Hujan Teluh

Hujan Teluh
Adrian dan Yanuar


__ADS_3

"Kau bukan pengikut Nyai Blorong?" tanya Melin.


"Siluman tak menjadi pengikut siluman lain.


"Meski aku siluman setengah manusia, aku diampuni karena aku mau tunduk di bawah kaki Sang Penjaga!" ujar Adrian.


"Lalu kenapa aku, kenapa harus aku yang kalian buru?" tanya Melin.


Adrian kembali membelai rambut poni Melin, telapak tangannya yang sudah sembuh dari semua lukanya memainkan poni indah Melinda.


"Karena ibumu telah menghianatinya!" kata Adrian.


"Ibuku menghianati siapa?!" tanya Melin tak percaya.


"Sang penjaga. Ibumu menghianatinya di kehidupan lampaunya!


"Dia menghianati cinta dan pengorbanan yang telah Tuanku berikan padanya!" ujar Adrian.


"Lalu apa hubungannya denganku?" tanya Melin.


"Kau adalah hasil penghianatannya. Tapi dirimu malah lahir sebagai jiwa suci.


"Satu-satunya jiwa manusia yang bisa membuat Siluman hidup kekal tanpa harus memakan jiwa manusia lagi!" jelas Adrian.


"Kekuatan siluman, akan meningkat pesat setelah menyerap Jiwa Suci dalam tubuhmu!" tambah Adrian.


"Ritual biadap itu. Apa itu hanya sebagai kedok?" tanya Melin.


"Tentu saja tidak...


"Aku menyetubuhimu dan mengambil karma, untuk menjadi siluman seutuhnya!


"Aku bosan menjadi mahluk yang tak diterima di dua dunia!" kata Adrian.


"Bukankah kau memang siluman?!" umpat Melin.


"Lihat!" Adrian menunjukkan telapak tangannya yang sudah sembuh total dari segala luka.


Melin hanya memandang sekilas ke arah telapak tangan Adrian. Lalu dia menampar pipi pria yang pernah ia cintai itu.


"Ternyata ini tujuanmu yang sebenarnya?!" gumam Melin dengan emosi yang tertahan.


Telapak tangannya panas, menampar pipi Adrian sama halnya dengan menampar beton. Rahang kuat lelaki itu tak akan merasakan apa pun, tapi tangan Melin terasa hampir putus.


"Akkkkkk!" pekik gadis itu.


"Harusnya kau memukulku dengan bantuan senjata! Lihat kau menyakiti dirimu sendiri--kan?" ujar Adrian sambil tersenyum senang.


Melin mengangkat bokongnya dari pangkuan Adrian. Gadis itu segera melarikan diri dari pria siluman yang baginya amat menakutkan itu.


Namun pelarian Melin masih bisa dilihat oleh Adrian dari jendela kamar Melin. Adrian meremas kepalan tangannya sendiri, amarah menghampirinya saat melihat Melin berlari mendekati Jendral yang setia menunggu gadis itu di atas motornya.


"Kau harus sanggup membunuhku, nanti!" ujar Adrian.


Pandangannya berubah sendu dan matanya memerah seketika. Ia memandang ke arah Melin yang pergi bersama Jendral dengan mata berkaca-kaca.


.


.


Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa semua hal tampak membingungkan. Kenapa aku tak bisa menyimpulkan apa pun.


Kenapa Om Adrian tak langsung menumbalkanku pada Tuannya. Kenapa dia malah mengambil keuntungan dariku terlebih dahulu.


Apa mungkin Om Adrian ingin membunuhku nanti, menjadi kekal dan tak terkalahkan.


Dia benar-benar lebih biadap dari apa pun.

__ADS_1


Anehnya, aku masih mencintainya. Aku merasa kehangatan saat didekatnya.


Melinda


.


.


Hidup dan mati, dia pernah menyerah. Dia juga pernah berjuang untuk bertahan. Tapi kini dia bimbang lagi, Melin yang masih berusia 18 tahun. Remaja yang baru saja merasakan apa itu cinta.


Dia dipaksa berpikir secara rasional, tentu saja dia tidak sanggup.


Gadis seusianya, harusnya hanya berpikir tentang apa yang ia sukai. Namun Melin malah memikirkan hal rumit, kutukan Hujan Teluh. Beserta sejarah rumit yang menyertainya.


Siattttttttttt


Jendral menghentikan motornya mendadak, membuat Melin refleks memeluk tubuh cowok SMU itu.


"Ada apa, Ndral?" tanya Melin.


Tak ada jawaban yang dilontarkan dari mulut Jendral. Namun Melin juga tak mempermasalahkan hal itu. Karena didepan mereka, seseorang yang mereka kenal telah menghadang jalan mereka.


Melin segera turun dari jok motor Jendral. Gadis belia itu segera menghampiri orang yang berdiri di tengah jalan menghadang mereka.


"Besok malam, adalah malam purnama bulan merah.


"Kalian harus bisa membunuh siluman-siluman yang menguasai desa ini!" ujar Arinda.


Orang yang menghadang Melin juga Jendral adalah Arinda.


