
Rintik hujan masih terus turun, membasahi setiap sendi kehidupan di Desa Air Keruh ini. Tengah malam telah lewat, semua orang terlelap di ranjang mereka masing-masing. Menikmati kelelapan yang gelap, mengarungi mimpi yang senantiasa bergerak sesuai gelombang otak mereka.
Hari ini bukan malam jumat, apa lagi malam jumat kliwon. Tak ada satu--pun warga yang ronda, apa lagi berkeliaran di jam satu dini hari ini.
Melin dan bundanya tidur di salah satu kamar di rumah Jacson. Padahal gadis itu tak ingin tidur malam ini, karena hatinya sedang gelisah dan khawatir pada Adrian.
Sementara Jendral sudah berbaring di atas kasurnya, lelaki muda itu juga tampak tertidur dengan lelapnya. Hati dan pikirannya sedang kacau karena pengakuan Melin tadi. Harusnya dia tak bisa tidur malam ini.
Jacson tampak menyandarkan kepalanya di atas meja kerjanya, dia juga tertidur amat lelap. Di meja kerjanya masih berhamburan dokumen khasus pembunuhan Desa Air Keruh, yang diberikan oleh kepala polisi.
Bahkan Adrian yang masih duduk bersandar di tebing tertidur sangat lelap. Pemuda itu seolah melupakan rasa sakit di hati dan di sekujur tubuhnya.
.
.
Ajian SIREP NDALU sedang dikumandangkan oleh bibir seseorang. Lantunan sastra berbahasa sansekerta itu begitu merdu, tak seperti mantra perdukunan yang mengerikan. Yang dibaca oleh kebanyakan dukun, dengan gaya yang terlihat mistis dan misterius.
Bisa terlihat rambut panjang wanita yang mengumandangkan mantra itu, mengeliat karena hembusan angin. Bibir itu berhenti berkata, dan mata wanita itu terbuka. Manik mata merah menyala itu memandang tajam ke depan, dengan senyum menyeringai.
Wanita yang sudah siap dengan tudung merah di kepala dan tubuhnya itu mulai mefokuskan dirinya. Tampak jelas apa yang akan dia lakukan, yang pasti sesuatu yang jahat.
Wanita Bertudung Merah itu bersila di atas dipan di dalam sebuah rumah. Di depannya sudah banyak sajen berupa bunga tujuh rupa dan berbagai benda mistis yang yang tidak boleh disebut namanya secara sembarangan.
Wanita itu mengambil sebuah belati, yang tadinya dicelupkan pada sebuah kendi. Kendi tanah yang dipenuhi dengan air dan kelopak bunga berbagai warna.
Dia menyayat telapak tangannya dengan belati tersebut dan meneteskan darahnya di atas burung gagak yang sudah mati. Lalu dia kembali mendendangkan mantra ajian lain.
Bebarengan dengan diucapkannya mantra itu, arah angin mulai tak tentu dan hujan menjadi semakin deras. Kilatan petir mulai menyambar diiringi gemuruh yang sangat menggelegar.
Namun keriuhan alam semesta itu tidak membangunkan, satu orang pun di Desa Air Keruh. Semua warga tidur sangat lelap, seperti mengkonsumsi obat tidur. Itulah efek yang dihasilkan oleh ajian SIREP NDALU.
__ADS_1
Burung yang sudah mati dan berlumuran darah manusia itu, di lempar wanita itu ke dalam kepulan api yang dia nyalakan di sebuah tungku tanah liat kuno. Perlahan-lahan jasad burung itu terbakar oleh api suci yang sudah dimantrai.
Kepulauan asap itu naik ke atas atap bangunan yang dibuat wanita itu untuk menjalankan ritualnya. Semakin lama kepulan asap itu tembus keluar dari celah genteng atap rumah Arinda.
Pelantun mantra-mantra mistis itu adalah Arinda, tampak jelas wanita itu waras kali ini. Pandangannya tajam dan memiliki maksud tertentu, tak seperti biasanya. Pandangan yang selalu kosong dan tampak tak memikirkan apapun. Apakah Arinda hanya pura-pura gila.
"Akan kubunuh kalian semua! Kalian harus membayar semua perbuatan kalian!" kata Arinda dengan nada yang sedikit mendesis.
.
.
.
.
