
Arinda terus berjalan, sekuat tenaga. Dia mengikuti arah tarikan lengan Jacson, yang mengarah ke dalam hutan.
"Kapan mas pulang?" tanya Arinda.
"Aku baru sampai!
"Ikutlah denganku, ayo kita pergi ke Belanda berdua!" ujar Jacson.
Tubuh lemah Arinda dari tadi teterpa air hujan, Melin bisa merasakan betapa dinginnya tubuh Arinda yang ia tempati.
Duarrrrrrrrrr
Melin yang berada didiri Arinda terhenyak ke depan, dia akhirnya dipeluk oleh kekasih hatinya. Tapi darah sudah mengucur deras di perut Arinda, tembakan yang dilontarkan oleh Jatmiko itu menembus perut istrinya.
"Aku tak bisa pergi denganmu, Mas.
"Kaaaaarennna akuuuu sudddah menikahhhh!" ujar Arinda.
Jacson hanya bisa tertegun dalam kekagetannya, jauh-jauh dia kembali ke sini secara rahasia. Tujuannya untuk menjemput pujaan hatinya, telah sirna. Karena Arinda kini memang berada di pelukannya tapi dalam kondisi yang sangat mengenaskan.
"Bukankah lebih baik Arinda mati saja?
"Agar kita sama-sama tak memilikinya!" kata Jatmiko.
Pria dengan tubuh babak belur itu menurunkan senapannya. Lelaki itu menembak istrinya sendiri, dengan senapan laras panjangnya. Senjata api, yang dulunya dibuatnya untuk perang melawan penjajah. Tapi kini malah ia tembakkan ke arah istri yang amat dia cintai.
"Kamu gila, Jat?!" Yanuar yang baru datang langsung merebut senjata api Jatmiko yang masih ditenteng dikedua tangannya.
Sementara Jacson hanya bisa memeluk tubuh Arinda yang sudah dingin sekali. Nafas lembut wanita muda itu semakin lama semakin lemah. Dengan isakan lirih yang tertahan Jacson mengelus punggung gadis yang ia cintai itu. Berharap rasa sakit yang diderita Arinda akan berkurang. Karena apa pun yang akan dia coba lalukan saat ini untuk menolong Arinda. Semua akan percuma.
"Apa kalian merencanakan ini?" tanya Jatmiko pada Yanuar.
Yanuar hanya bisa diam, dia tak mungkin menolak permintaan Jacson. Beberapa hari yang lalu Jacson tiba-tiba mengirim surat pada Yanuar yang berada di Desa Air Keruh.
Jacson mengatakan disuratnya bahwa, dia berada di Sumatra saat itu. Dia ingin bertemu Yanuar di Palembang, Yanuar pun pergi ke Palembang sesuai permintaan Jacson.
Mereka bertemu di sebuah penginapan kecil, di tahun 2001 Palembang bukanlah kota yang dijamah pembangunan dari pemerintah secara signifikan. Kota itu masih kecil dengan suasana yang tak terlalu ramai.
Disana mereka membahas tentang Arinda. Yanuar sebagai teman Jacson, menceritakan semua apa yang dia tau tentang Arinda. Lalu membuat rencana mendadak ini, setelah Yanuar mengetahui bahwa Arinda akan melahirkan.
Tak ada yang menyangka jika semua menjadi kacau begini, Jacson hanya ingin hidup bersama wanita yang dia cintai. Meski cara yang dia lalukan salah, tapi ini adalah janjinya pada Arinda yang yatim piatu.
Lelaki lain mungkin akan memilih jalan yang berbeda, tapi Jacson adalah pria yang amat setia dan baik. Meski jalur yang dia tempuh berakhir di ujung tebing yang curam.
"Kita harus membawa Arinda ke rumah sakit! Dia masih bisa ditolong--kan?" tanya Yanuar pada Jacson.
Hujan masih turun meski tak deras, membasahi semua hati yang terluka.
Jacson hanya menjawab dengan gelengan pelan, lelaki itu sudah tak bisa merasakan denyut jantung Arinda.
__ADS_1
"Apa kau puas Jacson?!" tanya Jatmiko.
Pria besar tinggi itu menghampiri tubuh istrinya yang sekarat dipelukan lelaki lain. Dengan kasar, Jatmiko menarik tubuh istrinya yang sudah tak bernyawa. Lalu mendorong Jacson hingga lelaki itu tersungkur ke tanah.
Tak ada tenaga untuk hidup lagi, lelaki itu tak bisa memikirkan hal lain selain penyesalan.
Andai saja dia tak datang ke sini.
Andai saja dia tak berjanji pada Arinda.
Andai saja dia tak jatuh cinta pada gadis manis yang bodoh itu.
Andai saja waktu bisa diputar.
Andai saja...
Andai saja...
