Hujan Teluh

Hujan Teluh
Pergilah yang jauh


__ADS_3

Pergilah yang jauh


Saat itu Adrian hanya bisa menangis tanpa bisa mengatakan kata apa pun. Dia begitu sangat menyedihkan, hanya karena emosi sesaat dia telah membunuh orang yang paling dia cintai di dunia ini.


Saat itu pikirannya sangat kalut, pedang yang ditancapkan ke dada istrinya pasti membuat luka yang amat dalam dan menghancurkan berapa organ dalam di tubuh ramping itu.


"Kau tidak perlu menangis seperti itu! Kita akan bertemu lagi di kehidupan selanjutnya, namun kau harus membunuhku setiap bertemu denganku.


"Itu adalah hukuman yang harus kau tanggung karena tidak percaya padaku!"


Wanita di pangkuan Adrian terbatuk dan darah segar keluar dari mulutnya.


"Jangan mati! Aku mohon jangan tinggalkan aku!!! Maafkan aku!


"Harusnya apa pun Yang terjadi, aku hanya percaya padamu!" kata Adrian tangisnya tak bisa berhenti.


"Kau harus janji padaku! Setiap kali kau bertemu denganku, harus membunuhku sebanyak tujuh kali!


"Kau harus mendampingiku menebus dosa-dosaku, kita harus menanggungnya bersama!"


"Aku janji padamu!!! Aku akan melakukan sesuai perkataanmu!"


BACK in 2021


~♡~♡~♡~♡~♡~


Itu adalah janji yang kuucapkan padamu ribuan tahun yang lalu... dan aku akan menepatinya


Meski aku harus menanggung penderitaan yang tidak berujung, aku rela...


Karena aku tahu kesalahanku padamu, tidak bisa dimaafkan dengan mudah...


ADRIAN


~♡~♡~♡~♡~♡~


Adrian yang sudah kehabisan tenaga tidak menyia-nyiakan kesempatan terakhirnya, ia melesat di bawah sala-sala kaki Siluman Anjing Berkepala Tiga yang sedang melompat ke arahnya.


Lelaki bertubuh kekar itu berusaha untuk mengecoh Siluman Anjing, agar Adrian dengan mudah dapat menancapkan Pedang Subrononya ke tubuh siluman tersebut.


Adrian segera memutar tubuhnya sampai berjongkok, lalu ia melempar Pedang Subrono penghisap jiwa yang berada di tangannya, ke arah Siluman Anjing Berkepala Tiga yang masih berlari ke arah perlawanan dari tempatnya berada.


Pedang berchakra biru itu melesat bagaikan angin, menembus setiap apa pun yang dilewatinya. Bahkan gumpalan besar tanah yang berhamburan akibat kuatnya hentakan kaki Siluman Anjing, dapat ditembus pedang itu dengan mudah.


Jleppppppppppp


Pedang sakti itu menancap tepat di salah satu sisi tubuh Siluman Anjing itu.


"Aingggggggggggg!"


Siluman Anjing itu menggonggong kesakitan.

__ADS_1


"Bangsat, ternyata kau mengecohku!!! Bocah Siluman rendah!" umpat Si Siluman.


Adrian hanya tersenyum lemah, sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Darah segar kembali keluar dari dalam mulutnya, namun ia tahan agar tak keluar. Ia menelan darah itu lagi, alsannya adalah agar Melin tidak khawatir padanya.


Diiringi teriakan, sumpah serapah dan juga lolongan yang membabi-buta dari Siluman Anjing Berkepala Tiga. Matanya yang masih bisa melihat meski hanya sayup-sayup, menyaksikan bagaimana Roh Siluman tersebut dihisab oleh Pedang Subrono miliknya.


Berbarengan dengan itu Melin juga sudah selesai dengan tugasnya menutup kembali portal segel antara Dunia Siluman dan Dunia Buana.


Gadis manis yang memakai kostum putri kerajaan, dihiasi sayap di kedua bahunya yang masih mengapak indah. Langit kembali bersinar terang dan suara-suara dari neraka sudah tidak terdengar lagi.


Malin segera turun untuk menghampiri Adrian, dia ingin melihat bagaimana hasil pertarungan pujaan hatinya dengan Siluman Anjing Berkepala Tiga.


Ternyata lelaki itu sudah menunggunya di bawah sana, tersenyum ke arahnya meski wajahnya tampak begitu pucat.


"Om nggak papa?" tanya Melin, tepat saat dia mendarat.


Adrian hanya terus tersenyum kearah Melin dan menggelengkan kepalanya pelan. "Apa sudah selesai?" tanya Adrian.


"Sudah!" jawab Melin senang.


"Bagaimana jika kita kembali ke Desa Air Keruh sekarang?!" kata Adrian.


Melin mengangguk setuju karena urusan di tempat ini sudah selesai, dia juga ingin membantu saudara kembarnya yang sudah ribuan tahun tak dia lihat.


