
Sedan putih yang dikemudikan oleh Jacson berhenti di sebuah pondok pesantren. Lelaki itu turun dari mobil dan menyambut uluran tangan seorang lelaki tua. Pria itu tampaknya cukup tua, wajahnya yang terlihat sangat bersahabat sudah dipenuhi dengan keriput. Jengot dan kumisnya yang tak terlalu tebal namun warna putih perak mendominasi.
Melin, Lastri dan Jendral ikut keluar dari mobil. Jendral juga menyalami rombongan pengajar pesantren yang didominasi oleh pria itu.
Namun di sana ada seorang wanita paruh baya berjilbab lebar dan seorang anak perempuan kecil yang juga mengenakan busana yang hampir mirip.
"Ini Melinda! gadis yang saya ceritakan, Mbah Yai!" kata Jacson.
Kades Air keruh itu menunjuk Melin dan semua netra teduh milik pemuka Agama Islam di sana, seketika memandang ke arah Melin secara bersamaan.
"Assalamulaikum!" ucap Melin.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh!" semua orang di sana menjawab salam Melin serentak.
"Mel untuk beberapa hari ke depan, kita akan menginap di sini!" ujar Lastri.
Melin masih menelisik wajah-wajah asing di depannya. Sarung dan baju koko putih serta kopyah, semua lelaki di sini memakai busana seperti itu. Wajah-wajah teduh, terlihat bijaksana dan penuh kasih. Serta senyum tulus mereka saat bertemu pandang dengan manik hitam legam milik Melin.
"Mari Dek, Mbak! Kita langsung ke rumah belakang saja!" ujar wanita paruh baya yang sangat ramah.
Melin dan Lastri berjalan di belakang Aisyah dan Muna, mereka adalah anak dan istri seorang kiyayi yang mengajar di pesantren ini.
Sebuah rumah yang cukup layak, dindingnya normal. Dinding yang harusnya memang dipakai di sebuah rumah. Mereka masuk ke ruang tamu yang normal juga, meski sederhana.
"Silahkan duduk Mbak Lastri, Dek Melin!" kata Muna.
Wanita itu tak ikut duduk dengan keduanya, wanita berjilbab lebar itu malah menghilang ke ruangan sebelah.
"Apa Adrian menyakitimu?" tanya Lastri.
Aisyah yang entah kenapa, malah duduk di samping Melin. Bocah yang berusia 10 tahun itu terus memandangi Melin. Hingga Melin lupa akan pertanyaan ibunya dan Melin malah melihat ke arah Aisyah.
"Siapa namamu?" tanya Melin dengan nada yang amat bersahabat.
"Aisyah!" ujar gadis kecil itu.
Aisyah malah mengenggam tangan Melin, hingga Melin merasakan sebuah getaran yang amat aneh. Dia merasa pandangannya mulai kabur, dan tubuhnya seperti tertarik oleh sesuatu yang aneh.
__ADS_1
Saat pandangan Melin kembali jelas, gadis SMU menemukan dirinya berdiri di suatu tempat. Tempat yang habis terbakar oleh api, Melin hanya bisa tertegun dan keheranan.
Tubuh Melin berputar, karena dia merasakan betapa panasnya kobaran api yang membakar bangunan di sekitarnya. Saat dia berbalik Melin hanya bisa melihat kericuhan, semua orang berusaha memadamkan api dengan ember-ember berisi air. Di kerumunan itu Melin melihat wajah beberapa orang yang ia kenal. Beberapa wajah pria teduh yang tadi menyambutnya.
"Astaga, yang terbakar adalah bangunan pesantren!" ujar Melin, mulai panik.
Namun dia memdengar teriakab dari dalam rumah yang berada di depan Melin.
"Tolonggggg!" teriak suara lemah yang lirih itu dapat didengar oleh Melin.
"Aisyah!" teriakan perempuan lain dari belakang tubuh Melin.
Segera Melin berlari ke dalam rumah itu, namun dia melihat dengan jelas. Asap yang ditibulkan oleh kobaran api itu tak meyakiti matanya, bahkan tubuhnya yang tadinya merasa panas kini sudah tak merasakan panas lagi.
Melin terus masuk, di depan pintu Melin mendapati tubuh yang tengkurap. Melin pun meneliti tubuh yang sudah tak berdaya itu. Melin berjongkok dan saat dia melihat ke arah wajah pemilik tubuh itu. Melin kaget setengah mati, karena wajah itu hancur.
