Hujan Teluh

Hujan Teluh
PacarKu


__ADS_3

Jendral memalingkan wajahnya yang merah, dia tak ingin melihat Melin sedih karena melihat dia juga sedih.


"Bukankah kau suka naik motor?" tanya Jendral pada Melin.


.


.


.


.


Kedua remaja itu kini berada di atas motor Jendral yang melaju pelan. Tanpa menggunakan helm mereka berdua tampak begitu menikmati angin yang berhembus ke arah mereka.


Akhirnya Melin bisa sedikit tersenyum karena dia merasa dia punya kebebasan lagi. Meski kebebasan yang dirasakan kini bersifat sangat semu.


Jendral sengaja memacu motornya dengan kecepatan serendah mungkin, selain dia ingin menikmati kebersamaannya dengan Melin. Pria yang masih mengenakan seragam SMU itu, ingin Melin menikmati keindahan dunia yang indah ini, di akhir sisa hidupnya.


Apa yang Jendral pikirkan ternyata juga dipikirkan oleh Melin. Meski dengan tatapan yang masih sedih, Melin menikmati pemandangan yang indah di sepanjang jalan yang mereka lewati.


Pemandangan indah yang didominasi dengan perkebunan sawit, karet serta lahan pertanian padi yang cukup luas.


Kedua roda motor Jendral berhenti disebuah tempat yang amat indah. Tempat yang mirip dengan padang pasir, dengan nuansa emas dan  matahari terbenam yang indah.


"Gue nggak tahu, di Sumatera ada tempat sekeren ini?!" kata Melin.


Melin langsung turun dari motor Jendral dan berlari ke arah hamparan tanah merah yang seperti padang pasir itu. Jendral juga ikut turun dari motornya, dia mengikuti arah langkah Melin namun dengan langkah yang santai.


Manik mata coklat Jendral tak dapat berpaling dari Melin. Cara Gadis itu berlari, goyangan rambut panjangnya yang mengikuti langkah berlarinya. Tawanya yang menggema mengisi seluruh renungan hati Jendral. Senyum manisnya yang membutakan netra remaja pria itu.


Perasaan yang menggelitik namun sangat indah itu, telah memenuhi dada cowok SMU itu, hingga membuatnya ingin selalu tersenyum.


Langkah Melin terhenti saat memandang keindahan matahari terbenam di depan matanya.


"Ini luar biasa, cantik sekali!" ujar Melin.


Jenderal sudah berdiri di dekat Melin, lelaki itu malah melihat ke arah Melin. Yang sedang asik menikmati pemandangan senja yang merona di ufuk barat.


"Beneran, sangat cantik!" kata Jendral.


Pemuda itu tidak memuji pemandangan senja, yang dipuji oleh Melin. Namun pemuda yang sedang jatuh cinta itu, memuji paras Melin yang sangat cantik.


Kedua manusia yang masih berusia belia itu, tersenyum bersama. Melin tersenyum ke arah barat karena cahaya senja yang membuatnya terpesona. sementara Jendral ke arah paras Melin yang membuatnya mabuk kepayang.


Tak begitu lama senyum di bibir Melin memudar, ingatannya tentang takdir hidupnya membuatnya tak bisa tersenyum kembali. Hal itu itu tak luput dari perhatian Jendral.


Seakan bisa mendengar pikiran wanita yang dia cintai, Jendral juga merasakan kesedihan Melin.

__ADS_1


"Kudengar surga itu lebih indah dari ini!" kata Jendral.


Lelaki muda itu ingin menghibur Melin namun, tak tahu cara yang tepat.


"Memangnya, manusia yang ditumbalkan bisa masuk surga?" tanya Melin dengan nada ketus.


"Mana kutahu," Jendral tampak salah tingkah, dia tidak menyangka kata-katanya akan menyakiti Melin.


"Jika memang surga ada. Kenapa harus ada tumbal?" tanya Melin.


Dia menanyakan itu, bukan pada Jendral. Tapi pada alam semesta yang menghakiminya tanpa perasaan.


"Kenapa gue harus hidup, jika untuk mati secara sia-sia seperti ini?!" tanya Melin lagi.


Jendral tidak ingin mengatakan apapun. Dia tidak ingin mengganggu kaluh-kesah Melin, Jendral yakin Melin juga butuh pelampiasan. Dan dia siap mendengarkan apapun yang keluar dari mulut Melin.


"Bahkan gue baru masuk sekolah umum selama setahun. Gue belum mempunyai teman yang akrab.


"Gue juga belum pernah pacaran, menyedihkan... a


"Gue amat sangat menyedihkan!" gerutu Melin.


"Yang lebih menyedihkan adalah, gue baru saja merasakan kasih sayang dari seorang pria! namun gue dicampakan.


"Enggak! Gue enggak dicampakkan. Tapi gue dimanfaatin!" ujar Melin.


