
Kau Siluman Apa
Melin yang masih merasa malu, karena kepergok oleh Jendral. Telah melakukan adegan tak senonoh dengan Adrian, akhirnya memberanikan diri untuk menyapa Jendral.
"Kemarin kamu pulang dengan selamat!" tanya Melin, memecah kecanggungan di antara mereka. Yang hanya berdiri berdua di ruangan dapur rumah Adrian, yang cukup luas.
"Kalau enggak selamat! Aku enggak bakal bisa datang ke sini!" ujar Jendral dengan nada ketus.
Melin bisa merasakan aura tak enak dari diri Jendral. Namun Melin tak bisa menafsirkan aura dari diri Jendral tersebut. Mungkin karena Jendral tidak pernah marah kepada Melin, jadi Melin sulit untuk menafsirkan kemarahan Jendral.
"Semalam, kamu dan Om Adrian..."
Pertanyaan Jendral terputus sebab, Adrian keluar dari dalam kamarnya sambil membawa tas di salah satu lengan kekarnya.
"Kita harus pergi! Sekarang!" ujar Adrian ke arah Melin.
"Kenapa?" gadis manis itu segera bertanya.
Adrian malah memandang Jendral dengan tatapan tidak suka. Lelaki bertubuh kekar itu segera menarik salah satu pergelangan tangan Melin dengan paksa.
Adrian membawa Melin keluar dari rumahnya, dan di pinggir jalan depan rumah Adrian. Jacson sudah menunggu keduanya dengan mobil yang dia punya.
Entah apa yang sedang direncanakan oleh Adrian dan juga Jacson untuk Melin. Meski ingin meronta dan menolak, Melin tak mungkin mempunyai kekuatan melawan Siluman Harimau Putih sekuat Adrian.
Melin masih di tarik dengan paksa oleh Adrian sampai gadis itu berhasil masuk ke dalam mobil Jacson.
"Kalian mau membawaku kemana?!" bentak Melin.
"Jika kau ingin hidup, diam--lah!" ujar Jacson.
Melin duduk dikursi penumpang belakang, Adrian mengambil posisi di sebelah Jacson yang sudah duduk di kursi kemudi.
"Kamu yakin dia akan aman di sana?" tanya Adrian kepada Jacson.
Belum ada jawaban atas pertanyaan Adrian, tapi lelaki bertubuh kekar itu kembali bertanya meski pertanyaan yang ia ucapkan bukan untuk Jecson lagi.
"Kenapa kau ikut?" tanya Adrian karena Jendral sekarang sudah duduk disamping Melin.
"Dia akan membantu nanti!" ucap Jacson.
"Kau yakin?" Adrian kembali bertanya.
Nada petanyaan Adrian tampak sangat ragu. memang lelaki itu, setengah tak percaya pada apa yang ditulis oleh Jackson, di surat yang diberikan oleh Jendral kepadanya.
"Jika kita punya lebih banyak anggota.
"Maka kemungkinan untuk menang, pasti akan lebih besar!" kata Kades Desa Air Keruh itu, dengan nada yang sedikit ragu juga.
__ADS_1
Melin yang berada di kursi belakang pun, juga merasakan keraguan yang amat dalam. Bagaimana tidak, dia berada dalam satu mobil. Bersama tiga Siluman yang entah berwujud apa, dia tidak tahu.
"Insagi tak akan kembali ke alam itu?" tanya Adrian.
"Alam Buana saat ini hanya dikuasai oleh Horange, dan beberapa Siluman setengah Manusia yang kekuatanya lemah!" jelas Jacson.
"Bagaimana jika Siluman, dari Dunia Siluman. Tau tentang hal ini, apa mereka tak akan berusaha membunuh Melin?" tanya Adrian.
"Siluman di sana, tak akan peduli pada Melin. Karena Jiwa Suci tak akan bisa menyentuh Dunia mereka!" ujar Jacson.
"Kau tak bohong--kan?!" tanya Adrian.
"Harusnya aku yang curiga kepadamu! Apakah kau, benar-benar ingin melindungi Melin dari serangan Siluman yang berada di Desa ini.
"Atau kau hanya ingin memanfaatkan Melin, untuk menjilat Siluman lain?" tanya Jacson.
"Cepat nyalakan mobilnya! Kita harus pergi dari sini, sebelum semua Siluman datang ke tempat ini!" ujar Adrian.
Andrian tidak bisa menjawab pertanyaan Jacson. Lelaki itu malah mengalihkan arah pembicaraan mereka, padahal Melin ingin mendengar secara langsung alasan Adrian sebenarnya.
