
\= Dream Latern \=
- Bukankah akan lebih baik jika suara kita, bisa tetap seperti ini,
- Bisa terdengar jelas hingga ke penjuru dunia tanpa pernah memudar.
- Jika kita berhasil dalam hal itu, kata-kata apa yang harus kita teriakkan?
- Pada hitungan ketiga, mari kita membuat sebuah janji abadi!
- Aku pernah berpikir, "Jika aku berdo'a, setidaknya sebagian dari do'aku akan jadi kenyataan!",
- Namun sudah berapa lamakah waktu berlalu
sejak terakhir kali aku sanggup melihat kata-kata itu dengan mata kepalaku sendiri?
- Bagian mana yang salah?
- Di ruang waktu yang tepat, hujan reda, yang merupakan awal dan akhir, dari munculnya pelangi;
- Kita selalu ada dalam perselisihan mengenai apa yang menanti kita setelah kehidupan ini berakhir nantinya.
- Suatu hari nanti, mari kita 'tos' (merayakan) untuk perasaan yang tersembunyi dan belum dinyatakan.
- Bagi apa pun dalam kehidupan dan memberikan ciuman pada 'waktu' itu sendiri!
- Meskipun dipermainkan oleh 5-dimensi, Aku masih akan menatapkan mataku ke arahmu,
- Karenanya, mari kita memilih 'kode' rahasia kita, untuk nanti saat kita memperkenalkan diri kita lagi!
- Sebab sekarang, aku melangkah pergi untuk mengejar dimana namamu berada!
~●~●~●~●~●~●~●~●~●~●~
Karena Melin hanya mematung, Adrian yang tampaknya masih mempertahankan g.airah bercintanya. Segera bangun ke posisi duduk, tanpa rasa bersalah. Adrian mencium bibir manis gadis belia yang masih dipangkuannya.
Mungkin sudah tak punya kesabaran lagi Adrian membalik tubuh Melin. Kini keduanya telah berubah posisi, Melin terlentang di bawah tubuh Adrian.
Bau amis darah segar mulai menyeruak di hidung Melin, karena wajah dan lehernya sudah penuh dengan darah dari telapak tangan Adrian. Hal mengerikan itu tak membuat Melin bergeming, gadis belia itu hanya memasang ekspresi wajah datar dan pandangan mata yang kosong.
Meski Adrian sudah mulai memacu gerakan tubuhnya, untuk menikmati keindahan tubuh Melin.
Dia mati rasa, gadis SMU itu seperti tak merasakan apa pun. Meski gerakan Adrian di atas tubuhnya menjadi semakin intens dan buas. Bau peluh keringat yang bercampur darah, yang pasti sangat mengganggu pun tak membuat Melin mengeluh.
Meski ia diam dalam deraan kenikmatan yang dihujamkan Adrian. Melin tak dapat berpikir lebih jauh, hatinya sudah terkoyak, jiwanya sudah tersudut, dan dia tak punya cara untuk membenrontak.
Apa dia akan berakhir seperti Yosi dan juga Arinda?
Dia menanyakan hal itu hampir di setiap detik-detik, dimana Adrian yang masih semangat dengan aktifitas bejatnya di atas tubuh Melin.
__ADS_1
Tak ada jawaban yang bisa ia temukan di otaknya, membuat butiran air matanya mengalir membasahi pipinya yang sudah penuh dengan noda darah Adrian.
Ketika Peluh, Darah dan Air Mata berkumpul, di sana sebuah doa yang dipanjatkan dengan ketulusan akan terkabul.
Tuhan!!!
Tolong biarkan aku membunuh lelaki ini, sebelum aku mati!!!
Melinda
Saat mulut tak sanggup berucap, dan hati yang bicara. Ketulusan terukir di setiap kata yang digumamkan di hati setiap insan.
.
.
.
.
Ellen perlahan-lahan mendekati tubuh Jacson yang sudah tengkurap di atas tanah. Polisi wanita itu masih mengengam senjata apinya, karena benda itu bisa ia gunakan sebagai senajata lagi.
Meski tak ada pelurunya, namun jika seseorang di pukul mengenakan benda keras, yang terbuat dari besi berkualitas tinggi itu. Siapa pun akan merasakan rasa sakit.
Ellen berencana mengunakan pistonya untuk memukul Jacson, jika pria itu masih melakukan perlawanan terhadapnya.
Sesuai prediksi Lastri, Kades Desa Air Keruh itu masih dapat mengerakkan tubuhnya yang sudah ditembak enam kali oleh Ellen. Tak hanya bergerak pelan, Jacson bahkan mencoba menyerang Ellen yang saat ini berada di posisi berjongkok di dekatnya.
