Hujan Teluh

Hujan Teluh
Fakta Hujan Teluh


__ADS_3

"Bukankah perjanjian Hujan Teluh, terjadi karena perselisian antar Desa Air Keruh dan Desa Pilip?" tanya Ellen.


"Itu hanyalah sebuah bingkai, agar manusia tidak memburu keturunan Siluman Harimau yang tunduk pada Nyai Blorong!" ujar Jacson.


"Lalu kenapa, Arinda dan Melin ikut menanggung kesalahan yang tidak pernah ia lakukan!" tanya Ellen.


Jikalau memang Kinan ibunda Yosi, adalah wanita yang dicintai oleh Siluman Harimau yang berselingkuh itu. Bukankah harusnya perjanjian Hujan Teluh itu berakhir saat itu kenapa sampai sekarang Kutukan Hujan Teluh masih terjadi.


"Pertanyaanmu sangat jenius!


"Arinda ditumbalkan bukan karena Hujan TeluH. Gadis itu dikorbankan untuk mendapatkan sebuah keabadian," ujar Jacson.


Wajahnya yang beringas kini nampak sedih. Senyumnya yang menyaringai kejam, juga berubah menjadi senyum yang menertawakan sesuatu hal yang tak lucu. Sepertinya kejadian tentang pemerkosaan Arinda 20 tahun yang lalu, benar-benar memukul mental Kades Air Keruh itu.


"Keabadian siapa? Lalu bagaimana dengan Melin. Apa tujuan kalian menumbalkan keponakan saya?" tanya Ellen.


Ellen masih berharap dia bisa menyelamatkan Melinda saat ini. Dia akan mencoba membujuk Jacson, dengan semua kemampuan yang ia punya.


"Karena menumbalkan Melin adalah satu-satunya cara, agar semua kembali normal!" kata Jacson.


"Apa yang kau ingin normalkan Pak Kades? Bukankah semua sudah normal?!" Ellen mencoba mendesak Jacson. Polisi wanita itu harus mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya.


Selain untuk menjadi bukti di persidangan nanti, informasi yang Jacson ungkapkan padanya juga bisa menjadi tolak ukur Ellen untuk membuat rencana penyelamatan Melin.


"Bukankah anda mendengar, ada begitu banyak warga Desa Air Keruh yang dibunuh secara brutal.


"Untuk menghentikan hal itu kami perlu menumbalkan Melin!" ujar Jacson.


"Bukankah ada cara lain, untuk menghentikan pembunuh itu?" tanya Ellen.


"Makhluk yang membunuh para warga Desa Air Keruh bukanlah manusia!


"Dan Melin juga tidak akan bisa menghindari hal ini, selama dia masih hidup di dunia ini!


"Dia adalah putri yang lahir dari ritual terlarang 18 tahun yang lalu!


"Melin pasti akan dibunuh oleh Manusia Harimau, meski pun dia tidak ditumbalkan saat ini!" kata Jacson.


Penjelasan yang dikatakan oleh Jacson kepada Ellen, mungkin terdengar tak masuk akal. Namun itu adalah kenyataan yang sebenarnya, tubuh Arinda yang saat itu sudah ditinggalkan oleh nyawanya. Telah dirasuki oleh sosok Kinan yang sangat dendam pada seluruh warga Desa Air Keruh dan Pilip.

__ADS_1


Bukan hanya tentang penumbalan putrinya dan dirinya, namun kejadian sebelum hari penumbalan itu. Bahkan perlakuan warga Desa terhadapnya, lebih mengerikan dari pada kematian.


Dan hal itulah yang menjadi ide tentang ritual Terlarang, yang menghasilkan bayi Pendosa untuk ditumbalkan kepada Nyai Blorong.


"Apapun yang terjadi aku harus menyelamatkan keponakanku!


"Jadi katakan di mana dia sekarang?" tanya Ellen.


Meski rasa putus asa sudah menguasai diri polisi wanita itu, namun Ellen tidak mungkin bisa mengabaikan keadaan keponakannya yang mungkin sedang dalam bahaya.


"Mana kutahu! Adrian sudah membawanya!


"Pulanglah dan pura-pura tidak tahu, anggap saja hal ini sebagai mimpi.


"Karena hanya itu cara satu-satunya, untuk kau bisa melarikan diri dari lingkaran iblis di desa ini!" nasehat Jacson.


"Katakan di mana keponakanku?!" Ellen malah berteriak kencang ke arah Jacson.


"Aku tidak tahu, tidak ada yang tahu! Hanya Adrian yang tahu!" kata Jacson.


"Bagaimana aku bisa bertemu dengan Adrian?!" tanya Ellen.


