
Bangunan yang mengurung Ellen dan juga Sarul terbuat dari kayu, namun Ellen sama sekali tidak bisa menggeser satu papan pun. Dinding yang mengelilingi ruangan yang mereka tempati.
"Kayu apa yang mereka gunakan, kenapa keras sekali,"
Polisi wanita itu sudah terengah-engah, karena usahanya untuk mendobrak dinding cukup menguras tenaganya.
"Apa kau benar-benar ingin kembali ke desa itu lagi?" tanya Sarul kepada Ellen.
"Apa anda ingin disini selamanya?" Ellen malah balik bertanya kepada Sarul.
Entah kenapa, Ellen merasa sedang berbicara dengan sebatang akar pohon yang masih tertancap di bawah tanah.
Sarul benar-benar seperti, makhluk yang tidak punya ambisi dan juga keinginan sama sekali. Padahal lelaki itu, sudah mengakui Melin sebagai putrinya. Namun Sarul sepertinya, tidak ada niat untuk menyelamatkan hasil buah cintanya dengan saudara sepupunya itu.
Terkesan sekali, bahwa Sarul adalah lelaki yang tidak punya rasa tanggung jawab.
"Sebenarnya ada satu cara, namun itu sangat beresiko!
"Jiwamu bisa terserap oleh siluman, jika kau tidak pandai melarikan diri!"
Akhirnya pria yang tubuhnya penuh dengan rambut itu, memberikan sebuah solusi.
Ellen tak yakin dia bisa melakukannya. Namun melakukan hal yang mustahil lebih baik, daripada tidak melakukan apa pun sama sekali.
"Akan kucoba, katakan!" suruh Ellen.
"Saya akan ikut kabur bersama anda!" ucap Sarul. "Tapi anda harus mengikuti setiap perintah dari saya!".
Tidak biasanya Ellen menuruti perintah orang lain. Karena dikepolisian, dia adalah pemimpin di timnya.
Pengecualian untuk hari ini Ellen tidak bisa apa-apa. Polisi wanita itu harus bersedia menuruti setiap keinginan Sarul, agar ia bisa secepatnya keluar dari tempat aneh yang mengurungnya.
"Baiklah!" ujar Ellen.
Lelaki berambut gimbal yang dari tadi hanya merangkak dan duduk, kini mulai berdiri. Tubuhnya memang kurus sekali, namun apa yang baru saja dia lakukan membuat Ellen tercengang.
Gubrakkkkkkkkkkk
Tanpa menyentuh dinding yang dari tadi didorong oleh Ellen. Lelaki kurus itu merobohkan dinding kayu, dengan jurus kanuragan tenaga dalam.
'Padahal dia hebat, tapi kenapa sangat penakut' batin Ellen.
Namun ada hal lain yang lebih mengejutkan, daripada kekuatan lelaki di samping Ellen.
Hawa dingin di bawah titik beku, telah menerobos masuk dan menyengat kulit Ellen. Pandangan matanya setengah terkesima, karena Ellen hanya bisa melihat hutan yang ditutupi oleh salju.
"Sebenarnya kita ada di mana?" tanya Ellen masih dalam rasa kebingungannya.
"Alam Buana, lembah ilusi. Tempat yang membuat ilusi tentang apa yang kita takutkan!" ujar Sarul.
Seketika Ellen terkesiap karena ingatannya kembali ke zaman, di mana ia merasa paling ketakutan. Digunung salju seperti sekarang, 12 tahun silam. Ia berlibur ke Kanada bersama teman-temannya.
__ADS_1
"Lupakan rasa takutmu, atau kau akan mati di sini!" ujar Sarul.
Seolah berpindah ke alam lain, Ellen kembali terkesiap. Pria berbulu di depannya, telah berubah menjadi sosok pria tampan yang gagah.
Gundukan salju di sekitarnya juga telah menghilang musnah tanpa bekas.
"Jangan terpengaruh ilusi di alam ini! Kau harus sadar bahwa dirimu, adalah dirimu sendiri!" ujar lelaki itu.
"Siapa kamu?" tanya Ellen bingung.
"Apa aku mirip seseorang yang kau kenal?" tanya Sarul.
Ellen mengeleng pelan, ia memang tidak mengenali penampilan lelaki di depannya. Namun ia masih bisa mengenali suara khas dari pria itu.
"Kau, pria berbulu di ruang gelap tadi?" tanya Ellen.
"Berbulu?!" tanya Sarul, dahinya mengeryit dan wajah tampannya mendelik ke arah Ellen.
"Ternyata kau takut hantu yang berbulu!" ujar Sarul.
Lelaki itu tak mau banyak bicara lagi, ia melangkah pergi ke arah depan. Tanpa peduli dengan Ellen yang masih ingin menjelaskan sesuatu kepadanya.
