Hujan Teluh

Hujan Teluh
Menyerah Pada Takdir


__ADS_3

"Kau mungkin mencintainya tapi pikirkan bagaimana perasaan putriku.


"Dia pasti akan merasa kau menghianatinya nanti.


"Jangan menambah penderitaan lagi kepada putriku yang malang!" ujar Yanuar.


Ayahanda Melin keluar dari pondok, meninggalkan adiknya yang masih bersimpuh di lantai.


Adrian tak merubah posisinya tapi wajahnya semakin menunduk ke dalam. Dia sangat menyesal, ternyata dia tidak memikirkan tentang perasaan Melin. Dia hanya perduli pada kebahagiaannya sendiri.


Tak terasa butiran air mata jatuh menetes membasahi tangan Adrian. Rasa sakit di perutnya mungkin sudah hilang, tapi kini dadanya terasa sangat sesak seperti diikat oleh tali yang aman kuat.


<~○~>


Aku harus bagaimana sekarang???


Apa aku harus diam saja, dan menunggu kematianmu?


Maafkan aku, yang berani mencintaimu dan sok kuat.


Maafkan aku karena aku tak bisa melakukan apa-apa untukmu!


ADRIAN


<~○~>


Hanya itu satu-satunya cara yang bisa Adrian lakukan. Dia akan diam saja, dan menyerah pada keadaan. Meski hal itu sangat berat bagi Adrian, tapi Adrian akan melakukan apapun untuk Melin.


Adrian masih mengingat betul bagaimana marahnya Melin, saat gadis itu mendapat penglihatan tentang masa depan. Saat tahu dirinya yang akan membunuhnya, Melin bahkan tidak mau menjelaskan atau bertanya kepada Adrian. Gadis yang ia cintai itu memilih diam dan ingin menyembunyikan kenyataan.


Melin pasti sangat kaget saat itu dan berusaha menyangkal. Namun Adrian malah membuat gadis manis itu lebih menderita, karena tak memikirkan perasaan Melin. Dia hanya peduli tentang, agar Melin tak meninggalkannya.


.


.


.


.


Pak Syafi sedang mengajar di kelas Jendral, guru matematika itu sedang menulis soal di papan tulis. Setelah selesai dia berbalik dan mulai melihat ke arah para muridnya.


Pak Syafi mulai menghela nafasnya panjang-panjang, karena hampir semua murid di kelasnya tak memperhatikan ke depan. Seolah punya dunia sendiri, para muridnya sibuk dengan urusan masing-masing.


Di barisan pertama seorang siswa bernama Lidya, sibuk dengan sebuah buku. Dia terlihat membaca namun Pak Syafi tahu buku yang dibaca Lidya bukanlah buku pelajaran sekolah.


Di barisan kedua ada seseorang siswa laki-laki bernama Farel, tampaknya pemuda berambut belah tengah itu sibuk dengan sebuah gitar.

__ADS_1


Di barisan ketiga terlihat seorang pemuda yang melihat ke arah luar jendela. Dengan tatapan yang naas dan penuh penyesalan, bisa dipastikan bocah itu sedang patah hati atau dicampakkan.


Pak Syafi kembali menghela napasnya dan mulai memanggil salah satu nama siswanya.


"Jelita, Marvel dan Lidya! Maju dan selesaikan soal ini!" Perintah Pak Syafi.


Jerita dan Marvel adalah siswa terpintar di sekolahan ini. Jadi Pak Syafi percaya mereka bisa menyelesaikan soal yang dia tulis di papan tulis. Sedangkan Lidya adalah siswi pindahan, meski tak yakin pak Syafi mencoba positif thinking.


Tiga siswa yang dipanggil Pak Syafi pun maju ke depan, sesuai harapan Jelita dan Marvel dengan mudah menjawab soal yang dituliskan. Namun beda halnya dengan Lidya, gadis manis berkulit sawo matang itu hanya menatap papan tulis dan menggaruk-garukkan tangan kirinya di kepalanya.


Dia tampak berfikir dan melihat hasil kerja keras kedua temannya. Namun semakin lama Lidya memperhatikan rumus yang ditulis oleh Marvel dan Jelita di papan tulis, membuat gadis itu pusing.


"Ayo Lidya cepat kerjakan!" kata Pak Syafi.


Gadis itu hanya tersenyum kearah Pak Syafi, lalu menggeleng pelan tanda dia menyerah.


"Kamu nggak bisa?" tanya Pak Syafi pada Lidya.


Lagi-lagi Lidya hanya menggeleng pelan dan tersenyum seolah tak punya salah gitu.


Suasana Hening di dalam kelas itu terpecah karena suara tawa seseorang.


"Farel kamu bisa? kalau begitu kamu maju!" ujar Pak Syafi.


