
Gubrakkkkkkk
Jeduarrrrrrrr
Pyarrrrrrrrr
Buakkkkkkkk
Jendral segera keluar dari kamar mandi, ia masih telanjang dada dengan hanya celana abu-abu SMU--nya yang membungkus bagian bawah tubuhnya.
Baru juga beberapa menit yang lalu ia meninggalkan Melin dan juga ibunya di kamarnya. Namun suasana rumah yang ia dapati saat ini, membuatnya terbelalak kaget.
Apa lagi keadaan kamarnya yang sudah awut-awutan tak karuan. Dan yang paling membuat Jendral kaget adalah, emaknya dan juga Melin sudah tidak ada di tempat ia terakhir meninggalkan mereka.
Keadaan di dalam kamar dan juga rumahnya benar-benar sangat berantakan. Isi di dalam rumah Jendral, seperti baru saja diterjang oleh angin kencang bercampur tsunami.
Selain keadaan rumah itu berantakan. Banyak air yang bercampur lendir berwarna bening, membasahi seluruh area rumah itu. Padahal tidak ada genteng ataupun tembok yang rusak, jadi air hujan dari luar tidak bisa masuk ke dalam rumah Jendral.
Jendral tidak bisa menebak apa yang baru saja terjadi di dalam rumahnya. Namun ia tahu, pasti bahwa siapapun yang melakukan hal ini. Pasti mengincar jiwa Melin, seperti halnya Arinda yang ternyata adalah monster yang mengerikan.
"Melin!!! Melin!
"Makkkk, Emakkkkk!" teriak Jendral.
Jendral terus mengedarkan pandangannya ke area disekitarnya, tubuhnya berputar-putar untuk mencari keberadaan Melin dan juga ibunya.
Langkahnya juga tak mau diam ia segera berlari ke ruangan lain. Siapa tahu dia bisa menemukan kedua wanita, yang sangat penting dalam hidupnya itu.
Dapur, ruang tamu dan juga ruang tv serta garasi sudah ia periksa. Hanya satu tempat yang belum diperiksa oleh Jenderal yaitu kamar ibunya. Langkah cepat cowok SMA itu segera menyusuri jalan menuju kamar ibunya.
Jegrekkkkkkkk
Jendral membuka pintu kamar ibunya. Perlahan-lahan daun pintu yang terbuat dari kayu itu terbuka.
Daun pintu itu baru terbuka beberapa sentimeter saja, namun Jendral sudah tertegun. Karena sebuah telapak kaki berlumuran darah menyembul dari lantai kamar ibunya.
Bekas pijakan kaki berlumuran darah itu menunjukkan. Arah dan juga rasa takut dari sang pemilik.
Arah telapak kaki berdarah, yang masih basah itu tak beraturan. Menunjukkan bahwa sang pemilik telapak kaki berdarah itu, mencoba kabur dari orang yang telah mencelakainya.
Tangan Jendral yang masih memegang gagang pintu kamar ibunya, tampak bergetar. Meski Jendral tidak ingin mengakuinya, namun ia tahu pasti bahwa darah segar itu mungkin saja adalah darah ibunya atau Melin.
Tangan Jendral yang masih bergetar hebat itu, mendorong perlahan pintu kamar ibunya. Dia menguatkan hatinya, pikiran dan juga jiwanya.
Satu-satunya pemandangan berdarah, yang tidak ingin dia lihat.
Dia kuat melihat genangan danau darah, yang dihasilkan oleh darah orang lain. Namun mentalnya langsung melempem, saat melihat telapak kaki berlumuran darah di kamar ibunya.
Jantungnya seolah berhenti Berdetak. Wajahnya memerah menegang, ia mencoba menahan rasa takut, kalut dan juga khawatir di hatinya.
Namun tubuh cowok SMU itu langsung bersimpuh lunglai, saat pintu kamar ibunya terbuka sepenuhnya.
Jenderal menatap kearah depan, dengan tatapan yang sangat tajam. Ia menahan nafasnya, ekspresi ketakutan di wajahnya berubah menjadi kebingungan.
__ADS_1
Tampaknya ada banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan oleh Jendral, pada sosok yang ia tangkap dalam netralnya.
"Siapa kamu?" tanya Jendral akhirnya.
Suara maskulinnya hampir tidak bisa didengar, tenggorokannya tercekat oleh cairan kental. Rasa gugup dan juga ketakutan di dalam dirinya, menghasilkan sistem kekebalan tubuh pada dirinya untuk tidak bicara.
Klontangggggggg
Sebilah pisau, yang tadinya di genggam oleh pelaku terjatuh lantai.
Seolah baru sadar dari tidurnya. Melin mendorong tubuh Ibu Jendral yang sudah berlumuran darah hingga jatuh ke atas kasur.
"Apa yang sudah kulakukan?" tanya Melin lirih.
Gadis manis itu mengangkat kedua telapak tangannya sejajar dadanya. Ia memandang terkejut ke arah kedua telapak tangannya, yang sudah berubah merah karena darah segar Ibunda Jendral.