"Apa ini penampilan aslimu?" tanya Ellen kepada Sarul.
Polisi wanita itu mengikuti langkah pria gagah itu tanpa penolakan.
"Bukan, mungkin tubuhku di dunia sudah menua. Jika pun masih ada!" ujar Sarul.
Dari belakang Ellen terus memperhatikan Sarul. Akhirnya Ellen tahu, kenapa kakak sepupunya Lastri, sangat tergila-gila pada pemuda di depannya ini.
Tanpa aba-aba atau lampu sen merah yang menyala, Sarul menghentikan langkahnya. Hingga Ellen yang sedang asik dengan lamunanya malah terpentok di punggung Sarul, yang hanya tertutupi sehelai kain kemeja tipis yang sudah usang sekali.
"Ada apa?" tanya Ellen yang sudah sadar dengan lamunanya.
"Hutan ini adalah wilayah, Horange. Anak siluman ular!" ujar Sarul.
"Horange! Apa itu nama orang?" tanya Ellen.
Tak lama, ada seseorang yang muncul dari balik pohon. Hutan ini tampak terawat, hanya ada pepohonan pinus yang rindang, tanpa banyak rumput liar yang menjulang.
Sarul menarik tangan Ellen, hingga polisi wanita itu bersimpuh di atas tanah.
"Hamba meminta ijin untuk lewat!" ujar Sarul.
"Bukankah kalian manusia?" tanya lelaki yang juga gagah perkasa, namun kulit di sebagian tubuhnya tampak bersisik. Bahkan separuh wajahnya dipenuhi dengan sisik ular putih.
"Benar, hamba adalah manusia. Paduka Horange!" kata Sarul.
"Kalian tawanan Insagi?" pria ular itu kemabali bertanya. "Insagi, apa dia sudah bisa berubah menjadi manusia?".
Karena raut kebingungan dari dua manusia yang bersimpuh di depannya. Horange langsung menebak, jika dua manusia ini tidak tau apa-apa. Tentang Insagi yang menjadi pengikut Macan Kumbang dan tinggal di dunia manusia.
__ADS_1
"Apa kalian tidak tau, Insagi kedunia manusia untuk menjadi manusia.
"Berburu jiwa suci dengan seorang siluman macan kumbang!"
Penjelasan manusia setengah ular itu membuat keduanya saling pandang di dalam kebingungan.
"Jangan-jangan Insagi adalah Adrian!" ujar Ellen.
"Jika yang kau katakan itu benar! Maka Melin tidak mungkin bisa keluar dari desa itu!" ujar Sarul.
"Kupikir Insagi telah membunuh seluruh tawanannya! Ternyata dia masih menyisakan kalian di bangunan aneh itu!" manusia setengah ular itu, tampaknya tau banyak tentang Insagi atau Adrian.
Tanpa rasa hormat lagi, Ellen berdiri dan bertanya, "Apa Anda sangat mengenal Insagi itu?".
"Kami dilahirkan di waktu yang hampir sama, tapi dia terlahir dari rahim seorang manusia!
"Dia datang kesini, saat sudah dewasa.
"Kupikir dia senang berada di alam ini, dengan menguasai seluruh daratan.
"Namun ternyata dia meninggalkan kami, untuk memenuhi berambisinya menjadi manusia!" ujar Horange.
Ekspresi manusia ular putih itu begitu sangat kecewa. Karena dia adalah teman dekat Adrian, ketika Adrian tinggal di alam ini.
"Jika dia menjadi manusia, dia tidak akan kembali lagi kesini!" ujar Horange.
"Apa anda bisa membantu kami, agar kami bisa kembali kedunia manusia!" tanya Ellen.
"Kalian tau, dimana Insagi berada?" tanya Horange.
"Aku tau!" jawab Ellen tanpa ragu.
"Jika kalian berjanji membawaku bertemu Insagi, maka aku akan membawa kalian ke alam manusia!" ujar pria dengan pakaian kerajaan jaman dahulu, yang amat mewah itu.
"Saya berjanji!" ujar Ellen.
"Tunggu Tuan!" sela Sarul. "Kami harus bicara berdua sebentar!"
Sarul menarik pergelangan Ellen, untuk sedikit menjauh dari Horange.
"Apa kau tahu siapa Insagi dan Horange?
"Mereka berdua adalah manusia setengah siluman yang sangat kuat jika bergabung!
"Mereka bisa menghancurkan alam manusia!" kata Sarul.
"Lalu kita harus gimana? Melawan manusia setengah siluman itu?" tanya Ellen.
Semua sudah terlanjur terjadi. Awalnya Sarul akan meminta ampun kepada Horange, lalu melewati lembah ilusi dengan damai.
Namun Ellen malah menceritakan hal yang tak penting pada manusia setengah siluman ular putih itu.
__ADS_1
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