
"Apa kalian belum selesai?" tanya, sebuah suara pria.
Suara itu berasal dari luar pondok yang ditempati oleh Melin juga Jendral. Keduanya saling berpandangan, tersirat jelas bahwa mereka berdua ketakutan.
"Cepat pakai baju kalian! Aku tidak ingin ada keributan di desa ini!" suara lelaki itu kembali terdengar, di telinga mereka berdua.
Melin dan Jendral akhirnya bisa menembak suara itu. Suara serak dengan bahasa indonesia tanpa logat medok itu, adalah milik Pak Jacson.
"Pak Jacson!" Ujar Melin tanpa suara, kearah Jendral yang berbaring di sampingnya.
Jendral segera turun dari dipan, iya kembali memakai pakaian yang lagi. Baru juga beberapa menit yang lalu dia melepasnya, namun dia harus memakainya kembali. Benar-benar sesuatu hal yang sia-sia.
Saat Melin dan Jendral keluar dari pondok itu, mereka hanya melihat Jacson seorang diri. Semalaman mereka berpikir, akan ada banyak warga yang ikut menangkap mereka. Karena telah melakukan tindakan asusila, yang tidak pantas.
"Ternyata kau kuat juga!"ujar Jacson, Kades Desa Air Keruh itu sedang menyindir Melin. "Usia memang menentukan, setamina seseorang!"
"Kenapa anda ada di sini?" tanya Melin.
Dia berusaha masih bertingkah sopan di depan pria, yang paling menjijikan di Desa Air Keruh ini.
"Ayahmu memintaku menjagamu!" ujar Jacson.
"Ayah?!" Melin tentu saja kaget.
Beberapa hari yang lalu, dia dan Adrian bahkan mengunjungi makamnya. Lalu tiba-tiba bajingan biadap itu masih hidup.
"Kau pikir dia masih hidup yaaaa?" tanya Kades Air Keruh itu dengan nada yang mengejek. "Asal kau tau saja, semua ini adalah rencananya!"
Kades Air Keruh itu masih tersenyum licik ke arah Melin. Gadis yang saat ini memakai outfit mirip orang dayak itu, sangat geram pada Jacson.
"Dimana dia? Dimana ayahku?!" bentak Melin.
"Apa kau ingin bertemu dengannya? Kalau begitu mari kita bercinta sekarang, kau masih kuat--kan?" tanya Jacson.
Buakkkkkkkkk
Tubuh Kades Air keruh itu sudah terhuyun ke samping, karena dia baru saja menerima sebuah pukulan penuh tenaga dari kepalan tangan Jendral.
"Anda tak akan bisa menyentuhnya!" kata Jendral.
Darah segar mengalir dari bibir sebelah kiri Jacson. Namun senyumnya masih belum surut dari wajahnya yang sangat licik.
"Kau sudah dewasa ternyata!" Jacson malah melontarkan kalimat pujian ke Jendral, yang telah memukulnya.
"Kau mirip sekali dengan ayahmu!" ujar Jacson.
Seperti baru saja terkena pukulan balasan dari Jacson. Jendral bisa merasakan rasa sakit, yang lebih sakit dari sekedar bogeman kepalan tangan dari Jacson.
Pasalnya sudah 10 tahun, Jendral tak pernah bertemu sama sekali dengan ayahnya. Lebaran, tahun baru, atau bahkan hari ulang tahunnya. Dia hanya menghabiskan hari-hari penting itu dengan ibunya saja.
Sudah lama Jendral melupakan sosok ayahnya, namun dia tak akan bisa melupakan figur ayahnya untuk selamanya. Bagaimana--pun ayahnya bukan seseorang yang jahat di matanya.
__ADS_1
"Melin, istirahatlah di rumahku! Nanti malam kau harus bekerja keras lagi!" ujar Jacson.
"Nggak aku akan di sini!" ujar Melin.
"Kau harus makan dan tidur dengan nyenyak! Nanti malam kau harus gelut dengan Adrian lagi.
"Kau tak mau mati, saat bercinta dengan Manusia Harimau itu lagi--kan?" kata Jacson.
Melin terhenyak, dia mengira hanya akan bercinta dengan Andrian sekali saja. Melin sangat yakin, jika dia bertemu lagi dengan Adrian. Dia sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.
Dia tidak mungkin menyerah begitu saja, ketika lelaki itu akan menikmati tubuhnya kembali.
.
.
.
.
Ellen merasakan rasa ngilu yang menyakitkan di kepalanya. Kesadarannya belum sepenuhnya kembali.
"Akhhhhhhhh!" desahnya, salah satu tanggannya refleks memegangi kepalanya yang sudah penuh dengan darah.
"Sialan, apa yang memukulku? Adrian?!" tanya Ellen pada siapa pun yang berada di dekatnya.
