
Langit terbelah
Siluman Kera Putih itu malah tersenyum licik ke arah Jendral yang masih bugar, sementara dirinya sudah hampir mati.
"Jangan senang dulu bocah ingusan!!! Lawanmu yang sebenarnya akan segera datang!" kata Sarewa dengan nada senang, meski Siluman wanita itu merasakan rasa remuk di tubuhnya sendiri.
Jendral sama sekali tak bergeming dengan perkataan yang diucapkan oleh Sarewa. Baginya apa pun yang dihadapkan padanya akan dia lawan. Sebab dia telah tau, kenapa semua hal menjadi serumit ini.
Namun lawan sepadan yang dikatakan oleh Sarewa, tidak kunjung muncul di depan Jendral. Hasilnya bocah SMU itu kembali menyerang Sarewa yang sudah di kondisi yang tidak prima lagi.
Jendral maju tanpa ragu, yang mengarahkan tongkatnya untuk memukul perut Sarewa. Sarewa dapat menghindar, ternyata Siluman Kera Putih itu masih mempunyai kekuatan untuk menggerakkan tubuhnya.
Cambuk Kecrek Kecubung yang dia pegang, telah berubah menjadi pedang ungu yang amat tajam di kedua sisi mata pisaunya. Dengan pedang itu Sarewa mencoba melukai punggung Jendral, sambil menghindari serangan pukulan tongkat bocah SMU itu.
Namun pergerakan Jendeal lebih lincah daripada yang diperkirakan oleh Sarewa. Seolah bisa membaca pikiran Siluman Kera Putih itu, Jendral segera memutar tubuhnya dan kembali Mengayunkan tongkatnya untuk memukul Sarewa yang mencoba menyerang bagian belakang tubuhnya.
Bruakkkkkkkkk
Sarewa terjatuh dengan posisi memeluk tanah, mulutnya kembali mengeluarkan darah segar. Beberapa organ di dalam tubuhnya pasti mengalami kerusakan yang cukup parah, karena serangan yang Jendral lancarkan untuknya bukanlah serangan biasa.
Sarewa muntah darah tidak hanya sekali, dia muntah lagi dan lagi sampai tubuhnya melemas. Lalu nyawanya menghilang dari dunia ini.
Tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang sangat hebat, langit di sekitar tempat Jendral berdiri seolah terbelah menjadi dua.
Pandangan semua mata tentunya tertuju kepada langit yang terbelah itu. Cahaya biru cerah keluar dari sela-sela langit, lalu terdengar suara auman yang sangat keras, diiringi dengan gemuruh dan petir yang menyambar tanpa henti.
Angin di tempat itu mulai bertiup sangat kencang, menerbangkan beberapa puing-puing kecil reruntuhan Bangunan Keraton Dalam Milik Insagi.
Tubuh Jenderal yang masih dikelilingi oleh chakra merah yang sangat besar, terus memandang ke arah langit yang terbelah itu.
Wajah bocah SMU Itu tampak mengeras dan kesal, seolah-olah dia tahu apa yang akan datang menghampirinya setelah langit itu sepenuhnya terbelah.
.
.
.
.
Di tempatnya berdiri Melin dan Adrian juga melihat bagaimana langit terbelah itu. Angin yang kencang juga bertiup di Padang Rumput Tugu Mulia.
Kedua Insan itu terus memandang semakin lekat dan fokus ke arah langit yang terbelah.
"Apa itu?" tanya Melin binggung.
__ADS_1
"Insagi meminta bantuan pada Dunia Siluman!" kata Adrian.
Meskipun di wajahnya ada raut khawatir, tapi tidak ada segaris pun raut ketakutan di wajah Adrian. Lelaki itu sudah menduga bahwa Insagi pasti akan meminta bantuan kepada Dunia Siluman jika kondisinya semakin terpojok.
Adrian tak menyangka jika Jacson dan Jendral dapat membuat Insagi kalang-kabut, sampai-sampai Siluman Burung Garuda itu memanggil bantuan dari dunia Siluman secepat ini.
"Kita harus kesana secepatnya! Kita harus membantu Jendral dan Pak Jacson!" ujar Melin.
Melin yang benar-benar sangat khawatir menggenggam salah satu tangan Adrian. dia menariknya supaya Adrian mau mengikuti kemauannya.
"Disana bahaya!" ujar Adrian.
Adrian yang sangat mengkhawatirkan keadaan Melin, tidak mau mengikuti kemauan gadis belia itu.
Tugasnya adalah melindungi Melin sampai Bulan Merah selesai bersinar, hanya itu. Dia tidak peduli jika semua orang di dunia ini mati, asalkan dia berhasil membuat Melin tetap hidup.