"Apa kau ingin pacaran?" tanya Jendral.


Entah kenapa Jendral menanyakan hal itu pada Melin. Padahal dia ingin mencintai Melin dalam diam, meski dia tak tahu hati Melin sudah diisi oleh seseorang.


"Apa elu mau jadi pacar gue?" tanya Melin.


Jenderal hanya menatap tajam kearah manik mata Melin, yang memandangnya penuh dengan kebingungan.


"Elu pasti kasihan banget sama gue! Nggak perlu kasihan begitu sama gue.


"Gue juga sebentar lagi, akan hilang. Musnah ditelan Bumi dan nggak ada yang ingat!" ujar Melin.


Selesai mengucapkan kalimat itu  wajah Melin direngkuh oleh telapak tangan Jendral. Tanpa perkataan ataupun ijin, Jendral mengecup bibir Melin. Manik mata Melin terbelalak kaget, dia tak menyangka bahwa Jendral yang terlihat pendiam ternyata cukup berani.


Kecupan mesra itu hanya berakhir seperti itu, perlahan-lahan Jendral menjauhkan bibirnya dari bibir Melin. Jenderal tak berani melihat ke arah wajah Melin, dia sangat malu dan merasa bersalah.


Namun entah digerakkan oleh ide apa, Melin menaikkan wajahnya dan kedua tangannya meraih wajah Jendral yang lebih tinggi darinya. Hingga kepala Jendral kembali menunduk ke arah Melin.


Melin berganti mengecup bibir pria yang dua tahun lebih tua darinya itu. Hanya satu kecupan yang dilayangkan Melin ke bibir Jendral. Keduanya kembali menjauhkan wajah mereka dan saling memandang satu sama lain.


Ekspresi keduanya terlihat penuh makna, hingga dengan bersamaan keduanya kembali mendekatkan wajah mereka. Lalu melakukan kecupan kecupan manis.

__ADS_1


Kedua tangan Melin merangkul erat bagian belakang leher Jendral, sedangkan tangan Jendral menopang belakang kepala Melin dan tangan satunya meremas lembut pinggang ramping gadis itu.


Mereka berciuman cukup lama hingga keduanya sadar, bahwa lantunan panggilan Sholat Magrib sudah dikumandangkan.


Melin duluan melepas bibirnya dari kecupan hangat Jendral. Gadis itu malah tertawa receh setelah berciuman hingga membuat Jendral kebingungan.


"Kenapa? Ada apa?" tanya Jendral.


"Elu ternyata cukup mahir!" goda Melin.


Tentu saja Jendral tahu, Melin sedang mengomentari ciuman yang baru saja mereka lakukan.


"Ini bukan ciuman pertama elu--kan?" tanya Melin masih dengan nada yang menyindir jenaka.


Jenderal tentu saja malu mengakuinya. Ini adalah pertama kalinya dia mengecup bibir wanita, di kecup atau pun mengecup. Ini adalah pengalaman pertamanya.


"Jadi elu Playboy?" tanya Melin.


"Enggak--lah...Ini yangggg, pertama!" ujar Jendral dengan nada yang cukup lirih.


Melin percaya dengan perkataan Jendral, karena di awal ciumannya Jendral cukup kaku. Lelaki muda itu hanya mengikuti gerakan yang Melin buat, dan setelah itu dia belajar bagaimana mencium bibir manusia dengan benar.


Seperti yang Om Adrian lakukan padanya, Melin belajar cara ciumanan dari Adrian. Yang sangat lihai dan luar biasa saat berciuman. Dia masih ingat betul Bagaimana rasanya dipuaskan oleh Adrian. Kepuasan itulah yang membuat Melin jatuh cinta pada kegagahan Adrian.


Namun ciuman kaku yang penuh dengan kepolosan, yang dilakukan Jendral ternyata juga disukai oleh Melin. Gadis belia, harusnya belajar mencintai dari pria yang seusianya. Sama-sama polos dan sama-sama belum mengerti apa itu cinta.


"Lalu, gue harus manggil elu apa?" tanya Melin pada Jendral yang masih terlihat salah tingkah karena malu.


"Maksutmu?" Jendral sepertinya masih tak mengerti.


"Bukannya tadi, elu meminta gue jadi pacar elu?" tanya Melin.


Gadis itu masih saja menggoda Jendral, padahal Melin sangat tahu bahwa Jendral sedang merasa sangat malu padanya.


"Emang kamu mau jadi pacar aku?" tanya Jendral.


"Enggak!" kata Melin.


"Lalu kenapa tanya mau manggil aku dengan sebutan apa?" tanya Jendral kesal.


"Manggil kakak? Atau Jendral aja gitu?!" goda Melin, dengan wajah penuh senyum yang ceria.


"Serah mau manggil apa!" kata Jendral masih dengan nada kesal.


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2