Hujan Teluh

Hujan Teluh
Sesepuh Desa Air Keruh


__ADS_3

Di meja makan rumah Pak Jacson, tampak cukup ramai. Lelaki paruh baya yang masih terlihat tampan itu, hanya bisa tersenyum bahagia saat mengedarkan pandangan ke setiap orang yang ada di ruang makannya tersebut.


Dia merasa punya keluarga lagi, setelah sekian lama. Di Belanda dulu Jacson juga tinggal sendiri dan setelah kembali ke Indonesia dia tetap tinggal sendiri, di rumah yang cukup besar peninggalan orang--tuanya.


Namun perhatian yang cukup istimewa, dia perlihatkan saat memandang ke arah Melin. Senyumnya tampak tertahan saat melihat gadis manis itu. Jacson juga merasa kasihan pada Melin, karena gadis belia itu harus menanggung beban yang sangat berat. Padahal dia masih sangat muda.


Tak hanya rasa sedih dan kasihan, namun saat Jacson melihat ke arah Melin. Dada pria paruh baya itu seperti bergetar, getaran yang membuat buat Jacson sedikit salah tingkah.


Jacson tak menyangka jika perasaannya pada Melin ternyata cukup dalam. Dia pikir dadanya bergetar karena ingat sosok Arinda didiri Melin. Tapi saat ini Jacson tidak sedang ingat Arinda, karena sosok Arinda berada di sebelah tempat duduknya. Tapi dadanya tetap bergetar dengan hebatnya saat melihat Melin.


Apa lagi ketika Jacson melihat Melin mencuri-curi pandang dengan Jendral, yang duduk berhadapan di meja makan yang berbentuk bundar ini. Getaran di dada Jackson semakin kuat dan sepertinya tak dapat dihentikan. Apa dia sedang cemburu, kenapa dia bisa cemburu.


Jacson sadar saat ini perasaannya bukanlah sesuatu yang penting, Yang terpenting saat ini adalah mencari cara untuk membebaskan Melin dari penumbalan Hujan Teluh.


Jacson sudah mengundang beberapa sesepuh Desa Air Keruh, untuk datang ke rumahnya setelah ibadah Sholat Isya. Karena hanya para sesepuh Desa Air Keruh yang tahu tahu, tentang kejadian 60 tahun yang lalu.


.


.


Setelah makan malam mereka semua menunaikan ibadah Sholat Isya bersama-sama. Hanya Arinda yang tidak ikut, wanita itu dibiarkan duduk sendiri di halaman belakang rumah itu.


Selama di rumah Jacson, Arinda tampak sangat tenang. Dia tidak menggila atau bertingkah aneh. Hal itu membuat semua orang yang berada di dekat wanita gila itu, merasa tak terganggu dengan keberadaan Arinda di sekitar mereka.


Entah apa rencana Jacson membawa Arinda ke rumahnya. Apa karena lelaki itu takut kekasih hatinya akan dilukai oleh Adrian. Atau ada alasan lainnya, tidak ada yang tahu.


Setelah selesai menunaikan ibadah Shlat Isya, satu persatu sesepuh yang dipanggil oleh Jacson mulai bermunculan. Kebanyakan para orang tua itu diantar oleh anak-anak mereka, dengan mengenakan sepeda motor. Karena tak semua sesepuh Desa Air Keruh itu, tinggal di Desa ini lagi.


Setelah dirasa semua sesepuh yang diundang telah hadir, Jacson mulai berbicara.


"Sebelumnya saya minta maaf karena sudah merepotkan para sesepuh dan pini sepuh Desa ini.


"Mungkin sebagian dari anda sudah tahu, tujuan saya mengundang para sesepuh untuk datang ke rumah saya malam ini," buka Jacson.


Terlihat jelas banyak sesepuh yang mengangguk-anggukan kepalanya. Pertanda para orang tua itu tahu apa maksud dan tujuan Jackson memanggil mereka semua.


"Desa kita sekarang ini sedang dalam bahaya, yang sangat besar!

__ADS_1


"Seperti yang anda tahu beberapa waktu yang lalu, terjadi banyak pembunuhan yang sangat brutal," ujar Jacson.


Lelaki itu menyapukan pandangannya, kearah para sesepuh di hadapannya. Terlihat mereka berbisik satu sama lain. Entah apa artinya, yang pasti Jackson tidak ingin mundur untuk membahas masalah kutukan Hujan Teluh.


"Saya mendapat informasi bahwa pembunuhan sadis yang terjadi di Desa ini, ada hubungannya dengan kutukan Hujan Teluh," kata Jackson dengan satu kali tarikan nafas.


