
Dua Kali Lipat
~><~
Ketika kau ingin melakukan sesuatu yang kau anggap benar, jangan pernah ragu untuk melakukannya. Karena tak semua orang melihat dengan mata yang sana. Jika ada yang menyalahkanmu, asal kau tak melakukan tindakan yang brutal maka tetaplah percaya diri.
Karena bertahan hidup itu susah, menjadilah jahat di berapa tempat dan situasi yang sesuai. Karena jika kau terlalu baik, maka kau akan diremehkan dan dianiyaya.
Sebab tak akan ada yang menolongmu saat kau sudah menjadi orang yang dianggap lemah.
~><~
Dua perempuan berbeda gaya fashion sedang melangkah dengan langkah gagah.
"Jangan gitu jalannya, Pak! Nanti ketahuan kita!" ujar Jendral yang berwujud Malin dengan nada menggurui.
"Cerewet banget sih kamu?!" Bentak Jacson yang sekarang terwujud wanita cantik bernama Aya.
"Sampai kapan, kita akan kayak gini?" tanya Jendral dengan nada yang sangat kesal.
"Nggak lama kok!" ujar Jacson yang dari tadi hanya sibuk menyibakkan rambut panjang yang ia miliki di tubuh barunya kini.
Sementara Jendral nyaman-nyaman saja dengan wujud yang ia miliki, karena Melin lebih suka berpakaian casual yang nyaman. Daripada ribet penuh gaya serta aksesoris yang tidak penting.
"Ternyata tidak segampang itu ya? Jadi seorang perempuan?!" keluh Jacson.
Karena Jacson tidak merasa nyaman dengan tubuh barunya, apalagi di bagian dada. Maka dari itu, dia membenarkan posisi dada yang kini membusung bulat.
"Astaga!" ujar Jacson.
Si pria 25 tahun yang masih perjaka itu, menyentuh dua gunung kembar di dadanya dengan kedua tangannya.
"Ada apa, Pak?" tanya Jendral yang langsung menghentikan langkahnya, karena Jacson terlihat sangat kaget.
"Besar banget!" ujar Jacson.
Kades Desa Air Keruh itu tidak hanya memegang kedua gunung kembar yang baru saja dia miliki, tetapi juga meremasnya pelan.
__ADS_1
"Ukuran ini, dua kali lipat daripada punya Melin!" kata Jacson.
Jendral yang mendengar perkataan mesum Jacson, mencoba menahan amarah yang sudah di ujung ubun-ubun kepalanya. Cowok SMA itu tentu saja tidak rela, jika salah satu bagian tubuh Malin menjadi olok-olokan. Apalagi yang dibicarakan oleh Jacson adalah bagian tubuh Malin yang paling sensitif dan pribadi.
Namun Jendral juga masih mempunyai rasa hormat kepada orang nomor satu di Desa Air Keruh itu. Yaaaa... Meskipun tidak nomor satu lagi sekarang. Tetapi Jendral masih menahan dirinya untuk tidak gelut dengan orang yang lebih tua darinya itu.
"Kamu nggak percaya?" tanya Jacson yang masih saja meraba-raba area dadanya dengan kedua tangannya.
Sepertinya Kades Air Keruh itu salah menangkap ekspresi di wajah Melin yang didalamnya berisi jiwa Jendral.
"Coba saja pegang punya Melin, lalu pegang punya wanita ini. Ukur saja sendiri!" kata Jacson yang berpenampilan Aya.
Wanita gipsy itu bahkan membusungkan oppai besarnya ke arah Jendral, agar bisa dipegang oleh bocah SMU yang kini berada di tubuh Melin yang usianya hampir sama dengan si pemilik tubuh.
Untung saja Desa ini sudah tidak di huni oleh siapapun. Jika ada yang menghuni Desa ini dan melihat kelakuan dua wanita gila tersebut. Maka warga desa yang melihat kelakuan mereka pasti akan lari kocar-kacir, karena melihat tingkah laku Jendral dan Jacson yang berada di dalam tubuh Malin dan Aya. Yang jauh dari kata normal.
Jendral yang mempunyai visual Melin, hanya bisa memandang Jacson yang memiliki visual Aya, dengan tatapan jijik yang penuh emosi.
Entah apa yang dirasakan oleh Jackson yang berada di tubuh Aya. Manik matanya mengedar menelisik seperti dia menangkap sesuatu yang aneh di area tersebut.
"Ada apa, Pak?" tanya Jendral dengan suara Melin yang lembut.
Tanpa banyak berkata-kata Jacson yang berada di tubuh Aya, sudah membuat Jendral yang bervisual Melin pingsan.
