
Suara gemericik air menengelamkan suara lain, seseorang sedang berada di pinggir sungai yang debitnya sudah menurun.
Orang itu menatap ke arah pantulan bulan di atas sungai. Meneliti setiap cahaya yang terpantul, wajahnya yang tampan itu tampak datar. Namun di dalam ekspresi itu, tersimpan sangat banyak kesedihan.
Dalam diam dia menyimpan semua hal yang dia ketahui.
"Jadi dia saat ini bersama dengan Jendral?" tanya Yanuar, ayah kandung Melin.
Pria gagah itu, selalu saja muncul tanpa jejak. Namun Adrian tak pernah sekali pun terkejut dengan kehadiran kakaknya yang selalu tiba-tiba itu.
"Iya!" jawab Adrian.
Suaranya tegas, namun wajahnya masih datar.
"Bulan purnama merah, akan datang sekitar tiga hari lagi.
"Persiapkan tumbal itu dengan baik!" ujar Yanuar.
"Apa kakak pernah menganggap Melin itu putri kakak?" tanya Adrian.
"Berhentilah bersikap seperti anak kecil, Adrian!" ujar Yanuar.
"Melin bukan putri kakak!" ujar Adrian.
"Dia putriku!" ujar Yanuar.
Adrian yang memandang ke arah sungai segera berbalik, ke arah Januar yang berdiri di belakangnya.
Kedua kakak adik satu ayah itu saling berpandangan.
"Semua kisah hampir sama, aku dan Lastri. Atau kau dan Melin.
"Kita dilahirkan untuk memenuhi ritual ini!" ujar Yanuar.
"Semua perasaan yang kau rasakan hanyalah semu.
"Semua itu hanyalah bagian dari ikatan masa lalu kalian.
"Karena jiwa-jiwa yang mengisi diri kita, berasal dari masa lalu yang sama!" jelas Yanuar.
"Aku akan melakukan tugasku dengan benar!" ujar Adrian.
Wajahnya masih datar namun pandangannya ke arah kakaknya, benar-benar sangat tajam.
"Baguslah. Harusnya dari awal kau sadar, tidak ada yang bisa kita lakukan selain.
"Menumbalkan Melin kepada Nayi Blorong!" ujar Yanuar.
Lelaki yang mempunyai ukuran tubuh hampir sama dengan Adrian itu, melangkah ke depan. Dia mendekat ke arah adiknya berdiri.
Yanuar mencengkram kedua bahu Adrian dan memandang tajam kearah mata adiknya itu. "Jangan pernah lengah, kau harus fokus!"
__ADS_1
Masih dengan tatapan tajam yang ia arahkan kepada kakaknya. Adrian mengangguk dan mengiyakan apa yang diperintahkan oleh kakaknya.
"Lalu bagaimana dengan Jacson. Apa aku juga harus mengurusnya?" tanya Adrian.
"Biar aku yang mengurus Jacson. Kamu fokus pada Melin dan Jendral saja.
"Jangan biarkan mereka merusak ritual yang telah lama kusiapkan!" ujar Yanuar.
"Aku mengerti!" kata Adrian.
.
.
.
.
"Sempat-sempatnya kau memikirkan hal itu?" kata Jacson.
Rintihan sakitnya kini berubah menjadi senyuman sinis yang mengejek ke arah Ellen.
"Aku hanyalah makhluk biasa yang yang sangat lemah.
"Jika kau perencana merusak ritual Hujan Teluh yang sudah kami siapkan bertahun-tahun.
"Lawanmu bukan aku!" ujar Jacson.
"Lalu siapa?" tanya Ellen.
"Tapi paling tidak, kau harus mendengarnya. Karena ini sangat penting!" ujar Jacson.
Ellen mengerutkan dahinya, ingin sekali dia merobek mulut pria paruh baya di depannya. Sepertinya Jacson mempunyai keahlian untuk memanipulasi perasaan seseorang.
Ellen yang awalnya merasa telah berada di atas angin, karena telah bisa menyekap Kades Desa Air Keruh itu. Kini menjadi merasa kalah kembali karena senyuman mengejek yang diberikan oleh Jacson.
"Awal dari terjadinya Kutukan Hujan Teluh ini, bukanlah 60 tahun yang lalu!" ujar Jacson.
Ellen tentu saja merasa kaget, dengan perkataan yang dikatakan oleh Jacson barusan.
"1952, delapam tahun setelah kemerdekaan negara tercinta kita!" ujar Jacson.
Mata pucat pria paruh baya itu, terus menelisik kearah mimik ekspresi wajah Ellen. Entah apa yang dia cari namun lelaki itu ingin Ellen percaya dengan apa yang dia katakan barusan.
