
Buakkkkkk
Buakkkkkk
Duarrrrrr
Buakkkkkk
Buakkkkkk
Duarrrrrrr
Siattttttttttt
Sarul masih mencoba memghindari setiap serangan Horange, yang dilayangkan kepadanya. Manusia setengah siluman melawan manusia biasa, itu tentu saja tak seimbang.
Namun tampaknya Sarul bukan manusia yang lemah, ternyata pemuda Desa Air Keruh itu menguasai beberapa jurus kanuragan yang cukup mumpuni.
Dia menghindari tendangan Horange dengan memundurkan dadanya. Lalu ia menundukkan tubuhnya, karena tendangan kedua sudah hampir datang ke arahnnya.
Di titik itu, Sarul mengunakan sebuah kesempatan untuk menyerang Horange. Dengan tendangan keras menyentuh tanah. Bertujuan untuk mengoyangkan kuda-kuda manusia setengah simuman ular putih tersebut.
Namun Horange menyadari hal yang di rencanakan oleh Sarul. Hingga manusia setengah siluman ular putih itu terbang ke udara, dengan posisi yang rendah.
Sarul tak kehabisan akal, ia segera berdiri tegak. Karena ia tau Horange akan mengadakan perlawanan lagi-dan lagi tanpa henti. Manusia ular putih itu pasti tak ingin dikalahkan oleh manusia biasa sepertinya.
Sebuah bogem mengandung mantra ajian sudah siap Horange layangkan ke arah Sarul. Pukulan dari atas itu menukik ke arah wajah Sarul akhirnya.
"Matilah kau manusia keparat!" teriak Horange.
Pukulan penuh tenaga Horange secepat kilat telah di tangkis oleh Sarul. Namun tangan kiri Horange tak mau diam, dan memberi kesempatan pada pria tahanan Insagi tersebut.
Buakkkkkkk
Buakkkkkkk
Buakkkkkkk
Buakkkkkkk
Buakkkkkkk
Bogeman Horange maju bergantian ke arah Sarul. Manusia biasa yang masih menapakkan kakinya ketanah itu. Harus menangkis dan menahan serangan manusia setengah siluman yang tengah melayang di udara.
Kaki Sarul yang hanya beralaskan sepatu kanfas murah. Sampai terperosot karena ia tak memperhatikan langkah mundurnya.
Namun Sarul masih tetap siaga, dia kembali menyeimbangkan dirinya dan menahan serangan Hornage.
"Kalian para manusia, benar-benar!" ujar Horange kesal.
Urat-urat di sekujur tubuhnya sampai pada keluar, karena dia begitu amat kesal dengan keadaan yang harus ia hadapi.
__ADS_1
"Kenapa menolak permintaan sederhana yang kubuat?" tanya Horange. "Aku hanya ingin bertemu sahabat lamaku sejenak, dan bertegur sapa!".
Kata-kata Horange terdengar sangat tulus. Manusia setengah siluman itu adalah mahluk rendah. Namun mereka punya sebuah keistimewaan.
Mereka tak bisa berbohong dengan perasaan yang mereka rasakan. Jika mereka tak suka atau suka terhadap sesuatu. Kenyataanya akan seperti apa yang terucap di mulutnya.
Darah mereka unik, darah siluman yang bercampur darah manusia dalam satu tubuh. Darah yang di anggap kotor oleh semua mahluk itu punya keistimewaan.
Jika manusia meminum darah manusia setengah siluman, maka mereka akan mempunyai ilmu kanuragan yang ampuh. Dan Sarul telah membuktikannya, lelaki itu memang pernah mengigit bahu Insagi. Saat dia di paksa, dikirung di alam buana.
Sarul yang sudah terdesak, akhirnya menunjukkan kekuatannya yang sebenarnya. Lelaki itu mengumpulkan seluruh tenaga dalamnya, lalu memusatkan tenaga itu di kedua telapak tangannya.
Dengan sekalian hentakkan, Sarul dapat membuat tubuh manusia setengah siluman seperti Horange. Melayang, melesat cepat ke arah belakang.
Namun manusia setengah ular putih itu, tampaknya masih cukup gesit. Horange mendarat dengan mulus, berjongkok dengan satu kaki sebagai tumpuannya.
"Ternyata kau sudah meminum darah kami!" ujar Horange.
Awalnya Sarul tidak ingin mengeluarkan ajian-ajian yang bisa membuat Horange curiga padanya. Tapi apa boleh buat, Horange terus menyerangnya dan tidak memberikannya kesempatan untuk berbicara sedikit pun.
"Manusia benar-benar sangat biadab! Mereka selalu saja memanfaatkan kami, untuk tujuan mereka sendiri.
"Aku tidak tahu kenapa, Insagi. Ingin sekali menjadi manusia seperti kalian?" kata Horange.
