Hujan Teluh

Hujan Teluh
Dua Lawan Satu


__ADS_3

Dua Lawan Satu


Manusia cenderung mengingat masa lalunya yang paling menyenangkan. Begitu juga dengan Manusia Setengah Siluman, yang masih memiliki perasaan dan juga hati seorang manusia.


Mereka juga suka mengenang masa-masa kejayaan mereka, bangga dengan hal itu. Mereka juga menjadi sombong karena hal-hal yang pernah mereka lewati.


Tetapi mereka sadar bahwa kejayaan yang mereka lewati itu, hanya sebuah kenangan yang tidak mungkin akan mereka dapatkan kembali.


Karena hal itulah Insagi bertekad untuk menjadi manusia biasa, meskipun dia telah berhasil menguasai Alam Buana dengan kekuatan istimewa yang dia miliki.


Karena dia merasa masa-masa paling indah di dalam hidupnya adalah ketika dia masih berusia dibawah 18 tahun. Ketika dia lahir dari rahim seorang Permaisuri kerajaan dan dielu-elukan sebagai seorang Putra Mahkota yang berbakat dan juga tampan.


Tetapi dia dan ibunya langsung didepak begitu saja dari istana, setelah tahu bahwa Ndoro Ageng Rakyan Maharaja atau Insagi bukanlah manusia biasa.


Hal itulah yang mendorong Insagi melakukan semua ini. Manusia Setengah Siluman yang tidak pernah menghargai nyawa manusia biasa, karena dia pernah mengalami siksaan berat karena manusia.


Dendamnya tidak pernah luntur sampai sekarang, bahkan semakin menjadi-jadi tak terkendali. Dia masih saja hobi mengumpulkan jiwa-jiwa manusia untuk ia perbudak menjadi penduduk Desa Kabut Merah. Agar para manusia mengelu-elukannya sebagai seorang pangeran Majapahit yang hebat. Seperti ratusan tahun yang lalu.


~>◇<~


Orang yang kuat bukan karena dia mempunyai kekuatan yang tak terbatas. Tetapi orang yang kuat adalah orang yang sanggup merelakan apa yang pernah dia miliki.


~>◇<~


Adrian dan Melin yang berwujud Jacson masih berada di Padang Tugu Mulia. Mereka berdua tampak begitu menikmati suasana Padang Rumput yang amat indah itu.


Tetapi kebersamaan kedua insan Yang sama-sama tengah jatuh cinta satu sama lain tersebut, diganggu oleh beberapa Siluman yang sudah menunggu mereka.


Meski keduanya telah mempersiapkan taktik agar bisa menghadapi Siluman tanpa membuat mereka merasa curiga, bahwa Melin yang dibawa ke markas Insagi bukankah pemilik Jiwa Suci yang asli.


Tetapi keduanya masih sangat khawatir, jika Melin ketahuan sebelum Jendral dan Jacson berhasil memasuki markas Insagi. Maka rencana yang mereka susun secara rinci, akan hancur berantakan begitu saja.


Ada dua Siluman yang menghadang Adrian dan Melin,


'Untung saja hanya dua!' batin Adrian.

__ADS_1


Karena jika lebih dari itu mungkin Adrian akan kewalahan. Sementara Melin yang menyamar menjadi Jacson pasti tidak bisa membantunya menghadapi para Siluman jika banyak jumlahnya.


Para bawahan Insagi itu pasti sadar jika Jacson yang berada di sini tidak bisa bertarung dan mereka akan curiga tentang keaslian identitas Kades Desa Air Keruh itu.


"Biar aku yang menghadapi mereka!" ujar Adrian yang langsung maju ke depan tanpa rasa takut seperti biasanya.


Melin juga seperti biasanya, memandang kepergian Adrian dengan penuh kebanggaan.


'Nohhh cowok gue, gagah bener anjimmm'


Siluman yang menghadang mereka bukanlah Siluman yang mempunyai kekuatan rendah, Insagi pasti sudah menyiapkan hal ini secara rinci juga.


Entah Siluman Burung Garuda itu berniat untuk membunuh Adrian dan Jacson, atau hanya memperlambat pergerakan mereka. Tetapi Insagi pasti tahu kekuatan Adrian dan Jacson dari Sarewa yang berhasil dikalahkan oleh Adrian.


Tetapi Siluman yang dikirim Insagi ke Padang Rumput Tugu Mulia untuk melawan Jacson dan juga Adrian, bukankah Siluman terkuat yang berada di bawah naungannya.


Pasti Siluman Burung Garuda itu menyimpan Siluman terkuatnya untuk menjaga markas rahasianya.


Siluman Ular Putih dan Macan Loreng itu belum merubah bentuk mereka. Kedua Siluman yang masih berwujud manusia itu tampak sangat siap untuk menghadapi Adrian yang maju seorang diri.


