
Jiwa Pendosa
'Sarewa, Aya, mundurlah!'
Pesan dari Insagi, yang dikirim melalui telepati kepada dua anak buahnya.
Sarewa dan Aya tampak begitu kebingungan ketika mendengar suara Insagi di dalam kepala mereka. Bukan karena kaget karena Insagi dapat menghubungi mereka melalui telepati. Namun karena perintah Insagi yang menurut Sarewa dan Aya tidak masuk akal.
Karena kedua Siluman berjenis kelamin wanita itu, mendapatkan perintah dari Insagi untuk membunuh Adrian dan juga Jackson sebelum matahari terbenam.
Dan hari ini matahari bahkan masih berada di atas kepala mereka. Mereka masih punya waktu untuk membunuh Adrian dan juga Jacson, tetapi kenapa Insagi menarik mereka untuk mundur.
Tak ada satupun orang lain yang dapat mendengar pesan telepati dari Insagi pada Aya dan Sarewa. Tetapi Melin dapat mendengarnya secara jelas.
"Seseorang menyuruh dua Siluman itu mundur!" kata Melin.
Jendral yang mendengar ucapan Melin segera berpendapat. "Insagi! Siluman Burung Garuda itu pasti mengirim mereka pesan melalui telepati!".
Melin kembali menatap aneh ke arah Jendral yang berdiri di sebelahnya.
"Apa kau bisa membaca pikiran orang lain?" tanya Melin pada Jendral.
"Tidak," jawab Jendral.
"Lalu kenapa kau tahu, bahwa aku bisa mendengar gelombang telepati yang dikirim oleh Insagi kepada dua Siluman itu?" Melin kali ini benar-benar mendesak Jendral, untuk mengatakan alasan kenapa lelaki itu bisa berubah sedemikian rupa dalam jangka waktu semalam saja.
'Sarewa, jangan menyerang lagi!' gelombang suara Insagi kembali didengar oleh Melin.
'Maaf Tuan, tapi aku ingin membunuhnya sekarang juga!' ternyata Sarewa bisa menjawab pertanyaan Insagi di dalam gelombang telepati itu. 'Aku harus membunuh Jiwa Suci itu!'.
Melin yang mendengar semua ucapan di dalam gelombang telepati itu, langsung tersentak kaget. Ternyata yang diincar oleh Sarewa bukanlah Adrian, tetapi adalah dirinya.
Namun kenapa Sarewa begitu sangat ingin membunuhnya tanpa melalui ritual, apa yang sebenarnya diinginkan oleh Siluman Kera Putih tersebut.
'Jangan nekat! Jika kau sembarangan, bukannya kau bisa membunuh Jiwa Suci! tapi kau malah terbunuh nantinya!
__ADS_1
'mundur saja!!!' Insagi masih berusaha untuk menasehati tangan kanannya itu, melalui gelombang telepati yang dia ciptakan.
'Kita tak bisa kembali ke Dunia Siluman, jadi kita harus menguasai Dunia Manusia ini!' ternyata itulah keinginan Sarewa selama ini.
Semua orang pasti mempunyai keinginan di dalam hatinya. Namun siapa yang menyangka jika keinginan orang-orang yang berkumpul di dalam satu tempat yang sama, bisa mempunyai perbedaan yang cukup signifikan.
Belum sempat Melin mengatakan apa pun, kepada siapapun. Sarewa sudah melempar bola petir yang berada di tangannya kearah Melin dan Jendral, yang masih berdiri bersama di dekat mobil.
Semua mata yang melihat kejadian itu hanya bisa terbelalak, karena Adrian yang berada di dalam Ajian Tameng Sadewo miliknya tidak bisa bergerak dengan cepat.
Sementara posisi Jacson dengan Melin terpaut sangat jauh. meskipun Jacson mempunyai pergerakan yang cukup gesit, tetapi Kades Desa Air Keruh itu tidak akan bisa menyelamatkan Melin dari cepatnya bola petir yang dilempar oleh Sarewa.
Bola petir berwarna biru dengan kilatan yang mengerikan itu, semakin mendekat ke arah Melin. Yang membeku tanpa bisa menggerakkan tubuhnya karena diliputi oleh rasa ketakutan.
Duarrrrrrrrrr
Bola petir itu mendarat, dengan suara dan kilatan yang amat mengelegar.
Adrian dan juga Jacson yang berada cukup jauh dari pusat serangan. Bahkan bisa merasakan Getaran yang dihasilkan oleh benturan mematikan itu.
Perasaan di hatinya sudah tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata lagi. Wajah tampannya hanya terlukis kekalutan, tubuh kekarnya yang sudah menaggalkan Ajian Tameng Sadewo saktinya seolah tak sanggup berlari ke arah Melin.
