Hujan Teluh

Hujan Teluh
Ketakutan Ellen


__ADS_3

"Aku akan mengalihkan perhatiannya, kau harus jalan terus dan jangan pedulikan apa pun yang menghalangimu!" ujar Sarul.


"Kau gila, kita bawa saja dia ke alam manusia!" ujar Ellen.


"Kau mau membunuh semua manusia? Mahluk seperti dia tidak bisa hidup di tengah-tengah manusia ataupun siluman.


"Karena itu ada alam buana ini!" jelas Sarul.


Ellen tau apa yang dimaksud oleh Sarul, karena dia pernah menyaksikan bagaimana Adrian mengamuk di pesantren. Ellen menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana Adrian dengan mudahnya membunuh dua orang santri di pesantren dulu.


Ellen benar-benar merasa bodoh saat ini. Sebagai seorang petugas keamanan negara, dia yang harusnya lindungi manusia. Bukannya malah membawa makhluk aneh ke dunia manusia dan membahayakan para warga.


"Ingat apa pun yang menghalangimu, kau harus tetap berjalan maju!


"Karena Lembah ini adalah Lembah ilusi, semua yang kau lihat hanyalah ilusimu saja!" jelas Sarul sekali lagi.


Ellen mengangguk pelan, karena dia tahu waktu tidak banyak.


Sarul dan Ellen segera berbalik ke arah Horange lagi. Manusia setengah siluman ular putih itu, ternyata masih setia menunggu dua manusia di depannya. Untuk berunding.


"Maafkan kami Paduka Horange, kami tidak bisa membawa anda bersama kami!" ujar Sarul.


"Kenapa, apa kalian takut aku akan membuat kekacauan di sana.


"Di alam manusia ada penjaga yang akan membunuhku jika aku berulah!" ujar Horange.


"Namun tetap saja, kami tidak bisa!" tampaknya Sarul adalah lelaki dengan pendirian yang sangat kuat.


"Kalau begitu, kalian tidak boleh melewati tempat ini sebelum membunuhku!" pria siluman, yang awalnya tampak ramah itu sekarang terlihat penuh emosi.


Horange pasti sangat marah sekali, karena Sarul dan Ellen tidak mau menuruti apa yang dia inginkan.


Jeduuarrrrrrrr


Secepat kilat Sarul mendorong tubuh Ellen yang telah ia dekap. Mereka berdua berguling di tanah, untuk menghindari serangan dari Horange.


"Aku akan menahan serangannya selama mungkin! Jadi berlarilah secepat yang kau bisa!" kata Sarul.


Lelaki gagah itu segera bangkit dari jatuhnya.


"Lawanmu adalah saya, Paduka Horange!" ujar Sarul


"Sombong sekali kau! Manusia!" kata Horange.


Apa yang dikatakan oleh Sarul barusan, terdengar seperti sebuah genderang perang bagi Horange.

__ADS_1


Horange segera memasang kuda-kudanya dan mulai menyerang Sarul. Kedua lelaki berbeda spesies itu, sudah mulai beradu pukulan dan tendangan.


Ellen yang merasa tak diperhatikan, segera melakukan apa yang dikatakan oleh Sarul kepadanya. Berlari secepat yang ia bisa, menuju arah depan tanpa menghiraukan apa pun.


Ellen benar-benar hanya berlari ke depan, ia tidak menghiraukan apa yang ia lihat selama berlari. Namun dirinya yang hanyalah seorang manusia biasa, tidak mungkin berlari lama.


15 menit adalah waktu yang cukup lama untuknya berlari. Ellen menurunkan kecepatan berlarinya, tenggorokannya terasa kering karena dia kehausan.


Ellen melanjutkan perjalannannya dengan berjalan. Ia tak sanggup berlari lagi, karena ulu hatinya sudah sakit.


"Siluman keparat, bisa-bisanya aku terdampar di tempat seperti ini," gumam Ellen di sela nafasnya yang tersengal-sengal.


Ellen tidak pernah membayangkan akan terjebak di dunia yang aneh seperti alam buana. Dia hidup dilingkup kenyataan yang kental. Dia bahkan tak pernah melihat penampakan hantu, meski sering berurusan dengan mayat.


Namun kini Ellen melihat mahluk-mahluk yang lebih menyeramkan, dari penampakan hantu sekali pun.


Manik matanya mulai melihat ke sekitarnya lagi, bola matanya berputar-putar karena dia sudah berada di tempat yang sangat ia benci.


Gunung yang tertimbun oleh salju yang sangat tebal. Dengan warna merah di berbagai tempat, warna merah itu adalah warna darah. Darah yang tertumpah karena, perkelahiannya melawan salah satu penjahat negara.


Karena pengajaran yang tim Ellen lakukan, sampai ke Kanada. Mengakibatkan baku hantam, yang membuat banyak orang terluka bahkan meninggal.


