Hujan Teluh

Hujan Teluh
Kehancuran Dan Harapan


__ADS_3

Meski terlihat marah, Jendral sebenarnya sangat bahagia. Karena ia bisa membuat Melin tersenyum dan dia juga mendapatkan ciuman pertamanya, tanpa di masa oleh orang sedesa.


"Mas Jendral tunggu aku!" kata Melin sok kalem.


Perubahan Melin sikap membuat Jendral, langsung menoleh Melin yang berada di belakangnya.


"Kesurupan, ya?!" ini giliran Jendral yang menggoda Melin.


Melin tak marah kepada Jendral, dia malah berlari ke arah cowok SMU itu. Lalu menggandeng tangan kiri Jendral, tanpa banyak bicara lagi.


"Kita harus ke Masjid untuk Sholat dulu.


"Aku ingin minta maaf pada Allah  karena telah melakukan dosa!" ujar Melin sambil menunjuk wajah Jendral.


Tentu saja dosa yang dimaksud Melin adalah ciuman mereka berdua tadi. Perkataan Melin itu sukses membuat Jendral senyum-senyum tak tertahan.


.


.


.


.


<~○~>


Cinta adalah sebuah rasa yang tidak pernah kutahu, namun tiba-tiba aku merasakannya saat melihatnya untuk pertama kali.


Mungkin ini yang dinamakan 'cinta pada pandangan pertama'. Tapi bagiku perasaan ini adalah sebuah rasa yang membuatku menginginkan sesuatu untuk pertama kalinya.


Aku ingin melindunginya, Meski aku tak bisa.


Aku ingin membuatnya tersenyum sepanjang hidupnya, meski aku tahu hidupnya tak akan lama lagi.


Aku ingin selalu berada di dekatnya, memberikan cintaku padanya. Menyayanginya dan menemaninya, serta bahagia bersamanya.


Meski aku bisa mewujudkan semua itu, namun itu tak akan lama.


Bolehkah aku berusaha sebaik mungkin, untuk hal yang sia-sia ini.


Meskipun tidak boleh, aku tetap akan melakukannya. Hal yang sia-sia ini, akan kulakukan dengan sebaik-baiknya.


Melin selama kau hidup, aku akan selalu berada di sampingmu dan menjadi sandaran untukmu. Bersandarlah padaku, jangan memikirkan apapun. Karena aku mencintaimu.


JENDRAL


<~○~>

__ADS_1


.


.


.


.


Setelah melakukan Sholat Magrib di masjid terdekat, mereka berdua pulang ke Desa Air Keruh. Sepanjang jalan Melin mendekap erat punggung Jendral, dia merasa sangat nyaman dengan kehangatan lagi itu.


Sekali-kali Jendral menyempatkan meremas jemari Melin yang melingkar erat di perut rampingnya. Cara anak muda pacaran bukankah harusnya seperti ini.


Di rumah Pak Kades sudah ada Lastri, Jackson, Mbah Painah dan Arinda. Mereka semua menunggu kedatangan Melin dan Jendral di teras rumah Pak Kades.


Pria nomor satu di Desa Air Keruh itu, tampaknya sangat bahagia karena dikelilingi tiga janda. Meski para janda yang mengelilinginya semua punya penyakit mental.


Mbah Painah selain tua wanita tua ini, terkadang bisa melihat hal mistis. Arinda meski dicintai oleh Pak Kades wanita paruh baya ini, tidak memiliki kewarasan yang stabil. Dan Lastri adalah janda kota yang hanya terobsesi pada putrinya Melinda.


Meski mereka berempat disatukan dalam satu rumah, bisa dipastikan bahwa tidak akan ada  percikkan cinta. Atau pun asmara yang membara, yang sanggup membakar gelora jiwa tua mereka.


"Kalian dari mana saja, kenapa baru pulang?!" tanya Pak Kades, seakan dia sedang menanyai putra dan putrinya sendiri.


"Melin butuh udara segar, dan aku mengijinkannya untuk membawa Melin jalan-jalan!" kata Lastri membela cowok SMU itu.


Melin yang baru saja turun dari motor Jendral langsung tertawa tertahan. Saat mendengar perdebatan antara bundanya dan Pak Jacson Mereka terlihat seperti suami istri yang sedang bertengkar.


"Kenapa kamu mengijinkannya?


"Kami pergi enggak jauh-jauh amat kok, Pak! Hanya di bekas galian tambang batubara!" jelas Jendral.


Jendral merasa sedang membawa anak gadis orang tanpa ijin ayahnya.


"Ya sudah kalau begitu kita kedalam dan makan bersama!" kata Pak Jacson.


.


.


.


.


Berbeda halnya dengan suasana riuh di rumah Jacson.


