Hujan Teluh

Hujan Teluh
Penyatuan


__ADS_3

Melin berdiri di pinggir jalan, sambil berkacak pinggang. Dahinya berkerut memandang sesuatu dengan sangat kecewa.


"Ayo naik! Jadi ikut nggak?" tanya Jacson.


Perkataan Kades air keruh itu tersamarkan oleh, suara melengking knalpot motor yang ia kendarai. Tubuh macho Jacson sudah nangkring di atas motor Yamaha RX King, yang terkenal mempunyai suara terbising di dunia.


Hal yang paling dibenci Melin, selain menjadi tumbal adalah suara knalpot motor yang melengking. Baginya suara seperti itu tidak ada gunanya, hanya membuat sakit telinga orang-orang yang mendengarnya saja.


Mau nggak mau Melin harus naik ke atas motor Jacson. Hari ini dia sangat ingin bertemu dengan Adrian. Banyak hal yang ingin Melin tanyakan kepada Omnya itu.


.


.


Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya diam. Meskipun ngomong juga tidak akan terdengar, karena suara mesin motor yang mereka kendarai sangat bising.


Satu jam pertama perjalanan, sepanjang mata Melin memandang. Hanya terbentang perkebunan kelapa sawit, yang tampak sangat hijau. Setelah itu pemandangan berganti dengan kebun karet yang terlihat sangat rapi.


Metode penanaman yang mengharuskan para petani menggunakan jarak yang sama, dari pohon satu ke pohon lain. Membuat perkebunan kelapa sawit maupun pohon karet, terlihat rapi dan seimbang.


Meski tanah yang digunakan untuk bercocok tanam di wilayah ini, cukup berundak. Namun tampaknya para petani masih bisa menerapkan hal itu. Karena terlihat jelas, semua pohon di perkebunan ini tampak tertata secara rapi.


.


.


Di jok belakangnya Melin merasa bahwa kecepatan motor yang ia kendarai bersama Jacson, berkurang. Tak Butuh waktu lama, akhirnya motor itu berhenti.


"Habis bensin, Pak?" tanya Melin.


"Banjir, itu loh!" jawab Jacson.


"Banjir!" tanya Melin dengan nada tak percaya.


Akhirnya Melin turun dari motor, dan melihat sendiri apa yang terjadi di depannya. Jalan mereka terpotong aliran sungai yang naik. Hujan deras semalam, pasti sudah membuat debit air di sungai buatan itu meningkat.


"Terus gimana kita bisa pergi ke tempat Om Adrian?" tanya Melin bingung.


"Kita tunggu satu atau dua jam lagi, pasti airnya akan sedikit surut dan motorku bisa melewatinya!" kata Jacson.


Kades Desa Air Keruh itu telah mematikan mesin motornya dan dia ikut turun dari motornya. Matanya tertuju pada Melin, yang memandang ke arah jalan yang terputus karena banjir.


"Apa Bundamu mengijinkan?" tanya Jacson.


Jackson sangat khawatir Jika Melin dilukai oleh Adrian, mengingat Apa yang dilakukan oleh Adrian di pesantren membuat Jackson semakin khawatir.

__ADS_1


"Pak Kades! Apa Bapak pernah jatuh cinta?" tanya Melin.


Sepertinya Melin telah menganggap orang nomor satu di desa air keruh itu, seperti teman sepermainannya. Pembawaannya yang santai dan juga supel, membuat Melin salah mengartikan tujuan Kepala Desa Air Keruh itu.


"Kenapa tiba-tiba kau menanyakan itu?" Jacson juga kaget dengan pertanyaan yang diajukan oleh Melin padanya.


"Jawab saja!" Kata Melin datar.


"Pernah lah! Bagimana--pun aku juga masih manusia biasa!" jawab Kades Air Keruh itu.


"Rasanya seperti apa, Pak?" tanya Melin.


Jacson mengarahkan pandangannya ke air banjir yang berwarna coklat keruh, yang menghadang jalan mereka.


"Tak berdaya!" kata Jacson. Raut mukanya terlihat sangat sedih.


Melin yang mendengar jawaban Jacson, segera mengingat  mimpinya tentang Arinda.


"Apa yang bapak maksud, adalah tante Arinda?" tanya Melin.


Sekali lagi, pertanyaan Melin padanya, membuat Jackson kaget dan bingung.


"Tahu dari mana kamu? Kalau saya pernah menyukai Arinda?" tanya Jacson.


"Banyak yang membicarakannya! Om Adrian, Jendral. Membicarakan hal itu padaku!" Melin mencari alasan.


Jacson mengangguk-angguk pelan, alasan yang diberikan Melin padanya. Bisa ia terima dan masuk di akal sehatnya.


