Hujan Teluh

Hujan Teluh
Tujuan Adrian


__ADS_3

"Biarkan aku memberimu ucapan selamat dulu!" kata Arinda. Kuntilanak Merah itu berusaha mengulur waktu. "Selamat!!! Kau telah menjadi siluman seutuhnya,"


Adrian sama sekali tak menunjukkan ekspresi apa pun. Lelaki itu tetap fokus dan mengawasi setiap pergerakan Kuntilanak Merah yang sekarat di depannya.


"Kau ingin berubah melindunginya???" tanya Arinda, "usahamu cukup bagus,"


Adrian masih tak bergeming.


"Tapi apa kau bisa memusnahkan penjaga, yang juga menginginkan jiwanya.


"Penjaga menginginkan Jiwa Suci untuk kematiannya sendiri!


"Kau harus ingat itu!" ujar Arinda.


Lelaki gagah itu meremas genggaman tangannya sendiri.


"Aku sudah bilang, kau tak akan bisa merubah takdir!" ujar Arinda.


Adrian melepas genggaman tangannya, ia mengeluarkan cakar putihnya. Tangannya yang kokoh itu seketika berubah berbulu, dengan kuku pendek yang lancip.


"Jangan banyak bicara, aku tau apa yang kulakukan.


"Apa kau tak lelah menjadi abdi Penjaga selama ribuan tahun???" ujar Adrian.


Secepat kilat Adrian melakukan gerakan yang tak bisa diprediksi oleh Arinda. Lelaki itu menancapkan kuku-kuku panjangnya langsung mengarah ke jantung Arinda.


Jemari Arinda yang bercakar hitam panjang dan berkulit menghitam seperti arang. Mencoba melukai tangan Adrian yang sudah berhasil meraih jantung wanita itu.


"Kau akan menyesal melakukan hal ini!" ujar Kuntilanak Merah.


Itu adalah kata-kata terakhir Kuntilanak merah. Adrian mencabut jantung Kuntilanak Merah dari tubuh Arinda.


Wanita berbaju merah itu tentu saja sudah tak punya penopang hidup lagi. Jantungnya, salah satu alat vitalnya itu telah direngut siluman lain.


Tubuh Arinda segera lunglai jatuh ketanah, tanpa perlawanan lagi. Adrian menghancurkan jantung yang masih hangat itu dengan sekali remasan.


Darah segar mengalir dari genggaman tangan Adrian, lengannya juga tampak mendapatkan luka cakaran dari Arinda.


Manik mata Adrian memamdang lurus ke arah jantung Arinda yang ia remas. Ia juga bisa melihat bagaimana Kuntilanak Merah itu musnah dari dunia ini.


Tubuh Arinda yang sudah bukan manusia biasa itu, terbakar hangus. Tanpa ada yang menyulutkan api pada sosoknya. Tak butuh waktu lama api dari neraka itu menghancurkan tubuh Arinda hingga menjadi debu.


Mahluk yang terbuat dari api, akan berakhir menjadi api.


Mahluk yang terbuat dari tanah, akan berakhir menjadi tanah.


Dan mahluk yang tak tau akan asal-usulnya, dia akan berada di sebuah alam. Alam yang memisahkan Dunia Manusia dan Dunia Iblis. Alam Buana, di sana--lah dikurung jiwa-jiwa Manusia yang menyembah Iblis.

__ADS_1


.


.


Rintik hujan menetes deras, membasahi medan pertempuran yang sudah hancur lebur. Genanggan darah segar yang kental, perlahan-lahan encer karena bercampur bersama air.


Warna merah itu memyebar, meluas. Seperti kanfas lukisan yang ketumpahan cat warna merah.


Semua onggokan mayat yang tercabik dan terpotong mengerikan, sama sekali tak bergerak.


Adrian membiarkan tangannya yang berlumuran darah, kaku. Sejajar dengan pinggangnya. Ia memandang bagaimana air hujan melunturkan warna merah pekat di tangannya.


Kepalanya mengingat kembali beberapa masa dalam hidupnya yang panjang. Bagaimana ia bisa sampai di titik ini dan ditugaskan oleh Sang Penjaga, yaitu Yanuar atau Mbah Sodik. Untuk mencari Jiwa Suci untuk ditumbalkan.


Tujuannya. Ia mau menjadi bawahan Yanuar adalah, agar Adrian menjadi manusia biasa. Menjadi siluman bukanlah pilihan yang bisa dia ambil. Karena Adrian tau benar bagaimana kerasnya persaingan di dunia fana itu.


Menjadi manusia adalah impiannya, karena wanita yang melahirkannya adalah manusia. 173 tahun yang lalu, Adrian lahir dan didik selayaknya manusia biasa.