Malam itu Mbah Karyo sudah sampai di rumahnya, dia melihat ke arah langit dari jendela rumahnya. Namun pandangan sombongnya berubah seketika, nampak jelas di wajahnya terdapat raut kekhawatiran yang sangat tajam.
Tubuh pria renta itu terus berguling ke kanan dan ke kiri, mencari posisi yang nyaman. Namun hal itu tak dapat ditemukan di atas dipan kasurnya.
Telinganya mendengar suara gemuruh dan hujan mulai turun, matanya kembali terbelalak. Mbah Karyo ingat betul tentang kejadian Hujan Teluh yang terjadi 60 tahun yang lalu.
Seluruh warga desa bilang bahwa mereka tertidur nyenyak sekali, di malam kejadian Hujan Teluh itu. Banyak pohon yang roboh dan gubuk-gubuk di sawah yang hancur. Namun tak ada warga Desa Air Keruh yang terluka di malam mengerikan itu. Sementara Desa Pilip yang terletak tepat di sebelah Desa Air Keruh, hancur berkeping-keping dan banyak korban yang berjatuhan di malam itu.
Mbah Karyo merasa tidak tenang hatinya, dia turun dari ranjangnya dan berjalan pelan keluar dari kamarnya. Saat dia melewati ruang depan rumahnya dia mendengar sesuatu yang aneh, lalu pandangan mata rentanya menatap lurus ke arah pintu yang tertutup.
Jebrettttttttt
Sluttttttt
Gradakkkkkkk
__ADS_1
Mbah Karyo mengucek kedua bola matanya, dia ingin memastikan apakah yang ia lihat saat ini adalah kenyataan atau khayalannya belaka. Karena baru saja ia melihat, slot dan gembok kunci di pintunya terlepas sendiri.
Detak jantungnya seketika meningkat dan orang tua itu menahan nafasnya.
Kriettttttttttt
Pintu itu terbuka dan mata tua itu melihat sosok yang langsung membuatnya tercengang. Dengan langkah gemetar, Mbah Karyo berusaha mundur untuk menghindari makhluk yang membuka pintu rumahnya secara gaib itu.
Namun makhluk yang baru saja datang ke rumah Mbah Karyo itu, terus mendekati lelaki tua renta itu dengan langkah santai. Tudung merahnya berkelebat-kelebat, terkena angin yang masuk dari dalam pintu. Wajahnya yang sudah berubah menyeramkan, menatap lurus kearah Mbah Karyo yang sudah ketakutan.
"Siapa kamu?!" Mbah Karyo masih berusaha sok berani.
Makhluk itu tak menjawab perkataan Mbah Karyo.
"Apa salahku? Kenapa kau datang kemari?!" suara tua itu mulai bergetar.
Mbah Karyo pun berlari ke arah dapur, pria renta itu ingin kabur dari pintu belakang rumahnya. Dengan susah payah Mbah Karyo berusaha membuka kunci pintu dapurnya, yang berupa beberapa kunci slot dengan berbagai ukuran.
Namun saat pintu belakang rumah Mbak Karyo bisa dibuka oleh pria renta itu. Makhluk mengerikan itu ternyata sudah tiba di sana duluan, dia menghadang langkah Mbah Karyo tempat di depan pintu belakang rumah Mbah Karyo.
Lagi-lagi langkah kaki tua itu hanya bisa mundur untuk menghindari makhluk mengerikan di depannya. Sampai tubuh pria renta itu terjungkal karena sangat ketakutan, Mbah Karyo masih berusaha menghindari makhluk yang tidak pernah ia temui itu.
"Ampuni saya! Ampuni kesalahan saya!" Kata Mbah Karyo. Padahal dia tidak tahu apa penyebab makhluk itu mendatanginya.
Jemari tangan yang sudah mengering, menghitam, hanya tinggal tulang dan kulitnya itu. Berayun sambil menggenggam sebilah belati, yang siap ditancapkan ke mana saja oleh makhluk mengerikan itu.
Mata Mbah Karyo sudah memerah, wajah penuh keriputnya sudah basah oleh keringat dingin. Detak jantungnya sudah tak beraturan dan nafas lemahnya sudah tersenggal. Bulu kuduknya meremang, karena angin malam yang masuk dari pintu belakang dan depan rumahnya.
Mbah Karyo merasa malam ini adalah malam terakhirnya di dunia ini.
___________BERSAMBUNG_____________
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