
Melin merasa berada di sebuah ruangan gelap yang sempit dan pengap.
"Gue dimana ini?" tanya Melin bingung.
Tapi dia melihat sebuah celah cahaya, Melin pun mendekati celah itu. Dia melihat sebuah tempat yang asing, itu adalah sebuah ruangan rumah.
"Yosi...Nakkk!" suara seorang wanita memanggil-manggil seseorang.
"Dimana yaaaa anak gadis ibu!" suara wanita itu tampak pura-pura mencari.
Melin kaget setengah mati saat pintu di depannya dibuka oleh seseorang.
"Behhhhh anak gadis ibu marah yaaa, karena enggak ibu aja ke pasar?!" kata wanita yang sama sekali tak dikenali oleh Melin itu.
Tapi wanita itu malah meraih tubuh Melin dan dipeluklah tubuh Melin.
"Aku ingin ke pasar!" mulut Melin tiba-tiba terasa bicara sendiri.
Melin tak tau apa yang terjadi pada dirinya, kenapa dia bicara tanpa dia ingin. Bagaimana bisa dia berada di tempat ini.
Pandangan Melin mengitari ruangan itu, dia tak kenal tempat ini. Tapi kenapa dia merasa femilier dan sangat tau seluk beluk rumah yang berdinding papan ini.
Ruangan kamar ini sempit sekali, hampir semua dari kayu kecuali atap rumah itu.
"Daun, atapnya daun???" tanya Melin dalam hati.
"Besok ya sayang hari ini sudah gelap! Ayo kita makan malam saja!" wanita itu kembali berbicara.
"Ibu gendong!" suara gadis kecil keluar dari dama mulut Melin.
'Tunggu apa ini? Kenapa suaraku' Melin makin bingung.
Wanita yang dipanggil Ibu itu segera membopong putri kecilnya ke luar kamar yang cukup sempit itu.
Jiwa Melin berada di dalam tubuh gadis kecil itu. Melin yang merasa aneh ingin berteriak, tapi mulutnya tak bisa mengatakan apa pun.
Ibu itu membawa putri kecilnya ke arah ruang tengah rumah papan itu. Dia mendudukkan putri kecilnya di dekat meja setinggi 30cm, yang diletakkan di tengah-tengah ruangan yang tampak lebih lebar dari kamar tadi.
Tok...Tok...Tok
Suara ketukan pintu membuyarkan aktifitas ibu dan anak itu. Kinan yang awalnya akan ke dapur untuk menyiapkan makanan putri tercintanya, segera berbalik. Ibu muda itu harus membuka pintu dan melihat siapa yang datang kekediamannya malam-malam begini.
Jegrekkkkkkkk
Pintu telah dibuka oleh Kinan, sorot mata wanita muda itu tampak gusar. Di depannya telah berdiri dua lelaki yang amat disegani oleh warga Desa Air Keruh ini.
"Silahkan masuk Tetua, Mbah Sodik!" ujar Kinan ramah.
Kinan tak berani mendongak sama sekali, dia hanya menunduk patuh. Meski ibu muda itu harus menyajikan teh hangat untuk kedua pria yang duduk bersila di depan Yosi putrinya.
Kini ruang tamu sederhana tanpa kursi, dengan alas tikar seadanya itu bernuansa sangat dingin. Kehangatan yang langsung hilang, tak kala kedua pria itu datang ke kediaman Kinan dan Yosi.
"Sudah waktunya Kinan!" ujar pria berjengot putih.
Dia adalah tetua Desa ini, namanya Mbah Weryo Pawiro. Ayah Wiji atau eyang kakungnya Jendral.
__ADS_1
Kinan yang awalnya hanya menunduk patuh itu, kini memandang tajam ke arah putri semata wayangnya Yosi.
"Apa tak bisa diundur Tetua?" tanya Kinan.
"Jika kita tak melakukan malam ini, maka Desa ini akan rata dengan tanah.
"Kau tau dari awal--kan, putrimu adalah miliknya. Jadi serahkan--lah padanya!" kata Mbah Sodik.
Tak ada kata apa pun yang dapat diucapkan oleh Kinan, ibu muda itu hanya bisa memeluk putrinya Yosi saat ini.
"Boleh saya ikut!" kata Kinan.
"Boleh, tapi jangan mengganggu proses penumbalan.
"Kau tau akibatnya, jika kau nekat!" ujar Mbah Pawiro.
Lelaki tua itu sangat tau bagaimana perasaan Kinan saat ini. Wanita yang akan kehilangan anaknya, meski anak Kinan adalah hasil dari syarat ritual. Tapi tampaknya Kinan sangat menyayangi Yosi dengan sepenuh hatinya.
Mbah Sodik memimpin jalan, diikuti Kinan dan Yosi dibelakangnya serta Mbah Pawiro dibelakang mereka semua.
