
Perkataan Jendral ada benarnya. Dan Malin tidak bisa memaksa lelaki itu untuk bertarung dengannya, menghadapi siluman-siluman yang menghuni Desa ini.
Tanpa banyak bicara lagi, Melin segera menyimpan senjata yang berada di tangannya. Senjata api laras pendek ia simpan dalam kondisi belum siap, di saku jaket bagian dalamnya. Agar senjata api berisi peluru timah itu, tak bereaksi saat tersengol.
Senjata laras panjang ia gendong di belakang tubuhnya. Sudah mirip sekali dia dengan karakter Lara Croft , di film Tomb Raider.
Ini memang bukan hari yang tepat untuk terpesona kepada seorang wanita. Namun Jendral tidak bisa memungkiri, bahwa gadis manis di depannya sangatlah luar biasa berkharisma.
"Jangan memandangiku seperti itu!" kata Melin.
Meski Melin tak melihat ke arah Jendral, yang sedang berjalan di belakangnya. Tapi Melin yakin, Jendral pasti sedang memandanginya.
Merasa aneh atau terkesima. Semua orang pasti akan memandang Melin dengan dua tatapan itu. Ketika melihat penampilan sangarnya kini.
"Apa emakku melukaimu?" tanya Jendral.
"Sedikit!" ujar Melin.
"Dibagian mana? Biar kulihat!" ujar Jendral.
Lalaki itu masih merasa cemas pada Melin. Bukan karena dia tidak menghormati ibunya yang telah dibunuh oleh Melin. Nama Jendral yakin orang yang dibunuh oleh Melin, bukanlah ibunya.
Melin berbalik kearah Jendral dan menghentikan langkahnya. Gadis itu menyingkap kaus oblong hitam yang ia kenakan.
"Astaga!" kata Jendral.
Belum juga Melin menyingkap kaosnya, Jendral sudah menutup matanya dengan kedua tangannya.
"Buka matamu, katanya mau lihat?" kata Melin.
"Enggak jadi!" ujar Jendral.
Namun Melin tetap menyingkap kaus longarnya, ia telah melilitkan kain katun putih di semua area perutnya. Di bagian depan, terdapat noda merah. Pasti darah dari lukanya masih merembes keluar.
"Itu terlihat parah," gumam Jendral yang telah membuka kedua tangannya dari wajahnya.
Kedua netranya juga sudah memandang ke arah perut Melin.
"Pasti sakit?!" kata Jendral.
"Banget!" ujar Melin sedikit kesal dan mengeryit menahan rasa sakitnya.
Melin tak bisa menyembunyikan rasa sakitnya, dan menjadi sok kuat. Dia bukan pahlawan wanita di film-film, dia hanya wanita biasa yang entah kenapa diburu oleh siluman.
Karena meningat akan kenyataan itu, Melin segera kembali ke arah yang ingin ia tuju sebelumnya.
__ADS_1
Mereka terus masuk ke dalam perkebunan karet, dan mencari petunjuk.
"Apa yang sebenarnya kamu cari?" tanya Jendral.
"Mobil!" kata Melin. "Kita butuh kendaraan untuk pergi dari sini!".
Benar, satu-satunya jalan. Mereka harus pergi dari Desa Air Keruh sebelum matahari terbenam.
Jika memang apa yang dikatakan oleh Arinda, sebelum wanita gila itu dirasuki oleh siluman. Benar.
Maka malam ini adalah malam menuju *******. Sesuai apa yang di lihat Melin dari ingatan Arinda. Melin harus bercinta lagi dengan Adrian. Untuk menyempurnakan kekuatan Adrian, yang sudah berubah menjadi siluman seutuhnya.
~▪~▪~▪~▪~▪~▪~▪~▪~▪~▪~
Apa yang bisa merubah dunia???
Hanya satu hal yang bisa merubah dunia, Cinta dan Kebencian.
Jika kau ingin menjadi manusia, buatlah dia mencintaimu...
Namun jika kau ingin menjadi Siluman. Kau harus membuatnya membencimu...
~▪~▪~▪~▪~▪~▪~▪~▪~▪~▪~
Kebencian yang ia rasakan untuk pemuda yang mengaku sebagi Omnya itu, benar-benar sudah berada di luar toreransinya. Melin sudah tak bisa memendam, atau pura-pura menyukai Adrian lagi.
Meski Melin ingin sekali membunuh Adrian. Melin tak bisa mengunakan cara licik seperti sebelumnya. Ia tak sanggup tersenyum manis di depan siluman keparat itu.
Setelah sekitar lima belas menit berjalan, mereka menemukan mobil rombongan pasukan kepolisian.