Keinginannya menjadi manusia membuatnya tak peduli lagi dengan sekitarnya. Ia terus mencari keberadaan Melin, tapi karena Melin terlahir dari tubuh manusia yang kerasukan. Gadis yang memiliki Jiwa Suci itu kehilangan sebagian besar Auranya, karena diserap sang ibu.


Namun setelah bertemu dengan Melin dan bersama untuk beberapa saat, Adrian merubah tujuan hidupnya. Lelaki itu, ingin merubah takdir Melin.


Ia tau, dia bukan salah satu bagian dari lingkaran Kutukan Hujan Teluh, yang berlangsung selama puluhan tahun itu. Namun ia merubah dirinya menjadi Siluman seutuhnya untuk membunuh Yanuar Sang Penjaga.


Menyelamatkan Melin dari lingkaran kutukan Hujan Teluh.


.


.


Satu-satunya tujuan yang ia punya adalah rumahnya sendiri. Cowok SMU itu melupakan motor sportnya, yang ia tinggal di pinggir jalan tempat terjadinya pertumpahan darah.


Tubuhnya yang terasa hampir lumpuh, masih ia paksakan untuk bergerak. Jendral harus membawa lari Melin, dari tempat itu. Entah Adrian bisa mengalahkan Arinda atau tidak, Jendral hanya peduli pada keadaan Melin.


Karena tekat dan keteguhan hatinya, Jendral berhasil membawa Melin ke rumahnya.


"Drallll, siapa itu Nakkkk!" tanya emaknya.


Tak seperti biasa, harusnya ibunda Jendral tak berada di rumah siang-siang begini.


"Emak nggak ke pasar?" tanya Jendral.


"Kamu nggak dengar, tadi pagi emak bilang ke kamu. Kalau emak agak demam?!" ujar emak Jendral dengan nada yang sedikit kesal.


Namun wanita paruh baya itu dengan sigap, membantu Jendral untuk membawa tubuh Melin yang pingsan ke dalam rumah mereka.


"Kenapa ini, kalian kelihatannya habis jatuh yaaa?" Emak Jendral bertanya lagi.

__ADS_1


Wanita itu menemukan beberapa bekas luka goresan di tubuh Melin, yang berhasil di telentangkan Jendral di kasur kamarnya. Luka lebam di leher gadis itu juga tak luput dari perhatian emaknya Jendral.


Namun wanita paruh baya itu, tak curiga dengan luka di leher Melin yang memerah. Meski luka semacam itu pasti bukan akibat terjatuh dari motor.


"Iya, Mak!" ujar Jendral.


Jendral tak mungkin bilang pada emaknya, jika ada pasukan kepolisian dan beberapa siluman lagi gelut di gang depan.


"Ini siapa, pacar kamu?" seperti atmin lambe turah. Emak Jendral terus bertanya akan diri Melin.


"Anggap aja begitu!


"Emak, bantu Melin ganti baju yaaaa!" pinta Jendral.


Cowok SMU itu sudah berdiri di hadapan almari pakaiannya. Ia melempar beberapa helai pakaian santainya, ke arah Emaknya yang duduk di pinggiran ranjang.


"Ini keponakannya Adrian, anaknya Yanuar...


"Kalian pacaran?" tanya Emak Jendral.


"Kok, Emak bisa kenal?" tanya Jendral bingung.


Setau Jendral, Melin selalu dikurung semenjak gadis itu ada di sini.


"Sekitar seminggu yang lalu, Adrian membawa gadis ini jalan-jalan ke pasar.


"Lalu, Arinda menyerangnya!" jelas Emak Jendral.


Cowok SMU itu mengerti, pasti seluruh pasar gempar karena kejadian itu.


Jendral pun keluar dari kamarnya, dia akan ganti baju di kamar mandi. Membiarkan emaknya mengganti baju Melin yang basah, karena ia sendiri tak bisa menggantikan pakaian gadis manis itu.


Jendral melepas seragam sekolahnya yang sudah basah kuyup. Ia melihat ke arah perutnya, rasa sakit yang ia tahan dari tadi masih saja menjalar di area itu.


Perutnya yang datar itu membiru, baru saja ia di serang oleh binatang buas. Jendral meremas pelan kulit di atas luka lebamnya, karena rasa sakitnya benar-benar menyiksanya.


Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa Tante Arinda bisa berubah menjadi mahluk yang begitu mengerikan.


Lalu kenapa Mas Adrian dan Tante Arinda membicarakan tentang hal-hal yang aneh.


Apa benar Desa ini menjadi sarang siluman sejak lama???


Manusia nggak mungkin bisa mencabik-cabik tubuh manusia lain dengan sebuas itu.


Apa Tante Arinda adalah Siluman????


Jendral

__ADS_1


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2