
"Apa terjadi sesuatu, saat aku pergi tadi?" tanya Jendral.
"Nggak ada, aku hanya ingin memelukmu! Itu saja!" Melin benar-benar tak ingin menceritakan pertemuannya dengan kuntilanak tadi.
Karena menceritakan ingatkan kuntilanak yang ia baca, kepada Jendral. Bukanlah pilihan yang bagus, selain ingatan kuntilanak itu sama sekali tak ada hubungannya dengan Jendral.
Jendral bisa saja malah ketakutan, dan akan kabur meninggalkan Melin. Jika Melin menceritakan, masa lalunya yang telah lahir berkali-kali.
Namun Jendral tau, Melin sedang di kondisi yang tak baik. Telapak tangannya mengelus pungung gadis yang ia cintai itu dengan lembut.
Jendral tak ingin banyak bertanya lagi, karena ia sangat tau bahwa Melin tak akan bicara apa pun. Saat gadis manis itu tak mau bicara.
Tetapi Jendral yakin, nanti Melin pasti akan menceritakan hal itu padanya juga. Begitulah Melin yang ia kenal.
Memang kebersamaan keduanya belum lama, namun tampaknya Jendral bisa cepat paham jika menyangkut tentang Melin.
"Ayo kita pergi!" ujar Jendral.
"Baiklah!" Melin melepas pelukannya dari tubuh Jendral.
Mereka berdua pun berjalan ke arah motor yang berhasil dibawa oleh Jendral.
Entah cowok SMU itu benar-benar meminjam dari warga Desa Air Keruh, atau mencuri. Melin tak mau tau tentang hal itu.
Namun raut kecewa kembali terpancar di wajah Melin.
"Kau yakin, motor ini bisa jalan jauh?" tanya Melin.
"Bisa," jawab Jendral tak yakin.
Dihadapan mereka berdua, telah berdiri tegak. Seonggok besi yang ada mesinnya, motor yang penampakannya lebih bisa dibilang rosokan.
"Apa nggak ada motor yang lebih mengenaskan lagi keadaanya?" tanya Melin.
Memang keadaan motor yang baru saja dibawa oleh Jendral. Benar-benar mengenaskan.
Kerangka motor, tepatnya. Karena tak ada satupun tebeng yang menutupi tubuh motor bebek itu.
"Kita akan menggunakan motor ini ke desa sebelah! Kerumah salah satu temanku.
"Lalu aku akan meminjam motor yang lebih bagus, dari temanku itu!" kata Jendral.
"Kau yakin?" tanya Melin.
"Yakin! Percayalah padaku!" kata Jendral.
Melin terpaksa ikut menaiki kerangka motor itu. Meski hati, fikiran, dan akal sehatnya ingin menolak. Namun hal yang paling penting saat ini hanyalah, kabur dari Desa terkutuk ini.
Bremmmmmm, bremmmmm, bremmmmmmm
Motor itu memang berjalan, tapi dengan kecepatan seadanya. Harusnya motor ini sudah menjadi penghuni di penampungan rosokan, tapi masih dipaksa berkerja keras di kebun para petani.
__ADS_1
Nasib motor ini lebih mengenaskan dari diri Melin sendiri. Namun rasa iba saat mengendarainya, seketika berubah menjadi was-was.
Karena mereka dengan santainya menyusuri jalan-jalan di tengah Desa Air Keruh. Beberapa orang bahkan menyapa Jendral dengan biasa saja.
Ternyata kalung berliontin mata kanan yang diberikan oleh Jacson pada Melin, berguna juga. Warga memang bisa mengenali Melin sebagai keponakan Adrian. Namun sejauh ini, belum ada warga yang berubah menjadi siluman dan menyerang Melin.
Mereka berkendara cukup lama, mungkin 10 menitan. Untuk melewati jalanan utama Desa di tengah perkebunan kelapa sawit tersebut.
Mungkin sekarang pukul lima sore, jalanan di dalam Desa memang sedang rame-ramenya.
Persis sama seperti desa-desa pada umumnya, sulit dipercaya jika semua penghuni di desa ini bukanlah manusia biasa. Namun begitulah kenyataan yang ada, ketika mereka mencium bau jiwa Melin. Maka naluri siluman mereka akan terpicu.
Entah kenapa, jiwa yang dimiliki oleh Melin. Sangat diinginkan oleh banyak mahluk setengah siluman. Apa hanya dengan mengaulinya, para mahluk setengah siluman itu mendapatkan keinginan mereka.
.
.
.
.
"Aku sudah menyerahkannya!" ujar Jacson.