Mobil-mobil itu berjajar di pinggir jalan menuju ke arah dalam Desa.
Satu-satunya doa yang dipanjatkan oleh Melin hanyalah. Semoga tak semua penduduk Desa Air Keruh adalah siluman.
Melin memberi aba-aba pada Jendral, untuk menghentikan langkahnya dan merunduk di balik semak belukar yang berada di pinggir jalan.
"Ada apa?" tanya Jendral dengan nada lirih.
Jendral faham pasti ada sesuatu yang tidak beres, jika Melin menyuruhnya melakukan hal semacam ini.
"Ada orang yang lewat!" kata Melin.
Tak lama suara sepeda motor mendekat ke arah, mobil polisi yang berbaris nyaman di bahu jalan, yang mirip selokan tertimbun rumput liar.
Suara mesin motor itu berhenti di dekat mereka. Pertanda sang pengendara turun di area itu.
__ADS_1
Ternyata tujuan pemotor dan Melin sama. Pengendara motor itu juga sedang mencari mobil-mobil polisi itu.
"Kamu tunggu di sini saja!" kata Melin lirih.
Sebelum Jendral berkomentar, Melin sudah pergi dari hadapannya.
Dari persembunyiannya Jendral bisa melihat betapa lincahnya Melin. Gerakanya lincah tapi halus, tak ada suara apa pun yang ditimbulkan oleh Melin. Meski gadis belia itu berlari ke arah mobil, yang berada cukup jauh dari tempat perembunyian mereka.
Melin sudah berada satu sisi kanan mobil, di barisan paling depan. Melin hanya berdiri diam, ia memasang indra pendengarannya, untuk mencari posisi pengendara motor.
Namun Melin tak mendengar suara apa pun, selain suara angin yang berhembus ke arahnya. Namun hidungnya mencium bau yang amat sangat femiliar, dari arah angin yang berhembus itu.
Bau parfum laki-laki yang biasa digunakan oleh Jacson. Kades Desa Air Keruh itu selalu modis, parfum adalah salah satu benda wajib yang harus ia gunakan untuk menyempurnakan penampilan sehari-harinya.
Entah dengan alasan apa lelaki itu berada di area ini, Melin hanya menyangka. Lelaki itu pasti hanya ingin memastikan, bahwa semua petugas keamanan untuk negara yang dikirim ke Desa ini. Mati semua.
Melin mengeser langkahnya perlahan, ia terus mencium bau parfum yang dikenakan oleh Jacson. Gadis itu tak berniat jelek, dia hanya ingin tau apa benar. Semua warga Desa ini adalah siluman semua.
Jadi Melin berencana menguping, apa yang dikatakan Jacson saja. Dia harus mencarai petunjuk, meski keberhasilannya akan sangat kecil.
"Ada yang harus kutanyakan padamu, makanya aku ke sini untuk menemuimu!" kata Jacson.
Kades Desa Air Keruh itu, ternyata sudah mempertimbangkan apa yang ia lakukan. Jacson sudah menebak, Melin akan mencari mobil-mobil polisi ini untuk kabur.
Entah apa yang ingin ditanyakan oleh Jacson pada Melin. Tapi Melin masih belum mau keluar dari persembunyiannya.
"Aku tak akan membunuhmu, apa lagi menyakitimu! Keluarlah!" teriak Jacson.
Di semak-semak, Jendral langsung mengenali suara Jacson yang memanggil Melin dengan lantangnya. Namun cowok SMU itu masih menuruti kata-kata Melin untuk menunggu di situ saja.
"Aku bisa membantumu pergi dari desa ini!
"Aku juga bisa membantumu bersembunyi dari para siluman yang tinggal di desa ini!" ujar Jacson.
Melin masih tak mau percaya dengan apa yang Jacson katakan. Manusia yang licik, akan selalu licil jika ia punya kesempatan. Melin tau benar, manusia seperti Jacson bukanlah orang yang bisa ia percaya.
"Aku hanya peduli dengan Arinda!" kata Jacson, "namun ia pergi entah kemana. Apa dia ada di dalam dirimu?".
Pertanyaan Jacson, membuat Melin memikirkan ingatan Arinda yang ada di dirinya saat ini. Melin bisa melihat ingatan Arinda, betapa wanita itu dulunya sangat dicintai oleh Jacson.
Sedikit banyak, Melin tau. Bahwa Jacson bukan pria yang jahat sejak lahir. Lelaki itu begitu tulus, dan sangat baik ketika masih muda. Tapi Melin juga masih mengingat, bagaimana Jacson yang telah berpura-pura menjadi orang baik. Orang suci yang terlihat tak punya ambisi, di depan semua orang.
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
__ADS_1