Hujan Teluh

Hujan Teluh
Kuntilanak Merah


__ADS_3

Sepanjang mata mereka memandang, semua berwarna merah.


Jalanan berkerikil yang memisahkan Desa dengan RT rumah Adrian dan Jendral , cukup jauh letaknya dari Desa. Jalanan ini di apit oleh perkebunan pohon karet, dengan suasana yang sepi. Karena jalan ini hanyalah jalan menuju pondok di pinggir tebing milik Adrian.


Telinga mereka berdua mendengar suara auman lirih, desisan dan juga suara tengorokan yang menenggak sesuatu.


Glekkkkkk


Glekkkkkk


Glekkkkkk


"Melll, kita harus pergi dari sini!" ujar Jendral.


Melin hanya terdiam, kedua netranya menemukan bayangan sosok di dalam kebun karet di seberang jalan.


Tempat itu tak gelap. Hari masih siang meski cuaca agak mendung, jadi mata Melin bisa melihat sosok itu dengan jelas.


Gaun merah yang dikenakan mahluk itu berkelebat mengikuti arah angin yang mulai kencang. Darah merah mengental menyiprat dari ujung kainnya. Rambut panjang terurainya itu ikut berkelebat terbang, meski basah karena darah.


Gruarrrrrrrrrr


Mahluk itu berdiri, dia mendongak. Menikmati rasa puas akan dahaga di dirinya. Tubuhnya meliuk-liuk, membusung seolah itu cara untuk mencerna darah manusia yang baru saja ia minum.


Dibawah kakinya, seonggok tubuh lelaki besar yang sudah kaku. Penuh luka koyakan, karena gigi dan juga cakar mahluk itu.


Percikan dan genangan darah menyelimuti tempat itu. Seperti karpet merah yang terbentang di atas hijaunya rumput liar.


Kratakkkkkk


Kratakkkkkk


Kratakkkkkk


Kratakkkkkk


Kratakkkkkk


Bunyi itu terdengar lagi, tubuh monster itu berubah kebentuk manusianya. Wajah ayu Arinda menoleh ke arah Melin dan Jendral.


Wajah cantik dengan manik mata memerah, yang semua bagian tubuhnya terlumuri oleh darah segar para mangsanya.


Arinda tersenyum menyeringai, kepalanya bergerak pelan ke kanan dan ke kiri. Perlahan-lahan, senyumnya masih tersungging di wajah itu. Lama-lama tampak sangat menyeramkan.


Kuku-kuku panjang hitam masih berjaya dikedua tangannya. Pertanda tubuh wanita gila itu masih dikuasai oleh mahluk lain. Berupa Monster yang haus darah manusia.


Sebab, tak sampai setengah detik. Arinda dengan tangan bercakarnya sudah mencengkeram leher Melin.


"Jiwamu, milikku!" ujar Arinda, manik mata wanita gila itu telah berubah merah pekat.


Jendral yang berada di dekat Melin dan Arinda, segera menyerang Arinda dengan tinju terkuatnya. Bagian rahang Arinda menjadi titik utama yang diincarnya.


Buakkkkkkkkk


Cukup keras, jika yang ditinju oleh Jendral adalah wanita biasa. Bisa dipastikan Arinda pasti akan pingsan seketika. Namun entah apa yang merasuki diri Arinda. Wajah cantik wanita itu hanya terhempas pelan.


Sebagai balasan, pukulan yang terasa seperti elusan di pipi Arinda. Sebuah tangkisan satu tangan wanita itu melayang ke arah perut cowok berseragam SMU itu.


Tubuh Jendral melayang cukup jauh.


Buakkkkkkkkkk

__ADS_1


Dia mendarat di pertengahan batang, salah satu pohon karet di kebun itu.


Jendral jatuh terduduk, tak hanya pinggulnya yang terasa mau remuk. Dadanya juga terasa panas dan sesak karena sabetan ringan tangan Monster Arinda.


Didalam cengkeraman tangan Arinda yang sangat kuat. Melin mencoba menahan nafasnya, dia berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari serangan Arinda yang amat sangat mendadak ini.


Namun apa pun usaha tubuh Melin, yang hanya manusia biasa itu pastilah sia-sia.


"Matilah, ditanganku!" ujar Arinda.


Paru-paru Melin terasa sesak, tengorokannya seperti terbakar. Pandangannya pun sudah tak bisa dia andalkan.


Tubuh Melin perlahan melayang di udara, karena Arinda meninggikan cengkeramannya.


Apa ini akhir dari hidupku???


Apa aku akan mati, dengan cara seperti ini?


Bukankah kau akan melindungiku?!


Siapa pun tolong aku...


Tolong aku....


Om Adrian tolong aku!!!


Bahkan diujung nyawaku aku masih berharap, dia ada untukku.


Meski aku tau dia akan membunuhku nanti, tapi aku merasa tak bisa mati dengan cara seperti ini.


Melinda


Gubrakkkkkkkkk


Tak ia rasakan sakitnya terbanting di atas tanah, ia fokus mengisi paru-parunya dengan udara segar. Bau darah kembali ia cium, dia bisa membuka matanya lagi. Meski hanya sayup-sayup, dia bisa melihat rumput yang menjadi sandaran kepalanya.