Semua warga Desa Air Keruh sering membicarakan tentang kisah asmaranya. Yang terjadi di antara ia dan Arinda 20 tahun yang lalu. Semua orang menyayangkan betapa tulusnya dirinya mencintai Arinda, namun Arinda tetap memilih Jatmiko.


Namun karena Melin membahas hal ini, Jackson jadi mengingat tentang apa yang ia lakukan pada Melin. Saat ia membawa Melin kabur dari Desa Air Keruh beberapa hari yang lalu.


"Apakah kau pernah mimpi tentang hal aneh?" tanya Jacson pada Melin.


Manik mata Melin menelisik jauh kedalam binaran mata Jacson. Gadis itu mencoba menebak maksud dari pertanyaan pria paruh baya di depannya itu.


"Kadang!" jawab Melin jujur.


"Apa kau pernah bermimpi tentang Arinda? Atau hal yang berhubungan dengan wanita itu?" tanya Jacson.


Kini Melin bisa melihat Apa yang dimaksud oleh pertanyaan Jackson padanya. Lelaki paruh baya ini masih punya harapan pada cintanya.


Tapi Melin masih menimang-nimang, apakah ia akan mengatakan. Apa yang pernah ia lihat di mimpinya kepada Jacson, atau tidak.


"Kau masih ingat beberapa hari yang lalu. Saat aku membawamu kabur?" tanya Jacson.

__ADS_1


Melin mengangguk sambil memutar bola matanya. Ia mencoba mengingat kejadian, yang masih sangat ia ingat itu.


"Saat itu kau ketiduran! Dan kau mengigau!


"Kau mengucapkan kata-kata waktu itu, dan kata-kata itu terdengar seperti. Kata-kata seseorang yang pernah kudengar!


"Apa kau masih ingat, waktu itu kau mimpi apa?" tanya Jacson.


Keduanya saling berpandangan dan saling menebak, apa yang ada di dalam otak lawannya.


Melin mengalihkan pandangannya terlebih dahulu, karena dia merasa pandangan yang diberikan oleh Jackson. Sangat mengintimidasinya untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Aku tidak bisa menjelaskannya secara detail! Tapi intinya...


"Kurasa anda harus melupakan sosok Arinda yang sangat anda cintai!" kata Melin.


Namun pandangan mengintimidasi yang Jackson sorotkan kepada Melin, malah semakin kuat. Jawaban Malin membuatnya yakin, bahwa Melin mungkin saja adalah reinkarnasi dari Arinda.


"17 Mei 1997!" kata Jacson.


Melin terpaku, dengan tanggal yang baru saja ia dengar. Selongsong ingatan Arinda telah berputar di otaknya.


"Kau masih ingat hari itu?" tanya Jacson.


Hari itu adalah hari jadi antara Jackson dan Arinda. Mereka memutuskan hari itu menjadi hari mereka pertama berpacaran.


Melin tidak berani memandang ke arah Jacson, entah kenapa hatinya terguncang. Karena ingatan yang Melin dapatkan, benar-benar terasa amat sangat nyata. Bahkan Melin bisa merasakan bagaimana rasa, yang dimiliki Arinda kepada Jacson kala itu.


Naasnya Jackson malah menghampiri Melin, pria paruh baya yang masih gagah perkada itu berdiri di depan Melin. Pandangannya yang tegas kini berubah sayu dan lembut, Melin tidak bisa mengabaikan pandangan penuh cinta itu.


"Kau pasti masih ingat--kan! Apa yang kujanjikan padamu di hari itu?" tanya Jacson.


Aku akan selalu ada untukmu, aku akan selalu melindungimu Jadi kau jangan takut apa pun lagi.


Dengan sangat jelas Melin mengingat janji Jackson kepada Arinda. Namun gadis belia itu mencoba untuk tak bergeming dan menangkap perasaan cinta Arinda di dalam dirinya.


Jackson yang semakin yakin, akan keberadaan diri Arinda di dalam diri Melin. Semakin mendekati tubuh Melin yang terpaku.


Gejolak perasaan yang sudah lama terpendam itu, berkobar membakar semua keberadaan. Jemari Jacson kini menelusuri rahang Melin, mengangkat pelan wajah gadis itu. Untuk mempertemukan pandangan mereka, dan meyakinkan bahwa perasaan yang mereka rasakan saat ini adalah sebuah kenyataan.


Gadis yang masih sangat belia dan belum mempunyai pendirian akan hidupnya itu--pun. Terhanyut oleh belaian lembut pria paruh baya di depannya.


Penyatuan kali kedua, dengan keadaan sadar sepenuhnya.


___________BERSAMBUNG_____________

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2