Farel mendengus kesal, dia adalah siswa terbodoh di angkatannya. Mana mungkin Iya dapat mengerjakan soal yang baru saja dijelaskan oleh Pak Syafi.


Mujur benar nasib Farel, bahkan bel pulang sekolah menyelamatkannya. Namun tampaknya ada seorang siswa, yang lebih senang daripada Farel saat mendengar bel itu. Siswa yang dari tadi menatap keluar jendela dengan tatapan merana yaitu Jendral.


Jendral langsung pergi tanpa pamitan apalagi berdoa sebelum pulang. Pak Syafi bahkan tak sempat menegur pemuda Desa Air Keruh itu, karena saking cepatnya Jendral menghilang dari ruangan kelas tersebut.


"Kenapa siswa sekarang tak ada yang punya sopan santun?!" ujar Pak Syafi kesal.


.


.


.


.


Tak peduli lagi dengan keberadaan Sandi, yang tadi siang menemuinya untuk minta tebengan. Jendral langsung pergi ke warung Mang Kodel, untuk mengambil motornya.


Tampak Mang Kodel berada di dalam warungnya, ia sedang membereskan bekas mangkuk pelanggannya. Penjaga kantin itu itu melihat Jendral yang berlari cepat ke arah warungnya.


"Name hal Jendral tu, caknyo buru-buru nian?" Tanya Mang Kodel pada ada rumput yang bergoyang. Padahal tidak ada rumput yang bergoyang di dalam warungnya.


"Apo emaknya saket? Mungkin sajo!!!

__ADS_1


"Biasonyo dio nongkrong di sini menjelang sore, pasti ado gawe budak tu!" Mang Kodel menjawab pertanyaannya sendiri.


Karena merasa Jendral tampak buru-buru dan mengira bahwa bocah muda itu ada masalah. Mang Kodel tak mau mengganggu Jendral dengan uang parkir, padahal uang parkir yang kemarin belum dibayar oleh bocah itu.


Secepat kilat Jendral memacu motornya, mungkin dia pergi ke sekolah, namun otaknya selalu memikirkan kejadian di pesantren semalam. Jendral terus memikirkan Melin yang dibawa paksa oleh Adrian. Meski Pak Kades mengatakan tak perlu khawatir, Jendral tidak bisa melupakan hal itu.


Pagi tadi saat Pak Kades mengikuti mobil Adrian, Jendral diturunkan di dekat rumah. Meski Jendral memaksa ingin ikut, namun Pak Kades tetap menurunkan Jendral. Agar bocah itu bisa bersekolah paginya.


Adrian langsung pergi ke rumah Pak Kades tanpa pulang terlebih dahulu. Pria muda itu memarkirkan motornya di dekat mobil Pak Kades yang berada ada di halaman rumah yang cukup besar.


Betapa senangnya dia karena saat dia turun dari motornya, Melin keluar dari dalam rumah Pak Kades.


"Jendral?" Melin tampak tak percaya dengan kedatangan bocah SMU itu.


"Kamu nggak papa?" Jendral langsung menanyakan keadaan Melin.


"Nggak papa gue!" ujar Melin selengekan.


"Syukurlah!" Jendral yang sudah melepas Helmnya segera menghampiri Melin.


Matanya berbinar dan tanpa sadar Jendral tersenyum kepada Melin.


"Kesurupan lu? Senyum-senyum sendiri!" ujar Melin.


"Pak Kades mana ya?" Jendral berusaha merubah arah pembicaraan mereka.


"lagi keluar! Katanya mau nemuin Tante Arinda," jawab Melin.


"Kamu yakin,kamu baik-baik saja?" tanya Jendral.


"Untungnya sih! Mungkin nasib gue lagi baik aja!" ujar Melin.


Gadis itu pun masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Jenderal yang memang sudah pernah masuk kedalam rumah Pak Kades.


"Aku nggak nyangka Mas Adrian bisa sekasar itu. Apalagi ke kamu, kamu--kan keponakan!" ujar Jendral.


"Kayaknya tentang Hujan Teluh, yang pernah gue tanyain ke elu. Semua itu bener!" ujar Melin.


Jendral memandang Melin, wajah datarnya perlahan mengeras dan matanya mulai memerah. Jendral sudah mendengar dari Pak Kades dan Kyayi Hamid, bahwa Melin adalah tumbal untuk ritual Hujan Teluh.


"Hidup gue nggak lama lagi, jangan lihat gue kayak gitu!" ujar Melin.


Meski gadis itu ingin merasa bahagia, namun kesedihan kan tetap saja masih menyergapnya. Bagaimana pun Melin hanya bisa pasrah pada takdirnya. Karena dia tahu, dia tidak cukup kuat untuk melawan Omnya sendiri yaitu Adrian.


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2