Ia berusaha membuka matanya, hidungnya mulai bisa mencium bau di sekitarnya. Ellen hanya bisa mencium bau busuk, pengap dan lembab.
Posisinya berbaring miring di atas lantai yang penuh dengan kotoran berbagai jenis hewan yang mengering.
"Dimana ini?" tanya Ellen lagi.
Polisi wanita itu tak berharap ada yang menjawab pertanyaannya. Karena dia sudah menyangka, siapa pun yang memukul kepalanya saat ia sedang mengintrogasi Jacson. Orang itu pasti akan mengurangnya menjadi tawanan.
"Siallll!" keluh Ellen.
Matanya sudah terbuka lebar namun tak ada sesuatu yang bisa dia pandang, kecuali beberapa sorot sinar matahari yang menembus atap genteng tempat itu.
"Ini pasti sudah pagi!" kata Ellen.
Ellen berusaha untuk duduk, meski dengan tenaga seadanya. Kepalanya masih terasa sangat sakit, tapi pandangan matanya tidak mau berhenti menelisik sekitarnya.
"Bajingan! Beraninya mereka mengurungkan seperti ini!" ujar Ellen.
Dalam posisi duduknya, Ellen mencoba meraba seluruh tubuhnya. Dia mencari senjata yang ia sembunyikan di dalam pakaiannya.
Dia harus kabur dari sini secepatnya, jika tidak dia tidak akan bisa bertemu Melin lagi. Jacson dan Adrian pasti sudah mempersiapkan semua hal untuk menumbalkan Melin.
Dua lelaki bangsat itu tidak akan menyerah begitu saja.
"Keparat!!!" teriak Ellen.
__ADS_1
Ia tidak menemukan satu pun senjata rahasia, yang disembunyikan di bagian-bagian pakaiannya.
"Kenapa mereka bisa tahu, tentang senjata yang kusembunyikan?"
Ellen adalah seorang polisi dan hanya para polisi--lah yang tahu. Bagaimana mereka mempersiapkan segala sesuatu termasuk senjata rahasia yang disembunyikan di pakaian mereka.
Ruangan yang ditempati oleh Ellen sangat gelap. Sinar yang masuk dari lubang atap ruangan itu, sama sekali tidak mampu menerangi seluruh ruangan. Selain hari ini masih pagi, cuaca juga sedang tidak mendukung.
Ellen tentu saja tidak mau menyerah, dia berdiri dari duduknya. Polisi wanita itu berusaha mencari apa pun, untuk membantunya kabur dari tempat ini.
"Kau tidak akan bisa kabur dari sini!
"Jika pun kau bisa keluar dari bangunan ini, tapi kau tidak akan bisa kembali ke dunia kita!"
Tanpa ada angin atau pun hujan. Tiba-tiba saja Ellen mendengar suara lelaki yang serak tapi sangat lemah.
"Siapa kamu?" tanya Ellen, dia tentu saja kaget.
Dia tidak menyangka, ada orang lain di ruangan gelap ini. Ellen mencoba melihat sekitarnya, dan dia baru sadar bahwa ada seseorang yang duduk di pojokan ruangan gelap itu.
"Siapa aku, itu tidak penting!" suara itu kembali menggema di ruangan yang tak terlalu besar itu.
"Apa kau salah satu warga Desa Air Keruh?" tanya Ellen.
"Kenapa kau datang ke sana?!" suara serak lirih itu berubah tegas.
Ellen yang sedang berdiri, segera menghampiri pria yang ada di pojokan itu. Netranya tak bisa menangkap sosok itu secara jelas.
Ellen melangkahkan kakinya perlahan, dan samar-samar ia bisa melihat siluet lelaki itu. Wajah pria itu tak terlihat jelas karena rambut ikal memenuhi wajahnya.
"Katakan padaku, apa kau Lastri?" tanya pria itu.
"Bapak kenal kakakku?" tanya Ellen.
"Dimana anak Lastri, jauhkan anak itu dari Desa Air Keruh!
"Saya mohon, jauhkan dia!" ujar lelaki itu.
Suara seraknya semakin berat, pertanda lelaki itu memendam gejolak emosi di hatinya
"Emang kenapa, Pak?" tanya Ellen.
"Anak itu pasti akan ditumbalkan kepada Siluman Harimau oleh Yanuar!
"Tolong selamatkan putriku! Saya mohon selamatkan dia! Bawa dia pergi dari Desa terkutuk itu!" ujar lelaki yang asal-usulnya tak jelas itu.
Ellen seketika tertegun dalam jongkoknya, bukankah Yanuar adalah ayah kandung Melin. Kenapa pria yang berada di depannya ini malah mengakui Melin sebagai putrinya.
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
__ADS_1