Hujan Teluh

Hujan Teluh
Melin Dan Jendral


__ADS_3

Hembusan angin malam menerpa wajah Jendral yang terus fokus dengan jalanan berbatu di depannya. Cowok SMU itu tak bisa mempercepat laju sepeda motor yang ia kendarai.


Jendral tak mau ban sepeda motornya tergrlincir. Biasanya medan yang dilewati motor sport Jendral adalah jalanan beraspal. Jadi lelaki itu mengunakan tipe ban yang tak bergerigi, agar laju motornya tetap seimbang saat ia mengendarainya dengan mengebut.


Tubuhnya menggigil kedinginan namun pelukan erat dari Melin, membuatnya tetap menahan rasa beku di sekujur tubuhnya. Jendral tak boleh lemah sekarang, karena lelaki muda itu sudah memutuskan untuk maju di garis depan, menjadi tameng untuk Melin wanita yang ia cintai.


Jendral yakin dia akan kalah dari Adrian, namun lelaki yang masih duduk di bangku kelas tiga SMU itu tak bisa diam saja. Saat melihat Melin disiksa seperti itu oleh Adrian.


Jendral bisa merasakan rasa takut yang diderita Melin saat ini. Pelukan erat kedua tangan Melin, dan suara isakan lirih yang dapat didengar oleh Jendral. Kedua hal itu adalah sebuah bukti nyata, jika gadis SMU itu butuh seseorang.


Seseorang yang bisa dia andalkan, seseorang yang bisa dia jadikan sandaran. Jendral akan menjadi orang itu, namun apakah Jendral sanggup menghadang segala bencana di hidupnya. Karena dengan membawa Melin bersamanya, cowok SMU itu sedang memancing kemarahan seekor Siluman Harimau Putih.


Setelah berkendara cukup lama, mereka berdua sudah sampai di pinggiran Desa Air Keruh. Namun suara riuh penduduk memaksa Jendral mematikan mesin motornya.


"Ada apa Jendral?" tanya Melin.


"Kayaknya warga desa, sudah mulai merasakan sesuatu yang aneh. Makanya mereka melakukan ronda setiap malam!" jelas Jendral pada Melin.


Dari tempatnya Melin juga bisa melihat beberapa sorot lampu senter, yang di bawah warga untuk menerangi rute mereka beronda.


"Jendral, kayaknya mereka mau ke sini! Kita harus sembunyi!" ujar Melin.


"Memang kenapa?" tanya Jendral.


"Pokoknya, kita jangan sampai berpapasan dengan para peronda itu!" ujar Melin.


Bagaikan sapi yang sudah dipasang tali keluh, Jendral melakukan apa yang Melin minta tanpa banyak bertanya lagi.


Jendral menyalakan mesin motornya lagi, dia memacu motornya melalui jalan lain yang sekiranya tidak akan dilewati oleh para peronda.


Satu-satunya jalan yang dipilih oleh Jendral adalah masuk kedalam perkebunan kelapa sawit. Karena jelas sekali para peronda habis dari sana, kemungkinan untuk mengulang ronda mereka di area itu adalah kecil. Jadi Jendral memilih bersembunyi dulu di salah satu pondok warga, yang dibangun di setiap kaplingan kebun sawit yang mereka punya.

__ADS_1


Pondok kayu milik Pak Harsono menjadi pilihan Jendral. Selain pndok itu berada paling dekat dengan Desa, Jendral juga mengenal baik pemilik kebun itu.


Jendral memang tidak mempunyai banyak pilihan dan lelaki muda itu juga belum bisa mempertimbangkan tentang apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Dia masih terlalu muda untuk memikirkan banyak cara rumit.


Setelah Jendral mematikan lagi mesin motornya, Melin turun dari jok kuda besi milik Jendral itu.


"Makasih ya, Jendral. Sudah mau membawaku sampai ke sini!" ujar Melin.


"Kenapa Mas Adrian, melakukan semua ini kepadamu?" tanya Jendral pada Melin.


Cahaya bulan purnama menerpa wajah Melin yang memucat, selain menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Melin juga menahan lapar, terakhir dia makan pagi tadi. Sedangkan saat ini, waktu sudah menunjukan hampir tengah malam.


Wajah pucat Melin hanya menunjukkan ekspresi kesedihan, gadis muda belia itu tidak sanggup menceritakan pengalaman buruknya. Pengalaman buruk, yang telah dialami semenjak datang ke Desa Air Keruh ini.


