Hujan Teluh

Hujan Teluh
Guru dan murit


__ADS_3

Setidaknya kamar mandi di pondok ini ada di dalam, meski keadaannya tetap saja jauh dari kata nyaman.


Sekeliling dinding kamar mandi terbuat dari kayu, siapa pun bisa mengintip dari arah mana pun. Tapi Melin tak peduli akan hal itu, dia terus melanjutkan mandinya. Lagi pula hari sudah makin gelap, gadis itu yakin saat ini dia berada di tengah hutan. Tidak akan ada manusia yang akan mengintipnya mandi di sini.


Air yang bersuhu cukup dingin, membuat tubuh Malin merinding. Saat Gadis itu menyeramkan sejumlah air ke atas tubuhnya.


"Hessss akhhhhh!" desah.an lirih keluar dari mulut Melin.


Meski seluruh air di dalam bak semen itu bersuhu dingin. Tapi terlihat jelas, kalau Melin menikmati setiap tetes air yang menyapu kulitnya.


Di luar kamar mandi, Adrian telah membuka pakaian bagian  atasannya. Dia melempar jaket dan juga t-shirt hitam yang ia kenakan, ke arah kursi di bagian paling depan pondok itu.


Pondok ini hanya punya satu ruangan, seperti kedua pondok Adrian sebelumnya. Tapi pondok ini berukuran lebih luas dan barang-barang di dalam sini tampak terawat dan tertata rapi.


"Kurasa, aku butuh pakaian yang lebih layak!" kata Melin.


Gadis itu hanya membuka sedikit pintu kamar mandi, ia hanya mengeluarkan kepalanya untuk berkomunikasi dengan Adrian.


Gadis itu mandi di kamar mandi. Letak kamar mandi yang berada di bagian ujung belakang pondok itu, membuat Adrian segera berbalik ke arah asal suara Melin.


Adrian melihat wajah imut Melin, dengan pandangan yang tak bisa dijelaskan. Antara penuh rasa bersalah, namun kemarahan juga tersirat di sorot matanya.


"Keluarlah!" perintah Adrian dengan suara sedikit serak.


Melin pun menuruti perintah Omnya itu, dengan perlahan-lahan gadis itu keluar dari kamar mandi. Kedua kaki jenjangnya yang putih mulus sudah menapaki lantai pondok, yang juga terbuat dari papan.


Kayu yang digunakan untuk membuat lantai di pondok ini, bertekstur cukup halus. Tak seperti lantai kayu di dua pondok sebelumnya, yang tampak masih berserat.

__ADS_1


Tubuh gadis manis itu masih tertutupi oleh lilitan handuk di dada sampai batas pahanya. Warna merah menjuntai di kedua bahu Melin, berupa tali tipis. Bisa ditebak kali ini, Melin hanya mengenakan apa di dalam handuk yang melitit tubuhnya.


Raut wajah Adrian tampak ragu, namun tubuh kekarnya tetap berjalan perlahan kearah Melin, yang berdiri di depan pintu kamar mandi.


Adrian tak ingin berpikir lagi, dia ini sudah mengaitkan jemari tangannya di leher Melin.


Rasa geli yang menyenangkan segera menjalar di sekujur tubuh Melin. Tatapan kedua bola matanya, menjurus masuk ke dalam mata Adrian. Mencari sebuah kenyataan tentang perasaan, yang mungkin dirasakan oleh Omnya itu.


Melin bisa melihat meski hanya seberkas, terlihat bahwa Adrian mempunyai perasaan yang menggebu terhadap Melin. Bibir lelaki itu segera mengecup lembut, bibir Melin.


Kecupan yang terasa manis dan penuh dengan perasaan, meneliti dan meraba setiap senti bibir Melin. Kecupan balasan dari bibir gadis belia itu pun, menjadi pemacu gairah Adrian. Lelaki itu mulai memainkan lidahnya di dalam mulut Melin.


Mencari keberadaan benda lembut yang basah milik Melin, untuk ia ajak bergulat dengan hisapan yang nikmat. Gadis belia itu sedikit kaku dalam menanggapi keinginan Adrian, namun pria itu sudah menangkap lidah Melin dengan lidahnya. Ia mulai memainkan tarian klasik yang memabukkan di dalam sana, tarian lidah yang membuat Melin memejamkan matanya menahan nikmat. Tarian yang berakhir dengan hisapan yang menggelitik.


Tanpa diberikan perintah, Melin mulai mempraktekkan apa yang Adrian lakukan padanya. Gadis itu dengan lincahnya menghisap, memainkan, dan menggigit pelan lidah Adrian dengan mulutnya.


