
Siapa yang pantas Mati
Tetapi, tampaknya tidak ada yang bisa merubah keputusan yang telah Melin buat. Gadis itu tak mendengarkan ocehan Kuntilanak yang dulunya, adalah putri dari kakak Kinan.
Gadis seusianya yang sering bermain dengannya 60 tahun yang lalu.
Langkah Melin terus berjalan ke arah depan, dia menguatkan hati dan pikiran yang dia punya.
"Melin!" teriak, seseorang lagi dari belakang. "Berhenti di sana!".
Perintah suara itu. Melin tak kuasa untuk menolak perintah yang dikatakan oleh suara dengan nada tegas, yang dikatakan oleh Adrian.
Melin langsung berbalik, dia sepenasaran itu. Saat dia tak mau mendengarkan kata mantan keluarganya, yang dulu amat dia cintai. Namun dia bisa goyah bak kapal dibawa badai, saat medengar suara Adrian.
Wajah tampannya yang memerah karena hawa panas dan rasa sakit di hatinya yang ingin meledak, karena melihat Melin gadis yang ia cintai, berlari menuju bahaya.
Sementara pakaian yang dia kenakan, sudah terlalap dengan api di sana-sini. Melin tak bisa tak khawatir dengan keadaan Adrian.
Apakah lelaki itu terluka, atau tidak. Ataukah pria yang kini memenuhi renung hatinya itu baik-baik saja. Setelah menghadapi Siluman Banaspati.
"Kau baik...?"
Pertanyaan Melin terhenti, karena tubuh Adrian yang masih penuh dengan peluh, langsung berlari ke arahnya dan memeluknya.
Melin cukup tersentak dengan pelukan yang amat erat dari Adrian. Lelaki itu, sekali lagi mengoyahkan jiwa Melin. Mengoyahkan hati seorang gadis belia yang memang belum punya pendirian tegas.
"Kita kembali!" ujar Adrian yang masih memeluk Melin dengan eratnya.
Seolah, dia tak ingin melepas gadisnya dari dalam dekapan hangatnya.
"Tapi..."
Adrian melepas pelukannya dari tubuh Melin, dia merendahkan posisi kepalanya agar sejajar dengan wajah Melin.
"Tututi apa yang kuperintahkan!" ujar Adrian.
Lelaki itu tampak memaksa Melin untuk menuruti apa yang dia pinta. Tapi Adrian punya alasan, Adrian sedang di kondisi yang kurang bagus. Jika dia membiarkan Melin mendekati rombongan Siluman yang dipimpin oleh Insagi. Maka takutnya Melin akan celaka, dan dia tak bisa melakukan apa pun untuk menolong Melin.
Tak ada waktu dan kesempatan untuk mencoba lagi. Adrian dan Melin tak bisa kembali dari awal lagi, jika mereka gagal maka semua selesai. Karena Jiwa yang dimiliki oleh Melin sudah dihancurkan oleh para Siluman sebanyak enam kali.
__ADS_1
Jiwa manusia yang telah dihancurkan sebanyak itu, tak akan bisa lahir kembali ke dunia dalam jangka waktu yang sangat lama.
Semantara Adrian hanya ingin, Melin mejalani hidupnya kali ini dengan panjang umur dan bahagia. Dia juga tak tau alasannya, Adrian hanya merasa dia punya kewajiban akan hal itu. Seolah dia pernah berhutang nyawa pada Melin, di kehidupan yang entah terjadi di waktu kapan.
Akhirnya Melin menuruti apa yang dikatakan oleh Adrian. Meski perasaan bersalah atas nasib yang terlukis di takdir Nenek Yah, masih mengganjal di benak Melin.
Saat melewati, Nenek Yah yang masih duduk di tempatnya tadi. Melin tampak memandang wanita tua itu dengan tatapan iba. Sementara Nenek Yah hanya menunduk malu, saat pandangannya bertemu dengan manik mata Melin yang masih sembab.
Wanita itu malu sekali, karena dia merasa, dirinya begitu tega. Dia memancing seorang gadis belia, hanya karena perkataan para Siluman. Yang menyebutkan, bahwa Melin adalah Jiwa Suci Sang Penjaga.
Jiwa itu hidup ribuan tahun yang lalu, wanita dengan kekuatan setengah Dewa itu hidup di Bumi dalam jangka waktu yang amat sangat lama.
Wanita yang tak bisa menua, pemilik Jiwa Suci Sang Penjaga. Hanya berkeliaran di Bumi dan membunuh apa pun yang dia inginkan. Wanita kejam, dengan hati yang membeku. Karena dia dikutuk oleh Dewa, sehingga hatinya berubah menjadi pohon Abadi yang mengering sepanjang waktu.
