Hujan Teluh

Hujan Teluh
Tak Bisa Bersandiwara


__ADS_3

Melin sudah memasuki ruangan pondok yang tanpa sekat itu, dia segera menuju meja makan sederhana di sana. Terlihat jelas Adrian sudah menata hasil masakannya di atas meja. Tanpa memandang ke arah hasil kerja keras Omnya itu Melin malah berkata. "Gue pengen sarapan di Desa yang ada pantainya kemarin!".


Pandangan Adrian yang awalnya fokus ke arah hasil masakannya, kini fokus kearah wajah Melin yang datar. Meski Melin berusaha untuk menyembunyikan apa yang dilihatnya di dalam mimpinya. Gadis itu bukan aktris profesional, tetap saja Adrian bisa menangkap kejangalan di diri Melin.


"Bukankah semalam kau ingin mencoba masakan Om?" tanya Adrian.


Untuk mencari alasan, Melin melihat ke arah masakan yang dibuat Adrian.


"Tubuh gue butuh sayuran untuk melancarkan pencernaan, perut gue agak sakit karena sembelit!" Melin mendapatkan alasan abstraknya.


Omnya memang hanya memasak ayam opor kuning, mungkin karena Adrian tak bisa menemukan bahan yang lain. Tempat ini terpencil, dan ayam yang di masaknya juga hasil buruan Adrian dari hutan.


"Kalau begitu mandilah, Om akan menyimpan ini untuk makan siang kita nanti!" kata Adrian.


Lelaki itu berusaha tenang, padahal dadanya serasa mau meledak saat ini. Bukan karena masakannya yang ditolak oleh gadis yang ia cintai, tapi karena hasil semedinya semalam. Apa yang di katakan oleh Nyai Roro Kidul padanya, membuatnya tak bisa tenang.


《Tak ada yang bisa memutuskan benang merah takdir, yang telah diikat pada Iblis.


Tak ada yang bisa menghindar, apa lagi merubah takdir manusia yang telah bersekutu dengan Iblis.


Hanya satu cara yang bisa manusia lakukan, menjauhi Iblis  sebelum mereka sempat bersekutu.》


Benar-benar tak ada jalan keluar apa pun, tak ada sama sekali. Kenyataan itu membuat Adrian ingin berada di dekat Melin, membuat gadis itu bahagia di akhir sisa hidupnya.


Namun kepasrahan Adrian tak sama dengan apa yang Melin pikirkan. Gadis belia itu ingin merubah takdirnya, dia merasa bahwa dengan menjauhi orang-orang biadap yang telah bersekutu dengan Iblis. Maka dia bisa selamat.


.


.


Di perjalanan berangkat ke Desa tepian pantai, keduanya hanya diam. Mereka tak secrewet biasanya, Adrian juga merasa ada yang aneh di diri keponakannya.


"Semalam, apa tak ada yang mendatangimu?" tanya Adrian dengan nada yang hati-hati.


Lelaki itu tau mood keponakannya sedang di tingkatan paling rendah, jika sampai dia menyinggung Melin. Bisa-bisa Melin akan kabur darinya, dan hal yang paling ditakutkan Adrian saat ini adalah kehilangan cinta yang berhasil dia dapatkan dari Melin.


"Apa harusnya ada yang datang?" Melin malah balik bertanya.


Mengajukan pertanyaan saat ditanya. Setrategi untuk membaca pikiran orang lain, secara harfiah semua manusia akan melakukan itu. Apa lagi manusia yang terlahir cerdas seperti Melin.


"Nggak, Om hanya khawatir padamu!" ujar Adrian.

__ADS_1


"Gue bobok kayak kebo, bahkan pas Om balik ke pondok! Gue kagak tau!" ujar Melin.


Tapi Melin mulai merasakan sedikit ke anehan, bagaimana Adrian bisa membuka gembok yang dia pasang di dalam.


"Bagaimana cara anda membuka gemboknya?" tanya Melin.


"Pintu belakang...! Om lewat pintu belakang!" ujar Adrian.


Melin tau Omnya itu sedang berbohong saat ini, dari nada bicaranya dan gelagatnya yang tak setenang biasanya. Adrian memang berbohong, dia bisa membuka pintu apa pun, tanpa punya kuncinya. Sebuah ajian yang dia dapat setelah bertapa 40 hari tidak makan dan minum. Bertapa di sebuah pemakaman keramat dengan tubuh yang dikubur di tanah, hanya kepalanya yang dibiarkan bebas.


Ritual perdukunan itu berat, tak semua manusia bisa melakukannya. Adrian adalah manusia yang sepesial dan juga bertekat kuat. Jadi dia bisa berhasil mencapai kesaktian di tingkat atas di usia muda.