Jlepppppppppp
Adrian lengah, Siluman Kera Putih yang berhasil mengalihkan perhatian Adrian. Sudah melancarkan serangan lagi ke arah tubuh Siluman Harimau Putih yang tak dilindungi oleh apa pun.
Sebilah pedang panjang sudah menancap di punggung Adrian, lelaki itu pun sadar. Jika dirinya sudah terkena serangan susulan dari Sarewa.
Namun darah yang mengucur deras dari luka yang ditimbulkan oleh pedang panjang milik Sarewa itu. Seolah tak menimbulkan rasa sakit di tubuh Adrian, karena Adrian bahkan tidak menoleh kearah Sarewa yang berdiri di belakangnya.
Lelaki gagah itu hanya fokus ke arah Melin berada. Dengan pedang yang masih menancap di punggungnya, Adrian masih berusaha berjalan untuk mendekati tempat di mana Melin terkena serangan bola petir Sarewa.
Langkahnya tertatih karena sakit yang dihasilkan dari luka tusukan pedang itu, mumgkin tak dia rasakan. Namun tubuhnya bisa dia bohongi, darah segar yang terus mengucur dari lukanya. Membuat pertahanan tubuh Adrian melemah dalam sekejap.
Tidak ada tubuh manusia yang bisa bertahan jika darah yang berada di tubuh mereka, berkurang dalam jumlah banyak, di waktu yang sekejap. Jadi tubuh Adrian terduduk begitu saja di atas tanah. Lelaki itu sudah tak punya banyak tenaga untuk bergerak lagi.
__ADS_1
Tentu saja Sarewa tersenyum licik penuh kemenangan, Begitu juga dengan Aya yang masih menggunakan ekornya untuk membatasi pergerakan Jacson.
Jacson tidak mungkin diam saja ketika teman seperjuangannya mengalami nasib yang begitu tragis. Dia segera mengumpulkan chakra di dalam tubuhnya untuk melawan Siluman Kucing Hitam.
"Uwaaaaaaaaa!" teriak Jacson.
Lelaki yang saat ini berada di tubuh manusianya, sudah berubah menjadi ke wujut Siluman Kelelawar. Siluman Kucing Hitam yang masih berusaha untuk mempertahankan ekornya, agar selalu melilit tubuh Jacson pun, terlihat sudah mulai kewalahan.
'Tuan Insagi kita telah menghancurkan Jiwa Suci itu!' ujar Sarewa
Dengan nada bahagia penuh kemenangan, melalui telepati nya yang masih tersambung kepada Insagi.
Jacson merenggangkan sayap kelelawarnya hingga ekor Siluman Kucing Hitam yang membelenggunya terlepas. Saking kuatnya tenaga yang dikeluarkan Jacson, untuk melepas belenggu Si Aya. Siluman cantik itu sampat terpental cukup jauh.
"Kurang ajar kau, Siluman Kelelawar, lemah!" cecar Aya.
Siluman cantik itu masih besar omong, meskipun darah segar sudah dia muntahkan dari mulutnya.
Api berkobar dari badan mobil Jacson karena terkena petir yang dilayangkan oleh oleh Sarewa. Api besar itu mengusir asap tebal, yang awalnya menutupi pandangan mata.
Manik mata Adrian masih sayup-sayup dapat melihat sekitarnya. Wajahnya yang sudah putus asa itu, melihat dengan nanar ke arah si jago merah yang begitu bern.a.f.s.u membakar mobil Jacson.
Dipikiran Adrian telah berkecamuk banyak hal, meskipun dia hanya bisa meminta satu permintaan. Permintaannya masih sama dari hari kemarin yaitu 'Tolong selamatkan Melin, apa pun yang terjadi'.
Adrian mulai kehilangan kesadarannya, tetapi dia masih bisa merasakan bahwa ada seseorang yang mengangkatnya dari sana. Dia berpikir Jacson telah berhasil mengalahkan dua Siluman wanita yang setengah sekarat itu. Lalu membawanya pergi untuk alasan keamanan.
"Om bangun!!! Om Adrian!" suara lembut nan indah itu menggema mesra di telinga Adrian.
"Apa kita sudah berada di surga?" tanya lelaki sekarat itu.
Adrian menanyakan itu, karena dia bisa melihat wajah Melin dan mendengar suara gadis itu meski samar-samar.
Dunia mungkin tidak mengijinkannya bersama dengan Melin. Tetapi siapa tahu surga mau menerima dua jiwa pendosa seperti dia dan juga Melin.
___________BERSAMBUNG_____________
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