"Nenek tak papa?" tanya Melin.
Gadis itu tak tega melihat keadaan Nenek Yah yang kakinya terluka. Tubuh rentanya pasti tak akan sanggup menopang langkahnya untuk kembali ke rumahnya.
"Biar saya antar, ke rumah nenek!" kata Melin.
"Cu!" suara renta itu terdengar amat iba. "Apa kau akan membunuh manusia juga?".
Melin membuang wajahnya, tak kuasa dia menatap mata Nenek Yah yang menanyakan sesuatu di depannya.
Adrian sama sekali tak suka, dengan pertanyaan yang dilontarkan Nenek Yah pada Melin.
Melin menatap Nenek Yah, dan ia sudah menentukan pilihan untuk hidupnya.
"Aku tak akan membunuh, Manusia!" ujar Melin.
"Apa kau serius, Cu?" tanya Nenek Yah.
Wajah tuanya yang renta itu memandang ke arah Melin dengan tatapan yang antusias.
"Iya Nek! Saya janji!" kata Melin.
"Apa kamu gila?" Adrian menarik lengan tangan Melin.
Lelaki itu menarik tubuh Melin hingga gadis manis itu berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Siluman di sini, sembunyi di tubuh para manusia!
"Jika kau berjanji tak membunuh Manusia, maka kau tak bisa membunuh para Siluman di sini!" jelas Adrian.
Melin tau dengan pasti, jika para Siluman di sini bertahan hidup ditubuh Manusia. Tetapi Melin juga tak bisa membunuh Manusia, karena dirinya juga adalah seorang Manusia.
"Uhukkk...Uhukkkk...Uhuk!" Nenek Yah terbatuk, mulutnya memuntahkan darah segar.
"Nenek kenapa?!" Melin lanhsung berteriak khawair.
Namun Adrian masih menahan Melin agar tetap berdiri di hadapannya.
"Kamu gila, nenek ini bisa mati kalau dibiarkan begini!" bentak Melin.
Adrian tak bergeming dia masih mencengkeram kedua bahu gadis belia itu, agar Melin tak banyak bergerak.
"Tubuh manusia, yang sudah dimasuki oleh Siluman. Dia akan mati, setelah Siluman itu keluar!" ujar Adrian.
Melin yang awalnya meronta-ronta ingin dilepaskan oleh Adrian, seketika pasrah. Ia tak menyangka jika Siluman bisa membawa dampak semacam itu bagi manusia.
Apa nyawa manusia tak berarti apa-apa bagi para Siluman. Apa mereka begitu memandang rendah manusia, kenapa para Siluman sialan itu harus berlaku sekejam itu terhadap manusia.
"Jika manusia tak mempunyai perjanjian dengan manusia itu,
"Siluman juga tidak bisa memaskuki tubuhnya!
"Mereka juga memanfaatkan Siluman untuk tujuan mereka, maka adil jika Siluman juga memanfaatkan mereka untuk membunuhmu!" kata Adrian dia berusaha mengembalikan keyakinan di diri Melin.
Jika Melin sampai benar-benar menyerah pada Siluman, maka pengorbanan yang dia lakukan selama ini. Adalah hal yang sia-sia saja. "Jangan ragu, bunuh mereka semua! Mereka pantas mati!".
"Siluman keparat!" ujar Melin kesal.
Melin yang bisa melihat ingatan masa lalu Nenek Yah, tak bisa serta-merta percaya dengan ocehan Adrian. Gadis itu bisa melihat dari ngatan Nenek Yah, bagaimana wanita tua itu bisa berkerja sama dengan para Siluman.
"Apa semua Siluman itu pembohong? Apa mereka selalu banyak bicara omong kosong?" tanya Melin pada Adrian.
Adrian tercengang, dia tau dia sudah berlaku sama dengan Siluman. Dia membohongi Melin, dia tak jujur pada gadis di depannya. Jadi dia tak beda jauh, dengan para Siluman yang menguasai beberapa tubuh Manusia di Desa Air Keruh.
Adrian tak berhak, menasehati Melin. Dia tak punya andil, tapi dia harus tak tau malu untuk saat ini. Dia tak akan membiarkan Jiwa Suci Melin dihancurkan sekali lagi oleh Yanuar atau siapa pun. Adrian sudah bertekat jika dia akan melindungi Melin, sampai titik darah penghabisannya.
__ADS_1
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