
Namun wanita setengah gila itu hanya diam saja, saat mendengar permintaan tulus dari Jacson. Jacson yang hanya didiamkan saja, tentu saja merasa bingung. Apa lagi tak jauh dari tempatnya berdiri ada tiga pasang mata yang memandang ke arah Pak Kades dan Arinda.
"Kalau kau bersikeras untuk pulang, aku akan mengantarmu!
"Tunggu di sini jangan kemana-mana, aku akan mengambil kunci mobilku di dalam sebentar!" kata Pak Kades Desa Air Keruh itu.
Ketika Jacson pergi ke dalam rumahnya, Arinda hanya berdiri di tempatnya berdiri. Tampaknya wanita setengah gila itu tau maksud perkataan Kades Desa Air Keruh itu.
.
.
Melin kembali mendekati Arinda, gadis itu berdiri di depan tubuh tegak Arinda.
"Saya tahu! Anda pasti tahu sesuatu, tentang ketukan Hujan Teruh itu!" ujar Melin dengan penuh keyakinan.
Namun Arinda tidak bergeming dengan perkataan Melin. Pandangan Arinda masih lurus ke depan dan kosong, hal itu tentu saja membuat Melin frustasi. Namun tidak ada hal lain yang bisa dilakukan oleh Melin.
Jacson sudah keluar dengan langkah yang sangat tergesa. Kades Desa air keruh itu segera menghampiri Arinda dan memandang ke arah Melin dengan tatapan penuh tanya.
Melin membeku. Dia tahu, dia memang tidak punya kesempatan untuk merubah takdirnya. Harusnya dia menyerah saja kepada Adrian, menyelesaikan semua dengan cepat agar dia tidak gelisah seperti ini.
Melin mundur dan kembali berjalan ke arah halaman belakang. Dia harus membiarkan Jacson mengantar Arinda pulang.
Gadis belia itu, duduk di ayunan kayu halaman belakang Jacson. Tak lama Jendral menghampirinya.
"Boleh aku duduk di dekatmu?!" tanya Jendral.
Melin menggangguk, mengizinkan. Lalu bergeser, memberi ruang yang cukup untuk duduk cowok SMU itu.
Ayunan kayu jati ini berbentuk memanjang dan di atasnya juga ada atap yang sama-sama terbuat dari kayu. Panjang kursi ayunan ini dapat diduduki oleh tiga orang.
"Kau suka diluar saat malam?" tanya Jendral pada Melin.
Dari tadi Jendral memperhatikan Melin yang melihat ke arah langit.
"Apa langit selalu seindah ini setiap malam?" tanya Melin.
"Aku tidak memperhatikannya selama ini!" ujar Jendral.
Melin menghela nafasnya dalam-dalam, wajahnya masih mendongak ke arah langit memperhatikan kelilipan bintang. Sedangkan Jendral sibuk memandangi wajah Melin di sampingnya.
"Kenapa elu selalu memandangi gue?" tanya Melin tanpa mengubah fokus pandangnya.
"Karena...Kamu cantik!" ujar Jendral tanpa rasa malu.
Melin tertawa terkekeh, dia mengubah fokus pandangnya ke arah Jendral.
"Benarkah?" tanya Melin.
__ADS_1
"Tentu saja! Semua wanita--kan cantik!" kilah Jendral.
"Histttt...!" Melin mendesis kesal.
Gadis belia itu berpikir Jendral sedang merayunya, namun ternyata sedang mengejeknya.
Ekspresi Melin yang sedang kesal itu membuat Jendral tersenyum. 'Kenapa dia bisa begitu cantik padahal sedang kesal?' tanya Jendral di dalam hati.
"Boleh gue pinjam ponselmu?" tanya Melin.
Jendral maraba kantong celana abu-abunya dan mengeluarkan ponselnya dari sana.
"Memangnya ponsel mu kemana?" tanya Jendral.
"Disita sama nyokap gue!" ujar Melin.
Melin segera menuju menu kontak di dalam ponsel Jendral. Gadis itu mencari sebuah nama di jajaran nama-nama yang tersusun memanjang itu.
"Apakah kau mencari kontak nomor ponsel, Mas Adrian?" tanya Jendral.
Melin menjawabnya, namun kecurigaan Jendral itu benar adanya.
"Gue hanya mau tanya kabar dia aja," ujar Melin.
"Kontaknya kuberi nama 'Dukun Santet'!" ujar Jendral.
"Emang semudah itu, buat nyantet orang?" tanya Melin pada Jendral.
Jendral mengerucutkan bibirnya lalu sedikit berpikir.
"Aku nggak pernah nyantet orang!" kata Jendral.
Padahal Melin berharap mendapatkan penjelasan, yang lebih panjang dari Jendral.
Gadis itu kembali menundukkan kepalanya dan meneliti kearah ponsel, mencari nama 'dukun santet' di kontak ponsel jenderal. Saat menemukannya Melin terdiam sejenak. Dia sedang menimang-nimang apakah akan menghubungi Adrian dengan panggilan telepon, atau mengirim pesan chat saja.