"Dia bukan manusia, Dral. Dia mahluk yang sama dengan Tante Arinda!" ujar Melin.
Segera gadis muda belia itu memandang ke arah Jendral, yang tengah bersimpuh di depan kamar ibunya.
Melin berjalan cepat ke arah Jendral, ia ikut bersimpuh. Tapi saat Melin ingin menyentuh tangan pemuda itu, Jendral dengan kasar menampiknya.
Tubuh gadis belia itu sampai terlempar, sersungkur di atas porselin.
"Apa ini balasan yang kamu berikan padaku?" tanya Jendral pada Melin.
Melin segera bangun, ia harus menjelaskan kronologi pembunuhan yang ia lakukan beberapa saat yang lalu.
"Dia bukan ibumu!!!" bentak Melin.
Air mata Jendral telah menetes tanpa ia ketahui. Ia merasa dunia Telah runtuh hanya ke arahnya. Wanita yang ia cintai telah membunuh ibunya, di depan matanya sendiri.
Lagi-lagi perasaan Jendral didera kebimbangan, yang amat sangat besar. Dia ingin percaya, bahwa wanita yang dibunuh oleh gadis yang ia cintai bukanlah ibunya.
"Lalu siapa dia?" tanya Jendral.
Suaranya masih serak lirih, gejolak di hatinya belum pudar sedikitpun.
"Aku nggak tahu siapa dia, tapi dia berusaha membunuhku. Seperti Tante Arinda tadi!" ujar Melin.
Jendral melihat kearah mayat ibunya yang terkulai lemas di atas kasur, dengan darah yang masih menetes dari tubuh lemah itu.
Kedua kaki ibunya yang terjuntai ke lantai itu, menjadi jalan darah yang merembes dari atas tubuh terkulainya. Darah segar ibunya perlahan menggenang di atas lantai.
Namun seketika mayat ibunya berubah menjadi debu menghitam, karena semburat merah yang entah muncul dari mana.
Jendral berdiri karena menyaksikan hal itu, langkahnya cepat-cepat menghampiri mayat ibunya. Namun dia tidak menemukan bekas apa pun, selain serbuk hitam yang mulai bertebaran di udara.
Kedua tangannya ingin meraih beberapa butiran serbuk itu. Namun hanya angin yang tertangkap oleh genggamannya.
Cowok SMA itu menundukkan kepalanya, ia ingin mencerna kejadian yang beruntun menimpanya hari ini. Apakah hari ini dia tertidur terlalu lama, hingga mimpinya sangat tidak masuk akal.
"Lalu dimana, Emakku?!" tanya Jendral.
__ADS_1
Lelaki itu berteriak, dibarengi petir yang menyambar mengelegar di atas langit.
"Kupikir, penghuni desa ini. Siluman semua!" kata Melin.
"Apa aku juga siluman?" tanya Jendral.
"Bisa jadi," gumam Melin.
Mereka saling berpandangan di jarak itu. Sorot mata mereka masing-masing, sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata.
Namun tersirat jelas bahwa hati mereka sedang cemas. Mereka takut, harus membunuh satu sama lain pada akhirnya.
"Kalau begitu bunuh aku sekarang!" ujar Jendral.
"Aku bahkan tidak membunuh kecoak, yang hanya lewat di depan mataku!" ujar Melin.
"Apa aku harus menyeragmu?! Supaya aku bisa membunuhku?" tanya Jendral.
"Jika aku boleh meminta! Jangan pernah menyerangku, tetaplah berada di pihakku!
"Sampai kapanpun!" ujar Melin dengan penuh harapan.
Kedua insan manusia, yang masih berusia dibawah kematangan itu. Masih Berdiri di tempat yang sama, saling memandang dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
~▪~▪~▪~▪~▪~▪~▪~▪~▪~▪~
Meski permintaanku sulit, tolong!
Kau selalu berada disisiku, sampai kapanpun!
Melinda
~▪~▪~▪~▪~▪~▪~▪~▪~▪~▪~
Melin meminta di dalam hatinya. Gadis remaja itu, benar-benar berharap seseorang akan berdiri di dekatnya dan mendukungnya sampai akhir.
~▪~▪~▪~▪~▪~▪~▪~▪~▪~▪~
Apa aku bisa melakukannya???
Melindungimu sampai titik darah penghabisanku?
Apa aku harus meninggalkanmu sekarang, agar aku tidak menyakitimu nantinya???
Jendral
~▪~▪~▪~▪~▪~▪~▪~▪~▪~▪~
Jendral tidak bisa menjawab, permintaan yang diutarakan oleh Melin barusan. Saat ini, dia bahkan tidak percaya dengan dirinya sendiri.
Jendral merasa sangat ketakutan. Karena bisa saja dirinya adalah musuh Melinda, gadis yang paling ia cintai.
___________BERSAMBUNG_____________
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