"Apa Mas Adrian, melakukan semua ini karena ritual Hujan Teluh?" tanya Jendral.


Seolah tahu akan pengalaman buruk yang dialami oleh Melin. Jendral langsung menebak jawaban yang tidak bisa dikatakan oleh gadis yang sangat ia cintai itu, padanya.


Lelaki itu baru saja menyetir motornya beberapa jam. Terpaan angin malam yang kuat, membekukan hampir seluruh bagian tubuhnya.


"Jendral apa kau benar-benar mau menolongku?" tanya Melin.


Kesedihan masih terlukis di wajah Melin, namun raut harapan yang tinggi di diri Melin. Tak bisa diabaikan oleh Jendral. Cowok SMA itu hanya bisa mengangguk dengan penuh keyakinan.


Meski dia harus mati, dia akan selalu berada di dekat Melin. Entah apa pun dia, bagaimana pun dia, rasanya Jendral sanggup menyebrangi api neraka sekali pun. Saat ini juga. Asal tangannya di genggam erat oleh Melin, sepeti saat ini.


"Aku tidak tahu harus melakukan apa.


"Namun aku akan melakukan apa pun untukmu!" ujar Jendral.


Meski bukan senyuman lebar yang mempesona, namun perasaan lega yang terlukis di wajah Melin. Sudah membuat Jendral mabuk, entah kenapa lelaki itu begitu sangat mencintai Melinda.

__ADS_1


Jendral merasa mempunyai ikatan yang kuat, dengan gadis yang sekarang berada di depannya. Jendral tak percaya tentang reinkarnasi, apa lagi tentang teori kehidupan masa lampau.


Namun cowok SMU itu merasa mempunyai ikatan dengan Melinda. Ikatan yang tak sederhana, seolah ikatan itu terjadi jauh sebelum mereka hidup di zaman ini.


"Apa kau mau bercinta denganku?" tanya Melin.


Manik mata Jenderal yang dari tadi, hanya memandang ke arah wajah Melin. Melebar dan bergetar, pertanyaan yang barusan Melin ucapkan. Seketika membuat jantung Jendral berhenti berdetak, lalu memompa darah dengan kecepatan yang tak terkendali.


Adrenaline sudah menguasai seluruh tubuh Jendral. Pertanyaan Melin benar-benar telah memacu, hasrat kotor yang tidak pernah terpikirkan oleh Jendral.


"Kenapa?" Ternyata akal sehat Jendral masih tersisa, cowok SMA itu menanyakan alasan Melin.


Tanpa menjawab sepatah kata pun, Melin malah meletakkan tangan Jendral yang sudah mulai menghangat di pipinya. Manik mata coklat muda itu menatap penuh keyakinan ke arah Jendral.


Lelaki muda itu tak bisa mngabaikan pandangan penuh n.a.f.s.u dari Melin.


Jendral tau ini salah, gadis di depannya ini mungkin adalah gadis yang ia cintai. Namun apakah benar, jika dia membalas semua ini dengan harsrat yang dari tadi mengebu ingin menerobos keluar dan ingin dilampiaskan.


Jendral meraih salah satu pipi Melin dengan tangan satunya lagi, kini kedua telapak tangan cowok SMU itu mengelus pelan area itu dengan penuh perasaan.


Kehangatan tubuh Melin membuat Jendral kecanduan, kini kedua tangannya yang sudah menyesuaikan suhu badan Melin itu. Telah mrengkuh tengkuk gadis belia itu, dia juga mendekatkan wajahnya ke arah wajah Melin yang berada di bawahnya.


Meski mereka berusia hampir sama, namun tinggi badan Jendral yang cukup jangkung. Membuat lelaki itu harus menunduk dalam, untuk bisa menautkan bibirnya ke bibir wanita yang ia cintai itu.


Kecupan lembutnya di bibir Melin, ternyata di balas gadis itu dengan kecupan panas yang sangat intens. Jendral berusaha mengimbangi ritme ciuman Melin, namun lelaki yang masih kikuk itu. Bisa mengimbangi ciuman Melin, meski nafasnya jadi tersengal.


Karena ritme ciuman yang mengebu itu, kedua hasrt muda keduanya tergugah dengan cepat.


Tak butuh waktu lama, Jendral dan Melin membenamkan tubuh mereka berdua ke dalam pondok sederhana milik Pak Harsono yang berada di dekat mereka.


___________BERSAMBUNG_____________

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2