau. Dengan background darah yang mengalir deras melalui kedua telapak tangan Adrian.


"Kau pikir? Kau bisa membunuhku?" tanya Adrian pada Melin.


"Tentu saja bisa!!!" teriak Melin dengan nada bergetar. "Kau pikir aku tak tau??? Kau bekerja sama dengan Pak Jacson--kan?!" lanjut gadis belia itu.


Melin tak bisa membendung emosi yang sudah ia tahan sejak lama. Gadis belia itu ingin menguncang dunia, dan mengatakan bahwa dia butuh bantuan. Tapi siapa yang akan membantunya.


Adrian, orang yang sangat ia cintai ternyata dia pura-pura.


Pak Jacson, orang yang ia pikir adalah manusia paling tulus di Bumi ini. Bahkan adalah keparat yang sangat pandai berakting.


Tantenya Ellen hanya pura-pura percaya akan ritual laknat itu, ia menjadikan Melin sebagai umpan. Agar tantenya itu bisa mengungkap, apa yang pernah terjadi pada Lastri 18 tahun lalu saat KKN di Desa ini.


Siapa yang akan Melin andalkan, ia hanya sempat mengirim alamat Desa ini pada keluarga angkatnya setelah mendapat penglihatan penghianatan Adrian dan Jacson.


Meski pun keluarga angkatnya itu mencarinya sampai ke Desa Air Keruh. Melin yakin untuk saat ini, mereka tidak akan pernah menemukan Melin yang disembunyikan di sebuah tempat goib.


"Kau pura-pura mencintaiku! Kau pura-pura ingin menolongku.


"Hanya agar aku tidak kabur dari Desa ini--kan!!!" Melin kembali berteriak.


"Meski pun kau pergi ke ujung dunia pun! Aku akan bisa menemukanmu!" ujar Adrian dengan senyuman menyeringai.


Di wajahnya tampan Adrian sama sekali, tak terlukis raut kesakitan atau pun sedih. Hanya ada senyum menyeringai dan kebahagiaan.


"Jangan melawan! Karena perlawananmu, tidak akan menghasilkan apa pun!" ujar Adrian.


Perkataan Adrian itu ada benarnya, Melin juga merasa begitu. Kegundahan hati Melin karena perkataan Adrian barusan, membuat Melin melemahkan genggamannya pada pisaunya. Sehingga dengan mudahnya Adrian, merebut pisau yang sudah berlumuran darahnya itu dari tangan Melin.


Melin masih duduk di atas tubuh Adrian, bahkan alat reproduksi mereka masih menyatu. Namun ekspresi Melin yang tercengang, karena melihat Adrian memainkan pisau yang berlumuran darah di depan matanya. Aktivitas bercinta mereka mungkin tidak akan berlanjut lebih lama.


"Aku belum puas! Kita lanjutkan ini dulu!" kata Adrian.


Lelaki itu melempar pisau yang berlumuran darahnya itu ke sembarang arah dan pisau itu berakhir menancap di dinding pondok yang berbahan kayu.


Melin ingin berdiri dari posisinya, gadis belia itu itu sudah tidak punya semangat untuk melayani n.afsu bejat Adrian lagi. Namun gerakan gadis itu dicegah oleh Adrian.


"Layani aku, atau kau akan mati malam ini juga!" ujar Adrian.


Melin hanya bisa menahan gertakan di giginya, dia sudah sangat tak berdaya di sini ini. Namun dia juga tak mau mati malam ini, dia percaya seseorang akan datang dan menyelamatkannya.


___________BERSAMBUNG_____________

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2