Hujan Teluh

Hujan Teluh
Bintang Jatuh


__ADS_3

"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Suara Lastri mengagetkan mereka berdua.


Ibunda Melin itu baru saja keluar dari dalam rumah dan mendekati kedua remaja yang sedang asik berbincang.


Melin segera mengembalikan ponsel Jendral, dengan gerakan secepat kilat. Tapi remaja pria itu, tak ngeh dengan reaksi Melin. Hingga ponselnya terjatuh dan perhatian Lastri kini tertuju pada benda tipis yang sekarang tergeletak di atas tanah.


Jendral menunduk dan mengambil ponselnya, namun raut wajah Lastri sudah mulai suram. Insting keibuannya sudah bisa menebak, apa yang baru saja Melin lakukan dengan ponsel Jendral


"Apa kau berusaha menghubungi Adrian lagi?" tanya Lastri dengan nada yang sudah kasar.


Melin dan Jendral terdiam membeku, mereka tidak berusaha mencari alasan.


"Bunda sudah bilang jangan menghubungi Adrian lagi!


"Apa kamu nggak takut dia menyakitimu?


"Ingat, Mel! Adrian bahkan membohongi bunda, agar Bunda membawamu kesini.


"Dia bilang pada Bunda akan menyembuhkanmu, namun dia malah ingin menjadikanmu tumbal!" jelas Lastri.


Dosen ilmu hukum itu masih merasa dibohongi oleh Adrian, dia tidak peduli tentang penjelasan apapun. Baginya intuisinya sudah benar, dan sekarang dia hanya perlu fokus untuk menyelamatkan Melin dari terkaman Adrian.


"Bunda semua ini bukan salah Om Adrian!" ujar Melin.


Dia memang pernah curiga pada Adrian, namun setelah memikirkannya lagi. Melin sadar bahwa Adrian yang dia cintai, bukanlah Adrian yang akan membunuhnya. Mereka dua orang yang berbeda namun memiliki tubuh yang sama.


Melin merasa harus memecahkan teka-teki itu sebelum ia mati menjadi tumbal. Karena takdirnya sudah tidak dapat diubah oleh siapapun lagi.


"Kamu yang bilang ke bunda sendiri, jika kamu melihat masa depanmu dan Adrian akan membunuhmu!" ujar Lastri.


Ya sebenarnya malam itu saat Melin mengalami mimpi buruk tentang dirinya di dalam gubuk reot bersamaan Adrian. Melin ditelepon oleh ibunya namun panggilan itu terputus karena Melin tertidur. Meski tahu main tertidur Lastri tidak mematikan panggilannya. Dosen ilmu hukum itu ingin memastikan putrinya baik-baik saja.


Di situlah Lastri mendengar Melin mengigau karena terbawa mimpinya. Saat Melin terbangun,  Melin mendengar suara teriakan ibunya di dalam ponselnya yang masih menyala.


Melin terbangun jam 00:04 dini hari saat itu dan mengatakan pada Lastri apa yang dia alami di dalam mimpi. Saat itulah Melin juga melihat bayangan Adrian dari kejauhan, lelaki itu baru pulang dari semedinya.

__ADS_1


Melin segera pura-pura tidur lagi  Melin melihat dengan mata kepalanya sendiri, bahwa Adrian masuk ke dalam pondok melalui pintu depan yang digembok. Kecurigaan Melin tentang Adrian didukung oleh semua itu. Hingga Gadis itu percaya bahwa Adrian membodohinya.


Melin sendiri yang meminta bundanya menjemputnya, dan memberitahu tentang keberadaannya dengan membagi lokasi keberadaannya. Itulah kenapa Lastri dapat dengan mudah menemukan Melin.


Namun entah kenapa, Melin ingin kembali ke pada Adrian saat ini. Apakah perasaan gadis itu pada Adrian, memang sangat besar. Hingga dia bisa lupa tentang masa depannya.


"Orang yang akan membunuhku, bukan Om Adrian!" kata Melin.


"Bunda nggak setuju jika kamu mendekati Adrian lagi!" kata Lastri.


Jendral merasa dia hanya pengganggu di tengah perdebatan ibu dan anak ini. Dia memutuskan untuk berdiri dan menjauh saja, dia juga tak bisa membela Melin dalam kancah ini.


"Aku cinta sama Om Adrian!" kata Melin.


Jendral yang sudah berdiri di dari kursi ayunan itu , kembali menoleh ke arah Melin. Pemuda itu sama sekali tak menyangka, dengan ucapan yang baru saja dikatakan oleh Melin.


