Hujan Teluh

Hujan Teluh
Permohonan Kinan


__ADS_3

Permohonan Kinan


Bunyi-bunyian berisik yang dihasilkan oleh dentuman pertemuan alat-alat perkakas masak warga Desa Air Keruh, masih menggema di seluruh penjuru Desa itu. Semua warga begitu cemas karena seorang anak kecil telah hilang dari dalam Desa.


Orangtua anak kecil bernama Kinan itu, baru menyadari telah kehilangan anak mereka subuh tadi. Mereka bangun dari tidurnya dan sadar bahwa anak kedua mereka sudah tidak berada di atas ranjang yang mereka tiduri.


Kedua orang tua Kinan dan juga kakak perempuannya Ana, mencari gadis kecil itu di dekat area rumah mereka namun mereka tidak dapat menemukan sosok Kinan dimanapun.


Sampai beberapa warga merasa terganggu dengan teriakan ketiga warga Desa Air Keruh itu, karena terus berteriak memanggil nama Kinan.


"Ada apa Ira?! Kenapa kau teriak-teriak memanggil nama anakmu, pagi-pagi buta seperti ini?" tanya Minah, tetangga Ira, Ibu dari Kinan.


"Kinan, Mbok!!! Kinan! Dia hilang!" kata Ira dengan tangis dan Jerit yang menyedihkan.


"Ya ampun, Kok bisa?! Kok bisa Kinan hilang??? Gimana ceritanya Ira?!" Mbok Minah tentu saja langsung ikut khawatir dengan apa yang menimpa Ira.


Belum lama mereka menempati Desa buatan pemerintah ini, tapi sebuah bencana sudah menghampiri mereka.


Otak para warga desa sudah diliputi oleh hal-hal mistis, karena sebagian besar warga yang menempati Desa Air Keruh ini adalah orang Jawa yang sangat percaya dengan legenda urban yang kental.


Diculik Wewe atau kuntilanak, gendruwo bahkan di bawa tuyul. Semua warga asik bersepekulasi, padahal hal itu sama sekali tak perlu. Karena hanya akan membuat keluarga bocah yang hilang bertambah panik dan takut.


Namun siapa yang menyangka jika Kinan, gadis cilik yang masih berusia 9 tahun itu kabur dari rumah karena bersitegang dengan kakaknya Ana. Mereka ribut di tengah malam karena memperebutkan sebuah boneka.


Tetapi ibu mereka Ira, malah menyalahkan Kinan yang menangis dengan teriakan melengking tinggi di tengah malam. Sehingga membuat Kinan nekat keluar dari rumah, dia kabur ke dalam perkebunan kelapa sawit yang masih dalam proses penanaman.


Langkah kecil gadis belia itu, terus menyusuri tempat yang gelap di dalam perkebunan tanpa cahaya yang membantu penglihatannya. Tetapi tidak ada rasa takut yang menyerap perasaan lemah gadis kecil berusia 9 tahun itu.


Cukup lama kedua kaki kecilnya melangkah di kegelapan, sampai netralnya yang sembab karena habis menangis menemukan sebuah cahaya terang dari kejauhan. Kinan secara harfiah mengikuti cahaya terang yang dia lihat.

__ADS_1


Cahaya yang dia lihat ternyata berasal dari gubuk reot yang saat itu masih bagus. Cahayanya hampir seterang cahaya matahari kuning mengkilat bagaikan bongkahan emas yang berada di tengah hutan.


Karena saking penasarannya, Kinan masuk ke dalam gubuk dan mendapati seorang lelaki dengan pakaian kerajaan jaman dulu. Sedang tertidur di atas tikar bulu-bulu yang indah.


Bukannya ketakutan, Kinan malah sangat bahagia karena dia langsung berbaring di dekat lelaki itu. Tanpa banyak berpikir dia mendekap erat tangan kekar lelaki dewasa yang tak pernah dilihatnya sebelumnya. Karena sudah sangat mengantuk jadi di Kinan langsung tertidur pulas.


Hangat, damai dan merasa terlindungi. Gadis kecil itu memejamkan matanya dalam senyuman yang amat bahagia.


.


.


Siluman Macan Kumbang yang sudah meninggalkan gubuk itu, segera mencabut pagar ghaib yang dia pasang sebelum tidur. Sehingga para warga dapat melihat keberadaan gubuk dan juga Kinan yang tengah tidur di dalamnya.