"Ini tidak nyata. Ini hanya ilusi!" gumam Ellen Dia meyakinkan dirinya dan kembali mengingat perkataan Sarul sebelumnya.


Ellen tidak menahan napasnya, namun dia merasakan rasa sesak di dadanya. Seolah paru-parunya berhenti memompa oksigen, yang sangat dibutuhkan oleh tubuhnya.


Kedua tangan wanita tangguh itu mengencangkan ujung jaket kulitnya. Memasang resleting dan menariknya ke atas, Ellen tak mau mati kedinginan di alam aneh ini.


Kepalanya berputar, mencari arah. Namun ia hanya melihat warna putih di segala penjuru. Dia sadar, ia telah terperangkap di dalam ilusi ketakutan yang ia buat sendiri.


Hal yang paling ditakuti oleh Ellen. Hal yang ingin dia lupakan dalam hidupnya. Tugas yang ia emban ketika menjadi pasukan elite pemerintah. Tugas negara yang merengut seluruh anggota timya kecuali dia. Termasuk ayahnya yang saat itu menjadi pemimpin paaukan tersebut.


Ellen memejamkan matanya, ia menunduk dalam-dalam. Ia mengingatkan dirinya sendiri.


Ini ilusi, ini hanya ilusi. Ini hanya khayalan. Ini hanya khayalan. Hati kecilnya berteriak sekuat tenaganya.


"Kau tak papa, Ellen!" sebuah suara menyapanya.


Gadis itu segera membuka matanya, menegakkan kepalanya dan menoleh ke asal suara.


"Ayah!" kata Ellen.


Terkejut, bingung dan bahagia. Setelah sekian lama, akhirnya ia bisa bertemu lagi dengan orang yang paling berarti baginya.


Ayahnya, panutannya, jiwanya dan orang yang paling ia hormati di alam semesta ini.

__ADS_1


"Dia baru saja naik, tiga jam yang lalu! Pasti tak jauh dari sini!" kata Ayah Ellen lagi.


Kata-kata yang sama, kata-kata yang pernah Ellen dengar 12 tahun silam. Kata-kata ayahnya yang menjadi salah satu kata, yang paling ia ingat sepanjang hidupnya.


"Kita harus segera menangkapnya! Dan pulang ke tanah air.


"Kupikir salju itu mengasyikkan, ternyata mengerikan! Aku rindu cuaca panas di Indonesia!" desah seseorang lelaki, yang tiba-tiba muncul di samping Ellen.


Suasana, kondisi dan letak berdiri mereka, sama persis seperti 12 tahun yang lalu. Saat beberapa jam sebelum kematian mereka semua.


"Kenapa interpol, tidak mau membantu kita untuk menangkap orang itu?!" tanya angota keempat tim Ellen.


Ellen benar-benar masih ingat dia menjawab pertanyaan anggota ke-4 itu dengan kata-kata 'Orang itu bukanlah buronan internasional, Kenapa kau bawa-bawa nama interpol!'.


Ellen mengatakannya dengan nada kesal 12 tahun yang lalu. Namun saat ini, Ellen tidak menjawab pertanyaan anggota ke-4 yang pernah dia jawab itu.


Polisi wanita itu malah memandang nanar ke arah wajah pria, yang usianya tidak terlalu jauh darinya itu.


Morgan, pacarnya, orang ketiga di alam semesta ini yang paling ia cintai, setelah Ayah dan Ibunya.


"Kenapa kau memandangku seperti itu? Apa kau sedang sakit?!" tanya Morgan


Laki-laki gagah, yang tubuhnya terbalut oleh mantel tebal berwarna hitam itu. Melangkah selangkah mendekati Ellen. Morgan langsung membuka sarung tangan yang menghalangi udara membekukan kulitnya.


Pria itu menempelkan telapak tangannya yang hangat, ke arah kening Ellen.


Ellen bisa merasakan kehangatan yang nyata, dari telapak tangan besar itu. Kehangatan yang telah dia rindukan selama 12 tahun, akhirnya bisa dia rasakan kembali.


Orang-orang terdekatnya yang sudah lama meninggal, hidup kembali. Berada di sekitarnya, dan mengulang masa lalu mereka.


~¤~¤~¤~¤~¤~¤~¤~¤~¤~¤~¤~~¤~


Apakah benar ini ilusi?


Kenapa aku merasa ini sangat nyata???


Kenapa aku ingin merubah sesuatu di hari ini?


Lalu apakah aku bisa merubah sesuatu disini, dan merubah seluruh jalan hidupku kedepannya???


Ellen


~¤~¤~¤~¤~¤~¤~¤~¤~¤~¤~¤~¤~¤~


___________BERSAMBUNG_____________

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2