"Melll, kamu nggak papa?"


Wajah lelaki itu cukup dekat dengan Melin. Namun suara Jendral terdengar cukup jauh.


"Melll!" Jendral menguncang tubuh Melin.


Namun kesadaran Melin seolah musnah. Matanya yang telah terbuka, kembali tertutup perlahan-lahan.


.


.


"Berani sekali kau mengharapkan Jiwa Suci. Kau pikir kau siapa?" tanya Adrian pada Arinda.


Tubuh manusia setengah monster itu juga terpelanting cukup jauh. Wanita begaun merah darah itu tersungkur lemah di atas tanah. Mulutnya mengeluarkan darah segar, entah darah aslinya atau darah manusia lain yang ia minum tadi.


"Bukankah kau juga menginginkan menjadi abadi.


"Kita sama-sama terlahir menjadi rendahan. Kau tak boleh sombong padaku Adrian!" ujar monster di diri Arinda.


"Jaga ucapanmu, aku bukan setengah siluman lagi!" ujar Adrian.


"Aku tau!


"Ternyata kau lebih serakah dari yang aku kira.

__ADS_1


"Kupikir kau ingin menjadi manusia seutuhnya setelah mengambil karma atas jiwa suci.


"Ternyata kau malah memilih menjadi siluman seutuhnya," Arinda masih terduduk di tanah menahan sakit.


Bogeman siluman harimau putih sekuat Adrian, hampir sama dengan terjangan mobil yang sedang ngebut di jalan tol.


Namun monster di diri Arinda masih bisa menyeringai sombong ke arah Adrian, mahluk yang saat ini sudah 100 kali lebih kuat darinya.


"Kenapa kau merubah tujuan hidupmu?


"Berapa lama kau menunggu anak itu lahir?


"100 tidak...200 tahun...Mungkin kurang sedikit!" kata Arinda.


Monster wanita itu berdiri dari duduknya. Namun tatapan memgintimindasinya masih tertuju pada pria di depannya.


"Jangan berusaha merubah takdir, karena kau dan aku hanyalah iblis rendahan.


"Yang butuh jiwanya untuk menjadi kekal dan kuat!" ujar Arinda.


Sepertinya Adrian tak sabar untuk mendengar ocehan monster yang merasuki tubuh Arinda. Ia segera maju, untuk memberi serangan pada mahluk wanita yang biasa kita juluki sebagai kuntilanak.


Siluman wanita cantik, yang akan berubah menjadi monster ketika haus.


Beberapa serangan Adrian memang bisa di tangkis oleh kuntilanak merah yang merasuki Arinda. Namun Adrian yang sudah mendapatkan kekuatan siluman sepenuhnya, tak mungkin tak bisa mengalahkan. Mahluk astral, yang kastanya sangat rendah itu.


Buakkkkkkkkkk


Buakkkkkkkkkk


Buakkkkkkkkkk


Wushhhhhhhhh


Wushhhhhhhhh


Wushhhhhhhhh


Mereka beradu ketangkasan dan juga menghindari setiap serangan. Pertahanan dan kekuatan mereka beradu di sela-sela barisan pohon karet yang berjajar rapi.


Arinda mengunakan ilmu meringankan tubuh, untuk menghindari serangan Adrian. Dia menerbangkan tubuh rampingnya setinggi tiga meter di atas tanah.


Namun Adrian yang mengenakan kemeja putih dan celana dasar hitam itu terlihat lebih tangkas. Lelaki itu ikut terbang, menyeimbangi tinggi tubuh wanita bergaun merah itu terbang.


Di udara mereka melanjutkan aksi tinju-meninju, tendang-menendang, kaplok-mengaplok.


Hal itu bertahan beberapa menit, sampai Adrian berhasil melayangkan salah satu ajian andalanya. Ajian Tapak langit, yang mematikan berhasil ia layangkan di dada Arinda.


Tubuh Arinda yang terkena serangan Tapak Langit Adrian langsung melesat jauh kebelakang. Gaun merahnya mengelebat cepat, menukik, menghantam sebuah pobon karet.


Bruakkkkkkkkk


Pohon itu ikut tumbang, karena hantaman tubuh Arinda di permukaannya. Tubuh Arinda kembali jatuh ke tanah dengan posisi tengkurap.


Ia memutahkan darah lagi, namun wanita yang dirasuki jiwa Kuntilanak Merah itu masih berusaha untuk bangkit. Mana mungkin Kuntilanak Merah itu mau mengakui kekalahannya.


Baginya Adrian hanya manusia setengah siluman yang kasta keiblisannya lebih rendah darinya. Yang terlahir sebagai manusia dan mati menjadi iblis.


Sementara Adrian adalah mahluk yang tak diterima didunia manusia atau pun dunia iblis. Adrian harus hidup di alam buana, alam ketiga. Dimana para siluman menyimpan budak-budak mereka.


___________BERSAMBUNG_____________

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2