"Kau memanggil Om 'Anda'?" tanya Adrian pada Melin.


Meski sedang gugup karena berbohong, Adrian masih bisa menelaah perkataan yang digunakan oleh Melin.


"Emang kenapa?" tanya Melin.


Nada bicara Melin sangat ketus, hingga membuat Adrian memfokuskan netranya ke arah Melin untuk sesaat. Karena saat ini lelaki gagah itu sedang mengemudi mobilnya.


"Enggak papa," gumam Adrian.


"Memang ada berapa warung di Desa itu?" tanya Melin, gadis itu tau betul.


Meski lumayan ramai, tapi pasar di Desa pinggir pantai itu tak banyak kedai yang menjual makanan siap saji.


"Om akan membawa kamu ke kota, agar kau bisa makan apa pun yang kau mau!" ujar Adrian.


'Apa dia mau membuatku senang, lalu membunuhku?! Picik sekali!' kata Melin dalam hatinya.


Melin tak menjawab perkataan Adrian, lelaki itu makin tak kuasa menahan gejolak di hatinya. Bagaimana pun, sikap Melin saat ini benar-benar membuat Adrian terganggu.


"Jika ada yang mengganggu pikiranmu, ceritakan saja pada Om!" ujar Adrian.


Nada bicara lelaki itu sedikit bergetar, karena gemuruh di dadanya semakin menjadi.


"Nggak ada," ujar Melin.


Gadis itu hanya menatap ke luar jendela di sampingnya, tak sedetik pun Melin mengedarkan pandangaanya ke arah Adrian. Karena sudah merasa benar-benar frustasi, Adrian menghentikan laju mobilnya di pinggir jalanan.


"Apa Om punya salah padamu?" tanya Adrian pada Melin.

__ADS_1


Melin hanya mendengus kesal, gadis itu tampaknya juga tak bisa berakting lagi. Melin membuka pintu mobil Adrian, dan gadis itu segera keluar dari mobil yang tengah berhenti itu.


Gadis itu berjalan kaki dengan cepat. Namun Adrian yang langsung ikut keluar, dapat mengejar langkah Melin. Lelaki itu meraih pergelangan tangan Melin, dia menghentikan langkah terburu-buru gadis belia itu.


"Mel, Om mohon jangan seperti ini!" bentak Adrian.


Tapi butiran air mata sudah membasai pipi mulus gadis manis itu. Adrian dapat melihat isakan Melin, meski gadis belia itu mencoba meyembunyikan wajahnya darinya.


"Maaf, Om minta maaf Mel!


"Om nggak bermaksut membentakmu, Om hanya...!" kata Adrian.


Dia melangkah dan mendekat ke arah ponakannya itu, ingin dia raih tubuh rampin Melin. Adrian ingin memeluk dan menenangkan hati keponakannya yang sedang gundah gulana.


"Lepaskan!" teriak Melin.


Namun Adrian masih saja menggengam pergelangan tangan Melin. Gadis itu makin terisak keras, Melin tak bisa menyimpan beban sebesar itu di dalam dirinya yang masih sangat belia.


"Gue bilang lepasin!" ujar Melin.


Gadis itu menarik tangannya sendiri dengan kasar, dia berasa sentuhan dari Omnya amat sangat menjijikan.


"Mel, apa yang terjadi?" tanya Adrian.


Matanya sudah merah, dan wajah tegasnya juga memerah. Rasanya dia bisa merasakan rasa sakit di hati Melin. Lelaki yang amat gagah perkasa itu akan merasa lebih terluka, saat gadis yang ia cintai menangis seperti ini.


Dadanya ikut sesak dan pikirannya tak bisa fokus, Adrian hanya bisa memandang Melin saat ini. Dia tak bisa memikirkan hal lain, selain sosok gadis manis yang ia cintai.


"Kemarin itu, apa Om sedang ngetes Gue?!


"Apa gue masih perawan apa nggak?" tanya Melin pada Adrian.


Pertanyaan yang frontal itu seketika menyentak di hati dan otak Adrian. Lelaki itu tak tau apa yang sedang dibicarakan oleh ponakannya.


"Lepaskan, jika tidak! Gue akan bunuh diri sekarang juga!" ujar Melin.


Tangan kiri Melin sudah memggenggam pisau dapur, yang tadi pagi digunakan Adrian untuk menyiapkan hidangannya di dapur. Sontak manik mata Adrian langsung membesar, dia tak menyangka bahwa Melin akan bertindak sejauh ini. Namun hal besar apa yang membuat Melin melakukan hal sebahaya ini.


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2