Apalagi Jendral dan juga Jacson, baginya kedua orang itu. Bukanlah teman ataupun musuh, mereka bukan siapa-siapa bagi Adrian. Kematian mereka berdua, tidak akan merusak suasana hati ataupun pikiran Adrian.
"Karena itu kita harus ke sana!!! Kita harus membantu teman kita--kan!" bentak Melin.
Adrian hanya menatap wajah Melin dengan seksama, ekspresinya masih datar.
"Mereka berdua memutuskan ingin menolongmu! Biarkan saja mereka melakukan apa yang bisa mereka lakukan!" ucap Adrian.
"Kamu benar-benar enggak punya hati, Om!" teriak Melin.
Melin yang merasa tidak mungkin bisa merayu Adrian lagi, untuk diajaknya ke Istana Rahasia Insagi. Segera melepas genggaman tangannya.
Melin berjalan cepat menuju gapura tempatnya masuk ke area Padang Rumput Tugu Mulia. Melin Berencana untuk pergi ke Istana Rahasia Insagi tanpa Adrian.
"Kau mau kemana?" tanya Adrian.
Melin membalikan badannya kearah Adrian lalu berkata."Kau tahu apa yang paling menyedihkan di dunia ini?
"Kehilangan orang-orang yang kita cintai!
"Aku tidak mungkin membiarkan orang-orang yang yang berada di sekitarku, mengalami hal-hal yang buruk karena diriku!" ujar Melin.
Adrian segera mengejar Melin dan menangkap salah satu tangan gadis manis itu.
"Jangan kesana!" kata Adrian.
"Aku harus kesana!" jawab Melin.
"Kau mau mati?"
__ADS_1
"Semua orang pasti mati!!!"
"Tapi kau tak boleh mati!" nada bicara Adrian melemah.
"Kenapa aku tak boleh mati?" Melin semakin emosi.
"Karena jika kau mati, dunia akan menderita dan hancur!" ucap Adrian.
"Tidak masuk akal!" Melin masih dikuasai oleh emosinya.
Dia yang tak tau apa-apa tentang takdir dan semua hal tentang kehidupan lampaunya mana mungkin bisa mempercayainya.
"Kita pernah bertemu, ribuan tahun yang lalu.
"Saat itu aku membuatmu mati! Jadi kali ini, biarkan aku membantumu untuk hidup!" kata Adrian.
Melin terdiam, dia tak tau harus berkata apa Adrian terlihat tidak berbohong padanya. Namun dia sama sekali tak mengerti apa yang dibicarakan oleh Adrian, tentang pertemuan mereka berdua ribuan tahun yang lalu.
"Saat itu, aku memintamu untuk membuktikan rasa cintamu padaku!
"Sehingga kau merubah dirimu menjadi manusia dan harus menerima kutukan semacam ini!
"Jadi biarkanlah aku menebus dosa kepadamu, karena ribuan tahun yang lalu ataupun sekarang! Aku tetap masih mencintaimu!" ujar Adrian.
Melin semakin tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Adrian. Tetapi dia tahu, intinya mereka berdua pernah saling bertemu dan jatuh cinta seperti saat ini. Namun mereka memutuskan untuk hidup bersama, tetapi karena mereka tidak jodoh jadi sesuatu yang buruk menimpa mereka berdua.
"Aku sama sekali tidak mengerti apa yang Om katakan! Tetapi bagiku nyawa orang lain, lebih penting daripada nyawaku sendiri!" ujar Melin.
Dengan sangat kasar Melin melepas genggaman tangan Adrian.
"Baiklah kalau itu maumu. Aku akan melakukan apa yang kau inginkan! Karena dulu kau pernah melakukan hal yang sangat kuinginkan!" ucap Adrian, yang kembali menggenggam tangan Melin. Dia memeluk gadis belia itu, lalu membawa serta kekasihnya itu untuk berteleportasi ke Istana Rahasia Insagi.
~◇~◇~◇~
Aku tidak tahu apa yang terjadi ribuan tahun lalu. Namun aku yakin dengan perasaanku yang sekarang.
Dia bilang ribuan tahun yang lalu, kita pernah bertemu dan saling mencintai. Namun kita dilahirkan sebagai makhluk yang berbeda, kau seorang malaikat penjaga dan aku hanyalah manusia biasa.
Karena aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin kehilangan dirimu. Jadi aku memaksa kamu, untuk merubah dirimu menjadi manusia juga.
Tetapi statusmu sebagai Malaikat Penjaga tidak bisa tergantikan, sehingga kau mendapatkan kutukan dan kematian yang mengerikan.
Adrian
~◇~◇~◇~
__ADS_1
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