
Perlahan tapi pasti bibir Jacson mendekat ke arah bibir Melin, mereka masih sama-sama membuka matanya. Keduanya merasakan rasa takut ditolak oleh satu sama lain.
Sebuah kecupan, akhirnya kelayangkan oleh Jacson di atas bibir Melin. Tak hanya sekali, kecupan manis itu diulang-ulang oleh Jacson. Sampai keduanya kini, memejamkan mata mereka masing-masing untuk menikmati alunan mesra yang sangat miris ini.
Disaat mereka menikmati ciuman yang manis ini, tanpa mereka sadari seseorang telah mendekat ke arah mereka.
Jacson dan Melin berdiri di pinggir jalan, meski pun jalan ini berujung buntu. Satu-satunya jalan menuju pondok di mana Adrian berada. Mereka pasti berpikir, bahwa tidak akan ada manusia yang melewati jalan ini, di sore hari seperti ini.
Tapi sebuah langkah, dengan sepatu boots. Berjalan santai ke arah mereka.
Buakkkkkkkkkk
Orang itu memukul ke arah, dua orang yang sedang menikmati rasa manisnya berciuman dengan perasaan penuh cinta.
"Apa kau tidak bisa membawanya ke tempat yang lebih sepi?
"Bagaimana jika ada orang yang melihat, kalian melakukan ini?" tanya lelaki yang mendekati mereka berdua.
Jacson yang masih dikuasai rasa terkejut, segera memeluk tubuh Melin yang sudah lemah tak berdaya.
Lelaki yang mendekati mereka ternyata adalah Adrian, namun dia memukul Melin sampai pingsan.
"Apa kita akan melakukan ritual itu secepatnya?" tanya Jacson pada Adrian.
Tak seperti biasanya yang terlihat permusuhan Jacson dan Adrian. Di sini mereka berdua, terlihat sangat akrab dan seperti sering bertemu dan mengobrol bersama.
"Akan langsung kubawa dia ke gubuk itu sekarang!" kata Adrian.
"Kau pernah tidur bersama dia sekali--kan?" tanya Jacson.
Tanpa syarat Jacson, memberikan tubuh melin yang sudah lemah itu ke arah Adrian. Adrian pun dengan cermat menangkap tubuh Melin.
"Kau pasti akan dapat giliran, jangan membahas hal-hal yang tidak penting!" kata Adrian.
Terlihat jelas di sini Adrian tidak sedang dikendalikan oleh roh iblis. Ini adalah asli dirinya yang sebenarnya.
"Jika kamu nggak berbuat kisruh di pesantren, kita pasti sudah bisa menikmati tubuh gadis ini!" kata Jacson dengan senyum mesum.
"Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa lepas kendali seperti itu!
"Padahal selama ini, aku tidak pernah dikuasai oleh makhluk itu!" kata Adrian.
"Kau harus cepat! Aku sudah tidak sabar melihat gadis itu telanjang!" kata Jacson.
"Bagaimana dengan Jendral, apa kai sudah membereskannya?" tanya Adrian.
"Kurasa kita tidak perlu khawatir dengan hal itu, mereka sudah saling jatuh cinta!" ujar Jacson.
__ADS_1
Wajah Kepala Desa Air Keruh yang biasanya mengayomi dan sangat tulus itu, kini menjadi penuh dengan tipu muslihat.
"Jangan meremehkan hal sekecil apapun, karena ritual ini sangat penting! "Jika kau tidak ingin mati?!" ujar Adrian.
Seperti biasanya Adrian terlihat sangat cuek dan kasar.
"Kenapa kamu mengulur waktu selama ini, hehhhh?" tanya Jacson.
Padahal sudah direncanakan oleh mereka berdua, bahwa di hari Melin datang ke Desa Air Keruh. Mereka akan langsung menjalankan ritual bejat itu, untuk mendapatkan ilmu yang lebih tinggi dan kehidupan yang lebih layak.
"Awalnya aku sedikit ragu! Karena aku tidak mengenali gadis ini, sebagai tumbal! "Tapi entah kenapa setelah Arinda menyerangnya, aku langsung merasakan koneksi itu.
"Melin memang tumbalnya, tidak salah lagi!" kata Adrian.
"Mungkin karena kau sudah lama tidak bertapa! Jadi kesaktianmu menerawang sesuatu, sedikit luntur!" ejek Jacson.
"Jangan banyak bicara! Urus saja Jendral, dia berada di urutan kedua!" kata Adrian.
"Yang pertama?" tanya Jacson.
"Aku!"
"Ini tidak adil, kenapa aku selalu yang terakhir?" tanya Jacson kesal.
"Kau itu hanya pelengkap untuk ritual, tidak ada kamu juga tidak papa!" kata Adrian.
"Aku masih ingat betul bagaimana kami melakukan ritual itu.
