
Perubahan Jendral
~◇~◇~◇~
Kau tahu kenapa aku masih berada di sisimu meskipun kau sering menyakitiku. Jawabannya hanya satu hal...
Karena aku menaruh harapan yang sangat besar terhadapmu.
Aku berharap Besok pagi kau akan menjadi seseorang yang baik hati, merubah kegelapan ini menjadi terang-benderang. Merubah rasa sedihku menjadi rasa bahagia. Merubah takutku menjadi semangat.
Mungkin aku terlalu berharap banyak terhadapmu, tapi aku benar-benar berharap hal itu terjadi.
Apa ada yang bisa merubahmu?
Aku menunduk kesal lagi ketika memikirkan hal itu. Karena aku merasa kecil di hadapanmu, aku lemah di hadapanmu dan tak berdaya untuk berpikir secara logis.
Melinda
~◇~◇~◇~
Airmatanya terus mengalir tanpa henti, dadanya sampai sesak karena hantaman kenyataan yang menderanya. Ingin dia memejamkan mata saja, tak ingin dia lihat keadaan didepannya.
Tapi Melin juga tak bisa memejamkan matanya, mengabaikan lelaki yang terbaring tengkurap di depan tempatnya bersimpuh.
"Dia bisa mati goblok!" bentak Melin kepada Jendral yang berusaha mencabut pedang yang menancap di punggung Adrian.
"Jika dibiarkan seperti ini, maka tubuhnya tidak akan bisa beregenerasi!" jelas Jendral.
Melin terpaksa setuju dengan cara yang dilakukan oleh Jendral, yaitu mencabut pedang yang menancap di punggung Adrian dengan paksa.
"Pelan-pelan!" ujar Melin.
Tapi tampaknya Jendral tidak sependapat dengan Melin. Jendral mencabut pedang yang menancap di punggung Adrian dengan sangat kasar, sampai Adrian yang sedang pingsan saja kembali tersadar.
"Akhhhhh!" lenguh Adrian menahan sakitnya. Ia baru bisa merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Melin yang tahu Adrian telah sadar segera menggenggam salah satu telapak tangan Adrian yang masih terdapat luka bakar.
"Tidak papa, kau masih hidup kok!" ujar Melin. Niatnya, dia ingin menghibur Adrian yang pasti sedang menahan rasa sakit yang luar biasa.
__ADS_1
Meski kata-kata yang digunakan oleh Melin untuk menghibur Adrian, sama sekali tidak pas. Namun kata-kata itu bisa membuat Adrian tersenyum meski kecil. Wajah pria yang penuh peluh dan derita karena menahan sakit itu, kini terdapat ekspresi lega.
Adrian begitu lega, hingga dia lupa bahwa Kedua telapak tangannya yang hampir terbakar habis oleh petir Sarewa masih ada bekas luka yang masih basah.
Adrian membalas genggaman tangan Melin dengan begitu erat, sampai darah segar mengalir dari luka bakar di telapak tangannya.
"Ya Tuhan, bagaimana ini!!!" Melin makin panik, karena luka di tangan Adrian berdarah.
"Dia akan sembuh dengan cepat!" ujar Jendral ketus. Tampak sekali jika ia tak suka melihat kedekatan Adrian dengan Melin.
Padahal biasanya cowok SMU itu hanya pasrah dan membiarkan Melin melakukan apa yang gadis itu sukai tanpa protes sedikitpun.
"Kita harus membawa Om Adrian kerumah sakit!" ujar Melin.
"Letak Rumah Sakit cukup jauh, dia akan sembuh sebelum kita sampai di sana!
"Lagi pula kita tidak bisa keluar dari Desa ini, karena Insagi sudah memasang mantranya di setiap titik keluar dan masuk ke Desa ini!
"Tidak ada yang bisa masuk ataupun keluar dari Desa ini, sebelum kita bisa membunuh makhluk itu!" jelas Jendral.
Melin tahu Jendral sedang cemburu tentang kedekatannya dengan Adrian. Tetapi kelakuan Jendral amat sangat berbeda dari dirinya yang biasanya.
"Kamu ini kenapa sih?" tanya Melin.
"Kau seperti bukan Jendral yang kukenal. Kau berbeda!" kata Melin
"Emang kenapa jika aku berbeda? Memang kenapa jika aku lebih dewasa? Apa kau akan memandangku?!" tanya Jendral, tiba-tiba ekspresi bocah SMU itu berubah sangat serius.
"Kamu kenapa sih? Apa yang terjadi sama kamu semalam?"
Melin yakin semalam pasti terjadi sesuatu pada Jendral. Lelaki itu tidak mungkin berubah secepat ini jika ia tidak mengalami apa pun semalam. Karena Melin baru merasakan perubahan Jendral pagi tadi.
