Hujan Teluh

Hujan Teluh
Keegoisan Cinta


__ADS_3

Melin, Lastri dan Jacson duduk bersama di ruang tamu rumah Jacson. Tak seperti rumah warga Desa Air keruh lainnya, rumah Jacson terlihat lebih modern. Sofa kulit berwarna hitam yang terlihat cukup mahal, kursi kayu dan juga sofa kulit lain, yang berwarna hitam juga namun agak lusuh. Tiga set kursi beda aliran itu, berjajar rapi di ruang tamu rumah Jacson yang memanjang.


Tak lama munculah seorang wanita tua, dengan tiga cangkir teh di atas nampan dan beberapa cemilan.


"Silakan teh--nya diminum, Mbak, Dek!" Ujar wanita tua itu setelah meletakkan, apa yang ia bawa di atas meja tamu yang di kelilingi satu set sofa hitam yang tampak masih baru.


"Terima kasih Mbok!


"Bisakah Mbok Painah duduk di sini sebentar?" tanya Jacson.


Wanita tua itu tampak bingung, karena dia tampak memutar kepalanya ke arah lain saat Jackson meminta wanita tua itu untuk tinggal. Wajahnya yang sudah keriput juga tampak mengeluarkan ekspresi yang berbeda.


"Ada apa ya Pak Jacson?" tanya Mbah Painan dengan sangat sopan.


"Duduk dulu, Mbah!" ujar Jacson.


Mbah painah duduk di depan Melin, mereka saling berhadapan dan tak sengaja pandangan mereka bertemu. Mbah painah malah memperhatikan Melin, awalnya wajah yang sudah penuh dengan keriput itu hanya memperhatikan tanpa ekspresi apapun. Namun Mbah painah masih saja memusatkan pandangan menelisik ke arah Melin.


Wajah tua itu menggangga sejenak, lalu dengan cepat kedua tangan keriputnya menutup mulutnya yang tenggah menggangga. Sesuatu pasti diketahui oleh wanita tua, yang memaksa Jacson memperkerjakannya di bekas rumah orang tua Jacson.


Karena alasannya Mbah Painah jelas, Jacson tak banyak berpikir kala itu. Lelaki yang baru pulang dari Belanda itu, langsung mengiyakan permintaan Mbah Painah untuk bekerja di rumah bekas peninggalan orang tua Jacson.


"Bisakah Mbah Painah, menceritakan sesuatu tentang Hujan Teluh di Desa ini?" tanya Jacson.


Mbah Painah masih memandangi Melin, dan gadis itu juga memandangi keanehan di diri Mbah Painah.


"Kamu sebaiknya tidak meninggalkan Desa ini!" ujar Mbah Painah.


"Kenapa?! Jika aku meninggalkan Desa ini, semua orang akan mati--kan???


"Itu bukan urusanku?" kata Melin.


"Tidak akan ada yang tahu apa yang akan terjadi?!


"Tapi jika aku pergi dari sini jiwamu akan dalam bahaya!" ujar Mbah Painah.


Semua orang diam, dan hanya fokus memandang ke arah Mbah Painah. Bahkan Lastri dan Jacson tampak menahan napas mereka.


"Adrian akan mencarimu kemanapun, dia tidak akan pernah melepaskanmu!" kata Mbah Painah.


"Kenapa?" tanya Melin.


Kedua orang dewasa di samping mereka sama sekali tak bersuara. Mulut mereka seolah terkunci dan tidak ingin terbuka.


"Karena Adrian adalah menjaga Desa ini, jadi dia tidak bisa membunuh warga asli desa ini.


"Namun warga Desa ini juga tidak dapat membunuh Adrian dengan cara apapun.

__ADS_1


"Jika kau keluar dari Desa ini, maka banyak orang yang akan dibunuh oleh Adrian di luar sana!" jelas Mbah Painah.


"Kenapa Adrian harus memburu gadis ini?" tanya Jacson.


"Tanda di tangannya! Gadis muda ini adalah gadis yang dipilih oleh Nyai Blorong!" jawab Mbah Painah.


Lastri tertegun, dia tak habis pikir. Jadi Adrian telah membohonginya dari awal, adik dari suaminya itu pasti sudah tahu kalau Melin adalah tumbal yang harus dipersembahkan kepada Nyai Blorong. Makanya lelaki muda itu menyuruh Lastri untuk membawa Melin ke Desa ini.


"Kenapa harus putriku??? "Bukankah banyak gadis lain di Desa ini?


"Kenapa harus putriku yang tidak tahu asal usul Desa ini?!" bentak Lastri.


Ibu muda itu pasti tidak dapat mengendalikan emosinya. Dia tidak dapat menerima kenyataan ini, bagaimana bisa putri satu-satunya yang dia miliki, harus menjadi tumbal.


"Saya tidak tahu tentang itu Mbak!" Ujar Mbah Painah dengan nada yang lemah.


"Apa nggak ada acara lain gitu Mbah?


"Arinda masih bisa hidup sampai saat ini--kan?!" Jacson akhirnya angkat bicara.


