Hujan Teluh

Hujan Teluh
Ketakutan Adrian


__ADS_3

Adrian membuka matanya karena dia sudah merasa segar tak ngantuk lagi.


"Emhhhhhhhh," Adrian merenggangkan tubuhnya yang entah kenapa terasa segar sekali.


Pikirannya langsung menginggat keberadaan Melin, gadis yang sudah dia setubuhi didalam mimpi. Adrian segera bangun dan alangkah terkejutnya dia.


Dia bangun dalam ke adaan telanjang bulat, dan keadaan pondokan itu sama berantakannya dengan dirinya. Adrian tak dapat melihat sosok Melin di dalam pondokan itu. Adrian segera memakai celana pendek dan kaus, dia harus keluar dan mencari keberadaan keponakannya itu.


"Apa yang sudah kulakukan pada Melin?!" gumam Adrian.


Adrian keluar dari pondokan itu, lalu menuju ke mobilnya. Tak ada siapa pun di dalam sana.


"Melin!!! Melinda!!!" teriak Adrian.


Lelaki itu segera mengunakan mata batinnya, hatinya yang gusar dan sedang tak tenang. Membuat Adrian gagal mengunakan kontak batin dengan alam di sekitarnya.


Gubrakkkkkkkk


"Melin tolong, jangan tinggalkan aku!" ujar Adrian.


Lelaki itu menghantamkan tijunya ke arah mobilnya, karena Adrian berada samping mobilnya. Dia tak pernah gagal saat mengunakan ilmu hitam tingkat  tinggi itu sejak berusia 10 tahun. Memang ilmu itu hanya bisa diakses saat hati dan pikiran sedang tenang.


Bisa diperkirakan betapa gusar dan cemasnya Adrian saat ini. Dia mungkin sudah menyetubuhi keponakannya sendiri, dan gadis itu mungkin sedang lari darinya karena takut. Atau gadis itu sudah ditemukan oleh Nyai Blorong dan Mbah Sodik.


"Aku harus bagaimana???" kata-kata putus asa itu keluar dari mulut Adrian dengan bergetar.


Lelaki itu tak bisa tenang lagi, jemarinya yang mencengkeram tepian atap mobilnya. Juga bergetar dan melemas, Adrian membayangkan banyak hal yang bisa terjadi pada ponakannya.


Ditumbalkan, atau lari ke jalan dan bertemu orang jahat. Adrian pun mencoba menegakkan tubuh kekarnya, dia tak boleh lemah. Dia harus mencari Melin sampai ketemu.


Tanpa alas kaki lagi, Adrian berjalan di jalanan yang berbatu. Adrian yakin Melin tak akan pergi jauh dari sana. Adrian memutuskan jalan kaki saja, karena dengan jalan kaki. Lelaki itu bisa lebih memperhatikan sekitar, Adrian takut Melin tersesat. Area pondok itu dikelilingi oleh hutan yang lebar. Melin pasti binggung mencari jalan porosnya.


"Melinda!!! Melin!" Adrian terus berteriak frustasi di sepanjang kakinya melangkah.


Dia merasa hancur dan tak berdaya lagi. Dia telah menodai keponakannya dan lupa akan janjinya untuk menjaga gadis manis itu.


"Melllll, Om minta maaf Mel!!! Tapi tolong...Jangan seperti ini...!!!" Adrian hanya bisa berteriak dengan frustasi.


Hati dan pikirannya masih sangat tertekan, jadi Adrian tak bisa merasa tenang. Dia tak bisa menerawang keberadaan Melin saat ini.


Sejam lebih Adrian berjalan sampai ke jalan poros, tapi dia tak menemukan satu pun tanda keberadaan Melin keponakannya. Adrian terduduk di pingiran jalan aspal dihutan itu.

__ADS_1


Entah kenapa mata batinnya bisa menangkap keberadaan Melinda keponakannya. Segera lelaki itu berdiri dan dia berlari sekencang yang dia bisa. Kakinya sudah berdarah-darah, karena berlaru di jalanan berbatu tanpa alas kaki.


Napasnya masih tersenggal-senggal dan baju yang ia kenakan sudah basah kuyup karena keringat. Tanpa rasa lelah lagi Adrian segera membuka pintu pondokan itu.


Matanya yang sayu itu menangkap sosok Melin, gadis manis itu sedang sibuk di dapur kecil di pojok pondokan itu. Tanpa banyak berfikir Adrian segera menghampiri gadis pujaannya itu, dan membalikkan tubuh Melin.


"Om kenapa?" tanya Melin.


Gadis manis itu rambutnya masih basah, wajah imut yang berseri-seri itu memandang nanar ke arah Adrian saat ini.


"Kau nggak papa?" tanya Adrian pada Melin.


"Enggak, hanya sedikit sakit kalau berjalan!" ujar Melin dengan nada malu-malu.