Merasa anak muridnya cukup pintar menanggapi setiap sentuhan yang ia berikan, Adrian mulai memberikan pelajaran baru untuk Melin. Lidah dan bibirnya kini sudah berpindah tempat ditelinga Melin.


Pandangan gadis belia itu timbul-lenyap, bibirnya mulai mendesah pelan dan tubuh rampingnya menggelinjar bergetar di dalam dekapan Omnya.


Hisapan dan juga jilatan, serta kecupan Adrian masih berlanjut. Menyusuri setiap jengkal leher jenjang Melin. Keharuman bau sabun mandi yang dipakai oleh Melin, membuat Adrian menggila dan tak ingin melepaskan tubuh ramping gadis belia itu.


Ditambah suara desah.an keenakan, yang perlahan-lahan mulai membesar dari mulut Melin. Membuat Adrian kehilangan akal sehatnya, dia lupa tujuan awalnya. Lelaki itu seolah terbius dengan, kemolekan dan juga suasana yang diciptakan oleh Melin.


Tanpa ragu Adrian mulai mengenakan tangannya untuk menyusuri, setiap lekukkan tajam di tubuh Melin yang masih dibalut oleh handuk. Sementara bibirnya masih menapaki setiap detail leher Melin.


Jemari Melin yang awalnya hanya meremas pergelangan tangan Adrian, kini sudah berani menjambak pelan rambut Adrian. Gadis itu ingin mengatakan bahwa, apa yang dilakukan oleh Adrian padanya adalah sebuah rasa yang sangat nikmat.

__ADS_1


Tanpa meminta izin lagi Adrian melepas handuk yang dikenakan oleh Melin, benda putih sedikit berbulu itu segera melayang ke pojokan ruangan.


Wajah Adrian sedikit menjauh, dia ingin melihat bagaimana bentuk. Kain merah kecil, berenda yang amat tipis itu membalut tubuh indah Melin. B.ikini yang dibeli Melin di Mol beberapa hari yang lalu. Melekat indah di tubuh Melin yang ramping dan ramun.


Hanya dengan melihat pemandangan itu, keraguan di wajah Adrian sedikit menurun. Melin yang berada di depan Adrian, terlihat sangat luar biasa memgoda dimata lelaki itu.


Adrian ingin mengatakan pujian, yang tidak ada habisnya untuk tubuh indah Melin. Namun lelaki itu terjungkal karena hentakan tangan Melin. Ekspresi terkejut, memenuhi wajah Adrian.


Namun wajah penuh n.afsu kembali, lelaki itu pasang. Saat Melin duduk di atas pangkuannya yang sudah terjungkal. Tanpa aba-aba ataupun peringatan Melin segera melakukan, tindakan yang baru saja Adrian ajarkan padanya.


"Akhhhhhhhh!" desah Adrian pelan, saat lidah Melin mulai menari di atas daun telinga Omnya.


Suara maskulin itu menggema memecah suara makhluk malam, yang mulai bermunculan. Adrian menggunakan kedua tangannya, untuk menopang berat tubuhnya dan juga tubuh Melin agar tidak menyentuh lantai.


Lelaki itu pasrah dengan kenikmatan yang dihujankan oleh kekasih hatinya itu, dia menikmati setiap sentuhan yang baru pertama kali ia rasakan.


Nafas Adrian naik turun, mengikuti irama yang disajikan oleh sentuhan bibir kekasihnya itu. Hal ini terasa begitu nikmat, hingga rasanya Adrian tidak menginginkan hal lain lagi di dunia ini.


Celananya mulai sesak, karena sesuatu sudah berkembang di dalam sana. Namun Adrian masih ingin menikmati sentuhan pemanasan yang dilakukan oleh Melin terhadapnya.


Mereka berdua akan mengarungi malam panjang bersama, masih banyak waktu sampai pagi hari. Jadi Adrian tidak mau buru-buru mencapai klimaksnya malam ini.


Melin juga tampaknya tidak terlalu keberatan dengan kesantaian Adrian. Gadis itu masih menikmati setiap lekuk berotot tubuh Omnya itu. Setiap jengkal bagian tubuh Adrian seperti tersimpan sebuah kemaskulinan yang kental.


Karismanya saat ia menengadahkan wajahnya ke atas, sambil mendesah nikmat. Ekspresi itu amat sangat luar biasa, menggugah semangat Melin. Agar lebih lincah memberikan sentuhan kenikmatan di atas tubuh Omnya.


Adrian memeluk tubuh Melin, dia mengangkat tubuh gadis itu hanya dengan sekali hentakan. Rasanya pasti tidak nyaman jika melakukannya di atas lantai seperti ini. Jadi Adrian memindahkan tubuh Melin ke atas kasur yang lebih nyaman.

__ADS_1


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2