Ternyata Kades Air Keruh itu menangkap tanda-tanda kedatangan beberapa anak buah Insagi yang bertugas untuk menjemputnya Aya, yang sudah berhasil membawa Melin menuju markas rahasia Insagi.
Aya sudah menopang tubuh Melin yang terkulai lemas, dia mulai berlagak seperti perempuan normal. Karena dia tau bahwa tak lama lagi rombongan utusan Insagi pasti sampai ditempatnya kini.
Benar saja, sayup-sayup suara beberapa langkah kuda terdengar nyaring menuju arah Aya yang sudah membopong tubuh Melin yang pingsan.
"Ndoro Aya, kami diutus oleh Ndoro Insagi untuk menjemput kalian berdua!" ujar kusir kereta kuda.
Tampaknya Insagi sangat menyukai era kerajaan di Indonesia. karena Siluman Burung Garuda itu, masih menggunakan Kereta Kencana yang mewah untuk kendaraan sehari-harinya.
"Bantu saya mengangkat dia, Warok!" kata Aya.
Jacson adalah salah satu bagian dari Insagi sebelum ini, jadi Kades Desa Air Keruh itu sangat mengenal anak buah yang yang berada di bawah Siluman Burung Garuda tersebut.
__ADS_1
"Baik Ndoro!" ujar Warok yang masih berwujud lelaki dewasa yang bertubuh sangat kekar dan besar.
Kereta Kencana yang yang dibawa oleh Warok berjalan pelan di sebuah pemukiman yang penuh dengan penduduk. Tetapi penduduk yang yang dapat dilihat oleh mata, tampak sangat aneh karena penduduk di desa itu mengenakan busana zaman kerajaan.
Namun keanehan itu sama sekali tidak mengusik Jacson yang berada di tubuh Aya. Hal yang dia lihat memang sudah biasa, karena Jacson sering datang ke tempat ini sebelumnya.
Pemukiman jaman dulu yang tertutup kabut dengan penduduk yang masih primitif dan bahasa yang digunakan adalah bahasa daerah Jawa yang khas. Desa Kabut Merah.
Desa yang dihuni oleh jiwa-jiwa manusia yang tersesat dan ditawan oleh Insagi. Siluman Burung Garuda itu memanipulasi ingatan-ingatan jiwa manusia, yang ia tawan.
Agar Jiwa manusia di Desa Kabut Merah yang dia kuasai mempunyai atmosfer seperti di zaman kerajaan. Karena Insagi yang terlahir di zaman kerajaan Majapahit, masih belum bisa merelakan kehidupannya sebagai Manusia.
Setelah melewati Desa yang berkabut tebal itu, Kereta Kencana yang dinaiki oleh Jacson yang masih memiliki visual Aya. Menuju ke dalam hutan yang cukup rimbun dan juga mempunyai aura yang sangat gelap.
Tak lama dari jalur itu mereka sampai disebuah tebing yang menjulang cukup tinggi.
Aya turun duluan, sedangkan Warok bertugas untuk menurunkan tubuh Melin dari atas kereta.
Plok Plok Plok Plok
Terdengar suara tepuk tangan dari dalam celah tebing yang yang menjulang tinggi di depan Aya. Wanita yang di dalamnya adalah Jacson itu, segera menoleh ke arah asal suara tepuk tangan tersebut.
"Ternyata, tidak salah aku mengandalkanmu!" ujar suara seorang lelaki dengan Kharisma yang maskulin. Suara siapa lagi kalau bukan suara Insagi Si Siluman Burung Garuda. Yang mempunyai kekuatan dasar memanipulasi pikiran orang-orang.
Jacson yang berada di dalam tubuh Aya pun, segera memberi hormat dengan bersimpuh di depan Insagi.
"Sembah saya, Ndoro!" kata Jackson dengan nada wanita tetapi sangat tegas. Namun Kades Desa Air Keruh itu, juga menahan rasa ingin muntah karena harus menyembah Insagi yang awalnya adalah bawahannya.
"Kuterima sembahmu, Aya!" kata Insagi dengan sombongnya.
Siluman Burung Garuda itu pasti masih mengira dirinya adalah seorang Pangeran anak
Raja, yang dielu-elukan oleh semua kalangan masyarakat di zaman kerajaan.
Kehaluan Insagi memang sudah diketahui oleh Jacson, tetapi biasanya Jacson akan melontarkan kata-kata hinaan ke Insagi setiap mereka berdua bertemu.
Bukan menyembah dengan bersimpuh di bawah kaki Siluman laknat itu, tetapi Jacson harus menahan seluruh emosi di jiwanya.
__ADS_1
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