
"Om harus pergi sekarang!" Adrian memeluk ponakannya lebih erat, tak lupa telapak tangan lebarnya mengelus pelan kepala Melin.
"Om nggak bawa ponsel?" tanya Melin pada lelaki muda itu.
Ponsel Adrian masih tergeletak di atas meja, dan tak ada harapan akan dimasukkan Adrian ke dalam tas ranselnya.
"Om nggak boleh bawa benda seperti itu saat ritual!" ujar Adrian.
Akhirnya Adrian melepas pelukannya pada Melin, Melin hanya bisa pasrah. Meski dia tak mau ditinggalkan oleh Adrian, Melin harus bisa merelakan pelukan hangat yang baru dia dapatkan itu. Lagi pula besok pagi dia bisa memeluk tubuh Omnya itu sepuasnya.
"Jaga dirimu baik-baik!
"Jangan keluar dari pondok, apa pun yang terjadi!" lagi-lagi Adrian menasehati Melin.
"Iya, Om...! Sakit nih telingaku, karena selalu mendengar kalimat yang sama!" ujar Melin kesal.
Sebuah kecupan diberikan Adrian di bibir Melin, lalu Melin membalasnya. Kini giliran kedua pipi, mata dan kening Melin yang mendapatkan hujan ciuman dari Adrian.
"Om harus berangkat sekarang!" ujar Adrian.
Tampaknya Adrian juga berat berpisah dengan Melin, pria itu tak menyangka dia akan merasakan perasaan semacam ini. Perasaan yang membuat dirinya bertingkah bagaikan anak-anak, tapi ini memyenangkan. Adrian hanya tak suka saat jauh dari Melin, perasan yang menyenangkan itu berubah menjadi khawatir dan gelisah.
"Hati-hati Om, saat pulang Om harus masak buat aku!" ujar Melin.
Karena diperjalanan pulang dari pantai, Adrian menyombongkan skil memasaknya yang hebat menurutnya.
Adrian yang sudah melangkah menjauh dari pondok hanya bisa memberi isyarat pada Melin untuk menutup pintu pondok. Karena malam sudah larut, dan Melin juga sudah mengantuk. Gadis itu menutup pintu pondok itu dan mengunci dengan gembok dari dalam.
Melin meletakkan kunci gembok itu di atas meja dekat ponsel Adrian yang dimatikan. Melin langsung berbaring di kasur lantainya yang cukup tebal itu. Gadis manis itu mengambil ponselnya, tapi saat layar ponsel itu dia dihidupkan. Tak ada sebatang sinyal pun yang dapat ditangkap oleh perangkat pintar itu.
Melin hanya menghela napasnya panjang-paniang, karena dia benar-benar merasa bosan. Tapi bibirnya segera tersungging sebuah senyuman, Melin mengingat Adrian yang sangat lembut padanya. Tapi seketika senyumannya memudar, karena Melin merasakan ponselnya bergetar.
"Kayaknya tadi nggak ada sinyal!" ujar Melin.
Sebuah panggilan dari ibunya, masuk kedalam perangkat pintar yang kini menyala terang di depan wajah Melin.
Padahal di pantai yang dia kunjungi tadi, ponselnya masih belum bisa menangkap sinyal apa pun. Padahal daerah itu sudah ramai penduduk, meski belum dibangun tower sinyal di wilayah pegunungan terjal itu.
"Hallo!" Melin hanya bisa mengangkat panggilan dari bundanya.
Karena dia sudah lama tak bicara dengah bundanya, dan dia malas berpikir. Mungkin mitos tentang 'semakin dini malam, maka perangkat ponsel semakin banyak menangkap sinyal adalah sebuah fakta'.
__ADS_1
"Mel, kamu sehat?" suara itu amat sangat jelas.
Melin yakin itu suara ibunya.
"Sehat kok Bun!" jawab Melin.
Gadis itu bangun dari posisi rebahannya dan duduk di atas kursi kayu di dekat dapur, Melin tak mau kehilangan sinyal yang sudah dengan senang hati masuk ke dalam perangkat pintarnya.
"Gimana, Adrian memeperlakukanmu dengan baik--kan?" nada bicara Lastri tampak sangat khawatir.
"Om Adrian...Baik kok Bun! Bunda sendiri dimana sekarang?" tanya Melin.
"Bunda dirumah kita! Di Jakarta!" ujar Lastri.
Namun Melin menangkap nada bohong di suara Lastri.
"Ibu baik-baik saja?" tanya Melin.
"Ibu baik-baik saja! Dimana Adrian, kenapa ponselnya tak bisa bunda hubungi?" ujar Lastri.