Semenjak hari itu ketika Kinan dimarahi oleh orang tuanya ataupun kakaknya, dia selalu kabur ke gubuk reot. Ternyata Kinan masih mengingat, bagaimana pertemuannya dengan Siluman Macan Kumbang malam itu.


Hampir setiap hari Kinan pergi ke gubuk reot, agar dia bisa bertemu kembali dengan sosok pria yang pernah dia temui di sana.


Hari itu Kinan pergi ke gubuk reot di sore hari, karena ketika siang dia harus menjaga rumah dan membersihkan rumahnya, serta memasak untuk keluarganya yang bekerja di perkebunan kelapa sawit.


Sore itu Kinan dimarahi lagi oleh kedua orang tuanya, hanya karena dia memasak nasi terlalu lama, sehingga tekstur nasi yang dihasilkan tidak sesuai dengan keinginan ibunya.


Ibu Kinan memang orang yang sangat pemarah, kesalahan sedikit saja bisa menyulut emosi yang berkobar. Karena sudah sejak dari lahir Kinan tinggal dengan ibunya, dia menjadi faham dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh ibu kandungnya tersebut.


Kinan tidak pernah menyahut, ketika ibunya sedang marah. Karena jika dia sampai menyahut perkataan ibunya, maka ibunya pasti akan menggunakan kekerasan untuk menasehati Kinan, yang menurut Kinan dia sama sekali tidak bersalah.


Alhasil gadis itu hanya bisa kabur ke Gubuk Reot, lalu dia akan berharap. Dia bisa bertemu dengan pria kuno yang pernah dia lihat sewaktu dia masih kecil.


Lagi-lagi hari itu Kinan hanya menelan kekecewaan, laki-laki yang sangat dia rindukan tidak pernah muncul kembali.

__ADS_1


Karena merasa sangat sedih dan merana, Kinan menangis di dalam gubuk reot itu. Dia juga memohon agar pria yang pernah dia temui sewaktu kecil dulu, bisa muncul kembali dan menenangkan hatinya yang sedang tidak baik-baik saja.


Kinan menangis sampai dia tertidur dan saat dia bangun hari sudah gelap gulita. Tetapi cahaya bulan purnama membantunya menerangi arah pulangnya.


Saat sampai di desa, Kinan mendengar suara riuh warga. Para warga seperti sedang mengejar maling yang kabur setelah mencuri sesuatu dari desa yang ia tinggal.


"Ada apa, Pak?" tanya Kinan pada salah satu warga yang berlari ke arah hutan.


"Ada Siluman Macan Kumbang yang masuk ke desa kita, kamu cepat pulang dan kunci rumahmu rapat-rapat.


"Jangan sampai Siluman itu, masuk dan membunuh keluargamu!" kata orang tersebut.


Karena mendengar penjelasan orang yang itu Kinan segera berlari ke rumahnya, untuk melihat keluarganya tetapi rumahnya yang sudah kosong.


Hanya ada secarik kertas di atas meja yang ditemukan oleh Kinan.


Ternyata ayah dan ibu serta kakaknya sedang pergi ke desa Pilip, karena nenek mereka sakit parah. Keluarganya sudah menunggu Kinan cukup lama tetapi gadis itu tidak kunjung kembali pulang, jadi mereka pergi duluan ke desa yang ditinggali oleh keluarga Ibu Kinan.


Di surat itu juga ibunya berpesan pada Kinan, agar keesokan paginya gadis itu pergi ke rumah neneknya sendiri.


Kinan sama sekali tidak peduli dengan surat yang ditinggalkan oleh ibunya, dia juga tidak berniat untuk pergi ke desa Pilip. Karena jika dia ke sana, dia juga hanya akan menjadi budak.


Ibunya pasti menyuruhnya untuk mengerjakan urusan rumah, hal itulah yang paling dibenci oleh Kinan.


Karena hari sudah cukup malam, Kinan tidak berani mandi. Suhu udara di tempat ini cukup dingin ketika malam hari, tetapi paling tidak dia membasuh muka karena wajahnya sangat lengket dan berkeringat sebab baru saja dia berlari menuju rumah.


Jarak antara rumah Kinan dan juga kamar mandinya yang masih berbentuk sumur, ternyata cukup jauh sekitar 100 meter.


Di tengah perjalanannya itu Kinan mendengar suara rintihan seorang pria, yang seperti sedang menahan rasa sakit.

__ADS_1


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2