Hanya ada kalimat yang diawali 'Andai saja' yang terlintas di benak Jacson.
Tangis Jatmiko menjadi, saat dia dapat memeluk tubuh istrinya yang ia bunuh. Lelaki bertampang preman itu pasti juga sedang dilanda kepedihan dan penyesalan.
Namun sebuah keajaiban datang, jemari Arinda bergerak dan dia mengelus wajah Jatmiko.
"Masssss, sakit!" ujar Arinda lirih.
"Kau masih hidup?!" tanya Jatmiko pada Arinda.
Segera Jatmiko membopong tubuh istrinya yang sangat lemah itu.
Yanuar dan Jacson juga ikut berdiri, mereka bertiga membantu Jatmiko membawa Arinda ke rumah sakit terdekat.
Arinda menjalani oprasi di luka tembaknya, entah apa yang merasuki Arinda. Wanita muda itu cepat sekali sembuh, tapi dengan kepribadian yang lebih ceria dan menyenangkan.
Hanya saja Arinda sama sekali tak ingat dengan Jacson, saat Jacson mencoba mendekati Arinda. Wanita itu selalu tak peduli, bukan pura-pura. Tapi jiwa yang ada di dalam tubuh Arinda memang bukan Arinda.
.
.
Melin membuka matanya, pandangannya masih sedikit kabur. Kini perasaan hatinya sedang kacau, Melin tak bisa membedakan ingatan-ingatan yang baru saja dia dapat. Tapi remasan lembut dan hangat di tangan kanannya membuatnya sedikit tenang.
Entah kenapa, beberapa jam lalu Melin masih sangat kesal ketika melihat wajah tegas Adrian. Namun kini netra itu seakan berbinar karena mengetahui bahwa yang di sampingnya bukan lagi Pak Kades.
"Ommm," gumam Melin lirih.
Mereka berdua masih di dalam mobil Adrian, dengan posisi yang sama. Yaitu Adrian di kursi kemudi dan Melin di kursi depan penumpang. Tapi mobil SUV hitam milik Adrian itu sudah berhenti.
Adrian yang mendengar suara lirih Melin segera memandang ke arah wajah lemas ponakannya.
__ADS_1
"Kau sudah sadar?" tanya Adrian.
Wajah tegasnya kini hanya diliputi oleh rasa cemas, dan itu bukan pura-pura. Kecemasan Adrian pada Melin adalah kenyataan yang juga bisa dirasakan oleh Melin.
Melin mengangguk, mengiyakan. Gadis itu hendak bangun dari jok pemumpang yang disetel paling rendah, namun gerakanya terhenti. Karena Adrian dengan sigap membantu Melin untuk menyetel jok yang ia duduki ke mode duduk nyaman.
Tak perlu diminta Adrian juga sudah menyodorkan botol minuman ke arah Melin. Tutupnya sudah dibuka oleh Adrian, jadi Melin hanya tinggal mengenggaknya saja.
"Kamu nggak papa?" tanya Adrian pada Malin.
Tingkat kecemasannya belum menurun, bahkan kini dahinya berkerut karena memandang betapa pucatnya wajah Melin.
"Gue laper, Om!" ujar Melin.
Segera Adrian kembali fokus ke kemudi bundarnya lagi, pedal gas dia tekan dan mobil melaju lagi.
"Kamu mau makan apa?" tanya Adrian pada Melin.
"Apa pun, gue laper banget!" Melin kembali mengeluh.
"Nasi padang, mau?" tanya Adrian.
"Boleh!" ujar Melin.
Melin makan dengan lahapnya, sementara Adrian hanya memandangi dengan wajah bahagia. Dia tak memyangka jika gadis belia di depannya, masih waras setelah mengalami mimpi reingkarnasi yang menakutkan.
"Kata Pak Kades, Om ngebawa kabur Bulek Arinda. Emang bener?" tanya Melin.
Kini raut wajah pucatnya sudah berubah berseri, merona manis lagi.
"Iya, aku harus menjauhkannya darimu!" ujar Adrian.
Lelaki itu masih memandangi cara makan Melin yang elegan tapi sanggup memghabiskan banyak makanan di depannya.
"Kenapa? Apa wanita gila itu bahaya?" tanya Melin.
"Aku hanya tak mau, kau sedih. Apa lagi sampai sakit!" ujar Adrian.
"Gue mimpi tentang masa lalu wanita gila itu, seolah gue adalah tu orang di masa lalu," kata Melin.
Adrian menggenggam jemari tangan kiri Melin, gadis itu pun terhenyak dan langsung memandang tajam ke arah manik mata Omnya itu.
"Jangan takut, itu hanya mimpi!" ujar Adrian.
Meski tau hal itu adalah mimpi yang tak biasa, tapi Adrian harus menenangkan hati ponakan yang dia cintai itu.
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
__ADS_1