Jantungnya terasa baru saja dihantam oleh batu bata, dadanya langsung sesak. Jadi ini alasan Melin menolaknya dengan lembut sore tadi. Apa ciuman itu, hanya sebuah rasa penasaran. Namun Jendral tak bisa mengucapkan kata apa pun untuk gadis yang ia cintai itu.


Melin menundukkan wajahnya, dia mulai terisak. Bundanya mendekat ke arahnya dan memeluk putrinya.


Berkali-kali batu bata mistis itu, dirasa Jendral menghantam keras ke dadanya. Dia hanya bisa berbalik ke arah lain dan berjalan lemas menjauhi ibu dan anak yang akan perang itu.


"Kau gila?!" teriakkan pertama sudah keluar dari mulut Lastri.


"Adrian kurang ajar sekali kau!!!" teriakan kedua Lastri menghentikan langkah Jendral.


Jendral tak bisa meninggalkan Melin saat ini, gadis itu tak boleh melewati jurang ini sendirian. Pasti hal ini lebih berat bagi Melin, dari pada baginya.


Jendral berbalik dan melihat kembali ibu dan anak yang masih berpelukan di kursi ayunan. Mereka tak akan perang, namun Jendral tak bisa meninggalkan mereka berdua saja. Lelaki muda itu hanya merasa dirinya mungkin bisa sedikit menghibur Melin nantinya.


.


.


.

__ADS_1


.


Darah segar menetes membasahi batu besar tebing di samping pondok pribadi Adrian. Lelaki itu terus meninjukan kepalannya ke arah batu hitam yang mengkilap karena terpaan sinar rembulan.


Tak peduli jemarinya bisa hancur karena ulah bodohnya tersebut. Adrian terus menghantamkan tinjunya berulang kali ke arah yang sama. Dengan landasan batu keras yang sudah basah dengan darahnya.


Wajah dan rambutnya sudah basah oleh air mata dan keringat. Rahangnya mengeras dan matanya masih sembab, dia tak punya cara lain selain melukai dirinya.


Jika kondisi tubuhnya melemah, maka jiwa iblis yang mengikatnya tak akan punya cukup kekuatan untuk mencelakai Melin. Itu yang dipikirkan oleh Adrian, padahal Adrian tau betul jika ia mati. Maka tubuhnya akan sepenuhnya dimiliki oleh Nyai Blorong, dan siluman itu bisa dengan bebas menggunakan tubuhnya.


Ia sadar, dalam kebimbangan. Menghanyutkan desah nafasnya yang tersenggal karena isak tangis dan rasa sakit. Tubuh lelaki gagah itu berbalik, dan ia melemparkan punggungnya ke arah dinding batu.


Tersirat jelas, Adrian sudah tak ingin hidup lebih lama dari ini. Dia ingin mati, namun kematiannya ataupun hidupannya hanya akan melukai wanita yang ia cintai. Dia tak punya keputusan yang bisa ia ambil.


Dia merasa berada di atas tubuh Melin saat ini, membayangkan kedua tangannya menerkam erat leher jenjang gadis manis itu. Mencengkeram semakin erat, dan dia bisa membayangkan betapa merahnya wajah Melin.


Suara isakannya memecah kesunyian malam, Adrian mencoba menghapus khayalannya. Namun bayangan itu terus muncul, menyiksanya dan membuatnya melukai dirinya sendiri. Membuatnya ingin mati.


"Tolong aku, siapa saja tolong selamatkan Melin dariku!" kata Adrian dengan nada yang lemah.


Sudah dua hari dia tak makan, dan dia baru saja sembuh dari luka dalam yang cukup mematikan. Bisa terus bertahan sampai hari ini, adalah sebuah keajaiban bagi manusia biasa.


Kedua tumpuhan Adrian melemah, hingga dia terduduk di tanah. Matanya yang sudah basah oleh air mata, hanya berkedip ke arah langit.


Dia bahkan meminta permintaan pada bintang yang jatuh, seperti anak remaja. Namun dia berharap harapannya itu benar-benar terkabul. Harapan terakhirnya, jika harapannya kali ini terkabul. Adrian berjanji tak akan meminta permohonan lain.


Cukup satu permohonan ini dikabulkan, maka dia siap mempertaruhkan apa pun untuk permohonan itu. Permintaannya adalah.


SEMOGA MELIN BERUMUR PANJANG DAN BAHAGIA


Dia tak peduli dengan dirinya sendiri, apakah cintanya benar-benar sudah sangat dalam pada Melin.


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2