Para tetua masih saling berbisik, belum ada yang berani angkat bicara.


"Dan tujuan saya mengundang kalian semua kemari, adalah untuk mendiskusikan tentang kutukan Hujan Teluh itu!" pungkas Jacson.


Terlihat para tetua di sana hanya berbincang satu sama lain, berbisik dan saling menuding. Namun seseorang yang berdiri dan mulai bicara. Dia adalah Mbah Karyo, adik dari Mbak Wiji kakek Jendral.


"Apa yang sebenarnya anda cari Pak Kades?!" tanya pria tua itu dengan nada yang sangat tegas.


"Tentu saja saya mencari solusi untuk menghentikan teror kutukan Hujan Teluh yang menimpa Desa ini," jawaban Jacson dengan nada yang tegas pula.


"Anda tak perlu melakukan apapun!


"Karena semua sudah disiapkan! Anda hanya harus menunggu, sebentar lagi pasti semua ini akan selesai!" ujar Mbah Karyo.


"Tentu saja! Semua orang di sini juga tau.


"Ketika tumbal itu sudah siap, maka semua bencana yang menimpa Desa ini akan berhenti!


"Adrian sebagai penerus Mbah Sodik, pasti sudah mempersiapkan semuanya. Pak Kades tidak perlu khawatir tentang masalah ini!" jelas Mbah Karyo.


Karena merasa sudah selesai bicara, Mbah Karyo berjalan ke arah pintu. Kelihatannya dia ingin cepat kembali pulang ke rumahnya.


"Apa kalian semua ingin menginap di sini???


"Apa tidak ada yang ingin pulang?" Mbak Karyo menegur semua tetua yang diundang oleh Jackson.


Perlahan tapi pasti, satu persatu sesepuh yang hadir di kediaman Jacson mulai berdiri. Mereka ikut meninggalkan kediaman Pak Kades, tampaknya tidak ada yang berani membantah perkataan Mbah Karyo.


Setelah semua pergi hanya ada Bowo dan Zainal, karena Bowo adalah Sekertaris Desa dan Bowo adalah hansip Desa. Mereka membantu membereskan rumah Pak Kades, yang sebenarnya nggak berantakan.


.

__ADS_1


.


Di terasnya Jacson sedang berdiri, sambil memegangi kepalanya. Dia memijat keningnya menggunakan salah satu tangannya sendiri. Melihat kepergian semua sesepuh Desa dari rumahnya, membuatnya sangat frustasi.


Kades Air Keruh itu tak menyangka, jika semua warga Desa tidak peduli pada korban yang harus ditumbalkan. Mereka begitu sangat egois, hanya memikirkan dan dirinya sendiri. Sebegitu takutkah mereka pada kematian yang disebabkan oleh siluman.


.


.


Di halaman belakang rumah besar Pak Kades, terdapat ayunan dari kayu. Di sana Arinda duduk dan melihat ke arah langit.


Langkah kaki Melin perlahan-lahan mendekati ayunan kayu itu. Pandangannya meneliti ke arah wajah Arinda yang terlihat sangat kosong tanpa ekspresi apapun. Melin mencoba menerka apa yang dipikirkan wanita gila itu.


"Mereka semua pantas mati!" kata Arinda dengan nada lirih.


Melin masih meneliti ekspresi Arinda yang masih tak berubah. Wanita itu tak merubah posisi ataupun pandangan ke arah langit. Sehingga Melin mengira perkataan yang lontarkan wanita gila itu, hanyalah omong kosong belaka.


Dengan gerakan tiba-tiba, Arinda turun dari ayunan kayu itu.


"Tante mau ke mana?" katanya Melin pada wanita gila itu.


Arinda tak menjawab pertanyaan Melin. Dia tetap berjalan arah halaman depan, melalui halaman samping rumah Pak Kades. Melin mengikuti arah langkah kaki Arinda. Iya takut juga Arinda menghilang Pak Kades akan sedih.


"Arinda kamu kemana?" tanya Pak Kades.


Tanya pria yang sekarang berdiri di teras rumahnya.


"Aku ingin pulang!" jawab Arinda, dia tidak berhenti berjalan atau--pun menoleh ke orang yang bertanya padanya.


Namun Pak Kades berjalan tergesa ke arah arah Arinda, lelaki paruh baya itu Menghadang langkah kaki Arinda.


"Tidurlah di sini malam ini Ada banyak orang yang tidur di sini malam ini!" bujuk Pak Kades pada Arinda.


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2