Kelam, sunyi, sepi menyergap di setiap hembusan nafas Adrian. Lelaki itu hanya duduk bersandar di dinding pondoknya yang lusuh. Pandangan matanya kosong dan wajahnya tampak sangat berantakan.


Pria sakti mandraguna itu belum makan sejak kemarin malam. Namun rasa lapar di perutnya tak ia rasakan, karena kehampaan yang menyerangnya lebih menyeramkan daripada kematian.

__ADS_1


Di tengah kegelapan pondok tanpa sinar apa pun, Adrian merenung dan memikirkan banyak hal. Dia masih berusaha mencari solusi yang tepat untuk keponakannya. Namun semakin dia mencari, semakin dia bingung dan tersiksa.


Karena tak ada cara yang bisa membebaskan Melin dari jeratan kutukan Hujan Teluh.


Suara derap kaki mendekat ke arah pondok yang ditempati oleh Adrian. Langkah itu langsung menuju pintu dan tangannya membuka pintu itu. Lengan kekar yang baru saja membuka pintu pondok itu, perlahan-lahan menyusuri dinding dan sebuah korek api lama dia hidupkan.


Api dari korek itu di sulutkan kesebuah lampu minyak tanah yang biasa di sebut ublik oleh orang Jawa. Yanuar membawa ublik itu kedekat, adiknya yang terduduk di lantai.


Ayah kandung Melin itu, membawa makanan untuk adiknya di dalam rantang susun. Dengan telaten Yanuar menyiapkan rantang-rantang itu untuk adiknya selalu memberikan sebuah sendok berwarna emas ke genggaman tangan kanan adiknya.


"Makanlah! Dan pulihkan tenagamu!" ucap Yanuar.


Namun Adrian yang dia anggap sebagai adik kandungnya sendiri, masih diam saja tak mau bergerak ataupun bicara. Semua warga Desa tahunya Adrian adalah anak kandung Mbah Bagio, padahal lelaki gagah itu lahir dari rahim wanita lain. Bukan dari rahim ibunda Yanuar.


"Jangan menyusahkan dirimu sendiri!" kata Yanuar.


"Jika kondisimu melemah, maka tubuhmu akan mudah dikuasai oleh Nyi Blorong!" jelas Yanuar.


Barulah Adrian bergeming. Dia menggertakkan giginya, menahan emosi yang menguasai dirinya. Pandangannya masih gamang dan pikirannya masih memikirkan nasib Melin.


Manik mata sayu Adrian, mengarah ke arah ah mata kakaknya. Namun pandangannya masih saja kosong dan hanya tampak keputusasaan.


"Pertemukan aku dengan dia!" pinta Adrian.


"Adrian! Jangan korbankan hidupmu seperti ini!" kata Yanuar.


Pandangan mata sayu itu masih tertuju pada wajah Yanuar. Pandangan yang sangat putus asa dan penuh dengan permohonan dari Adrian. Membuat Yanuar sedikit tergerak hatinya, namun tetap saja Yanuar tak akan membiarkan Adrian menemui Nyi Blorong sebagai budak n.afsu Siluman Ular itu.


"Aku harus menyelamatkan Melin, Kak! Aku tidak bisa berdiam diri seperti ini!


"Aku tidak bisa membiarkan gadis itu mati begitu saja!" ujar Adrian.


"Memangnya apa yang bisa kau lakukan?" tanya Yanuar.


"Apapun akan aku lakukan supaya Melin tetap hidup!" kata Adrian.


Pandangan keputusasaan Adrian sama sekali tak berubah, hal itu membuat Yanuar memalingkan wajahnya dari pandangan adiknya yang menyedihkan itu.


"Jangan lakukan apa pun! Ini akan segera berakhir!" ujar Yanuar.


Karena tidak sanggup melihat adiknya bersedih, Yanuar pun berdiri dan dia meninggalkan Adrian sendiri di dalam pondokan.


Adrian yang sudah sangat putus asa, hanya bisa berdiri dan mencoba mengikuti langkah kakaknya. Yang sudah keluar dari pondok terlebih dahulu. Adrian Masih sempat melihat kakaknya memasuki celah sempit di tebing bebatuan.


Dengan wajah yang sedikit gusar, Adrian menghela napasnya dalam-dalam. Dia meyakinkan dirinya sendiri, bahwa dia sanggup berkorban apapun untuk Melin.


Adrian melangkah cepat ke arah celah yang berada di dasar tebing bebatuan itu. Celah yang dibuat oleh kakaknya untuk keluar masuk ke istana Nyi Blorong. Adrian pun mencoba masuk ke dalam celah sempit itu, tanpa keraguan lagi.

__ADS_1


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2