"Kami memilih seorang mahasiswa yang menjalani KKN di daerah ini!
"Tapi Lastri, sama sekali tidak mirip dengan mahasiswa itu!" kata Jacson.
"Kau mengikuti ritual itu?" tanya Adrian.
"Aku, kakakmu dan Sarul ayah Jendral! Kau pikir orang-orang tua itu masih kuat?" tanya Jacson.
Yang dibicarakan oleh Jacson adalah ayahnya dan juga Mbah Bagio, serta kakek Jendral.
"Kalau begitu kau juga urus Lastri!
"Apa pun caranya jangan biarkan wanita itu mengetahui tentang ritual ini!" kata Adrian.
"Boleh aku membunuhnya!" tanya Jacson.
"Bunuh saja!" kata Adrian.
.
__ADS_1
.
Adrian masih terus berjalan, dengan tubuh Melin yang ia gendong di belakang punggungnya. Langkah kaki pemuda itu menyusuri setiap jangkal, perkebunan kelapa sawit. Matahari semakin mengurangi sinarnya, pertanda hari akan segera gelap.
Wajah dingin dan tegas Adrian masih tampak sama, rasa belas kasih yang ia tunjukkan beberapa hari ini kepada Melin, hanyalah sebuah tipu daya.
Agar Melin tidak kabur lebih jauh dari jangkauannya. Adrian harus bekerja sama dengan Jacson, untuk melakukan beberapa trik. Agar Melin tidak kembali ke Jakarta lebih cepat.
Matahari sudah tidak menampakkan sinarnya lagi. Cukup memakan waktu lama, perjalanan yang diambil oleh Adrian dengan berjalan kaki. Karena untuk menuju pondok mistis, tidak ada kendaraan yang sanggup melewati. Karena betapa terjalnya medan yang harus ditempuh.
Senyum menyeringai sudah terbit di wajah Adrian, bisa diperkirakan apa rencana Adrian dengan tubuh Melin yang sudah lemas.
Akhirnya langkah kaki pria itu terhenti, di depan semak belukar yang amat tinggi.
"Ternyata dia merawatnya dengan baik!" kata Adrian.
Entah apa yang dipuji oleh Adrian, karena di depannya hanya ada rumput liar yang setinggi dadanya. Tanpa basa-basi lagi, lelaki itu memejamkan matanya dan mulai merapalkan mantra-mantra dalam bahasa sansekerta.
Perlahan-lahan pemandangan belukar yang amat tinggi itu, berubah menjadi sebuah rumah pondok yang lumayan layak huni.
Senyum Adrian semakin lebar, pandangannya juga semakin berbinar. Karena malam ini dia dapat menikmati tubuh Melin sesuka hatinya. Dan dia tidak perlu berpura-pura lemah-lembut lagi, di depan gadis yang akan memuaskan seluruh hasrat kelelakiannya itu.
Kondisi di dalam pondok itu, tak jauh berbeda dengan dua pondok sebelumnya. Hanya saja pondok ini terlihat cukup terawat. Tapi tidak ada yang tahu siapa yang merawat pondok ini, selain Adrian dan juga Jacson.
Adrian menurunkan tubuh Melin yang masih pingsan, di satu-satunya ranjang di pondok itu. Lalu lelaki itu menotok beberapa bagian tubuh Melin, agar Melin sadar.
Gadis belia itupun sadar dari pingsannya, namun sepertinya Melin tidak terlalu kaget dengan kehadiran Adrian di depannya. Melin hanya mengira dia pingsan karena mengingat ingatan Arinda, saat dicium Jacson.
"Di mana aku, Om?" tanya Melin dengan nada imutnya.
"Di pondok dekat tebing! Apa kau lupa?" tanya Adrian.
"Ternyata Pak Jacson sudah, membawaku ke sini. Aku pasti ketiduran pas di atas motor!" kata Melin.
Gadis itu teringat akan ciuman yang ia lakukan dengan Jacson. Melin hanya berharap, semoga Adrian tidak mengetahui tentang hal itu.
"Mandilah ini sudah sore!" perintah Adrian pada Melin.
"Mandi??? Tapi aku nggak bawa baju ganti!" kata Melin.
Sebenarnya Melin ingin menanyakan tentang keberadaan Pak Jacson, apakah Kades Air Keruh itu sudah pulang dan meninggalkannya di sini. Atau pria paruh baya itu, dihajar habis-habisan oleh Andrian. Tapi melin mengurungkan niatnya untuk bertanya, dia lebih baik menuruti apa perintah Adrian saja.
"Aku membawa bajumu yang kau beli waktu, di mol. Sudah kusiapkan di kamar mandi!" kata Adrian.
Lelaki itu masih setia, duduk di samping Melin yang sekarang duduk di atas ranjang tidur.
___________BERSAMBUNG_____________
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