Kelihatannya tubuh yang dia baru saja temukan tadi mengenakan pakaian yang mirip dengan salah satu pengajar yang Melin temui tadi. Tak hanya satu ada beberapa tubuh pria lain yang tergeletak berserakan, sedangkan api sudah mulai melahap ruangan itu.
"Tolonggggg!"
Melin segera meneliti, apa dia mengenal seseorang di antara mayat-mayat itu.
Tubuh rampingnya tersentak, Melin melihat seongok mayat dengan kemeja biru dan celana jins putih. Itu adalah pakaian yang bundanya pakai tadi. Segera Melin mendekati tubuh yang tak berdenyut itu, dia memeluknya. Benar itu adalah mayat Bundanya.
Mimpi apa ini, apa saat ini Melin memimpikan masa depannya. Tak jauh dari sana, Melin melihat tubuh Jendral di antara mayat-mayat itu. Tubuh cowok SMA itu pun juga sudah tak bernyawa.
"Tolongggggg!"
Telingga Melin mendengar suara aneh itu lagi, suara itu berasal di sebuah ruangan di depannya. Dengan rasa dendam yang membara, Melin pergi ke ruangan itu.
Di Ruangan 5×5 yang dipenuhi oleh parabotan seperti kamar manusia itu juga sudah banjir dengan darah Manusia.
Di bawah kaki Melin sudah tergeletak banyak mayat lelaki. Namun pandangan penuh dendam Melin tertuju pada sosok di depannya yang masih bernafas. Sosok itu adalah Adrian, Omnya.
Pria itu tengah bersimpuh di lantai, memeluk sesuatu. Sesuatu itu adalah tubuh Melin, tubuhnya sendiri yang sudah tak bernyawa. Karena bisa Melin lihat, hodie putihnya dan celana jins biru terangnya sudah berubah menjadi merah karena darah tentunya.
Manik mata Melin langsung melebar dan bergetar, mulutnya berteriak. Namun tak ada suara yang mumcul dari dalam tengorokannya, Melin mundur dari dua sosok yang kini mulai terbakar itu.
__ADS_1
Tatapan putus asa dan bersalah dari Mata Adrian memandang kosong ke arah Melin.
.
.
"Bajingan!!!
"Keparat!!!" teriak Melin di dalam mimpinya.
Dadanya sesak sekali, serasa tumpukan batu-bata di tindihkan di atas dadanya. Nafasnya tersengal, dan tubuhnya terasa dingin menggigil. Namun manik mata Melin sudah tak melihat adanya api di sekitarnya.
Telapak tangan kirinya di genggam oleh sebuah tangan hangat, yaitu tangan Lastri.
"Kamu kenapa, Mel?" tanya Lastri.
Melin segera bangun dari posisi berbaringnya, gadis belia itu segera turun dari ranjang sempit yang ia tiduri sebelumnya.
"Ada apa Mel! Jelasin ke Bunda!" Lastri masih menuntut penjelasan Melin.
Kelakuan Melin makin aneh saja sekarang, gadis belia itu mudah pingsan dan setelah pingsan selalu saja merasa ketakutan.
"Kita harus pergi dari sini Bun!!!" Melin makin panik.
Jika mimpinya adalah kenyataan, maka Adrian akan datang ke pesantren itu malam ini juga. Melin tak mau kejadian di mimpinya terjadi di sini.
Dia tak mau mengorbankan banyak nyawa manusia lain, apa lagi Melin tau pengorbanan mereka semua tak akan berguna pada akhirnya. Karena yang mereka harus hadapi bukanlah manusia biasa, Melin yakin Adrian sedang dikuasai sesuatu. Hingga lelaki itu tak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
"Jelaskan dulu Mel! Ada apa?!" Dosen ilmu hukum itu tentu saja butuh kenalaran untuk saat ini.
"Enggak ada waktu Bun, kalau kita nggak pergi dari sini. Akan ada banyak orang yang akan mati!" ujar Melin.
Gadis itu memaksakan diri untuk keluar dari kamarnya, saat Melin keluar dia sadar ruangan seluas 10×10 meter persegi yang penuh mayat itu berada di depannya. Namun kini lantai yang di lapisi karpet hijau itu masih bersih tanpa noda setitik pun.
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
__ADS_1