"Apa Pak Jacson yakin jika Arinda masih hidup?" tanya Mbah Painah.


Jacson membuang mukanya, keyakinannya juga tampak memudar. Karena Arinda yang sekarang bukanlah Arinda yang ia kenal dulu. Jacson tentu bisa menilainya sendiri.


"Jadi kapan hari penumbalan itu tiba?" tanya Melin.


"Saya tidak tahu. Yang tahu hanyalah Adrian!" kata Mbah Painah.


Lastri memandang ke arah putrinya dengan tatapan meminta maaf, namun kelihatannya Melin tak menyalahkan Bundanya. Mungkin karena Melin sudah melihat ingatan masa lalu para tumbal. Jadi dia bisa menerima kenyataan pahit itu.


Di dalam pondok Adrian dan Yanuar saling duduk berhadapan. Kedua kakak adik itu sedang melakukan penyembuhan terhadap luka dalam Adrian, dengan cara menyalurkan tenaga dalam Yanuar ke tubuh adiknya.


Yanuar Sadewo lelaki dengan tubuh besar tinggi yang sangat macho, meski terdapat luka bakar lama di pipi kirinya. Hal itu tak sedikit pun mengurangi kegantengan paras Yanuar.


Aktifitas mistis yang menguras tenaga itu akhirnya selesai. Yanuar bergeser sedikit kebelakang, memberi ruang pada adiknya untuk meregangkan tubuhnya yang baru saja mendapatkan energi baru.


"Sebaiknya kau hati-hati, tampaknya Jacson sudah lapor polisi!" kata Yanuar.


"Bagaimana jika, akhirnya aku melukai putri kakak?" tanya Adrian.


Mata tegasnya menatap tajam ke dalam manik Sendu kakaknya. Adrian berharap menemukan penolakan di mata itu, namun terlihat jelas bahwa kakaknya tidak ingin memperpanjang masalah ini.


"Bagaimana jika, aku membunuh Melin?!" sekali lagi Adrian bertanya kepada kakaknya, kali ini dengan nada yang kuat akan emosi.


"Itu sudah tugasmu, jadi laksanakanlah!" kata Yanuar.


"Bukankah kakak disini, untuk menyelamatkan putri kakak?" tanya Adrian.

__ADS_1


"Memangnya aku bisa? Melawan kekuatan sebesar itu!" tanya Yanuar.


Rasa sedih, frustasi dan kemarahan, menguasai hati Yanuar. Tapi Ayah kandung Melin itu masih bisa tenang, dia pasrah karena selama ini biar sudah mencoba berbagai cara. Semua cara itu, hanya bisa menunda tidak bisa menghapus sumpah janjinya 10 tahun yang lalu.


Sumpah janji yang iya ucapkan untuk masa kejayaannya adalah menumbalkan seseorang yang paling iya cintai. Putrinya Melin adalah seseorang itu, seseorang yang paling Yanuar cintai.


"Seberapa besar kekuatan yang kita miliki, kita tidak dapat melukainya! Ingat itu Adrian!" nasehat kakaknya.


Mereka berdua kini tertunduk, mereka merasa malu dengan diri mereka sendiri. Kejayaan dan kekuatan serta ambisi membuat mereka memutuskan sebuah takdir yang tidak sanggup mereka hadapi.


"Setelah semua ini selesai, aku bisa mati dengan tenang!" ujar Yanuar.


Yanuar meremas kedua bahu adiknya, lalu ia berdiri.


"Melin masih sangat muda, Kak! Dia baru pergi ke pantai sekali.


"Mungkin dia belum punya bercita-cita, karena masih bingung dengan jati dirinya.


"Bisakah Kakak mengulur waktu untuknya lagi?" tanya Adrian.


"Aku tidak mau Nyai Blorong murka, dan membunuh semua warga Desa!" kata Yanuar.


"Biarkan saja! Yang penting Melin bisa hidup lebih lama!" kata Adrian.


Yanuar yang sudah berdiri dan akan keluar dari pondok, kembali menatap kearah adiknya.


"Ada apa denganmu, hehhhh!" kata Yanuar.


Adrian seketika berubah posisi duduknya, yang awalnya bersila sekarang dia bersipuh di depan kakaknya.


"Aku...


"Dan Melinnn...! Kami berdua saling mencintai?" kata Adrian, dia menunduk tak berani melihat ke arah wajah kakaknya.


"Kenapa kau jatuh cinta padanya?


"Bukankah harusnya kau paling tahu?! Mencintai putriku???


"Adalah tindakan bodoh yang tidak ada gunanya!" Yanuar tertawa tertahan.


Dia tak menyangka Adrian akan melakukan kecerobohan semacam ini, pria dingin yang selalu patuh. Berubah menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja.


"Aku tau, tapi aku tetap ingin melakukannya! Melindunginya dan memberi kebahagiaan padanya.


"Jadi bisakah kakak mengulur waktu setahun saja.


"Aku janji...Setelah setahun aku akan melepaskannya tanpa perlawanan!" ujar Adrian.

__ADS_1


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2