"Dia sedang pergi untuk ritual Bun!" ujar Melin.
Gadis itu mengatakan yang sebenarnya, meski Melin curiga jika ibunya belum pulang ke Jakarta.
"Enggak ada Bun!" ujar Melin.
"Bunda menuju ke arah GPS ponselmu! Bunda akan menjemputmu. Bertahanlah sebentar lagi, Mel!" kata Lastri.
"Aku baik-baik saja bersama Om Adrian, Bun! Jika aku pergi dari sini!
"Aku akan berakhir jadi tumbal Bun!" ujar Melin, nada bicaranya sudah sangat emosional.
"Apa sekarang kau berada di dalam gubuk?" tanya Lastri.
Suara Lastri tampak bergetar, tapi dia berusaha menahan kekawatiran di dalam hatinya.
Melin menyapukan pandangannya ke dinding-dinding pondok kayu itu, dan sebuah bayangan aneh menghinggapi netranya. Dinding-dinding kayu yang awalnya vertikal itu beruban menjadi horisontal.
"Bunda, aku dimana?" tanya Melin.
Manik mata hitam Melin membesar dan bergetar, rasa takut segera menyelimutinya. Gadis itu merasa dejafu, Melin mendapati tubuhnya tak lagi berada di atas kursi dengan baju yang lengkap.
__ADS_1
"Melin!!!" teriak Lastri.
"Bunda tolong Melin... Bunda!!!" ujar Melin lemas.
Melin mendapati dirinya berada di tempat Arinda 20 tahun yang lalu. Namun bukan dengan tubuh Arinda, ini tubuh Melin sendiri.
Pondokan yang tak terlalu buruk itu, berubah seketika menjadi gubuk reot yang berada di tengah kebun sawit.
Ponsel digenggaman Melin seketika hilang, dan satu tangannya dibelengu oleh rantai. Persis seperti keadan Arinda saat gadis itu harus menjalani peroses ritual pertama untuk mengandung bayi tumbal.
Melin yang saat ini duduk di atas tanah beralaskan tikar mendong tipis yang usang. Tubuhnya telanjang bulat, dan sehelai kain merah panjang yang menutupi tubuhnya.
"Kenapa aku bisa di sini?" gumam Melin lirih.
Melin merasa tengorokannya sangat kering dan perutnya kelaparan, padahal baru sejam yang lalu dia makan nasi padang banyak sekali.
Tubuh Melin bergetar karena kedinginan, gadis itu merasakan angin yang lewat menembus pori-porinya dan menusuk ke dalam setiap epidermis kulitnya.
Air mata tanpa isakan sudah mengucur dari kedua kelopak mata Melin. Dia tak sanggup terisak, Melin masih mencoba memikirkan apa yang baru saja dia alami bersama Adrian. Apa hal indah itu hanya ilusi, atau dirinya yang sekarang yang terperangkap di dalam ilusi. Melin tak bisa menebak.
Glodakkkkkkkk
Suara itu menghancurkan lamunan Melin.
Gratakkkkkkk
Grakkkkkk....Gratakkkkk
Suara rantai yang ditarik dari poros lingkarnya, Melin seketika menahan nafasnya. Karena ada seseorang yang datang.
Melin melihat sinar masuk kedalam celah pintu yang perlahan terbuka itu. Melin heran, tadi di dalam gubuk reot ini terang benderang. Namun setelah ada suara rantai yang di tarik, cahaya seketika hilang.
Sinar yang kini terasa sakit di mata Melin itu berasal dari senter. Benda bundar yang menyakitkan mata itu mengarah ke tubuh Melin yang masih duduk di lantai tanah gubuk reot. Dengan satu tangan yang tak dirantai, Melin menutupi cahaya tajam itu menembus matanya.
Bayangan seorang pria, tubuhnya, siluet yang tak bisa dilupakan oleh Melin.
"Tidak mungkin!" ujar Melin.
Manik matanya yang awalnya dia pejamkan, dan hanya melirik kecil saat melihat bayangan siluet pria itu. Kini terbuka lebar, Melin ingin memastikan apakah tebakannya benar. Pria yang datang padanya malam ini di gubuk reot ini. Benarkan pria itu, pria yang sangat dia cintai saat ini.
Sinar terang dari senter itu dimatikan oleh pria itu, dan ruangan yang mereka tempati hanya di terangi oleh sinar sebuah lilin. Pria yang datang pada Melin masih memunggunginya, tapi dilihat dari betapa kekar bahu pria itu. Melin bisa menebak, jika pria yang ada di hadapannya saat ini adalah Adrian.
__ADS_1
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