"Hanya itu satu-satunya cara, agar kalian berdua bisa terbebas dari Kutukan Hujan Teluh!" tambah Arinda.


Tak seperti biasanya. Manik mata wanita gila itu, beranjak berubah menjadi merah darah. Arinda memegang dadanya dengan satu tangannya. Wajahnya menegang sampai semua urat di leher menyembul keluar.


Wanita yang kini memakai gaun panjang berwarna merah darah itu. Masih mencoba mengatakan sesuatu. "Balaskan dendam ibumu!"


"Kau sudah punya senjatanya. Yang harus kau bunuh bukan hanya Adrian.


"Tapi kau juga harus membunuh Yanuar, orang yang mengaku sebagai ayah kandungmu!" kata Arinda.


Melin menunduk bingung, dia sama sekali tak bisa mengatakan apa pun. Dia didera 1000 hal yang membingungkan.


Tanpa Melin sadari,  tubuhnya terlempar ke semak-semak pinggir jalanan kerikil itu.


Hantaman dari tangan Arinda di perutnya itu begitu keras, untung saja Melin masih bisa menahan kepalanya agar tak membentur batu di sampingnya.


"Mellll, kamu nggak papa?" tanya Jendral.


Melin bisa melihat, cowok berbaju seragam SMU itu menghampirinya dan menolongnya.


Perlahan-lahan kesadaran gadis itu terkumpul lagi, dia membuka matanya dan melihat ke arah dimana Arinda berdiri tadi.


Wanita gila berbaju merah panjang itu, telah berubah menjadi Monster yang mengerikan. Wanita itu sedang menahan serangan dari sekelompok orang bersenjata api.


Kedua tangannya berubah memghitam, kuku-kukunya memanjang seperti cakar binatang buas.


Wajah ayunya juga ikut berubah, auman mengerikan keluar dari mulut Arinda yang sudah sobek memanjang. Karena giginya berubah menajam dan ikut memanjang.


Desisan dan auman Arinda yang sudah berubah ke wujut aslinya, menggema di seluruh area.


"Apa yang terjadi?" tanya Melin pada Jendral.


Lelaki itu berusaha membuat tubuh Melin berdiri.


"Entahlah, kayaknya kita harus pergi dari sini!" ujar Jendral.


Duarrrrrr

__ADS_1


Duarrrrrr


Duarrrrrr


Duarrrrrr


Duarrrrrr


Suara tembakan senjata api menghujani tubuh Arinda.


"Ayo cepat!" ujar Jendral.


Namun Melin malah diam, dia memfokuskan pandangannya ke arah Arinda yang sudah berubah menjadi monster yang sangat mengerikan.


Kratakkkkkkk


Kratakkkkkkk


Kratakkkkkkk


Kratakkkkkkk


Kratakkkkkkk


Ukuran tubuh wanita itu membesar dibalik gaun merahnya yang longar. Tembakan yang dihujankan oleh puluhan pihak berwajib, tak menumbangkan posisi tegap mahluk mengerikan itu.


"Kita harus pergi dari sini, Mel!" Jendral memaksa Melin.


Dia menarik tubuh Melin, menuntunnya untuk menjauhi area itu.


Langkah Melin mulai seimbang, hingga dia memberi isyarat pada Jendral untuk melepas tubuhnya.


"Gue bisa sendiri!" ujar Melin.


Di iringi suara tembakan yang sayup-sayup masih terdengar ditelinga keduanya. Melin memikirkan apa yang Arinda katakan padanya tadi.


"Kita harus balik ke sana, Ndral! Gue harus bicara lagi sama Tante Arinda!" ujar Melin.


"Kamu gila? Kamu nggak lihat Tante Arinda berubah menjadi Monster?" ujar Jendral, nada bicaranya meninggi.


Cowok SMU itu pasti khawatir Melin akan dilukai Tante Arinda yang ternyata bukan manusia itu.


"Dia ada dipihak kita, dia bilang aku harus membunuh Om Adrian dan bokap gua Yanuar.


"Tapi gue nggak tau gimana caranya," Melin meyakinkan Jendral.


Melin menghentikan langkahnya, ia berbalik dan berjalan cepat ke arah ia datang tadi.


"Mel, kamu nggak..." perkataan Jendral terhenti.


Keduanya menghentikan langkahnya.


Sepatu yang mereka kenakan telah menginjak genangan darah yang amat kental.


Mayat-mayat dengan luka yang mengerikan, bergelimpangan secara acak.


Ada yang kepalanya hilang, dengan luka cabikan di lehernya. Darah segar masih mengucur deras dari tubuh tanpa kepala itu.


Lalu ada yang kehilangan separuh kepala, dan lengan di sisi yang sama. Darah menghitam kental, mengalir seperti mata air dari setiap potongan tubuh itu.


Para pasukan khusus yang dikirim oleh pihak berwenang, bersenjata lengkap dengan pakaian pelindung yang memadai. Mereka semua tergelimpang tak bernyawa dengan luka yang tak main-main.


Tubuh Melin dan Jendral mulai bergetar. Siapa yang tak ketakutan ketika disuguhkan pemandangan semacam ini.


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2