Adrian menarik pinggang Melin dan mendekatkan ke arah tubuhnya. Tak seperti biasanya Melin sama sekali tidak kaget, dengan tingkah intim yang dilakukan oleh Adrian kepadanya.


"Ayo berangkat, aku sudah siap!" ujar Melin dengan senyuman indah yang mengembang di bibirnya.


"Di sini malam hari?" tanya Melin pada Adrian.


Langit malam ini tampak beda sekali, sangat cerah namun tak ada bintang yang bisa di lihat dari Bumi. Bulan dilangit yang purnama tampak memerah sempurna.


Melin sadar, dia sudah berada di Alam Manusia sekarang.


Adrian melepas pelukannya pada Melin, lalu ia mundur beberapa langkah dari hadapan Melin. Lelaki itu memandang Melin dengan tatapan nanar yang sangat layu.


Melin yang masih berdiri di tempatnya hanya bisa melihat ke arah Adrian, senyum di wajahnya berubah seketika. Seolah-olah Melin bisa membaca, apa yang direncanakan Adrian padanya.


"Maaf!" kata Adrian.


Melin masih menatap Adrian dengan tatapan yang tak percaya.


"Ini yang terakhir!" ujarnya dengan nada yang sangat dangkal.


Melin tak bisa berkata-kata, ia tak menyangka jika hari ini. Dia akan memenuhi takdir terakhirnya sebagai manusia.


"Apa kau ingin melakukannya?" tanya Melin.


Air mata Adrian menetes dari pelupuk matanya, ia menunduk bingung.


"Kau tak ingin membuatku bahagia, meski di saat-saat terakhir seperti ini?!" tanya Melin lagi, nada lertanyaannya meninggi.

__ADS_1


Ia ingin hidup sedikit lebih lama, gadis manis itu ingin melakukan beberapa hal yang belum pernah ia lakukan di bumi ini di tujuh kehidupannya.


"Aku tak bisa membuatmu bahagia!" kata Adrian di sela isak tangisnya.


Melin berjalan mendekati Adrian yang masih berdiri dengan wajah yang pucat.


"Biarkan aku mengobatimu!" ujar Melin.


"Tidak perlu, aku baik-baik saja!" Adrian mundur, setiap Melin maju satu langkah ke arahnya.


"Jangan seperti anak kecil! Jika kau ingin mengakhirinya, kita akhiri sekarang saja!" kata Melin.


Adrian memandang ke arah Melin lagi, ia mendongak dan merasa bersalah lagi.


"Jika kau ingin hidup lebih lama, pergilah! Pergilah yang jauh dariku!" kata Adrian.


"Kenapa kau menyuruhku tinggal saat itu???"


Melin membicarakan pertemuan pertama mereka.


"Kenapa kau paksa aku tinggal, jika menyuruhku pergi?!!!" suara Melin makin tinggi.


Adrian terdiam, dia binggung dengan apa yang dikatakan oleh Melin.


"Aku sengaja membunuh Suketi! Jika tidak. Aku tak akan menjadi manusia seperti ke inginanmu!


"Aku tau rencanamu kala itu!" teriak Melin penuh emosi.


Adrian semakin mematung, ia tak habis pikir. Ternyata Malaikat Putih tahu rencana liciknyanya, namun Malaikat Putih tetap membunuh manusia agar bisa bersama dirinya. Ternyata wanita itu juga mencintainya, mungkin lebih dalam dari cintanya pada gadis itu.


"Melll, maafkan aku!" ujar Adrian.


Melin yang masih di dera rasa kecewa pun, memanggil senjata paling sederhana yang dia punya. Yaitu Belati Pengasih, karena hanya dengan belati itu jiwa manusia Melin bisa hancur.


Dan dia tidak akan terlahir kembali menjadi manusia, jika dia diberi kesempatan hidup kembali.


Melin memberikan belati itu di genggaman tangan kanan Adrian. Lalu mengeluarkan Pedang Putih yang dia punya, Melin menggenggam gagang pedangnya dengan begitu erat.


"Bunuh aku!" ucap Melin.


Adrian memandangi wajah manis Melin secara detail, dia mencoba menahan gejolak yang ada di dalam hatinya. Dan berpikir rasional dia tidak boleh egois, dan memutuskan semuanya sendiri kali ini dia harus menuruti apa yang diinginkan oleh Melin.


"Pergilah!" perintah Adrian kepada Melin.


Adrian tau, Melin sangat ingin menikmati hidupnya sebagai manusia kali ini.


Jatuh cinta, menikah dan mempunyai anak dari seorang pria yang dia cintai. Melin pantas mempunyai kebahagiaannya sendiri, meski dia harus menderita sendirian di sini, itu bukan masalah baginya.


Adrian akan menunggu sampai Melin siap, untuk dihancurkan jiwanya. Dia akan menunggu Melin di sini sampai kapanpun.


___________BERSAMBUNG_____________

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2