Kedua Siluman berbeda sepesies itu maju bersamaan, dengan senyum menyeringai yang begitu sombong. Seolah-olah mereka dapat mengalahkan Adrian.


Dua lawan satu, pertandingan ini sangat tak seimbang. Tetapi Adrian yang berada di pihak yang dirugikan, tampak tak merasa kualahan atau kesal. Lelaki gagah itu dengan gampang dan cekatan menghalau setiap pukulan, tendangan dan serangan-serangan secara fisik kedua Siluman tersebut.


Adrian bahkan sempat memukul mundur Siluman Macan Loreng dengan Ajian Tapak Langit andalannya. Sehingga Siluman berbadan cukup kekar itu terpental ke belakang beberapa langkah hingga tersungkur, sambil memeganggi perutnya yang pasti terasa sesak dan penuh.


Siluman Ular Putib yang masih bertahan mengeluarkan sisik-sisik ular di tangannya. Begitu pula dengan Adrian yang sudah tidak sabar untuk menghabisi dua Siluman yang ternyata mempunyai kekuatan tak terlalu tinggi.


Adrian tak mau membuang-buang tenaga hanya untuk menghadapi dua pengganggu ini. Tetapi dia harus mengulur waktu, sampai Jacson dan Jendral bisa memasuki area markas rahasia Insagi.


Jadi Adrian kembali menarik chakra yang sudah menyelimuti kedua tangannya yang bercakar. Dia harus bisa pura-pura bertarung sengit, tanpa membunuh kedua Siluman yang menghadangnya.


"Mereka bilang, kau sangat hebat. Setelah menjadi Siluman Murni!


"Tapi kenyataannya kekuatanmu masih sama saja!" ejek Siluman Ular Putih.

__ADS_1


Wito, dengan pakaian kerajaan serba putih dan ikat kepala kulit ular putih melingkar di kepalanya yang berambut gondrong agak keriting. Lelaki bermata agak sipit itu, memandang ke arah Adrian dengan tatapan meremehkan.


Siluman Ular Putih itu bahkan berdiri santai, karena Siluman Harimau Putih yang dia hadapi sekarang. Tak sesuai dengan apa yang telah diceritakan Sarewa padanya.


Siluman Macan Loreng yang bernama Aji juga sudah kembali ke arena pertempuran. Meski dia masih merasakan rasa sakit di dadanya, akibat pukulan Ajian Tapak Langit milik Adrian yang mengenainya tadi.


"Kau benar, Kakang! Ternyata kekuatannya tidak sehebat itu!" sahut Aji yang masih memegangi perutnya.


Penampilan Aji tak jauh beda dengan Wito, lelaki yang masih cukup muda ini juga memakai pakaian kerajaan dengan motif bulu macan loreng. Entah asli atau tiruan tidak ada yang tahu kecuali Aji sendiri.


Meski ingin bertanya tentang keaslian aksesoris, yang dua Siluman itu kenakan. Melin yang saat ini berada di wujud Jacson tidak berani membuka mulutnya. Dia benar-benar takut ketahuan dan merusak rencana yang telah disusun matang-matang oleh dirinya sendiri.


"Memang apa yang dikatakan Sarewa kepada kalian?" tanya Adrian.


laki-laki yang tidak suka banyak bicara ini malah mengajak dua Siluman itu ngobrol.


"Dia bilang kau mempunyai kekuatan yang sangat luar biasa.


"Kau bahkan bisa menggunakan Ajian Tameng Sadewo yang yang tidak bisa digunakan oleh Siluman. Apakah itu benar?" tanya Aji.


"Itu gosip!" ujar Adrian.


"Gosip doank?! Sudah kuduga!" ujar Wito.


"Sudah kubilang--kan, Kang! Sarewa itu suka membesar-besarkan masalah, semua cewek kan begitu!" sahut Aji.


"Kau!" Wito malah menunjuk Melin yang masih berwujud Jacson. "Majulah! Aku ingin melihat seberapa hebat dirimu!".


'Kok jadi aku yang jadi sasaran?!' Melin hanya bisa ketakutan saat diancam oleh Wito.


"Langkahi dulu mayatku, dan jangan sentuh dia!" Adrian sudah terpancing emosi lagi, padahal baru saja reda.


Entah kenapa Adrian selalu naik darah ketika ada seseorang yang menyinggung Melin. Padahal kedua Siluman yang dia hadapi itu masih mengira bahwa yang berdiri di sana adalah Jacson orang yang menghianati Insagi.


"Apa kalian pacaran?! Kenapa kata-katamu terdengar romantis sekali!" Wito mengomentari perkataan Adrian yang ingin melindungi Jacson.

__ADS_1


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2