"Pada tahun 1937 Pemerintah Kolonial Belanda memulai kolonisasi baru di Karesidenan Palembang (Sumatera Selatan -red) yang lebih terprogram dengan ditempatkan sebanyak 250 keluarga yang terdiri dari 801 jiwa berasal dari D.I. Yogyakarta di Belitang yang terletak disebelah timur Kota Martapura (Kabupaten OKU Timur saat ini) di lanjutkan pada tahun 1938 memindahkan 550 keluarga (2052 jiwa) asal D.I. Yogyakarta
"Berbarengan dengan itu ditempatkan juga 600 keluarga (1.969 jiwa) di daerah Tugumuljo (Tugu Mulyo -red) yang berada dekat dengan Kota Lubuk Linggau serta pada tahun 1938 dilanjutkan dengan memindahkan penduduk dari D.I. Yogyakarta sebanyak 1000 keluarga (3619 jiwa). Saat itu tiap keluarga diberikan tanah seluas ¼ bouw untuk pekarangan dan 1 bouw tanah untuk sawah (1 bouw \= 7096,5 meter2).
"Pada tahun 1938 juga dikirim 100 jiwa untuk membuka hutan sebagai daerah koloni baru dekat Martapura bernama Sungai Tuha, tahun 1940 ke dikirim lagi 67 keluarga (215 jiwa) buruh hutan, sehingga pada akhir tahun 1940 dalam Keresidenan Palembang (Sumatera Selatan) terdapat 19.876 jiwa kolonis, diantaranja 10.522 orang di Belitang, 9.024 orang di Tugumuljo dan 330 orang di Sungai Tuha.
"Lalu pada tahun 1952, beberapa desa di Lubuklinggau, termasuk Desa Air Keruh dibuka untuk transmigrasi yang diusulkan oleh Soeharto!" cerita panjang Jacson.
__ADS_1
"Aku tanya tentang bagaimana terjadinya Kutukan Hujan Teluh.
"Bukan riwayat transmigrasi warga Jawa ke Sumatera Selatan!" bentak Ellen.
"Bukankah kau ingin mendengar secara keseluruhan? Bukan sepatah atau dua patah kata yang tidak ada asal-muasalnya?" Jacson masih tersenyum licik kearah Ellen.
Lelaki paruh baya itu seperti sudah memegang kartu As di seluruh dunia ini pada tangannya. Dia merasa bisa dengan sesuka hatinya mempermainkan Ellen, yang sangat membutuhkan informasi darinya.
"Baiklah, lanjutkan cerita panjangmu itu. Akan kudengarkan sampai akhir!" ujar Ellen menahan kesal.
"Tapi ada satu hal yang harus kau tahu, sebelum aku menceritakan semuanya.
"Jika kau ingin mendengar semuanya, maka kau harus membayar mahal!" ujar Jacson.
"Berapa pun akan kubayar! Cepat ceritakan. Jangan banyak bicara omong kosong di depanku!" ancam Ellen.
Wanita polisi itu kembali memainkan pistol yang dia bawa.
"Pada tahun 1952, untuk pertama kalinya Desa air keruh didatangi oleh penghuninya.
"Salah satu penduduk yang datang mempunyai seorang anak gadis berusia 14 tahun. Gadis belia itu bernama Kinan!" jelas Jacson.
Ellen mencoba tetap diam, dan memberi Jacson kesempatan untuk bercerita lagi.
"Dia gadis yang ceria dan suka berpetualang!
"Dia sering pergi ke hutan sendirian, untuk menghindari kemarahan ibunya.
"Namun siapa yang menyangka saat dia di tengah hutan, dia menemukan seorang teman yang sangat mengerti dirinya!"
Ellen masih tidak bisa membaca arah cerita Jacson, namun polisi wanita itu terus mendengarkan apa yang dikatakan oleh Jacson.
"Teman yang ditemukan Kinan di tengah hutan, adalah seekor Manusia Harimau!" ujar Jacson.
Ellen memutar kedua bola matanya, dia sudah menyangka jika Jacson akan mengatakan hal-hal yang aneh lagi.
"Apa kau tidak punya cerita yang lebih masuk akal?
"Siluman, hal mistis. Apa semuanya harus berkaitan dengan hal itu?" tanya Ellen geram.
"Karena mereka bersama dalam jangka waktu yang lama. Kinan dan manusia harimau itu jatuh cinta!" tampaknya Jcason tidak peduli dengan ocehan Ellen. Kades Desa air keruh itu terus melanjutkan ceritanya.
"Lama-kelamaan karena warga Desa Air Keruh tahu tentang pertemanan Kinan dengan manusia harimau.
"Semua warga desa memburu harimau itu!
"Mereka beranggapan, manusia harimau sangat membahayakan manusia!" lanjut Jacson.
"Apakah manusia bisa menangkap siluman? Jawabannya Tentu saja tidak!
"Satu-satunya cara agar Kinan bisa terlepas dari jeratan cinta siluman harimau itu Kinan harus menikah dengan lelaki manusia biasa!" ujar Jacson.
__ADS_1
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