Hujan Teluh

Hujan Teluh
Kematian Pertama


__ADS_3

Tanpa banyak pertimbangan Adrian segera menancapkan Belati Pengasih yang ada di genggamannya, ke dalam jantung Yosi yang masih kecil.


Gadis kecil yang terbaring di atas meja ritual itu tersenyum kepada Adrian dan Saat itu pula, Adrian melihat di ingatannya. Dirinya berkali-kali menikam seorang gadis dengan berlatih yang sama.


Adrian sama sekali tidak mengerti, meskipun ia terus kepikiran tentang bayangan itu. Namun sekarang dia tau bahwa itu adalah dosa yang ia lakukan dikehidupan-kehidupannya sebelumnya.


Adrian sekarang juga baru sadar, kenapa ia sangat berat untuk membunuh Yosi waktu itu. Ternyata karena perasaanya yang belum sempat tumbuh, terhadap gadis pemilik Jiwa Suci.


Dia juga baru tahu kenapa dia begitu sangat mencintai Melin dan kenapa perasaan cintanya kepada gadis itu amat sangat kuat. Alasannya adalah takdir, dari awal dia memang ditakdirkan untuk mencintai Melin berapa kali pun, dia lahir ke dunia.


Namun Adrian merasa itu juga bukan sebuah takdir, hatinya selalu bergerak ke arah Melin. Mungkinkah dia bisa tetap mencintai Melin, meski sudah berkali-kali ia dilahirkan ke bumi ini. Tetapi rasa bersalahnya ketika awal pertemuan mereka, rasa itu selalu ada. Menumbuhkan cinta yang memang sudah ada sejak awal.


.


.


Anjing Berkepala Tiga yang besar itu, masih bisa berdiri dengan tegak. Ketiga kepalanya yang tinggal dua, karena tebasan Pedang Putih Melin berhasil menumbangkan salah satu kepala Siluman Anjing itu.


Adrian telah mendarat di depan Anjing sebesar banteng itu. Darah berwarna merah segar keluar dan menetes deras dari leher Si Anjing yang sudah tak ada kepalanya.


Kedua kepalanya yang tersisa terus mendengus dan menggeram. Wajah anjing itu menyeringai tajam ke arah Adrian, ia seolah lupa rasa sakitnya. Karena n.a.f.s.u membunuh telah menguasainya.


Satu-satunya orang yang penting bagi Malaikat Putih yang telah membunuh semua keluarga dan sukunya, sudah berdiri di depannya. Mati pun bukan sebuah hal yang ia takuti lagi, asal ia bisa membunuh sosok pria di depannya.


Bagi Siluman Anjing Berkepala Tiga kesepian adalah sebuah rasa sakit yang tak bisa ia tanggung dengan mudah. Selama ribuan tahun rasa yang berat itu mengerogoti dirinya, membuatnya dikucilkan, membuatnya tak percaya diri, membuatnya selalu ragu tentang keberadaannya sendiri.


Dia makhluk yang tak bisa sendirian, tapi dia harus sendiri selama ribuan tahun.


Kini dia akan menghancurkan jiwa lelaki di depannya, agar Malaikat Putih tak punya teman selama hidupnya.


Tanpa rasa takut Anjing yang kini berkepala dua itu berlari ke arah Adrian dengan semangat yang tak tertandingi.


Adrian juga sudah siap dengan kuda-kuda yang kuat, Tameng Sadewo masih setia membungkus dirinya sebagai pelindung. Pedang Subrono masih ditangannya, namun pandangannya sayu, seperti seseorang yang tidak ingin bertarung dan menang.

__ADS_1


Moncong kedua kepala anjing itu terbuka lebar, siap mengunyah daging berotot yang dimiliki oleh tubuh Adrian. Adrian masih berdiri diam, ia memandang lurus ke depan. Namun pandangannya tak begitu tajam dan fokus.


Sementara Melin yang masih melayang di udara, mendengar suara-suara aneh dari celah portal yang terbuka. Perhatiannya tersita karena hal itu, dia tidak lagi memperhatikan pertarungan antara Adrian dan Siluman Anjing Berkepala Tiga.


"Aku harus segera menutupnya! Jika tidak, maka akan lebih banyak Siluman yang yang akan datang ke sini!" guman Melin.


Melin kembali mengepakkan sayapnya untuk naik ke atas, dia harus menggunakan Ajian Kuncian di dekat portal yang pernah dia buat ribuan tahun yang lalu.


Melin merenggangkan kedua tangannya dan mulai membaca mantra-mantra yang masih sangat dia ingat. Dia mengumpulkan seluruh Chakra Positif di sekitarnya, dan mulai menggunakan Aajian Pengucian Portal.