Apa benar Adrian berusaha untuk menolongnya, atau menipunya kembali. Melin benar-benar sangat bimbang, karena tidak bisa membaca takdir seorang Siluman.
Dia juga tidak bisa melihat diri Adrian di takdir siapapun yang pernah dia lihat. Bahkan di masa lalu Nenek Yah ataupun hantu kuntilanak, sosok Adrian tidak bisa dilihat oleh Melin.
Bukankah Adrian sudah tinggal cukup lama di Desa Air Keruh. Kenapa Melin tidak dapat melihat Adrian di masa lalu orang lain, bahkan masa lalu Arinda.
Mobil Jacson terus melaju membelah kabut di perbatasan Desa Air Keruh dengan dunia luar. Namun saat kendaraan itu berhasil membelah kabut yang cukup tebal daripada biasanya, mereka malah kembali ke arah Desa Air Keruh.
"Kekuatan Insagi?!" kata Adrian.
Kedua pria yang berada di depan Melin saling berpandangan dan tampak kebingungan. Kelihatannya kehebatan mereka, tidaklah sebanding dengan kehebatan Insagi. Yang masih bertitel sebagai Manusia Setengah Siluman.
Melin juga memandang ke arah Jendral yang tampak tak seperti biasanya. Cowok SMU itu memang biasanya mempunyai pembawaan yang tenang namun tak setenang ini.
"Kenapa Siluman keparat itu tidak mau menyerah?!
"Apakah menjadi manusia, sepenting itu?" tanya Jacson.
"Kau tidak akan tahu, karena kau terlahir sebagai manusia!" ujar Adrian.
"Aku masih manusia, sampai sekarang!" ujar Jacson.
Adrian memandang kearah Jacson yang masih mengemudi dengan santai, dengan tatapan tak percaya.
"Mel, kau percaya--kan. Jika aku manusia?" tanya Jacson.
"Tidak!" ujar Melin langsung.
__ADS_1
"Apa kalian sudah menjadi sepasang kekasih sekarang?! Kenapa kalian kompak, menghinaku???
"Padahal aku ingin menolong kalian!" kata Jacson dengan nada yang naik turun.
Jendral masih saja diam tak bersuara, meski dia memperhatikan semua yang semua orang bicarakan.
Melin memang belum pernah menggenggam tangan Jacson, apa lagi melihat takdir ataupun masa lalu Kades Air Keruh itu.
Tetapi saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk Melin membuktikan, apakah Jacson adalah Siluman atau bukan. Karena di depan mereka sudah ada ada dua makhluk yang Menghadang perjalanan mobil Jacson. Meski mobil ini hanya berputar di tempat ini, untuk beberapa saat.
"Apa itu?" tanya Melin.
"Dia Warok dan juga Banaspati!" kata Adrian.
"Boleh aku kabur?! Aku tidak suka dengan api?" tanya Jacson.
Adrian mengarahkan pandangan menghinanya ke arah Jacson, yang ternyata sangat pengecut.
"Hadapi saja Siluman Warok!" ujar Adrian.
Lelaki gagah itu benar-benar sudah tidak punya rasa takut lagi, dia keluar dari mobil dengan sangat percaya diri.
"Kalian harus tetap disini, hindari kontak apa pun dengan Siluman lain!
"Siluman Warok terlalu kuat untukku!" ujar Jacson kesal. Meskipun begitu Jacson tetap keluar dari dalam mobil.
Entah karena tidak mau dipandang remeh oleh Adrian, atau memang Kades Desa Air Keruh itu sedang ingin bertarung. Untuk menguji ilmu kanuragannya.
Tetapi kedua kemungkinan itu sepertinya bukanlah alasan Jacson, bisa nekat keluar dari dalam mobil. Melin--kah alasannya.
Melin juga tidak mau berdiam diri di dalam mobil. Dia akan ikut turun, meskipun tidak ikut maju ke depan mendekati kedua Siluman yang menghadang laju mobil mereka.
"Sebaiknya kita berdiam diri di mobil saja!" usul Jendral.
Akhirnya cowok SMU itu berbicara juga pada Melin. Perkataan Jendral membuat Melin tampak sedikit bingung, karena nada bicara Jendral pun juga tampak berubah.
"Apa kau benar-benar Jendral?" tanya Melin pada cowok yang masih memandanginya dari samping tempat duduknya.
"Aku Jendral, siapa lagi?!" jawab Jendral.
"Kau bagian dari mereka?" tanya Melin.
"Aku milikmu, dan selamanya akan tetap menjadi milikmu!" ucap Jendral tanpa keraguan.
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
__ADS_1