Pria setengah siluman itu segera bangkit, tampaknya ia merasakan rasa sakit di dadanya. Karena salah satu tangannya, menekan bagian itu.
"Kami hanya ingin lewat paduka Horange,
"Mungkin jika kami tiba di dunia manusia secepatnya, kami bisa mencegah Paduka Insagi merubah dirinya menjadi manusia!" ujar Sarul.
"Kau berharap lepas dariku? Setelah bertemu denganku.
"Manusia yang meminum darah makhluk seperti kami, tidak akan pernah kuampuni!
"Aku akan memusnahkan kau dengan tanganku sendiri!" ujar Horange.
Api di jiwanya benar-benar sedang berkobar saat ini, Horange benar-benar tidak bisa mengampuni Sarul, yang sudah meminum darah makhluk setengah siluman sepertinya.
"Rasakan jurus-jurus saktiku! Manusia biadab!!!" teriak Horange.
Sarul juga tak ingin mati di tempat ini. Ia harus segera menyusul Ellen, kembali ke alam manusia dan menyelamatkan putri semata wayangnya.
Dengan segala upayanya dan pengetahuan kanuragan yang Sarul punya. Lelaki itu berdiri dengan kuda-kuda yang kokoh. Sepertinya Pemuda Desa air keruh itu itu telah siap menghadapi serangan apa pun dari Horange.
.
.
.
.
__ADS_1
Melin dan Jendral. Kedua remaja belia itu, sedang berusaha untuk membobol salah satu mobil polisi yang terparkir di pinggir hutan.
Keputusan untuk kabur dari tempat ini, sudah menjadi pilihan mereka berdua. Karena tidak ada cara lain lagi, Melin harus melepas dendamnya kepada Adrian.
"Kalau di film-film, tempaknya sangat mudah! Tapi kenyataannya ini sama sekali tidak ada gunanya!" ujar Melin kesal.
Kedua tangan Melin sudah memegang sepucuk kawat dan satu buah besi pipih yang kecil memanjang. Gadis belia itu berusaha menirukan sebuah adegan, di film laga. Membuka pintu menggunakan dua benda itu.
"Sepertinya, aku harus lebih banyak belajar! Dan tidak menonton film-film action lagi!" kata Melin.
Jenderal tidak berkomentar, dengan apa yang dikatakan oleh Melin. Cowok smu itu tahu, bahwa wanita di sebelahnya itu. Sedang mengalami emosi yang naik turun.
Dia tidak mau terkena masalah besar, jika berani menimpali perkataan Melin dan dia salah berkata. Diam benar-benar adalah emas, jika kamu berhadapan dengan wanita yang sedang di mode singa.
"Apa kau tak punya cara lain?" tanya Melin pada Jendral.
Jendral sudah berusaha diam, tapi akhirnya dia pasti kena.
"Aku tidak bisa menyetir mobil.
"Dan aku tidak pernah mencuri mobil.
"Aku tidak tahu harus bagaimana," kata Jendral jujur.
Kedua tinju Melin segera menghantam, pintu kaca jendela mobil polisi di depannya. Secara bergantian.
Gadis belia itu sudah amat sangat emosi, apalagi mendengar jawaban Jendral barusan. Membuatnya benar-benar makin frustasi.
"Pikirkan cara apa pun, supaya kita bisa keluar dari desa terkutuk ini!" kata Melin sambil menahan rasa kesal di dalam dadanya.
"Bagaimana, kalau kita meminjam motor dari salah satu warga?" tanya Jendral.
Melin terdiam sejenak dan mulai berpikir.
"Oke! Kau pinjam motor dan aku akan menunggu di sini!" kata Melin.
"Bagaimana jika ada seseorang yang menyerangmu lagi?" tanya Jendral.
Melin menunjuk senjata api laras panjang, yang ia gendong di punggungnya.
"Kau tidak perlu khawatir, aku sudah dilatih menembak sejak satu tahun yang lalu!" ujar Melin bohong.
Gadis belia itu baru belajar tentang pertahanan militer salama satu bulan. Keluarga angkatnya memasukkannya ke dalam academy militer, karena Melin sangat bandel.
Dan Melin bersedia mengikuti Ellen datang ke sini, karena ia tidak tahan dengan pelatihan ketat dan juga berat di akademi militer itu.
Dia berfikir jika dia mengikuti Ellen ke sini. Dia akan terbebas dari pelatihan barat tersebut. Namun kenyataan memang tak selalu sesuai ekspektasi.
Melin malah harus berjuang, untuk melawan siluman-siluman aneh.
Melin merasa telah menyesal, karena durhaka terhadap kedua orang tua angkatnya. Yang telah membesarkan dan juga mendidiknya saja kecil.
__ADS_1
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