Hujan Teluh

Hujan Teluh
Permintaan Melin


__ADS_3

Permintaan Melin


Angin bertiup, menengelamkan kekelaman di area Desa Air Keruh. Sayup-sayup berbagai macam suara hewan malam mulai menggema di udara.


Hawa dingin menggigit setiap pori-pori kulit manusia di Desa. Kabut tebal mulai menyelimuti setiap sisinya.


Jendral masih berdiri tegak di sana, ditempatnya berdiri dari tadi.


Kegelapan, rasa dingin dan rasa perih, luka sayatan yang terletak di lehernya. Banyak hal lainnya yang tak terasa di indra perasa Jendral.


Dia hanya bisa merasakan jantungnya seolah remuk, ngilu seperti teremat-remat. Organ dalamnya itu seolah pernah dicabut dari tempatnya. Dia begitu sakit di area itu.


Pemuda itu berusaha menahannya dengan menekan dan menepuk-nepuk pelan dadanya. Namun rasa sakit itu makin menjadi dan menjalar ke seluruh area tubuhnya. Hingga dia terjatuh bersimpuh di atas tanah.


Ia masih meremas dadanya dengan ekspresi wajah yang menahan sakit. Dia sangat sakit, pemuda itu begitu merasakan rasa sakit yang tak bisa dia tahan lagi.


Dia meringis, terisak lirih, dan kini dia berteriak. Karena tak bisa menahannya lagi.


Pernah kau merasa ingin mati tapi kau tak bisa mati?


Pernah kau merasa ingin menyerah tapi tak bisa memyerah?


Apa kau pernah ingin berhenti tapi tidak bisa?


Perasaan seperti itu yang kini mengerogoti diri Jendral. Lelaki muda belia itu mencoba memikul perasaan berat itu. Ia mencoba bertahan sekuat tenaga sampai di titik ini.


Namun dia tetap menjadi pihak yang kalah, dia tetap menjadi jiwa yang harus mengalah. Karena begitulah takdir tertulis.


.


.


.


.


Malam makin mencekam, laju mobil Adrian belum berhenti. Lelaki gagah nan tampan itu masih fokus pada kemudinya, dari tadi ia hanya melihat ke depan.


Dia sedang mengumpulkan keberanian untuk melihat ke arah Melin, yang duduk di sampingnya. Karena tak ada pergerakan, apa lagi suara Melin yang selalu saja terdengar nyaring di telinga Adrian.


Gadis itu tertidur di sana, di kursi penumpang. Barulah Adrian berani menatap wajah gadis manis itu lekat-lekat.


'Aku rindu kamu' gumam Adrian di dalam hatinya.


'Apa kau pernah rindu padaku' lelaki itu kembali bertanya di dalam hatinya.


"Apa semua siluman minum darah manusia?" tanya Melin dalam tidurnya.


Segera Adrian kembali fokus pada kemudinya lagi. Lelaki itu mencoba menenangkan hatinya, yang tadi terus bergetar. Karena dia melihat wajah gadis manis di sampingnya, secara intens dan penuh perasaan.


"Apa yang dimakan siluman sepertimu?" tanya Melin lagi.

__ADS_1


"Kenapa kau bertanya, hal seperti itu?" tanya Adrian.


Lelaki gagah itu sulit untuk menjawab pertanyaan Melin. Dia tidak mungkin mengatakan kalau, dia memakan daging mentah setelah menjadi siluman.


"Bukankah siluman juga makhluk hidup, kalian pasti butuh makan?" tampaknya Melin benar-benar ingin tahu, menu makanan apa. Yang paling disukai oleh siluman, seperti Adrian ini.


"Kau tidak perlu khawatir, karena tidak banyak siluman yang menyukai daging manusia!" kata Adrian.


"Lalu kenapa siluman yang berada di tubuh Tante Arinda, memakan semua angota pasukan keamanan negara itu?" Melin benar-benar tidak mau menyerah.


"Aku dan dia berbeda jenis! Setiap jenis siluman, mempunyai kebiasaan dan juga cara makan yang berbeda-beda!" jelas Adrian.


"Kau tidak mungkin memakan tumbuhan--kan?" tanya Melin.


"Diam--lah!" bentak Adrian pada Melin.


"Kau pasti tak jauh beda dari Siluman di tubuh Tante Arinda,


"Terlihat dari perangimu. Kau tak akan sudi, memakan daun!" ujar Melin kesal.


Gadis manis itu paling tak suka dibentak, dan dia sudah berkali-kali dibentak oleh Adrian selama perjalanan ini. Jadi dia benar-benar merasa sangat kesal.


"Aku hanya memakan daging, apa kau mau kumakan?" tanya Adrian.