Kades Desa Air Keruh itu baru saja pulang, dan di halaman belakangnya. Seorang Siluman Macan Putih, telah berdiri dengan gagahnya.
Jacson berjalan ke arah lelaki itu, ia berdiri sejajar dengan Adrian. Siluman Macan Putih itu, memandang ke arah sebuah bunga kamboja milik Jacson. Namun pandangannya kosong, entah apa yang dipikirkan oleh Maung bodas itu.
Ternyata kalung berliontin mata kanan, yang diberikan oleh Jacson kepada Melin adalah kepunyaan dari Adrian.
"Paling tidak, aku jadi tau. Di mana pun mereka berada!" ujar Adrian.
Jacson juga khawatir terhadap Melin, Kades Desa Air Keruh itu jujur. Soal rasa simpatinya, karena Melin bisa saja dilahirkan Arinda 20 tahun yang lalu. Sebagai buah hati Jacson dan Arinda, karena sebelum Arinda mengikuti ritual Hujan Teluh.
Tepat satu malam sebelum keberangkatan Jacson ke Belanda. Sepasang kekasih itu bercinta, mungkin Arinda tidak hamil, tapi bisa jadi Arinda hamil saat itu. Jacson tak bisa menebak hal itu dengan pasti.
"Kenapa kau memutuskan menjadi Siluman, bukankah kau ingin menjadi manusia sejak dulu?" tanya Jacson.
"Aku masih ingin hidup sangat lama!" jawab Adrian.
Lelaki gagah perkasa itu akhirnya merubah posisinya, karena ia akan pergi dari sana.
"Jangan berkorban terlalu serius!" ujar Jacson. "Jika dia tak mengakui pengorbanan yang kau berikan! Rasanya amat sangat menyakitkan!".
"Jangan ikut campur! Atau kau...!"
"Mati?!
"Memangnya siapa yang mau hidup lebih lama lagi?
"Entah kenapa aku tak bisa hidup tanpa Arinda!
__ADS_1
"Rasanya hampa, kosong dan tidak ada artinya. Aku tak punya harapan apa pun lagi.
"Jika kau ingin membunuhku! Bunuh saja!" ujar Jacson.
Kades Desa Air Keruh itu menatap mata tajam Adrian dengan tatapan mengejek. Ia merasa telah menjadi manusia paling kuat sekarang.
Karena manusia yang paling mengerikan adalah manusia yang tak punya rasa takut dan ambisi. Manusia yang tak peduli jika ia mati, apa lagi terluka.
"Aku akan membunuhmu nanti!" ternyata Adrian tak terprovokasi dengan perkataan Jacson.
Siluman macan putih itu masih punya satu tugas lain, untuk ia jalankan dengan baik.
.
.
.
.
Melin dan Jendral sudah keluar dari pemukiman yang padat penduduk. Tak akan lama lagi, mereka akan melewati gapura berwarna merah darah. Setelah berhasil menembus perkebunan berkabut.
Entah kenapa area itu selalu berkabut, sudah beberapa kali Melin melewatinya di waktu yang berbeda. Namun area itu tetap berkabut saja.
Motor dengan kenalpot berisik yang dikendarai Melin beserta Jendral, masih melaju dengan susah payah. Terdengar dari deru mesinnya yang seperti, memaksakan diri.
Perlahan-lahan, tanpa rasa curiga mereka memasuki perkebunan berkabut itu. Namun di pertengahan jalan itu ada sesuatu yang memghadang mereka.
Entah apa, tingginya lebih dari dua meter dan mempunyai lebar sekitar satu meter lebih.
Karena merasa hal itu mungkin berbahaya, Jendral menghentikan laju motor buntutnya.
"Mel, kamu lihat itu nggak?" tanya Jendral pada Melin.
"Iya!" jawab Melin.
Kedua pasang mata bening milik Melin dan Jendral, menatap tajam ke arah hal aneh itu.
"Dia kesini, Mel!" ujar Jendral.
Lelaki SMU itu berusaha memutar motor buntutnya ke arah sebaliknya. Tapi Melin malah turun dan berdiri diam, sambil melihati mahluk yang perlahan mendekati mereka.
"Kita harus membunuhnya!" ujar Melin. "Jika tidak kita akan terkurung di sini selamanya!".
Melin melepas jaket yang ia kenakan, gadis itu membalik posisi senjata api laras panjang yang ia bawa di punggung dan dibalik jaketnya tadi.
Melin menyalakan pemicunya, ia mulai bersiap dan mengingat. Bagaimana dulu pelatihnya mengarahkannya, bagaimana cara memgunakan senjata seperti ini dengan baik dan benar.
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
__ADS_1