"Aku sudah tahu semuanya!" kata Jendral.
"Tau apa?" tanya Melin.
Gadis itu berdiri dan berjalan memutari tubuh Adrian, yang masih tergeletak tengkurap diatas rerumputan tanpa alas. Melin mendekati Jendral yang juga tengah memandangnya fokus.
"Tau...," Jendral menghentikan perkataannya.
__ADS_1
Di ingin cerita semua hal yang dia tahu kepada Melin, tetapi ada Jendral sudah berjanji kepada seseorang. Jika dia tidak akan mengatakan apa pun kepada wanita yang ia cintai itu, sampai malam bulan merah berhenti bersinar.
"Tau kalau kau hanya mencintai laki-laki itu!" ujar Jendral, telunjuk tangan kanannya dia acungkan ke arah Adrian yang sedang sekarat.
"Kau cemburu?" tanya Melin.
Melin menyangka alasan Jendral sangat serius, ternyata hanya cemburu.
"Astaga, kenapa kau cemburu padaku?!" Melin mencoba melapangkan dada Jendral.
Alasan Jendral melindungi Melin dan Adrian adalah karena dia tau. Dia tak akan bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Cinta Melin hanyalah sebuah impian yang tidak mungkin bisa dia wujudkan.
Sekarang, ratusan tahun yang lalu, atau 2000 tahun sebelum hari ini, Melin tidak akan pernah bisa Mencintainya.
Jendral hanya diam, sedikit banyak perasaannya pada Melin saat ini memang kecemburuan. Dia merasa tidak adil saja, kenapa dia harus terlahir menjadi Manusia Setengah Siluman setelah semua yang ia lewati.
Jacson kini harus melawan dua Siluman wanita yang cukup merepotkan baginya. Karena sebenarnya Jacson tidak suka melukai wanita manapun, meski wanita itu Siluman sekalipun.
Dia adalah Sang Pujangga sejati, tetapi keadaan membuatnya tak bisa menepati kamus hidupnya. Karena jika dia tak menghabisi dua Siluman didepannya dia akan mati.
Jecson tau hidupnya di dunia ini bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan, tetapi Kades Desa Air Keruh itu bisa merasakan bahwa Melin dan Jendral masih hidup. Karena ketua pelajar SMU itu masih hidup, tentu saja ia masih mempunyai tugas untuk melindungi Melin. Agar warga yang dia pimpin bisa hidup tentram dan damai selamanya.
Siluman Kucing Hitam yang masih mempunyai tenaga yang lebih banyak maju duluan. Siluman kucing itu tidak bisa merubah tubuhnya menjadi Siluman seutuhnya, karena status yang dia miliki adalah Manusia Setengah Siluman.
Cakar-cakar memanjang di tangan wanita Siluman Kucing Hitam berayun bergantian, untuk melukai tubuh Jackson yang kembali berubah ke wujud manusianya.
Dikarenakan Jacson tidak terlalu menyukai wujud Silumannya yang dianggap cukup mengerikan. Dia tidak suka hewan yang berbulu, sedangkan kelelawar mempunyai bulu di hampir seluruh tubuhnya, meskipun pendek.
Jacson hanya menghindari serangan-serangan dari Siluman Kucing Hitam. Kades Desa air keruh itu sedang mencari kelemahan dari Siluman Kucin, yang dari tadi mengeong menggeram tak karuan sambil terus menyerangnya tanpa henti.
Benar-benar mirip seperti kucing kampung yang sedang marah, karena minta kawin. Pergerakannya sangat gesit dan juga sangat akurat. Jacson akhirnya dapat meraih salah satu tangan Siluman Kucing Hitam itu.
Jacson mencoba untuk mengunci pergerakan wanita yang begitu aktif itu. Tetapi dengan lincahnya Aya melepaskan diri dari Jacson. Keduanya saling beradu teknik kuncian dan juga meloloskan diri dari hal tersebut.
Tiba-tiba insting Jacson yang sangat kuat, menangkap pergerakan yang aneh dari Sarewa yang sudah kehabisan chakra. Tampaknya Siluman Kera Putih itu ingin membunuh Jacson dari jarak jauh.
Lagi-lagi Sarewa melempar beberapa bilah pedang kearah Jacson dan juga Aya yang sedang bertarung. Pedang-pedang itu, tak hanya mengincar Jacson tetapi juga akan mengenai Aya.
Tampaknya Sarewa tidak peduli. Apakah teman seperjuangannya mati di medan perang karena dirinya atau tidak. Siluman kera putih itu hanya memikirkan tentang dirinya sendiri.
__ADS_1
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