Didalam tubuh Yosi, jiwa Melin berusaha memberontak. Tapi tak ada yang bisa dia lakukan. Sekuat apa pun Melin berusaha menghentikan langkah Yosi kecil, dia tak dapat menghentikan langkahnya.
Gubuk, mereka tiba disebuah gubuk aneh. Reot tapi tampak indah bagi mata Melin, atau mata Yosi. Suasana malam yang kelam dan menakutkan ini sekejap menjadi sebuah kebahagian di hati Yosi.
Pelukan ibundanya yang terakhir itu pun menjadi penghangat yang membuat hati gadis kecil itu menghangat lagi.
"Dimana kita, Buk!" ujar Yosi.
Pengaruh ajian lirep yang dirapalkan Mbah Sodik dikediaman Kinan tadi tampaknya sudah berhasil di cabut dari diri Yosi.
"Kita sudah tak punya banyak waktu lagi Tetua!" ujar Mbah Sodik.
Lelaki tua dengan blangkon dan surjan lurik itu tampak menarik paksa tangan Yosi, dari dekapan hangat ibunya.
"Kinan, tolong berikan Yosi pada kami. Kami harus mengembalikan hak atas anak ini!" kata Mbah Pawiro.
Perlahan tapi pasti, Kinan melepas Yosi. Gadis kecil yang saat ini berisi separuh jiwa Melin itu di tidurkan di sebuah meja. Meja yang diletakkan di tengah-tengah gubuk reot itu.
Sesajen sudah mengitari tubuh terbaring Yosi yang berjiwa Melin. Hanya bisa diam tanpa bergerak, meski Melin bisa mendengar isakan suara hati Yosi.
"Tolong...Ibu...Tolongggg aku...!" hanya kalimat itu yang dikatakan hati Yosi, berkali kali.
Gadis kecil itu tak berani untuk berkutik, dia tetap diam di posisinya. Tubuh kecilnya sekaku batang kayu, Yosi bahkan bernafas perlahan agar tak mengganggu perapalan mantra-mantra aneh yang dirapalkan oleh Mbah Sodik.
Seketika sebuah keris panjang yang meliuk-liuk, di angkat oleh Mbah Sodik tinggi-tinggi ke udara.
Jleppppppppp
Keris itu sudah menancap di jantung Yosi, arwah Melin ikut merasakan betapa menyakitkannya hal itu.
"Keparat kau, dukun anjing, bangsat!" sumpah serapah Melin di dalam tubuh Yosi.
Melin bisa merasakan tubuhnya melemas, dan rasa sakitnya berangsur-asur menghilang.
"Yosiiiii, bangunnnnn nakkkkkk!" teriak sebuah suara.
__ADS_1
Seketika mata Yosi yang masih sempat terbuka karena panggilan suara indah itu.
"Ibu!" bisik Yosi lemah.
"Tenang nakkkk, ada ibu di sini...Ibu akan ikut kamu!
"Ibu nggak akan ninggalin kamu Yosi, kamu anak ibu!" ujar Kinan.
Yosi hanya bisa tersenyum tipis, dan Kinan merenguh tubuh sekarat putrinya itu.
Kilatan api menjadi pemandangan terakhir Yosi, dua ibu dan anak itu dibakar hidup-hidup di gubuk mistis itu.
.
.
.
.
"Bajingan kaliannnnn!!!" teriak Melin.
Tubuhnya mengejang hebat dan sebuah dekapan hangat sudah merenguh tubuhnya yang syok.
"Lepaskan aku!" ujar Melin.
Dia segera mndorong dada bidang yang memeluknya.
"Sebentar lagi ibumu pasti sampai!" ujar Adrian.
"Om Adrian!" Melin menghapus air matanya.
Melin memandang ke sekitar tubuhnya yang terduduk di atas ranjang rawat.
"Huhhhhhhh!" Melin bisa bernapas lega.
Bagaimana dia bisa terperangkap di tubuh orang lain, siapa Yosi, Kinan, Mbah Sodik dan Tetua yang ada di mimpinya itu.
Melin kembali memandang ke arah tubuh kekar omnya yang masih duduk di pinggiran ranjang rawatnya.
"Om...?"
"Ada yang ingin kau katakan?" tanya Adrian.
Kenapa wajah tampan omnya malah kelihatan antusias begitu. Melin jadi takut mau bertanya.
"Enggak!" uajr Malin.
Tapi Melin malah kembali ingat dengan seseorang yang melukai bahunya. Pandangan Melin segera melihat ke arah bahunya, dan luka itu sudah di perban di bawak kaus putihnya.
"Orang yang melukaiku di pasar tadi, siapa Om?" tanya Melin.
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
__ADS_1