Sinar Putih dan emas mulai menyelimuti celah portal yang masih terbuka. Membentuk aksara-aksara kuno dan juga lingkaran-lingkaran aneh yang sejajar.


Sedikit demi sedikit celah terbuka itu tertutup dan Melin masih memejamkan matanya sambil merentangkan tangannya, untuk menyerap seluruh energi positif di sekitarnya.


Wusssssssss


Tranggggggggg


Tangggggggggg


Pertempuran antara Siluman Anjing Berkepala Tiga dan juga Adrian masih berlangsung. Adrian kini terbang di atas kepala Anjing berkepa dua, ia memutar tubuhnya di udara untuk mengurangi tekanan, agar dia bisa mendarat di atas tanah dengan setabil.


Pendaratan yang sempurna meski Adrian harus sedikit berjongkok, karena Tameng Sadewo yang melindungi tubuhnya mulai menipis.


Tameng Sadewo mempunyai kelemahan, karena ajian ini menyerap banyak Chakra. Jadi pengguna Tameng Sadewo tidak bisa menggunakan Ajian ini terlalu lama.


Sebab jika terlalu lama, maka penggunanya akan kehabisan chakra. Lebih parahnya saat seorang pendekar kehabisan Chakra, mereka tidak mempunyai tenaga dalam yang cukup untuk melawan lawannya.


Jika mereka kehabisan Chakra saat bertarung bisa dipastikan pendekar itu akan mati dengan mudah di tangan lawan bertarungnya.


Adrian berdiri secara perlahan dan Siluman Anjing yang kini mempunyai dua kepala itu, langsung memutar tubuhnya. Untuk kembali melancarkan serangan kepada Adrian, yang baru menghindari serangannya sedetik yang lalu.


Meski darah terus mengucur dari salah satu leher anjing itu. Tampaknya Siluman Anjing Berkepala Tiga tersebut, tidak ingin melewatkan kesempatan emas ini.

__ADS_1


Dia akan bertempur sampai mati dan berusaha untuk melukai Siluman Harimau Putih yang masih mempunyai usia sangat muda itu.


Karena serangan Siluman Anjing Berkepala Tiga, sangat cepat Adrian tidak dapat menghindari serangan siluman itu sekarang. Dia baru saja menanggalkan Tameng Sadewo dan dia harus menyeimbangkan Chakra di dalam tubuhnya terlebih dahulu.


Karena itu dia bergerak sangat lambat ketika peralihan Ajian itu terjadi.


Gubrakkkkkkkkkk


Tubuh Adrian terlempar cukup jauh, akibat serudukan dari salah satu kepala Siluman Anjing. Tubuh kekarnya mendarat di sebuah bongkahan batu.


Meski batu besar itu hancur, akibat benturan keras tubuh Adrian. Tetapi rasa sakit di tubuh Adrian tidak dapat dia pungkiri.


Sekuat apa pun tubuh manusia saat Chakra di dalam tubuhnya belum seimbang, lalu mendapatkan benturan yang cukup keras dari dua sisi. Pasti ada bagian-bagian tubuh yang belum teraliri Chakra, alhasil bagian tubuh yang tidak teraliri Chakra mempunyai kekuatan biasa saja.


Meskipun begitu Adrian masih bisa bangkit, namun ada sedikit darah yang menodai bibirnya. Itu tandanya salah satu organ di dalam tubuhnya mendapatkan luka yang serius.


"Ternyata kau masih bisa berdiri, siluman rendahan!" kata kepala tengah Siluman Anjing.


Tampaknya hanya kepala tengah Siluman Anjing itu yang dapat bicara.


Tanpa memberikan Adrian waktu untuk mengela nafas, Siluman Anjing itu kembali berlari ke arah Adrian. Kali ini dia ingin langsung menggigit mengkoyak seluruh tubuh Adrian.


Meskipun sedikit, ternyata Adrian masih mempunyai semangat untuk hidup dia kembali memanggil Pedang Subrono. Dengan sisa-sisa Cakra yang dia punya Adrian juga berlari ke arah Siluman Anjing yang sedang berlari ke arahnya.


"Aku tak akan mati, sebelum membunuhnya sekali lagi! Tinggal sekali lagi, aku harus membunuhnya lagi! Agar semua kembali ke tempatnya semula!" ujar Adrian namun air mata terlihat menitik dari kedua bola matanya.


FLASEBACK 1000 tahun yang lalu


"Apakah ingin menebus kesalahanmu padaku?" tanya Malaikat Putih yang sudah sekarat dipangkuan Adrian.


Wanita cantik berambut panjang yang mulai memutih, karena kekuatan Malaikatnya. Sedang menahan sakit karena sebuah pedang menancap tepat di dadanya.


Sementara Adrian hanya bisa menangis tersedu sambil memangku kekasih hatinya, yang baru saja dia bunuh.

__ADS_1


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2