Sifat keras kepala Ellen yang yang ia dapatkan dari ayahnya, ternyata membuat polisi wanita itu tidak pantang menyerah. Ellen sudah memutuskan, dia tidak akan pergi dari tempat ini sebelum membawa Melin kembali ke Jakarta dalam keadaan hidup.


"Adrian akan menghubungiku setelah dia selesai,


"Karena aku adalah pria ketiga, yang ditunjuk untuk menjalankan ritual terlarang itu!" jelas Jacson.


"Mari kita obati dulu lukamu!" kata Ellen.


Polisi wanita itu segera mendekati Jacson, dengan tanpa curiga Jacson sudah menyenandungkan dendangan kemenangan di dalam hatinya.


Pria itu merasa, sangat mudah untuk menipu Ellen. Tentu saja udara di sekitarnya seakan menjadi miliknya.


Namun apa yang Kades Desa Air Keruh itu anggap sebagai hasil yang indah. Ternyata tak seindah itu, karena dengan segenap tenaga yang Ellen punya. Polisi wanita itu meninju leher Jacson hingga pria paruh baya itu pingsan.


Pukulan di leher, hampir semua manusia akan pingsan saat dipukul di bagian itu. Apa lagi jika pukulan yang dilayangkan ke area itu sangat kuat, kau bisa membunuh manusia dengan cara itu.


.

__ADS_1


.


.


.


Jendral sedang berada di kediaman Sandi. Lelaki muda itu sejak tadi hanya melakukan panggilan ke nomor ponsel Melin, Ellen yang masih dia anggap sebagai ibu kandung Melin, serta Jacson.


Wajahnya sudah dihiasi kecamasan yang amat sangat. Pelataran teras yang di ramaikan oleh beberapa kursi dari bambu yang dibentuk indah, dengan lapisan Beeswax atau lilin lebah yang membuat satu set meja dan kursi itu mengkilap seperti kaca.


Tanaman, antorium, janda bolong, dan berbagai jenis talas-talasan menghijaukan halaman rumah Sandi. Lampu dengan keterangan yang cukup membuat malam di teras rumah Sandi cukup meriah.


Apa lagi dua gelas kopi hitam menemani mojok santai kedua remaja SMU itu. Ngopi adalah hal yang penting bagi semua kalangan masyarakat di Sumatera. Tak hanya orang dilanjut usia saja, para pemuda bahkan anak kecil suka ngopi di sini.


Sruputttttt "Akhhhhhh. Mantab bener!" seru Sandi.


Kopi panas masuk ketongorokannya menghangatkan dadanya.


"Dral, minum!" perintah Sandi.


Sebagai Tuan rumah yang baik, tentu saja harus menawari tamunya untuk minum tak hanya membuatkannya saja. Namun sahabatnya itu tampak seperti agen badan intelijen nasional, sibuk bener dengan dua ponsel di tangan kanan dan kirinya.


"Kenapa ponsel mereka berempat, nggak ada yang aktif?" gerutu Jendral.


Hormon kortisolnya meningkat sejak sepulang sekolah, cowok SMU itu tak bisa memikirkan satu hal positif pun. Di otaknya hanya membayangkan, banyak hal buruk saja. Hal-hal buruk yang mungkin saja dialami oleh Melin di luar sana.


"Mungkin mereka ke hutan, dan nggak ada sinyal!" ujar Sandi.


Perkataan kakek Sandi kembali melintasi pikiran Jendral. Gubuk Reot di tengah perkebunan kelapa sawit. Di sana kakek Sandi menemukan tante Kinan Ibunda Yosi yang sudah hangus terbakar.


Bisa jadi Adrian membawa Melin kesana juga, meski Jendral ragu. Namun tak ada yang bisa ia lakukan saat ini, sementara hati dan pikirannya sama sekali tak bisa tenang.


Jendral bahkan masih mengenakan seragam SMU yang ia lapisi dengan hoodie hitam. Karena jika ia pulang kerumah, maka ibunya akan melarangnya untuk keluar rumah lagi. Sementara Jendral masih ingin mencari keberadaan Melin.


Jendral hanya ingin tau keadaan gadis yang ia cintai itu. Jika Melin baik-baik saja, tak ada yang ia inginkan lagi. Bagi Jendral kebahagiaan Melin adalah harga mati, karena bagi Jendral Melin adalah segalanya baginya saat ini.


Renung jiwa dan hatinya telah diisi penuh oleh indahnya senyum Melinda. Bujangan Desa Air Keruh itu seolah bisa menyebrangi api neraka malam ini untuk menjemput Melinda.


Karena lelaki muda itu berdiri dari kursi bambu di teras Sandi. Jendral tau kemana dia harus pergi, dia akan mencari letak Gubuk Reot itu.

__ADS_1


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2