Tantu saja ancaman Adrian itu tidak serius, dia hanya ingin menakuti Melin saja. Namun tampaknya Melin tidak bergeming sama sekali, dia tidak takut dengan ancaman adrian barusan.


"Sudah kuduga, kau pasti akan mengatakan hal itu!" ujar Melin.


"Bagaimana kau akan membunuhku?" tanya Melin pada Adrian.


Lelaki itu tampak bingung, karena dia tak mungkin mengatakan rencana rahasianya pada Melin.


"Aku butuh persiapan..."


"Jangan kabur lagi, jika kau kabur dariku. Maka semua akan bertambah runyam!" ujar Adrian.


"Apa kau akan mengamuk di tengah kota, menggunakan kekuatan silumanmu?" tanya Melin.


Gadis belia itu sama sekali tak menaruh rasa sopan santun pada Adrian, yang usianya jauh lebih tua darinya.


Memang Melin sangat tak bermoral, tapi rasa bencinya pada Adrian. Seolah-olah bisa membebaskan Melin dari dosa, karena menginjak-injak harga diri lelaki gagah nan tampan itu.


"Aku bisa melakukan hal yang lebih mengerikan, dari sekedar itu!" ujar Adrian.


Adrian tak ingin Melin jauh darinya, karena nyawa gadis itu tengah dalam bahaya. Semua siluman yang ada di bumi ini, tengah mengejar jiwa Melin. Untuk mareka jadikan tumbal agar mereka mendapatkan keabadian.


"Apa Yanuar, ayahku sendiri yang akan membunuhku?" tanya Melin.


Rahang pria itu mengeras, lagi-lagi Melin melempar pertanyaan yang susah untuk ia jawab.


"Apa ayahku menikahi ibuku hanya, agar ada diriku.

__ADS_1


"Hanya agar aku lahir, dan dia jadikan tumbal?" tanya Melin.


"Mungkin saja!" jawab Adrian.


Lelaki itu tak tau tujuan pasti Yanuar. Siluman Macan Kumbang itu tak pernah mengatakan apa pun, selain memerintahkan untuk menjaga Melin. Ketika Melin sampai di Desa Air Keruh.


Setahu Adrian Yanuar sudah mencapai keabadian sejak lama, bahkan sebelum kutukan Hujan Teluh di Desa Air Keruh ini terjadi.


Lalu untuk apa Yanuar menginginkan jiwa Melin, untuk apa--kah.


"Jangan salahkan aku, jika aku menjadi kejam nantinya!


"Karena aku mempunyai ayah seorang siluman psikopat!" kata Melin.


Gadis manis itu membuang pandangannya ke arah jendela, dan terus menatap ke arah luar. Tanpa memperhatikan Adrian, yang tengah menatap tajam ke arahnya.


Melin terus memperhatikan pinggir jalan sekitar, yang semakin rimbun dengan pepohonan serta rumput liar yang tinggi.


Memang tidak ada rasa takut yang menguasai diri Melin. Gadis itu merasa bimbang tentang sebuah hal.


Sebab saat dia bercinta dengan Adrian, dia sempat meminta sesuatu dalam hatinya. Gadis manis itu meminta, agar dia dapat membunuh Adrian dengan tangannya sendiri.


Antara senang dan juga sedih. Melin tidak bisa membayangkan hal lain, selain memikirkan cara untuk membunuh Adrian selama ini. Namun saat kabar baik datang dia malah merasa ragu.


Adrian berhasil menjadi siluman seutuhnya, permintaannya juga pasti akan menjadi kenyataan--kan.


Tanpa mereka sangka-sangka hujan mulai turun kembali, dan Adrian menghentikan laju mobil SUV yang ia kendarai.


"Ada apa?" tanya Melin kaget.


"Ada seseorang yang sudah sampai di sana, sebelum kita!" ujar Adrian.


Akhirnya Melin menatap kearah wajah Adrian, dia bisa melihat wajah tampan itu, terlihat sangat khawatir.


"Emang siapa?" tanya Melin dengan nada yang sangat santai.


"Siluman yang juga mengincar nyawamu!" kata Adrian.


Mereka berdua sama-sama menyapukan pandangan mereka, ke arah keluar dengan fokus.


"Siluman apa sekarang?" tanya Melin kepada Adrian.


"Orang awam menyebutnya putri duyung!


"Namun dia adalah siluman paling kejam, di antara semua siluman yang ada di bumi!" kata Adrian.


Putri duyung memang sangat dikenal masyarakat kita, sebagai seorang siluman perempuan dengan tubuh setengah ikan. Mempunyai wajah yang sangat cantik jelita dan baik hati.


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2