Akhirnya Melin memutuskan untuk melakukan panggilan telepon kepada Adrian.
Tuttttt
Tuttttt
Tuttttt
Melin menunggu, nada itu tak kunjung putus. Dan berakhir dengan suara wanita yang mengatakan 'nomor yang anda tuju tidak dapat menjawab panggilan anda, mohon mencoba beberapa saat lagi'.
Sekali lagi Melin menekan menu call dikontak Adrian. Hatinya mulai khawatir dan merasa sesuatu yang buruk menimpa Omnya itu.
Dengan cemas Melin mendengarkan bunyi tut tut tut dibalik panggilan. Dia mulai menggigiti ujung kuku jari jempolnya, karena rasa khawatirnya pada Adrian sudah memenuhi isi otaknya.
__ADS_1
"Nggak diangkat?" tanya Adrian.
Melin menggeleng ke arah Jendral, wajahnya yang manis sudah dipenuhi raut kekawatiran.
Sekarang Melin sadar, bahwa perasaannya kepada Adrian cukup besar dan tak bisa ia tahan. Gadis itu sudah terlanjur jatuh cinta pada Omnya dan tidak bisa berpaling ataupun mengalihkan kan perasaan indah itu.
Demi apapun dia berani bersumpah, jika perasaannya pada Adrian adalah cinta.
"Sinyalnya bagus! Tapi kenapa dia tidak mau angkat telepon?" tanya Melin.
"Mungkin dia sedang sibuk! Lebih baik kau meninggalkan pesan chat saja!" usul Jendral.
Menerima segala kenyataan yang ada adalah sebuah titik di mana perasaan cintamu cukup besar untuk orang yang kau cintai.
Jendral memang belum tahu arti istilah itu, namun hatinya yang polos dan masih bersih tidak menginginkan hal buruk terjadi pada orang yang ia cintai.
Mungkin Melin hanya khawatir pada Omnya yang sekarang sudah menjadi buronan. Namun secercah kecemburuan terselip di dalam hatinya. Meskipun begitu Jendral ingin bersikap mengayomi Melin, dia tidak ingin perasaannya menjadi beban untuk orang yang ia cintai.
Selain karena beban hidup Melin yang sudah sangat berat. Jendral merasa sebagai seorang lelaki yang mencinta, harusnya tulus dan menghargai wanita yang dicintainya. Tak mengharapkan perasaan yang setimpal ataupun hal lain yang bersifat intim dan mengintimidasi.
Dia mencintai Melin, karena dia menyukainya dan Jenderal akan tetap menyukai Melin bagaimanapun akhirnya.
.
Akhirnya Melin menulis pesan chat untuk Adrian. Berkali-kali Melin menulis rangkaian kalimat di kolom tulis itu, namun ia menghapusnya berkali-kali juga.
Semua rangkaian kalimat itu terlihat salah dimata Melin, tak ada sebuah kalimat yang bisa ia tulis dan mewakili seluruh perasaannya kini.
Akhirnya Melin hanya menulis tiga kata. 'Om aku merindukanmu'. Namun Melin menghapus kata itu lagi.
Jelas-jelas Melin ingin membuang perasaannya pada Adrian. Namun Kenapa hal itu sangat susah dilakukan, haruskah ia melampiaskan semuanya. Seluruh perasaannya dan berbuat dosa sesuka hatinya.
Bukankah dia akan mati sebentar lagi, kenapa perasaan itu menarik diri Melin untuk selalu dekat dengan Adrian. Bukankah sudah jelas jika Adrian mencintainya bukan karena perasaan lelaki itu sendiri, namun atas dorongan makhluk lain yang entah dimana keberadaannya.
Tapi Melin merasa semua perasaan yang ia miliki pada Adrian sangat nyata baginya. Cintanya pada Adrian bukanlah sebuah permainan, Hatinya sudah terikat sepenuhnya pada lelaki seksi itu.
Bukan karena kepuasan n.afsu yang pernah ditorehkan oleh Adrian padanya, namun perasaan yang dimiliki Melin pada lelaki itu ternyata lebih besar dari segala-galanya.
"Gue harus ke sana! Nemuin Om Adrian dan menanyakannya secara langsung!" ujar Melin.
"Kemana?" sahut Jendral.
Mereka masih duduk di ayunan, yang bergerak perlahan menggoyangkan tubuh mereka bersama-sama. Keduanya saling berpandangan, di titik itu mereka sadar. Bahwa anak kecil seperti mereka, bisa saja memiliki perasaan yang lebih dewasa daripada orang-orang di sekitar mereka.
Perasaan cinta yang elegan dan penuh dengan rasa tulus akan pengorbanan. Tak peduli akan merasa puas dan hanya peduli pada kebahagiaan orang yang mereka cintai.
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
__ADS_1