Adrian baru sadar, jika apa yang dia lakukan dalam mimpinya pada Melin adalah kenyataan. Maka, gadis di hadapannya itu pasti akan merasakan rasa sakit yang amat sangat.


"Maafin Om ya Mel, Om nggak bermaksut melakukan itu ke kamu!" ujar Adrian.


"Tapi Om bilang, Om cinta sama gue? Apa gue salah dengar?" tanya Melin.


Adrian terdiam, dia tak punya kata apa pun untuk dia katakan pada Melin. Dia takut perkataannya pada Melin akan melukai hati gadis manis itu, dan membuat gadis itu meninggalkannya selamanya.


Telapak kaki Omnya penuh dengan darah segar yang mengotori lantai ruangan yang telah dia bersihkan itu. Ruangan pondok yang tadinya berantakan sudah rapi kembali karena Melin membereskannya.


Melin ingin terlihat rajin didepan Omnya yang telah mencuri hati dan perasaannya itu.


Melin memberikan kursi kayu untuk Adrian, dan mematikan kompornya terlebih dahulu. Melin sangat lapar, jadi gadis itu memasak mie instan yang mereka beli kemarin diswalayan.


"Kenapa kaki Om, bisa berdarah begini?" tanya Melin.


"Om nggak papa, Mel! Bukankah kau memasak mie karena kau lapar. Makanlah terlebih dahulu!" ujar Adrian.


Tapi nasehatnya sama sekali tak didengar oleh Melin, gadis manis itu malah mengambil seember air dari keran dapur kecil yang mereka huni.


Melin dengan cekatan dan telaten merendam kaki Adrian di dalam air itu, Melin berjongkok di depan Adrian karena ingin memcuci kaki lelaki yang ia sayangi itu.


"Om bisa sendiri kok, Mel!" Adrian mencoba menghentikan keponakannya itu untuk merawatnya.


Melin pun berhenti, tapi wajah imutnya memasang ekspresi kesal.


"Apa Om cuma main-main sama gue?" tanya Melin.

__ADS_1


Adrian segera diam, dia tau apa yang akan dibahas oleh ponakannya itu.


"Apa Om menyesal, karena sudah mengambil keperawanaan gue?" tanya Melin dengan tegas.


Kini Melin berdiri di depan Adrian, yang duduk di kursi kayu dengan kaki terendam di ember. Ruangan pondokan ini tak ada sekat sama sekali, karena bangunan ini dibangun Adrian hanya untuk fasilitas bersemedinya. Adrian tak menyangka akan membawa seorang gadis yang ia cintai dan menyetubuhinya di rumah kayu itu.


"Om nggak bermaksut melakukan hal biadap itu padamu, Mel!


"Om...," Adrian menunduk malu, dia tak mungkin bilang jika dia dipengaruhi oleh mimpi.


Melin mundur dari hadapan Adrian, gadis itu berbalik dan memunggungi Omnya itu.


"Lalu kita harus bagaimana? Kalau Om nggak suka sama gue, kenapa Om melakukan itu?!" tanya Melin dengan nada membentak.


"Om suka sama kamu Mel!" ujar Adrian.


"Suka sebagai keponakan, apa cebagai wanita?" tanya Melin.


Adrian ragu untuk menjawab pertanyaan Melin, dia suka Melin sebagai wanita. Tapi dia juga tak bisa melupakan fakta bahwa mereka adalah saudara.


"Gimana kalau gue hamil?" tanya Melin.


Adrian makin bingung, dia menginggat lagi mimpinya itu. Berkali-kali dia memuntahkan semburan kenikmatan ke dalam rahim ponakannya itu. Melin pasti akan hamil anaknya, bagaimana apa yang harus lelaki itu lakukan sekarang. Kebodohannya yang mengira kenyataan sebagai mimpi.


"Gimana Om, apa gue harus aborsi?" tanya Melin.


Meski Melin adalah pelajar SMU, tapi dijaman sekarang pelajaran S.E.X bebas sudah menjadi edukasi penting ditingkatan jenjang pendidikan SMU. Jadi Melin tau apa konsekuensinya jika dia hamil seorang anak yang tak diinginkan, keputusannya hanya aborsi.


"Enggak, jangan. Om akan bertanggung jawab sepenuhnya!" ujar Adrian


"Om akan bertanggung jawab pada janin yang enggak Om inginkan?" tanya Melin.


Tampaknya Melin sedang mengintrogasi Adrian, entah apa yang sedang ingin dipastikan oleh Melin dari Omnya itu. Tapi pertanyaan Melin sepertinya sangat memojokkan Adrian saat ini.


"Aku menginginkkan janin itu! Aku juga menginginkanmu!" ujar Adrian.


Melin membalikkan tubuhnya, dan dia tersenyum bahagia namun sedikit aneh.


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2