Keduanya berdiri, jarak mereka berdiri hanya tiga meter saja. Ellen bisa melihat darah menodai kemeja putih yang dikenakan oleh Jacson.
Ada satu peluru yang berhasil menembus bahu kiri Jacson. Kades Desa Air Keruh itu, bahkan memandang bahunya yang terkoyak karena salah satu peluru dari pistol Ellen itu, dengan pandangan bingung.
Jacson sama sekali tak menyangka jika ada benda di dunia ini, yang bisa menembus kulit tubuhnya. Karena Ajian Kebal yang dia dapatkan dari Nyai Blorong, karena sudah mau menjadi pengikutnya itu. Kabarnya siluman ular itu akan melindungi tubuhnya dari benda apa pun di dunia ini.
"Peluru apa yang kau gunakan? Dasar jalan.g!" pekik Jacson sambil menahan rasa sakit di bahunya.
18 tahun sudah dia tidak pernah merasakan rasa sakitnya terkoyak oleh benda tajam. Dan kini sebuah peluru yang entah terbuat dari apa telah bersarang di bahunya. Menyobek rangkaian otot dan mungkin meremukkan tulangnya dibagian itu.
"Si Pitung ia ditembak dengan peluru emas oleh Schout van Hinne, karena dikabarkan kebal dengan peluru biasa.
"Dan aku mengikuti jejak komandan kepolisian Belanda itu!" kata Ellen.
Jacson menertawakan penjelasan Ellen, lelaki itu sadar bahwa emas bukanlah sebuah benda yang bisa menyakitinya. Karena semua makhluk hidup tahu bahwa benda itu adalah harta yang bisa membahagiakan manusia.
Jadi emas bukanlah sebuah hal yang bisa disebut senjata, jadi ia tidak kebal terhadap emas.
"Jadi kau berniat membunuhku dari awal, datang ke sini?" tanya Jacson.
Pria itu berdiri dengan tahu menggelegar di mulutnya.
__ADS_1
"Aku tidak pernah berniat membunuh siapa pun di tempat ini!
"Namun Jelaskan apa yang terjadi pada kakakku Lastri, 18 tahun yang lalu saat dia menjalani KKN di Desa ini!" kata Ellen.
"Kalau itu niatmu, kau datang kepada orang yang salah!" kata Jacson.
Lelaki itu menyeringai licik ke arah Ellen, yang masih berdiri dengan kewaspadaan tingkat tinggi.
"Seharusnya kau mengikuti kemana Melin pergi, karena apapun yang terjadi kepada Melin saat ini.
"Pernah terjadi kepada kakakmu, Lastri!" ujar Jacson.
"Apa yang terjadi pada Melin saat ini?" tanya Ellen.
"Ritual yang kau anggap bodoh itu! Ritual itu adalah ritual yang harus dilakukan.
"Jadi Melin saat ini pasti sedang melayani Adrian, pemeran utama dalam Sketsa perjanjian Hujan Teluh kepada Nyai Blorong!" kata Jacson.
"Melayani??? Maksudmu?" tanya Ellen.
Polisi wanita itu tahu jika apa yang disebut melayani oleh Jacson itu adalah, tentang hubungan badan antara seorang wanita dan seorang lelaki.
"Seperti yang kau pikirkan, mereka akan bercinta semalaman untuk mendapatkan seorang bayi!" kata Jacson.
"Adrian tidak mungkin melakukan hal itu, kepada keponakannya sendiri!
"Dia bilang dia akan melindungi Melin!" ujar Ellen.
"Bagaimana kau bisa percaya dengan perkataan seorang siluman?" tanya Jacson.
"Adrian benar-benar seorang siluman?" tanya Ellen.
"Adrian bukan hanya siluman biasa, dia siluman yang bisa berubah menjadi manusia!
"Ia dan leluhurnya adalah pengikut setia Nyai Blorong!" ujar Jacson.
"Lalu kenapa kalian memilih Melin sebagai tumbal?" tanya Ellen.
"Dahulu kala ada seorang wanita manusia yang bercinta dengan siluman harimau di tempat ini.
"Namun wanita itu berselingkuh dengan pria biasa dan membuat murka siluman harimau itu.
"Semenjak hari itu banyak Harimau yang menyerang manusia di tempat ini.
"Satu-satunya cara untuk menghentikan kemurkaan siluman harimau itu adalah menumbalkan wanita yang ia cintai itu dengan bayi yang dikandungnya!" cerita Jacson.
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
__ADS_1
.